NovelToon NovelToon
Jangan Salahkan Aku, Ibu

Jangan Salahkan Aku, Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami / Bullying dan Balas Dendam / Hamil di luar nikah / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:474
Nilai: 5
Nama Author: Widhi Labonee

kisah nyata seorang anak baik hati yang dipaksa menjalani hidup diluar keinginannya, hingga merubah nya menjadi anak yang introvert dengan beribu luka hati bahkan dendam yang hanya bisa dia simpan dan rasakan sendirian...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widhi Labonee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir saja

Minggu ini waktunya Tiwi pulang ke rumahnya. Setelah melaksanakan ekstrakurikuler Pramuka, gadis remaja itu pun langsung menyetop bus beramai-ramai dengan teman seasrama nya untuk pulang ke desa mereka. 

“Loh, kok kamu ikut naik bus ini Bay?” Tanya Tiwi pada Bayu yang sudah duduk di sebelahnya ini 

Cowok itu tersenyum lebar.

“Aku mau mengantarkan dirimu pulang sayang. Juga pingin tau seperti apa sih kota kecamatan tempatmu tinggal itu,” jawab Bayu santai.

Tiwi melongo, kok bisa cowok ini mengikutinya. Duh, jangan sampai dia nekad ikut ke rumah, bisa dihajar lagi dia.

“Ta-tapi kamu jangan sampai ikut aku kerumah ya? Aku takut kalau kamu diusir nanti, orang tua ku galak Bay ..” ujar Tiwi lirih.

Bayu tertawa, dia mengusak rambut Tiwi pelan.

“Iya, aku paham. Jangan kuatir, aku hanya ingin tau saja nggak bermaksud mampir kok Wi..” katanya menenangkan.

Tiwi menghela nafas lega.

“Tapi kamu jangan ngelayap kemana-mana loh nanti..” ucap Tiwi dengan memanyunkan bibir nya.

Bayu yang gemas segera mengecup singkat pipi Tiwi. Gadis itu pun langsung salah tingkah.

“Nggak…aku paling turun dan ganti bus lagi kembali menuju rumahku nanti, tenang aja sayang…”

Hati Tiwi seolah dilambungkan ke atas awan oleh perlakuan manis dari Bayu itu. Cowok itupun menariknya kedalam pelukannya.

“Aku tuh sayang banget sama kamu Wi…percayalah, aku nggak pernah berniat untuk berbuat aneh-aneh,” Bayu berkata dengan lembut.

Tiwi berusaha melepaskan pelukan Bayu, tapi cowok itu malah menaruh tangannya di bahu Tiwi. Sama saja dong?

“Wah, pasangan satu ini mesra teroosss…” goda Anton yang rumahnya di perumahan desa sebelah Tiwi.

Membuat semua teman mereka yang didalam Bus menoleh dan berseru Huuu…..

Tiwi pun semakin merasa malu, beda dengan Bayu yang tertawa lepas menanggapi komentar teman-temannya itu.

Bus itu lewat di depan rumah Tiwi, gadis itu pun turun dan melambaikan tangannya kepada Bayu dan semua temannya diatas Bus. Ada hati yang tertinggal disana, bersama Bus yang melaju perlahan meninggalkannya di tepi jalan depan rumah nya itu.

Bu Mirah menyambut sang cucu dengan senang hati.

“Cepet ganti baju Ndhuk, trus makan gih!” Titah sang Nenek pada cucu kesayangannya itu.

Tiwi pun segera masuk ke kamarnya, berganti pakaian dan kembali ke dapur untuk mengambil makan siang.

“Sudah dari tadi kamu Wi?” tanya sang ibu yang baru datang dari melihat perkembangan pembangunan rumah nya di belakang.

Tiwi mengangguk karena mulutnya sedang penuh dengan makanan.

“Si Jaya belum pulang Bu?” tanya Riyanti pada Bu Mirah.

“Belum kayaknya Ti, aku belum mendengar suara motor nya datang,” jawab wanita tua itu.

“Kok lama sih, masak antri disana?” Gumam Riyanti.

“Memangnya kemana mas Jay Bu?” Tanya Tiwi kemudian

“Disuruh Bapakmu beli rujak cingur. Lagi kepingin makan rujak orangnya,” jawab Riyanti datar.

Tidak lama berselang, terdengar suara motor Jaya yang khas itu memasuki halaman. Pria muda itu memasuki rumah dengan membawa bungkusan di dalam tas kresek. 

“Yang karetnya merah punya Bapak Bu,” ujar Jaya menyerahkan tas kresek itu kepada Riyanti.

Wanita yang masih nampak cantik diusia matang itu, menata makanan pesanan suaminya di piring, kemudian menuang es cendol kedalam gelas, dan menyiapkan nya di meja di dalam rumah. Sesaat kemudian tampak Ismawan datang, tanpa berbicara dia langsung masuk ke dalam rumah. Riyanti mengambil makan miliknya lalu menyusul suaminya masuk ke dalam rumah.

Jaya yang duduk didepan Tiwi dan membuka bungkusan makanan nya itu segera menyantapnya dengan lahap.

“Bagaimana? Aman?” Tanyanya pada sang adik.

“Nggak ketinggalan banyak pelajaran kan?” Tanyanya lagi setelah suapan dalam mulutnya habis.

Tiwi menggelengkan kepalanya pelan.

“Apanya yang aman? Ketinggalan pelajaran? Memangnya kamu dari mana Wi?” Tiba-tiba sang ibu muncul di sebelah Jaya, bermaksud mengambil kerupuk yang tertinggal di dalam tas kresek di atas meja.

Jaya langsung memerah wajahnya. Tiwi mencoba bersikap tenang.

“Nggak ada Bu, aku nggak kemana-mana kok. Mas Jay nanya aman karena kemarin lusa sempat ada tawuran anak SMK Nusantara dengan anak SMKI, takutnya berimbas ke sekolahku,” jawab Tiwi dengan lancar menjawab pertanyaan sang ibu yang sempat menaruh curiga itu.

Riyanti memandangi wajah kedua anaknya itu, mencari kebohongan disana. Namun dia tidak menemukan nya.

“Lantas siapa yang ketinggalan pelajaran?” Cecar Riyanti lagi.

“Aku lagi menasehati Tiwi jangan sampai ketinggalan pelajaran karena sibuk berorganisasi dan mengikuti ekstrakurikuler Bu,” jawab Jaya berbohong.

“Oohh, ya gitu, jadi kakak yng baik itu selalu mengingatkan adiknya agar tidak nakal, ibu suka Jay… ya sudah kalian makan dulu, baru nanti dilanjut ngobrolnya!” Riyanti buru-buru mengambil kerupuk dan berbalik kembali kedalam rumah.

Jay membuang nafas lega, demikian juga dengan Tiwi.

Huft, hampir saja ketahuan jika mereka sempat ke rumah Rini di Surabaya menemui Rosalina. Bisa gempar satu rumah dan tentunya Tiwi akan kembali merasakan dihajar tanpa ampun lagi.

Akhirnya kedua kakak beradik itu memutuskan untuk tidak melanjutkan omongan mengenai mereka yang telah pergi ke Surabaya kemarin lalu itu. Daripada didengar oleh orang rumah, bisa habis mereka semua termasuk Rini dan Agus.

—-----------

Malam ini malam Minggu, Jaya sudah pergi keluar rumah dari sore tadi. Tiwi berdua dengan sang Nenek duduk berdua di ruangan depan dapur, mereka sedang memakan kacang rebus. Makan malam sudah mereka lakukan beberapa saat yang lalu.

“Bagaimana sekolahmu Ndhuk?” Tanya sang Nenek.

“Baik Mbah, Minggu depan aku ujian, Jadi aku nggak pulang ya, sekalian saja kalau liburan aku pulangnya..” jawab Tiwi.

“Iya, yang penting kamu hati-hati disana dan belajar yang rajin. Mbah hanya bisa mendoakan supaya kamu berhasil mengerjakan ujian mu dengan baik dan lancar Ndhuk..” ujar sang Nenek penuh perhatian.

Tiwi meringis lalu mengaminkan doa sang nenek.

“Aamiin.. makasih doanya Mbah… aku sayang Mbah banget nget nget pokoknya..” Tiwi bangkit dari duduknya dan memeluk sang Nenek yang dianggapnya sebagai penolong nya itu. Coba dulu wanita tua ini tidak datang, mungkin dirinya sudah berakhir di dasar sumur. Mengingat hal itu dia pun semakin membuat jarak dengan sang bapak. Di merasakan betapa kecewa hatinya terhadap semua perlakuan yang dia peroleh selama ini dari sang Bapak. Baginya kebaikan hati sang Bapak adalah pencitraan belaka, terutama jika berada di hadapan orang lain. Entah mengapa, ternyata lumayan sulit juga menghilangkan dendam itu. Meskipun dari awal Tiwi ingin melaksanakan apa yang sudah dipesankan oleh sang ibu kandung. 

“Mbah buat telor asin sendiri, besok kamu pulang ke asrama kamu bawa yang banyak ya? Bisa buat lauk makan bersama teman-teman asramamu nanti Wi,” ujar Bu Mirah pada Tiwi.

“Alhamdulillah, iya Mbah, terima kasih sebelumnya. Teman-teman ku pasti suka semuanya, karena menu ibuk asrama kebanyakan ikan laut, tahu, tempe. Kita jarang makan ayam apalagi daging. Paling mewah ya telur dadar Mbah,” Tiwi menceritakan keadaannya di asrama.

Bu Mirah tertegun, dan merasa kasihan pada cucu kesayangannya ini.

“Ya sudah, besok bawa telur asin yang banyak, sama nanti Mbah buatkan abon daging ya buat kamu makan dengan nasi putih,” ucap Mbah Mirah akhirnya.

Tiwi tersenyum lebar.  Dia pun mengangguk dengan penuh semangat.

***********

1
Widhi Labonee
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!