Cerita tentang gadis yang meninggal di usia muda namun hidup kembali di dunia yang berbeda. Bagaimanakah kisah kehidupan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Berita hilangnya Nazyela akhirnya sampai ketelinga Jongya. Perasaan pemuda itu berkecamuk, dalam hatinya penuh tanda tanya apakah itu adalah perbuatan sang ratu ibunya. Amarah yang kini ia rasakan memuncak. Kecewa akan kepercayaan terakhir yang ia berikan kepada ibunya menjadi penyesalan baginya.
Ia lalu pergi ke hadapan ratu yang saat itu sedang menikmati secangkir kopi hitamnya.
Tanpa menundukkan kepala ia menatap sang ratu dengan wajah yang penuh kekecewaan dan amarah. Matanya tajam dengan penuh kebencian.
"Apa ini ulah ibu? Bukankah kita telah sepakat ibu tidak akan menyentuhnya jika aku bersedia menikah dengan wanita pilihan ibu?"
"Lancang!! Begitukah caramu menghadap aku?!"
Ratu menatap tajam ke arah Jongya tanpa berkedi sedikit pun.
"Ibu yang paling tahu kenapa aku begini? Ku mohon ibu, ini permintaan pertama dan terakhirku...aku takkan meminta lagi selain ini. Tolong hentikan! Dan kembalikan gadis itu kekeluarganya"
"PRAANGG..!!"
Gelas yang ada ditangan sang ratu dilempar begitu saja ke tubuh Jongya.
Terlihat ratu sangat marah mendengar perkataan putranya.
"Kau menuduhku??!!"
Sikap Jongya langsung berubah manakala mendengar perkataan sang ibu. Pemuda itu juga mengenali watak sang ibu. Ratu tidak pernah mengungkiri apa yang telah dia buat di hadapan putranya. Bahkan kelicikannya menjebloskan ratu sebelumnya ke dalam penjara.
Apa berarti bukan ibu pelakunya??
Lalu siapa?
"Apa kau kenal baik gadis itu? Apa kau yakin dia tidak memiliki banyak musuh?!!"
Urat dileher ratu terlihat jelas ketika ia mengatakan hal itu dengan setengah berteriak.
Apa jangan-jangan...
Tidak!! Nazyela benar-benar dalam bahaya sekarang. Jika itu ibu mungkin hanya akan menyiksa gadis itu. Tapi jika benar apa yang aku perkirakan Nazyela bisa dibunuh oleh Dragon
Jongya tertunduk lemah. Hatinya semakin kacau manakala dugaan terkuat dalang dibalik hilangnya Nazyela adalah Dragon.
Ratu yang melihat anaknya tidak lagi menatap benci dirinya seperti tadi lalu berbalik badan memunggungi pemuda itu.
"Keluarlah.. sebelum aku berubah pikiran. Dan ingat janjimu padaku!!"
Jongya menatap punggung sang ibu. Lalu dengan perasaan hampa pemuda itu meninggalkan ruangan itu.
Pemuda itu mencoba menenangkan dirinya. Ia mencoba untuk mencari cara menyelamatkan Nazyela.
" Sir. Adson? "
" Ya yang mulia.. apa ada yang dibutuhkan?"
Lelaki tua yang selalu setia mendampingi Jongya menanyakan keperluan pemuda itu. Pria itu sedih melihat Jongya.
"Sir. bisakah engkau mencari Nazyela tanpa sepengetahuan ibu? Aku merasa bersalah jika gadis itu tidak baik-baik saja"
Hilangnya Nazyela diketahui di sebuah hotel kecil saat badai salju turun.
Jongya ingat terakhir kali ia bertemu dengan gadis itu di sebuah hotel kecil. Pemuda itu yakin hotel yang diceritakan adalah tempat mereka bertemu waktu itu.
Sir. Adson tahu kalau gadis yang dimaksud adalah wanita yang dekat dengan sang pangeran yang ditentang oleh ratu. Sir. Adson juga mengetahui kisah mereka di mension rahasia dari kesatria pengawal yang selalu mendampingi pangeran yang merupakan putranya sendiri.
"Baiklah yang mulia.. saya akan berusaha"
*****
Situasi tidak lagi aman bagi Dion yang tak lain adalah orang yang menculik Nazyela. Bahkan bangsawan Shaden juga mencari dirinya, mungkin ingin tahu apakah gadis itu telah ia bunuh.
Tidak banyak yang tahu wajah ketua Serikat Dragon. Sosok Dion selalu tersembunyikan. hanya beberapa anak buahnya yang tahu wajahnya, beserta tuan Shaden dan anaknya Roana.
Gambar wajah Nazyela terpampang hampir diseluruh negeri. Dion menutupi jejak gadis itu dengan mengubah penampilannya. Rambut Nazyela di gunduli. Wajah dan kulitnya sudah tak lagi terawat. Mata yang bengkak karena sering menangis. Nazyela bagai gadis desa yang hidup seperti orang miskin. Tubuh yang kurus semakin mengecil. Sebelah kakinya dipasung dengan rantai yang sangat panjang. Ia bisa berjalan mengelilingi kamarnya dengan kaki yang berantai. Semua benda-benda tajam Dion singkirkan agar Nazyela tidak dapat kabur. Gadis itu bagai hewan peliharaan. Setiap malam ia akan menangis meminta agar Dion mau melepaskan dirinya.
Dari kejauhan terdengar derap kaki kuda yang mendekati rumah kumuh itu.
Dion terlihat panik.
"Akan ada yang datang kesini. Dan ingat kau harus mengatakan kalau kau adalah istriku yang sedang menderita sakit! Jika kau berani bertindak macam-macam aku akan segera menusukmu dan para pengawal itu tinggal membawa mayatmu kembali"
"Aku rasa itu akan lebih baik"
Nazyela berkata dengan pasrah.
Ia pernah mencoba untuk melarikan diri tapi hasilnya dia malah hampir diperkosa oleh Dion kalau saja dia tidak sedang datang bulan.
Dia juga pernah coba membunuh dirinya. Namun usaha itu sia-sia karena diketahui oleh Dion. Oleh karena itu semua benda tajam dan yang memungkinkan kan untuk dirinya kabur serta bunuh diri di jauhkan darinya.
"Jangan main-main denganku?! Ingat itu!!"
Benar saja belum lama Dion selesai bicara dan membuka rantai kaki Nazyela, seseorang mengetuk pintu rumah itu.
"Apa ada orang di dalam?"
Dion melangkahkan kaki membuka pintu yang rapuh rumah itu.
Di lihatnya 4 orang pengawal berdiri didepan ambang pintu.
"Maaf tuan, kami sedang melakukan pemeriksaan. Apa ada orang lain selain tuan yang tinggal dirumah ini?"
"Ada istriku. Dia sedang terbaring lemah karena sakit"
Jawab Dion santai.
"Boleh saya memeriksa sebentar?"
Dion membuka pintu rumah itu selebarnya.
Para pengawal itu masuk melihat keadaan sekitar rumah itu.
Benar hanya terlihat wanita kurus lemah tak berdaya yang terbaring ditempat tidur yang lusuh itu.
Pengawal itu memeriksa selembar kertas dan memastikan wajah wanita yang sedang dicari dengan wanita yang terbaring lemah itu.
Pria itu menggeleng yang mengisyaratkan kalau wajah mereka tak sama.
"Maaf kami telah mengganggu waktu tuan"
Pengawal-pengawal itu hendak pergi namun tertahan sesaat ketika Nazyela yang pura-pura tidur berkata.
"Granat...granat..."
"Sepertinya istriku mengigau.."
Dion berkata agar pengawal itu tidak menaruh curiga.
" Baiklah kalau begitu kami permisi"
Para pengawal itu pun pergi meninggalkan rumah kumuh itu.
Dalam hati Nazyela kecewa, ia kembali menangis ketika para pengawal itu tidak mengenali dirinya. Ia sangat menyesal ketika dulu ia tidak pernah mendatangi camp kesatria Kley sekedar menampakkan wajahnya.
Harapan untuk segera bebas dari tempat neraka itu pupus begitu saja.
Tubuhnya yang ringkih semakin lemah tak berdaya.
"Hiks...hiks...hiks...tolong bunuh saja aku..."
Nazyela merasa tidak sanggup lagi dan memohon.
Gadis itu teringat kembali masa-masa dimana ia baru membuka mata pindah kedunia ini. Masa-masa yang penuh kebahagiaan baginya karena merasakan apa yang ia impikan yang selama ini hanya ia khayalkan setelah membaca novel.
Ia teringat kehidupannya dulu di dunia sebelumnya. Dunia yang jauh dari kata kemewahan namun tidak pernah ia alami tragedi hidup yang menyedihkan seperti sekarang ini.
Dion hanya menatap nanar kepada gadis itu.
*****
"Kita beristirahat sejenak"
Pengawal-pengawal itu duduk dibawah sebuah pohon yang besar dan rindang. Kuda-kuda mereka ditambatkan tak jauh dari mareka.
Masing-masing meneguk botol minuman guna menghilangkan haus dahaga mereka.
Granat... dimana aku mendengar kata itu ya?
Rasanya tidak asing..tapi apa?
Salah seorang dari pengawal itu tampak melamun.
Sedang lainnya mencoba merebahkan badan mereka.
📣📣Tinggalin jejak like dan komen dong biar aku jadi lebih semangat. Terima kasih 🤗