Nia sangat mencintai Ronald dan menerima segala kekurangan yang dimilikinya, namun sayang segala cinta yang diberikan hanya dibalas dengan guratan demi guratan luka di hati. Saat Daniel datang dengan cinta baru akankah pintu hati Nia akan terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Utang Budi
Papa merasa geram atas ketidak-gentlean Ronald. Sudah tahu Nia ada dirumahnya namun tak berani untuk menjemput. Papa menutup kembali jendela rumah lalu mengunci pintu rumah dan bersiap tidur.
Pagi hari seperti biasanya Nia selalu menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Sabtu pagi ini biasanya ada canda tawa setiap sarapan karena semua anggota keluarga berkumpul, kecuali Kak Nay yang sibuk dengan bayinya. Namun pagi ini sarapan dengan hening.
Nesia yang masih mengantuk karena semalam ikut tak bisa tidur memikirkan kakaknya yang tersakiti. Nia dengan matanya yang bengkak efek kebanyakan nangis, dan Papa yang diam karena segudang rencana yang sedang Ia susun di kepalanya.
Nia membuat nasi goreng dan telur mata sapi untuk sarapan. Selesai makan dan mencuci piring Nia kembali lagi ke kamarnya. Ia hanya ingin tidur dan melupakan masalahnya jika Ia tertidur. Papa juga kembali lagi ke kamarnya. Dipegangnya kartu nama yang hendak diteleponnya. Agak ragu, namun melihat sikap menantunya yang menurutnya terlalu pengecut dibulatkannya niatnya.
Papa mengambil hp nya dan menghubungi Pak Darmawan yang seorang pengacara terkenal. Sang penerima telepon sangat senang mendapat telepon Papa. Ia dan Papa pun membuat janji ketemuan nanti sore di Mall G.
******
Flash Back
Hari itu sekitar pukul 9 pagi Papa sedang ada tugas dari kantornya untuk survei dan melewati daerah Menteng Jakarta Pusat. Salah satu tempat tinggal elit di Jakarta.
Papa sedang mengemudikan mobilnya sedang kecepatan sedang sambil menikmati pemandangan disekitarnya. Jalanan tak begitu ramai, mungkin karena semua pegawai kantoran sudah masuk kerja.
Tiba-tiba Papa melihat ada Bapak-bapak sedang duduk di trotoar. Bapak tersebut habis berolahraga naik sepeda. Papa merasa ada yang janggal. Papa akhirnya menghentikan mobilnya dan menghampiri Bapak tersebut.
Sepeda mahal keluaran Inggris itu dibiarkannya tanpa di standar, hanya tergeletak saja. Bapak itu duduk dengan wajah pucat sambil memegang dadanya.
"Pak, Bapak baik-baik saja?" tanya Papa.
"Dada saya sakit" ujar Bapak itu lemah.
"Ayo Pak saya antar ke Rumah Sakit. Kebetulan RSCM tak jauh dari sini" Papa lalu memapah Bapak tersebut dan mendudukkannya di kursi penumpang. Papa melipat sepeda milik Bapak tersebut dan menaruhnya di kursi belakang mobil yang sudah dilipatnya. Ia pun langsung menuju UGD Rumah Sakit.
Pihak Rumah Sakit meminta Papa menjadi penjamin atas Bapak yang dibawanya karena Bapak tersebut tak membawa atm. Papa pum bersedia menjadi penjamin dan membayarkan uang jaminan, itu pun Ia memakai uang tabungan miliknya. Selesai administrasi Bapak tersebut ditangani oleh Dokter. Papa dengan setia menunggui Bapak tersebut.
Tak lama ada dering hp berbunyi. Ternyata hp milik Bapak tersebut yang di titipkan ke Papa. Tertulis Home sebagai identitas penelepon. "Pasti dari keluarganya" kata Papa dalam hati. Telepon tersebut diangkat oleh Papa.
"Hallo"
"Hallo Papa. Kok belum pulang? Udah siang nih"
"Maaf Bu saya bukan suami Ibu. Tadi saya ketemu Bapak di jalan sedang kesakitan. Saya bawa Bapak ke RSCM Bu"
"Apa? Suami saya kenapa Pak?"
"Saya belum tau Bu masih diperiksa di UGD"
"Saya kesana ya Pak. Saya titip suami saya ya Pak"
"Iya Bu"
Telepon pun dimatikan. Tak lama Dokter UGD memanggil Papa.
"Keluarga Bapak Darmawan" Papa pun datang begitu nama Bapak yang diantarnya dipanggil.
"Beruntunglah Bapak Darmawan bertemu Bapak Adi. Jika terlambat sedikit saja bisa bahaya" Dokter lalu menjelaskan lagi. "Sesak di dada Pak Darmawan bisa mengakibatkan serangan jantung yang hebat dan berakibat fatal jika tak langsung ditangani"
"Sekarang keadaan Pak Darmawan gimana Dok?"
"Pak Adi tak perlu khawatir, Pak Darmawan sekarang keadaannya sudah stabil dan bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Bapak bisa menemuinya sekarang"
"Baik Dok. Terima kasih" Papa lalu menuju tempat Pak Darmawan yang sedang beristirahat. Ia memakai selang oksigen dan dadanya sudah terpasang selang-selang yang tersambung pada layar monitor, Papa tak tau gunanya untuk apa.
"Bagaimana Pak keadaannya?" tanya Papa.
"Sudah lebih baik, Pak. Untung ada Bapak yang menolong saya" Jawab Pak Darmawan lemas.
"Syukurlah kalau baik-baik saja Pak. Sesama manusia kita harus saling tolong menolong Pak. Oh iya tadi istri Bapak telepon ke hpnya maaf saya angkat lalu saya beri tahu keadaan Bapak. Mungkin sebentar lagi sampai"
"Iya tak apa-apa Pak" tak lama terdengar suara seorang perempuan mencari Pak Darmawan.
"Mungkin itu istrinya Pak" Papa lalu melihat keluar dan benar saja itu istri Pak Darmawan.
"Maaf ibu istrinya Pak Darmawan?" tanya Papa.
"Betul Pak. Bapak yang sudah nolongin suami saya ya? Gimana Pak keadaan suami saya?" Ibu Darmawan terlihat panik dan cemas.
"Tenang Bu. Bapak sudah baik-baik saja. Ayo saya antar ke dalam" Papa lalu minta ijin security untuk membawa keluarga pasien.
Ibu Darmawan, sekali lihat orang sudah tau Ia adalah nyonya kaya. Karena panik mendengar kabar suaminya Ia bahkan tak sempet berganti baju. Sebenarnya Ibu Darmawan sedang menunggu suaminya karena mau pergi ke acara, sudah dandan rapi suaminya belum datang juga. Jadilah beliau datang dengan dandanan rapi.
Ibu Darmawan sambil menangis mendengarkan cerita suaminya. Ia menatap Papa dengan pandangan penuh terima kasih. Papa pun tersenyum membalasnya. Tak lama Papa teringat kalau Ia harus kembali menjalankan tugasnya untuk survey lokasi. Papa menghampiri Pak Darmawan untuk ijin pulang.
"Maaf Pak saya harus kembali bekerja. Saya mau pamit tapi sepeda Bapak masih ada di mobil saya"
"Oh iya Pak. Maaf saya juga lupa tadi Bapak yang menjaminkan agar saya bisa dirawat. Begini saja, Bapak di Departemen A bagian apa ya? pulang dari Rumah Sakit saya ambil langsung ke Bapak"
"Saya di Bagian Keuangan Pak"jawab Papa.
"Oh baiklah, kebetulan saya punya kenalan disana. Pulang dari Rumah Sakit saya akan menghubungi Bapak" Pak Darmawan lalu berbicara ke istrinya. "Ma, tolong urus administrasi, pindahkan atas nama Papa"
"Iya Pa"
"Baiklah saya simpan dulu sepedanya. Bapak bisa ambil kapan saja. Saya pamit dulu ya Pak"
"Iya. Terima kasih banyak Pak Adi. Saya punya utang budi sama Bapak" Pak Darmawan berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Papa.
"Sama-sama Pak. Sudah tugas saya menolong Bapak. Saya pamit ya Pak. Semoga cepat sembuh"
Papa pun meninggalkan Pak Darmawan dan menghampiri istrinya di tempat administrasi. Istri Pak Darmawan sudah memindahkan tagihan atas nama suaminya lalu mengembalikan uang Papa. Seperti suaminya, Ibu Darmawan juga berkali-kali berucap syukur dan terima kasih atas bantuan Papa.
Papa lalu pamit dan kembali lagi mengerjakan pekerjaannya....