NovelToon NovelToon
Beban Kelahiran Yang Tragis

Beban Kelahiran Yang Tragis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Kelahiran Senja Putri Baskara bukanlah awal, melainkan akhir.

​Awalnya, ia adalah janin yang dikandung ibunya, janin yang membawa badai-badai kehadirannya merenggut nyawa kakak laki-lakinya, Fajar Putra Baskara, menghancurkan bisnis keluarga, dan melenyapkan kebahagiaan sang ibu. Sejak hari pertama dirinya hadir, Senja adalah bayangan yang dicap sebagai pembawa sial.


​Satu-satunya cahaya di hidupnya adalah sang ayah. Pria yang memanggilnya 'Putri' dan melindunginya dari tatapan tajam dunia. Namun, saat Senja beranjak dewasa, cahaya itu pun padam.

​Ditinggalkan sendirian dengan beban masa lalu dan kebencian seorang ibu, Senja harus berjuang meyakinkan dunia (dan dirinya sendiri) bahwa ia pantas mendapatkan kebahagiaan.


Apakah hati yang terluka sedalam ini bisa menemukan pelabuhan terakhir, ataukah ia ditakdirkan untuk selamanya menjadi Anak pembawa sial? ataukah ia akan menemukan Pelabuhan Terakhir untuk menyembuhkan luka dan membawanya pada kebahagiaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Fajar menyingsing di ufuk timur, membawa semburat warna jingga yang memantul di jendela besar perpustakaan rumah. Hari ini bukan hari biasa. Kalender di dinding, yang penuh dengan catatan jadwal belajar mandiri si kembar, melingkari tanggal ini dengan tinta emas: Ulang Tahun Tiga Cahaya ke-3.

Senja sudah terbangun sejak pukul lima pagi. Ia berdiri di dapur, menatap oven yang memancarkan aroma manis mentega dan vanila. Namun, pikirannya melayang. Ada rasa cemas yang samar, sebuah intuisi yang sering muncul saat sesuatu yang besar akan terjadi. Ia teringat masa kecilnya; ulang tahun bagi Senja dulu adalah hari "audit". Paramita akan mengevaluasi berapa banyak lukisan yang terjual dan berapa banyak kemajuan teknik yang ia capai dalam setahun.

"Senja? Kenapa melamun?" Suara berat Damar memecah keheningan. Damar muncul dengan kaos santai, rambutnya sedikit berantakan pemandangan yang selalu membuat Senja merasa "pulang".

"Hanya... berpikir betapa cepatnya waktu berlalu, Damar. Aku takut tidak bisa memberikan mereka kenangan yang cukup indah hari ini," bisik Senja.

Damar memeluk Senja dari belakang, menghirup aroma rambut istrinya. "Kenangan indah bukan tentang kemewahan, Senja. Tapi tentang rasa aman. Dan di rumah ini, mereka adalah anak-anak yang paling aman di dunia."

Halaman belakang telah disulap menjadi perpaduan antara keajaiban alam dan ketajaman logika. Sesuai permintaan si kembar yang memiliki preferensi berbeda, Senja dan Damar menggabungkannya dengan apik.

Ada area "Visual Forest" untuk Fajar, di mana kanvas-kanvas kosong digantung di antara pepohonan. Ada area "Mathematical Meadow" untuk Binar, di mana pola-pola Fibonacci dibentuk dari susunan batu alam. Dan ada "Linguistic Labyrinth" untuk Cahaya, di mana kutipan-kutipan sastra dunia digantung di ranting-ranting pohon layaknya buah yang siap dipetik.

Si kembar tiga turun dengan pakaian kembar berwarna biru langit. Mereka tidak berlari menuju kue, melainkan menuju area-area tersebut dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu.

"Mama, lihat! Rasio emas di bunga matahari ini sempurna!" seru Binar sambil memegang jangka sorong kecilnya.

"Papa, cahaya jam sembilan pagi ini memberikan saturasi warna yang luar biasa pada dedaunan," gumam Fajar sambil memicingkan mata, menganalisis spektrum warna layaknya pelukis maestro.

Cahaya Surya hanya tersenyum, ia memegang sebuah buku tua dan mulai membacakan baris-baris puisi tentang waktu kepada adik-adiknya, eh harusnya kakak kakaknya ya.

Sebelum tamu-tamu keluarga datang, Tiga Cahaya meminta orang tua mereka duduk di bangku taman yang dikelilingi bunga mawar.

"Kami punya sesuatu," ujar Cahaya Surya. Ia maju dengan langkah anggun. "Ini adalah hasil observasi kami selama setahun tinggal bersama manusia paling hebat: Mama dan Papa."

Cahaya membacakan puisi dalam tiga bahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis tentang konsep Innocence (Kemurnian). "Kalian tidak hanya memberi kami makan, tapi memberi kami alasan untuk berpikir. Kalian tidak hanya memberi kami atap, tapi memberi kami langit untuk terbang."

Binar kemudian menunjukkan papan tulisnya. "Aku membuat grafik korelasi antara pelukan Papa dan stabilitas emosional kami. Hasilnya adalah korelasi positif sempurna (r \= 1.0). Secara statistik, kita adalah keluarga paling bahagia di koordinat ini."

Terakhir, Fajar membuka kain penutup sebuah lukisan besar. Di sana tergambar sebuah pohon besar dengan tiga cabang utama yang bersinar, namun akarnya adalah sosok Damar dan Senja yang saling berpegangan tangan di bawah tanah. "Akar tidak terlihat, tapi akar yang membuat pohon tidak jatuh saat badai," ujar Fajar polos.

Senja menangis sesenggukan. Ia menyadari bahwa anak-anaknya bukan hanya jenius dalam angka, tapi mereka memiliki empati yang sangat dalam hal yang dulu tidak pernah diajarkan Paramita kepadanya.

Pukul sepuluh pagi, sebuah mobil Rolls-Royce hitam berhenti di depan gerbang. Suara mesinnya yang halus namun dominan seolah memberi peringatan. Seorang wanita turun dengan keanggunan yang dingin. Paramita.

Kehadirannya membuat udara di taman seketika membeku. Fatimah dan Bagus, yang sedang asyik bermain dengan cucu mereka, langsung berdiri dengan raut wajah waspada.

Paramita melangkah masuk, mengabaikan dekorasi taman yang ia anggap "amatir". Matanya langsung tertuju pada si kembar tiga yang sedang berkumpul di dekat papan tulis.

"Senja," sapa Paramita, suaranya seperti gesekan biola yang terlalu kencang. "Tiga tahun kau menyembunyikan mereka dariku. Dan sekarang aku mengerti kenapa. Kau membiarkan otak-otak cemerlang ini bermain dengan batu dan rumput?"

Senja merasa sesak napas. Bayangan masa lalu saat ia dipaksa melukis selama 12 jam sehari tanpa henti mendadak muncul. "Mereka sedang belajar, Ibu. Belajar menjadi manusia."

"Menjadi manusia itu biasa, Senja. Menjadi luar biasa adalah pilihan," Paramita mengeluarkan sebuah map dari tas kulit buaya miliknya. "Aku sudah mengatur segalanya. Fajar akan dikirim ke Accademia di Belle Arti di Italia untuk program bakat luar biasa. Binar dan Cahaya akan masuk ke institusi riset di Zurich. Ini kontraknya. Aku sudah membayar semua biaya depositnya."

Damar melangkah maju, menghalangi pandangan Paramita dari Senja. Ia berdiri tegak, auranya sebagai jenderal perang yang pernah memimpin ribuan pasukan kini bangkit. Matanya dingin, setajam silet.

"Simpan kontrak Anda, Nyonya Paramita," ujar Damar, suaranya rendah namun bergetar penuh wibawa. "Anda tidak sedang berada di galeri seni milik Anda. Anda berada di rumah saya."

Paramita menatap Damar dengan jijik. "Kau hanya pria beruntung yang mendapatkan putriku saat dia sedang lemah. Kau tidak tahu nilai dari anak-anak ini. Mereka adalah aset dunia!"

"Aset?" Damar tertawa sinis, tawa yang membuat para pegawainya biasanya gemetar. "Di mata Anda, semua orang adalah angka atau piala. Tapi bagi saya, mereka adalah nyawa. Anda gagal membentuk Senja menjadi robot Anda, dan sekarang Anda ingin mencoba pada cucu Anda? Selama saya masih bernapas, itu tidak akan pernah terjadi."

Paramita mencoba menerobos, "Menyingkir, Damar! Aku punya hak hukum sebagai nenek mereka!"

"Hak hukum?" Bagus ikut bicara, suaranya tenang namun berat. "Paramita, jangan lupa siapa yang memiliki pengaruh hukum lebih besar di negeri ini. Jika kau ingin bertarung secara legal, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melihat gerbang rumah ini lagi seumur hidupmu."

Mendengar keributan, Tiga Cahaya mendekat. Mereka tidak takut; mereka penasaran dengan "subjek" baru ini.

Binar Mentari menatap Paramita, lalu melihat ke arah jam tangannya. "Nenek, pupil mata Anda melebar 20% dan frekuensi bicara Anda naik menjadi 150 kata per menit. Secara psikologis, Anda sedang mengalami High-Level Stress karena keinginan untuk mengontrol sesuatu yang di luar jangkauan Anda. Itu tidak sehat untuk jantung Anda di usia ini."

Cahaya Surya menimpali dengan tenang. "Nenek, dalam literatur klasik, tokoh seperti Anda biasanya berakhir kesepian di menara tinggi karena lupa bahwa cinta tidak bisa dibeli dengan kontrak. Apakah Nenek ingin menjadi tokoh antagonis di cerita kami?"

Fajar Arun hanya mengangkat kuasnya yang masih basah dengan cat merah. Ia mencoret map kontrak yang dipegang Paramita. "Warna ini jelek. Terlalu banyak ambisi, tidak ada kedamaian. Aku tidak mau ikut Nenek."

Paramita tertegun. Ia tidak menyangka cucu-cucunya akan menyerangnya dengan logika dan estetika yang bahkan lebih tajam dari yang ia bayangkan. Ia merasa terhina sekaligus takjub, namun egonya terlalu besar untuk mengaku kalah.

Senja melangkah maju, berdiri di samping Damar. Ia mengambil map yang telah dicoret Fajar dan menjatuhkannya ke tanah.

"Ibu, dulu aku tidak bisa melawanmu karena aku tidak punya siapa-siapa. Sekarang, aku punya Damar. Aku punya keluarga yang mencintaiku apa adanya, bukan karena lukisanku," ujar Senja dengan suara yang mantap. "Anak-anakku akan tetap di sini. Mereka akan tumbuh dengan tawa, bukan dengan tekanan. Silakan pergi, Ibu. Dan jangan kembali sampai Ibu mengerti arti kata 'maaf'."

Paramita menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan antara benci dan rasa iri pada ketegaran Senja. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan menuju mobilnya.

Setelah mobil Paramita menghilang di tikungan, suasana kembali hangat. Senja memeluk Tiga Cahaya erat-erat, seolah takut mereka akan terbang.

Malam harinya, pesta ditutup dengan doa bersama. Damar menyalakan api unggun kecil di halaman. Mereka berlima duduk melingkar.

"Papa," tanya Cahaya Surya. "Apakah Nenek akan kembali?"

Damar tersenyum, mencium kening Cahaya. "Jika dia kembali, Papa akan menjadi benteng paling kuat untuk kalian. Tapi sekarang, jangan pikirkan itu. Lihat ke langit."

"Rasio bintang-bintang malam ini sangat estetis, Pa," gumam Fajar.

"Dan probabilitas kita bahagia besok pagi adalah 100%," tambah Binar.

Senja bersandar di bahu Damar. Ia menyadari bahwa kejeniusan anak-anaknya bukan hanya tentang otak yang brilian, tapi tentang hati yang mampu membedakan mana kasih sayang tulus dan mana ambisi yang semu. Di bawah lindungan sang "Jenderal" Damar, Tiga Cahaya akan tumbuh menjadi manusia yang utuh.

"Tiga tahun... dan kita telah melewati banyak badai. Terima kasih, Damar, karena telah menjadi Pelita yang tak pernah padam, bahkan saat kegelapan dari masa laluku mencoba kembali menerjang." ucap Senja

Lunas yaa doubel upnya. Jangan minta nambah lagi awas kalian...

1
ηαηα
Benar-benar perang sama kuatnya yak, Baik paramita dan Damar tidak bisa di anggap remeh jaringannyya🤣
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: 🤣🤣🤣🤣 hooh /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Perasaan kok pendek ya? iya gitu🤔
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Tuh kan /Scream/
total 6 replies
ηαηα
umur paramita sekarang berapa ya? panjang banget umurnya
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: aku juga gk tw sih🤣
total 1 replies
ηαηα
oalahhh, dendam rupanya
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: dendm akan membakarmu🤣
total 1 replies
ηαηα
Muak banget ma iklan shoppe, padahal gak nge-klik, tapi login sendiri jirr,, benar2 kayak Paramita nih pihak shopee ny😩
ηαηα
Astaga... wanita tua itu lagi😩🫠
ηαηα
Astaga... si silas kurang kerjaan banget mau merusak kehidupan orang
nurul supiati
1 kataaaa gilllaaaaa🤣🤣🤣🤣
nurul supiati: eta nini nini peotttt
total 2 replies
🟢≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥
boleh kah ku berkata kasar/Angry//Angry/.... rasanya ingin sekali teror othornya karena Paramita masih hidup/Angry//Angry//Angry/
🟢≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥: gak sabar aku kak/Scream//Scream//Scream/
total 2 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
tenang intan tenang jangan sampai loe santet author nya
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ bukan menang/Facepalm//Facepalm//Facepalm/ tpi ya mmg gitu🤣🤣🤣🤣🤭
total 3 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Nenek peot🤬🤬🤬
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: /Right Bah!/Budu ahh
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Tetap tenang dan teruslah berusaha, yakinlah kalian pasti bisa..
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: amin ya Allah /Grimace/
total 1 replies
nurul supiati
tak kira bakal bahagia masalahnya ujiannya selesai taunya ada ajah ujiannya kek dunia nyata hihihi😭
🟢≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥
/Panic//Panic//Panic/ kapan tuh si nenek lampir dan gerombolannya mati/Panic//Panic//Panic//Panic//Panic//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Othoorrr/Curse/
Gak suka lah/Cry/
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: ampun/Cry//Cry/
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Ya Allah... kapan sih tu nenek peot koit😤 udah tua juga bukan nya tobat, eh ini malah makin menjadi/Hammer/
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Udah gak bisa ditahan lg/Scream/
total 2 replies
°🫧•𖨆٭ Ŋบ𝑟 1꙳○𖨆°
lewat kasih anu aja 😄
°🫧•𖨆٭ Ŋบ𝑟3꙳○𖨆°
Nengok
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Berjuanglah dan tetap semangat, kalian pasti bisa melalui ini semua/Determined/
🦂🍃 CISUN 2 🦂🍃
Hhhmmm🤧🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!