"Dia istriku."
"Tapi dia milikku, Kak."
---------
Menggantikan sang Adik dalam sebuah pernikahan tak pernah menjadi mimpi dalam hidup Dirgantara Avgian. Sebuah kejutan yang disusun sebaik mungkin untuk sang adik nyatanya menyeret Gian dalam sebuah ikatan pernikahan yang tak dia inginkan.
Bagaimana mungkin ia mencintai gadis yang sudah bertahun–tahun menjadi kekasih adiknya, dan bagaimana mungkin ia menjalani pernikahan dengan gadis kecil yang masih sibuk dengan pelajaran Matematika, sungguh tidak dapat dipercaya.
ig : desh_puspita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buah Tak Jauh Dari Pohonnya (Raka=Gian)
"Selamat pagi, Mama."
Kebiasaan yang bahkan amat sangat Gian lakukan, sejak kapan pria itu menyapa dengan senyum semanis itu. Duduk dan bergabung dengan kedua orang yang kini menatap aneh ke arahnya.
"Dia kenapa, Mas?"
"Entahlah, papa juga tak mengerti watak anak sulungmu itu."
Gian hanya menarik sudut bibir mendengar ucapan Papanya, pria itu tengah menjadi bahan ghibah kedua orangtuanya. Pria itu duduk tanpa dosa meninggalkan Radha yang mungkin masih cemberut karena ulahnya.
Tak lama berselang, istri kecilnya turut bergabung dengan wajah yang luar biasa tak bersahabat. Radha mendelik menyadari Gian yang sejenak menoleh ke arahnya.
"Omo-omo, menantu Mama sudah datang, sini Sayang. Gimana tidurnya? Nyenyak?"
Radha belum menjawab, ia masih tengan menetralkan keadaan. Mencoba untuk melupakan sejenak apa yang Gian lakukan terhadapnya.
"Iya-"
"Oh tentu saja, Ma, bahkan dia sangat nyenyak. Iyakan, Zura?"
Jelita terkekeh kala sang Putra malah mengambil alih dan menjawab pertanyaannya. Wajah polos dan memerah yang Radha perlihatkan membuatnya semakin gemas.
"Gian, kau tidak macam-macam kan?"
Pertanyaan Raka membuat Radha semakin menunduk, ia hanya malu kala mengingat hal itu. Ia sungguh tak dapat melupakan kejadian kecil yang sukses membuat jantungnya berdebar kencang.
"Macam-macam bagaimana, Pa?"
"Ya macam-macam, Gian, tanpa Papa jelaskan kau tentu paham kan."
Gian tertawa sumbang, namun tetap saja ia tak dapat menyembunyikan jika ia memang melakukan hal yang di luar kendalinya.
"Tidak, Pa, hanya satu macam saja."
Raka menghela napas perlahan, perjanjian antara Adri, Gian dan dirinya rasanya belum terlalu lama. Bagaimana mungkin Gian bisa lupa.
"Gian, kau ingat kan?"
Sejenak Gian terdiam, memang permintaan Ardi usai akad terlaksana terlampau berat. Bahkan ia merasa kedua orang itu terlampau egois padanya.
"Iya, Pa, Papa tenang saja."
Perubahan wajah Gian tertangkap jelas di manik indah Radha. Jelas saja ia tak mengerti, namun hal itu tak mungkin ia tanyakan saat ini.
"Perjanjian?" tanya Jelita merasa aneh dengan percakapan putra dan suaminya.
"Perjanjian apa, Mas?"
"Tidak ada, cepat selesaikan sarapanmu."
Raka tidak akan membicarakan hal ini pada Jelita, sudah tentu wanita itu takkan mengizinkan hal itu terjadi. Dan Raka hanya meminimalisir keributan di antara mereka.
"Ma, kita pulang kan hari ini?" tanya Radha memastikan keadaan, meski tak mungkin ia dapat mengejar keterlambatannya, tetap saja ia harus memastikan hal itu.
"Iy-"
"Papa dan Mama duluan saja, kau ikut Kakak."
Radha terdiam, entah apa yang saat ini Gian pikirkan. Ingin rasanya ia mencolokkan garpu yang kini ada di tangannya.
"Memangnya ada apa, Sayang?" tanya Jelita memastikan tujuan Gian menahan Radha untuk pulang.
"Tidak, Ma, aku hanya ingin bersama dengannya lebih lama."
Tentu saja Gian berkilah, takkan ia beritahu kemana tujuan sebenarnya. Dan takkan pernah ia beritahukan pada Jelita. Niatnya untuk membawa Radha ke suatu tempat kali ini harus ia laksanakan.
"Ah kalian ingin berbulan madu kah? Atau apa?" tanya Jelita yang begitu antusias dengan ucapan Gian.
"Mama," ujar Gian sedikit menekan kalimatnya, ia merasa tak nyaman dengan Jelita yang terlampau antusias dengan apa yang ia lakukan.
Jelita tak bertanya lebih dalam, ia biarkan Gian membawa Radha mau kemana. Toh memang sudah sepenuhnya itu hak Gian. Sedangkan Raka meneliti raut tegas wajah putranya, ia hanya khawatir Gian akan bertindak yang tidak-tidak pada Radha.
Gian menghela napas pelan, tangannya meraih gelas berisi air yang ada di sampingnya lantas meminumnya. "Tenang Pa, menantu kalian pulang dalam keadaan utuh, tak akan ada lecet sedikitpun," ucap Gian menenangkan. Ia kembali menyuapkan sesuap makanan ke dalam mulutnya.
Sengaja Gian berkata demikian. Tutur kata itu benar–benar menenangkan dalam dua konteks yang berbeda ketika dipahami kedua insan paruh baya yang berbeda itu. Senyum itu tersungging jelas di raut wajah baik Raka maupun Jelita.
"Bagus, itu bagus dan memang harus," Raka mengangguk sembari tetap memasukkan nutrisi ke dalam mulutnya.
Kata demi kata yang dilontarkan oleh dua pria berbeda generasi itu benar–benar mengandung makna yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua. Sedangkan Jelita hanya mengangguk mengamini apa yang Raka katakan tanpa tahu arti sesungguhnya makna dari setiap kata itu.
Mereka berempat kembali hening dalam dentingan sendok dan piring yang mendominasi. Tak ada pembicaraan lagi seusai itu. Mereka mulai fokus pada hidangan yang ada di depan mereka masing–masing hingga mereka usai.
"Mama sama Papa duluan ya," ucap Jelita yang sudah ditunggu Raka di dalam mobil.
"Iya Ma," ucap Radha dengan senyum lebar walau di hati tersimpan banyak pertanyaan. Sementara Gian hanya mengangguk.
"Awas! Jaga menantu Mama. Sampai lecet, aku pecat kamu jadi anak Mama," ancam Jelita disertai dengan candaan.
"Iya Ma iya," jawab Gian malas. Jelita hanya tertawa kecil melihat sikap anaknya itu. Jelita melambaikan tangan ke arah anak sulung dan menantunya itu, lantas masuk ke dalam mobil.
"Ayo ikut Kakak," ajak Gian tatkala mobil yang Raka dan Jelita kendarai telah melaju cukup jauh. Radha mengikuti Gian yang masuk ke dalam mobil. Ia masih penasaran ke mana Gian akan membawanya pergi.
Gian mulai menstater mesin mobil itu. Tak tahan lagi, Radha tak menahan dirinya untuk bertanya.
"Mau kemana kita Kak?"
"Ke kandang monyet."
"Lah ngapain ke sana Kak?" Radha masih belum mengerti apa yang Gian maksudkan. Kenapa mereka harus ke sana? Begitulah kira–kira.
"Kasih makan saudaramulah," jawab Gian semakin ngawur. Radha melotot, seakan ingin memakan Gian hidup–hidup. Bukanya takut, Gian tertawa. Ekspresi Radha begitu menggemaskan di matanya.
"Kelinci kecilku begitu menggemaskan," gumamnya lirih, bahkan tak jelas. Suaranya hanya tertangkap samar di telinga Radha.
"Apa kak?" tanya Radha memastikan.
"Tidak! Sudahlah jangan banyak tanya," jawab Gian untuk mengakhiri pembicaraan mereka. Ia tak mau Radha membuat kupingnya panas karena banyaknya pertanyaan yang akan ia dengar nantinya.
"Dasar kutukupret!" gumam Radha lirih sembari menoleh ke arah jendela samping.
"Awas aja kau kelinci kecilku," gumam Gian dalam hati. Kali ini ia melepaskan Radha meski ia mendengar jelas umpatan Radha untuk dirinya. Gian mulai melajukan mobilnya menembus jalanan lenggang itu.
Tbc