Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. TAWARAN BERACUN
..."Dalam dunia yang penuh kepentingan, tidak ada tawaran yang gratis, hanya harga yang ditunda."...
...---•---...
Gerobak kerbau berderak pelan di jalan berbatu, setiap guncangan mengirim getaran ke tulang belakang Doni. Matahari pagi sudah naik, menyinari atap-atap genteng rumah pedagang di tepi jalan utama. Bau sate kambing dari warung pinggir jalan bercampur dengan aroma kopi pahit dan tembakau kretek. Kota kecamatan. Dunia yang berbeda dari gubuk-gubuk bambu di kampungnya.
Karyo duduk di sampingnya, menatap bangunan-bangunan tinggi dengan mata waspada. "Kau yakin ini aman?"
"Tidak," jawab Doni jujur. "Tapi kita tidak punya pilihan."
Rumah Tuan Kasim berdiri megah di ujung jalan, pagar besi tinggi dengan ukiran rumit, halaman luas dengan pohon mangga tua yang rindang dan kandang ayam. Dua orang pelayan berdiri di gerbang, melihat mereka mendekat. Salah satunya langsung membukakan pintu.
"Tuan Doni sudah ditunggu," katanya sopan.
Doni turun dari gerobak, kakinya menyentuh tanah yang lebih keras, lebih rata dari tanah kampung. Karyo mengikuti di belakang, langkahnya ragu. Mereka dipandu melewati taman dengan bunga-bunga yang tidak pernah Doni lihat tumbuh di kampung. Mawar. Melati. Anggrek gantung. Semua dirawat sempurna, setiap kelopak bebas dari debu.
Di beranda depan, Tuan Kasim duduk di kursi rotan dengan secangkir teh di tangannya. Arif, anaknya, bermain di sudut dengan boneka kayu. Anak itu terlihat sehat, pipinya sudah kembali merah, matanya cerah. Jauh dari sosok sekarat yang Doni rawat beberapa hari lalu.
"Doni!" Tuan Kasim bangkit, senyumnya lebar. "Datang, datang. Duduk."
Doni mengangguk sopan, mengambil tempat di kursi yang ditunjukkan. Karyo berdiri di belakangnya, tidak duduk meski dipersilakan.
"Teh? Kopi?" tawar Tuan Kasim.
"Air putih saja, terima kasih."
Tuan Kasim mengangguk pada pelayannya, yang segera pergi dan kembali dengan nampan berisi gelas-gelas tinggi berisi air jeruk nipis. Doni minum sedikit, merasakan segarnya di tenggorokan yang kering. Rasa manis dan asam bercampur di lidahnya, begitu berbeda dari air sumur kampung yang dia minum setiap hari.
"Aku dengar Wedana Sastro datang kepadamu kemarin," kata Tuan Kasim langsung, tidak bertele-tele.
Doni meletakkan gelasnya pelan. "Berita cepat sekali."
"Berita tentangmu selalu cepat." Tuan Kasim bersandar di kursinya. "Lima gulden per bulan. Itu banyak untuk tabib kampung."
"Itu banyak untuk siapa pun," balas Doni.
Tuan Kasim tertawa pelan. "Aku suka kejujuranmu. Kebanyakan orang akan pura-pura tidak peduli soal uang." Dia meletakkan cangkir tehnya, jari-jarinya mengetuk pelan di pegangan rotan. "Aku punya tawaran."
Doni diam, menunggu. Di sini dia datang. Tidak ada yang gratis di dunia ini.
"Aku bayarkan pajakmu. Seluruhnya. Setiap bulan. Tanpa kau harus khawatir."
Kata-kata itu menggantung di udara. Terlalu bagus. Terlalu mudah.
"Sebagai gantinya?" tanya Doni pelan.
"Sebagai gantinya, kau jadi tabib keluarga kami. Prioritas pertama. Jika ada yang sakit, kau datang langsung. Dan kau buka praktik juga di rumah ini, dua hari seminggu. Aku akan sediakan ruangan, peralatan, apapun yang kau butuhkan."
Doni menatap Arif yang bermain di sudut. Anak yang nyawanya dia selamatkan. Lalu dia menatap kembali Tuan Kasim, membaca maksud di balik tawaran itu. Ini bukan soal keluarga. Ini soal sesuatu yang lebih besar.
"Kau ingin aku jadi tabibmu saja, atau kau ingin sesuatu yang lain?"
Tuan Kasim tersenyum tipis, matanya berkilat. "Pintar. Ya, aku ingin sesuatu yang lain." Dia condong ke depan, suaranya turun setengah nada. "Aku ingin koneksi dengan Tuan Van der Berg. Aku ingin akses ke pabrik gula. Aku ingin kontrak perdagangan. Dan kau, Doni, punya sesuatu yang tidak dimiliki pedagang lain. Kau punya kepercayaan istri mandor Belanda itu."
Ah. Jadi ini soal itu. Politik dagang. Akses ke kekuasaan kolonial melalui pintu belakang.
"Aku bukan pedagang," kata Doni hati-hati. "Aku tidak bisa menjanjikan kontrak apapun."
"Aku tidak minta kau janjikan apapun. Aku hanya minta kau buka jalan. Perkenalan. Percakapan. Sisanya aku yang urus." Tuan Kasim menatapnya serius. "Kau butuh uang untuk praktikmu. Aku butuh akses. Ini menguntungkan untuk kita berdua."
Doni terdiam lama. Pikirannya berputar cepat, menimbang konsekuensi. Jika aku terima, aku punya jaminan finansial. Bisa terus menolong orang tanpa khawatir pajak. Tapi aku juga jadi bagian dari permainan kekuasaan yang selama ini aku benci. Aku jadi alat.
"Aku perlu waktu berpikir," kata Doni akhirnya.
Tuan Kasim mengangguk, tidak terlihat kecewa. "Kau punya dua hari. Tapi ingat, Wedana Sastro tidak akan menunggu lama."
...---•---...
Mereka keluar dari rumah Tuan Kasim dalam diam. Gerobak kerbau bergerak pelan kembali ke arah kampung, melewati pasar yang ramai, warung-warung kecil, dan anak-anak yang berlarian mengejar ayam. Suara tawar-menawar pedagang, teriakan penjual jamu, gerobak kayu yang berderak, semuanya bercampur jadi satu harmoni kota kecil yang sibuk.
Karyo akhirnya bicara. "Kau akan terima tawarannya?"
"Tidak tahu." Doni menatap jalanan di depan, matanya mengikuti debu yang berterbangan setiap kali kaki kerbau menghantam tanah. "Rasanya seperti menjual jiwa."
"Tapi kau butuh uang itu."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa ragu?"
Doni menghela napas panjang. "Karena jika aku jadi bagian dari sistem mereka, aku tidak lagi bebas. Aku harus ikut aturan mereka. Melayani kepentingan mereka. Dan orang-orang kampung akan melihatku beda. Bukan lagi sebagai tabib mereka, tapi sebagai orang kota yang sudah pindah kubu."
Karyo diam, tidak menjawab. Karena dia tahu Doni benar.
Ketika mereka sampai di kampung, Bambang sudah menunggu di balai dengan wajah panik. Keringat mengalir di pelipisnya, napasnya pendek seperti habis berlari. "Kang Doni! Ada masalah!"
Doni turun cepat dari gerobak. "Apa?"
"Ada orang datang dari kantor kecamatan. Mereka bilang kau harus datang sekarang. Dokter Belanda mau ketemu."
Jantung Doni berdegup keras. Dokter Belanda. Orang yang menurut Sastro ingin menyingkirkannya. Ini cepat sekali.
"Sekarang?"
"Sekarang."
Doni menatap Karyo. "Aku harus pergi."
"Aku ikut."
"Tidak. Kau tetap di sini, bantu Bambang." Doni memegang bahu Karyo, tangannya menggenggam erat. "Jika aku tidak kembali sebelum malam, cari Pak Wiryo."
Karyo menatapnya khawatir, garis-garis di dahinya semakin dalam. Tapi dia mengangguk.
Doni naik kembali ke gerobak, kali ini lebih cepat. Kerbau didorong berlari lebih kencang, kakinya membentur tanah dengan irama yang tidak teratur. Mereka melewati jalan setapak, melewati sawah yang hijau membentang, sampai akhirnya tiba di kecamatan.
Bangunan kantor pemerintahan berdiri kokoh, cat putih bersih, bendera tiga warna Belanda berkibar di tiang tinggi. Angin membuat bendera itu melambai dengan suara gemerisik kain, seakan mengejek.
Di dalam, ruang tunggu dipenuhi bangku kayu panjang. Beberapa orang duduk dengan wajah cemas, menunggu giliran urusan administrasi mereka. Bau kertas tua dan tinta bercampur dengan keringat orang-orang yang menunggu. Seorang juru tulis melihat Doni dan langsung bangkit.
"Tuan Doni Wira? Ikut saya."
Mereka berjalan melewati lorong panjang, sepatu Doni berderak di lantai kayu yang mengkilap. Suara langkah kaki mereka bergema di dinding yang tinggi. Pintu besar di ujung lorong terbuka, dan Doni masuk ke ruangan yang jauh lebih besar. Meja kayu gelap di tengah, rak buku penuh dokumen di dinding, dan di belakang meja itu, duduk seorang lelaki Belanda berambut pirang dengan kacamata bulat.
Dan di sampingnya, Wedana Sastro.
"Ah, Doni," kata Sastro dengan nada yang terlalu ramah. "Ini Dokter Leiden. Dokter resmi pemerintah kolonial untuk wilayah ini."
Dokter Leiden menatap Doni dengan tatapan dingin, seperti melihat serangga yang mengganggu di atas meja makan. "Jadi ini tabib kampung yang membuat keributan."
Doni tidak menjawab. Dia berdiri tegak, menatap balik tanpa kedip. Jangan tunjukkan kelemahan. Jangan beri mereka apapun.
"Kau tahu," lanjut Leiden dalam bahasa Melayu yang kaku, aksennya keras di setiap kata, "praktek medis tanpa pendidikan formal itu ilegal. Kau tidak punya sertifikat. Tidak punya izin resmi. Kau membahayakan nyawa orang."
"Saya sudah menyelamatkan puluhan nyawa," balas Doni tenang, meski jantungnya berdebar keras. "Termasuk anak Tuan Kasim yang nyaris mati karena penyakit demam malaria yang menyerang otak."
Leiden mengangkat alis. "Demam otak? Kau bahkan tidak tahu istilah medisnya. Penyakit malaria serebral. Dan kau tidak bisa menyembuhkannya tanpa obat kina dosis tinggi dan perawatan rumah sakit."
"Tapi saya berhasil."
"Keberuntungan," Leiden melambaikan tangannya mengabaikan, seakan menepis lalat. "Aku sudah baca laporannya. Pasienmu yang lain tidak seberuntung itu. Banyak yang mati."
Kata itu menusuk. Doni menggenggam tangannya di samping tubuh, kuku jarinya menekan ke telapak tangan, menahan emosi yang ingin meluap.
"Setiap dokter kehilangan pasien," kata Doni pelan tapi tegas. "Bahkan dokter terbaik sekalipun."
"Tapi dokter terbaik tidak memberi harapan palsu." Leiden berdiri, kursinya bergeser dengan suara gesekan kayu. Dia berjalan mengelilingi meja, sepatu kulitnya mengetuk lantai dengan ritme yang mengancam, menatap Doni dari dekat. "Aku dengar kau bilang bisa menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Bahwa kau punya pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain. Itu klaim berbahaya."
"Saya tidak pernah bilang saya bisa menyembuhkan semua penyakit," bantah Doni. "Saya selalu jujur soal apa yang bisa dan tidak bisa saya lakukan."
"Lalu kenapa orang-orang percaya kau ajaib?"
"Karena mereka butuh percaya pada sesuatu."
Leiden terdiam, menatapnya tajam. Matanya menyipit di balik kacamata bundar. Lalu dia kembali ke kursinya, membuka laci dengan tarikan keras, dan mengeluarkan sebuah map tebal. Dia melemparkannya ke atas meja, tepat di depan Doni, dengan bunyi yang keras.
"Ini daftar pasienmu. Aku sudah selidiki. Dari tiga puluh pasien yang aku lacak, dua belas mati dalam dua minggu setelah kau tangani."
Doni merasakan dingin menjalar ke tulang belakangnya. Dua belas. Dua belas nyawa. Wajah-wajah mereka muncul di benaknya. Perempuan batuk darah dengan mata kosong. Lelaki dengan luka busuk yang berbau seperti kematian. Anak-anak yang terlalu lemah untuk bahkan menangis.
"Mereka sudah sekarat sebelum saya tangani," kata Doni, suaranya gemetar sedikit meski dia coba keras menahannya. "Saya datang terlambat. Atau penyakitnya sudah terlalu parah."
"Atau," potong Leiden tajam, "kau tidak kompeten."
Ruangan sunyi. Sastro duduk diam, menatap pertukaran itu tanpa ekspresi, seperti penonton yang menikmati pertunjukan.
Doni menelan ludah. "Apa yang Anda inginkan dari saya?"
Leiden bersandar di kursinya, jari-jarinya bertaut di atas meja. "Hentikan praktikmu. Sekarang. Atau aku akan laporkan kau ke pemerintah kolonial sebagai penipu berbahaya. Kau akan masuk penjara. Dan semua pasienmu akan kehilangan satu-satunya harapan mereka."
Jebakan. Ini jebakan sempurna. Jika aku berhenti, ratusan orang kehilangan akses pengobatan. Jika aku lanjut, aku masuk penjara.
"Kecuali," tambah Leiden pelan, suaranya turun seperti ular yang merayap, "kau mau bekerja untukku."
Doni mengangkat kepala cepat.
"Aku butuh asisten lokal," lanjut Leiden. "Seseorang yang tahu bahasa, budaya, dan bisa jadi perantara dengan pasien pribumi. Kau bekerja di klinik pemerintah, di bawah pengawasanku. Kau belajar cara yang benar. Dan aku tidak laporkan kau."
Tawaran kedua dalam satu hari. Tapi yang ini berbeda. Ini bukan sekadar aliansi. Ini penundukan total.
"Saya tidak akan berhenti menolong orang kampung," kata Doni pelan tapi tegas.
"Kau akan menolong mereka dengan cara yang benar. Di klinik resmi. Bukan di balai kampung seperti dukun kampungan."
"Dan orang-orang yang tidak bisa ke klinik? Yang terlalu miskin? Yang terlalu jauh?"
Leiden mengangkat bahu dengan acuh. "Itu bukan urusanku. Aku hanya bertanggung jawab pada yang bisa bayar."
Kata-kata itu membakar sesuatu di dalam dada Doni. Amarah. Jijik. Tapi juga ketakutan, karena dia tahu Leiden punya kekuasaan untuk menghancurkannya.
"Aku beri kau satu hari," kata Leiden, menatap jam saku emasnya sebelum menutupnya dengan bunyi klik yang keras. "Besok, kau datang ke klinik dan tanda tangan kontrak. Atau aku kirim laporan ke Residen. Pilih."
Doni menatapnya lama. Lalu, tanpa sepatah kata, dia berbalik dan keluar dari ruangan.
Lorong terasa lebih panjang. Udara lebih pengap, seakan oksigen tersedot keluar dari paru-parunya. Ketika dia keluar dari gedung, matahari sudah tinggi, panasnya menusuk kulit, membakar tengkuk. Doni berdiri di halaman, napasnya pendek, tangannya gemetar.
Dua tawaran. Dua jalan. Dua cara untuk bertahan. Tapi keduanya berarti menyerahkan kebebasan.
"Doni."
Dia menoleh. Tuan Van der Berg berdiri di bawah pohon asam, topi lebar di tangannya, wajahnya serius. Bayangan daun bergoyang di wajahnya, membuat ekspresinya sulit dibaca.
"Saya dengar percakapan kalian," katanya pelan, melangkah keluar dari bayangan. "Dinding di sini tipis."
Doni tidak menjawab. Tenggorokannya terlalu kering untuk bicara.
...---•---...
...BERSAMBUNG...
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲