Warning!!! (21+)
Selamat membaca!!!
Dicampakkan begitu saja oleh sang kekasih hingga pada akhirnya sang kekasih diketahui telah berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, membuat Laras Nugraheni depresi. Pertemuan antara Laras dan seorang bos mafia bernama Alex Fernando menjadi awal perjalanan hidup yang akan membawanya menemukan cinta sejatinya.
Apakah yang akan terjadi dengan Laras selanjutnya?
Yuks baca novel baruku ini!!!!
Jangan lupa like, komen dan favorit ya guys!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
"Richi, kau lihat di sana ada tiga orang polisi yang berjaga di depan rumah gadisku, kau coba alihkan perhatian mereka. Setelah itu aku akan masuk lewat pintu belakang." Perintah Alex.
Richi langsung keluar dari mobil yang di parkirnya di seberang jalan rumah Laras. Ia mulai mengalihkan perhatian tiga polisi itu.
"Maaf Tuan, aku adalah penghuni baru di perumahan ini. Apa kalian tahu dimana rumah no 34 itu berada? Saya kebingungan, di sini terlalu banyak angka, saya tidak begitu pandai membaca." Ucap Richi berpura-pura.
"Kelihatannya kau sangat berpendidikan tapi mengapa tidak belajar dengan sungguh-sungguh? gurumu pasti menghukummu setiap hari karena ulahmu itu." Ejek polisi 1.
"Iya Tuan, saya terlalu bodoh untuk belajar, jadi saya keluar dari sekolah karena tidak ingin membuat guru saya mati kesal di sebabkan oleh saya yang ber-IQ rendah ini." Jawab Richi.
"Sudahlah anak muda, masih banyak hal yang bisa di lakukan selain belajar. Apa kau mau dengan anak gadisku? dia sangat cantik dan kuliah di kampus ternama di kota ini. Coba kau lihat ini fotonya." Ucap polisi 2.
Saat polisi 1,2,3 sedang sibuk mengobrol dengan Richi, Alex mendapatkan kode dari sang sahabat agar segera meringsek masuk dari pintu belakang.
Alex perlahan keluar dari mobil, dia berjalan senormal mungkin. Kini sang bos mafia itu sudah sampai di pintu belakang rumah Laras.
Ia mencoba membuka pintu itu dengan keahliannya membobol kunci, setelah bisa di buka. Alex masuk ke dalam dan mencari keberadaan Laras.
Sang bos mafia membuka semua pintu ruangan yang ada di rumah itu, hingga pada akhirnya dia dapat menemukan keberadaan sang kekasih yang tengah menangis di samping ranjang miliknya. Mendengar ada yang membuka pintu kamarnya, Ia terkejut dan langsung bangkit dari keterpurukannya, segera saja Laras memeluk tubuh sang kekasih dengan sangat erat.
"Tuan, kau datang." Ucap Laras terharu.
"Tentu saja, kau ikutlah bersamaku. Kita pergi ke apartemenku, di sana lebih aman." Jawab Alex.
"Mau pergi kemanapun asalkan denganmu Tuan, aku pasti ikut." Ucap Laras dengan senyum yang kelewat manis.
Jantung Alex berdetak sangat kencang, senyum sang gadis membuatnya salah tingkah.
"Sial!! kau selalu menggodaku dengan senyummu itu, jangan salahkan aku sayang jika kau akan kelelahan malam ini." Gumam Alex.
"Hey Tuan, aku tahu isi otakmu itu. Selamatkan aku dulu, baru memikirkan yang lain." Jawab Laras sambil menjitak kening sang kekasih.
"Hukumanmu akan bertambah karena kau
membuat keningku memerah akibat ulah jari cantikmu itu." Ucap Alex sambil mengucap keningnya tanpa ekspresi.
"Tuan, jika kau merasa sakit ataupun sedih, kau harus mengekspresikannya. Saat bahagiapun sama, hidupmu terlalu kaku. Kau menjadi terlalu membosankan saat tidak ada perbedaan ekspresi antara sedih dan bahagia. Wajahmu tetap saja sama, datar. Aku ajari kau tersenyum nanti." Gerutu Laras.
"Diamlah, bukan saatnya untuk berdebat." Jawab Alex dingin.
Alex memeluk tubuh Laras dan mengajak sang kekasih keluar lewat pintu belakang. Saat berada di luar rumah, Alex di buat terkejut oleh aksi Richi yang sudah melumpuhkan ketiga polisi itu.
"Tidak salah aku memilihmu menjadi ahli mata-mata Death Angel, kau sangat berbakat Richi." Puji Alex.
"Aku hanya ingin sedikit merenggangkan otot-ototku, sudah lama tidak berolahraga." Jawab Richard dengan membusungkan dada.
"Cih, bocah tengik ini. Cepat kita pergi dari sini sebelum ada orang yang melihat kita." Ucap Alex.
Mereka bertiga berjalan ke seberang jalan, kemudian naik mobil milik Alex yang sedari tadi terparkir di sana.
"Tuan Richi terimakasih telah membantuku keluar dari "penjara" itu." Ucap Laras.
"Bukan masalah besar, nona. Kau adalah gadis milik bos kami, tidak ada hal lain yang bisa kami lakukan selain memberikan yang terbaik untuk bos kami. Menyelamatkanmu adalah tugas bagiku." Jawab Laras.
"Kau menjadi pandai berbicara ya? jangan tebar pesona di depan Laras, dia hanya milikku." Ucap Alex yang semakin erat memeluk sang kekasih.
"Kau terlalu serius bos." Jawab Richi yang memang sengaja membuat Alex kesal.
"Tuan Richi saja bilang kau terlalu serius, benarkan apa yang ku katakan tadi?" Ucap Laras.
Alex melepaskan pelukannya memalingkan wajahnya dari Laras, Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Laras yang mengetahui jika sang kekasih sedang marah, membuatnya semangat untuk menggoda sang kekasih.
"Tuan Richi, lihatlah sahabatmu ini. Dia marah padaku." Jawab Laras.
"Bos ku itu orangnya baik nona, jarang marah. Mungkin karena dia sedang datang bulan. Jadi amarahnya keluar." Ucap Richi menimpali. Ia sedang bekerja sama dengan Laras membuat Alex semakin kesal.
Tapi orang yang di maksud tidak merespon apapun, dia masih melempar pandangan matanya keluar jendela mobilnya.
"Mungkin nona, dia sedang mengidap syndrom susah berekspresi." Jawab Richi.
Alex masih belum merespon, dia masih saja memendam perasaannya. Laras kemudian meminta tolong Richi untuk berhenti di sebuah minimarket karena dia ingin membeli sesuatu.
Beberapa menit kemudian Laras keluar dari minimarket dan meminta uang kepada Richi karena Ia tidak membawa uang sama sekali.
"Kau mintalah uang padaku, calon suamimu itu aku atau dia?" Ucap Alex yang membuat Laras dan Richi tertawa bersama karena melihat bos Alex yang kini mudah marah dan cemburuan itu.
"Saat kami bicara apa kau merespon kami? mana uangmu cepat. Dasar bos aneh." Ucap Laras.
"Bawa dompetku bersamamu, kau tinggal memilih mau bayar cash atau pakai kartu." Jawab Alex sembari menyerahkan dompet milik kepada Laras.
"Tidak perlu Tuan, aku hanya butuh satu lembar saja. Sisanya kau simpan."
Laras kemudian segera kembali ke mini market dan membayar semua barang yang dia beli. Setelah selesai, Laras kemudian masuk ke dalam mobil.
"Coba kau makan coklat ini, Tuan. Perasaanmu pasti lebih baik." Saran Laras.
"Aku tidak mau." Jawab Alex.
"Ayolah Tuan, sekali saja. Ya ya ya ?" Rengek Laras.
Mata tajam milik Alex kini menatap wajah imut sang gadis yang sedang merenggek seperti anak kecil saat membujuk sang kekasih untuk mau makan coklat yang Ia beli tadi.
"Mengapa kau begitu cantik, sayang. Senyummu selalu membuatku tenang." Gumam Alex.
"Tuan ... Tuan ... apa kau mendengarku? Tuan?" Tanya Laras yang melihat sang bos mafia menatap wajahnya tanpa berkedip dan juga tanpa mengeluarkan kata sepatahpun.
"Suapi aku, aku mau kau menyuapiku." Jawab Alex.
"Tinggal bilang saja, apa susahnya." Ucap Laras sambil membuka bungkusan coklat yang di belinya. Saat dia ingin menyuapi Alex menggunakan tangannya, sang bos mafia mencegahnya.
"Bukan dengan tangan, tapi suapi aku dengan mulutmu." Jawab Alex.
Seketika Laras terdiam karena dia tidak mampu melakukannya di depan Richi. Dia menjadi kikuk dan salah tingkah.
cerita nya sangat bagus
cuman nama
klan nya kayak komplotan
bocil².....
kan mafia tuh sangarr dan pembunuh berdarah dingin...
misalnya
1-red scorpion
2-killer
3-black evil
pokonya se sangarr munking...