Area Dewasa.!!! Tidak ada nilai positif.
Tidak suka = SKIP
Nicholas Alexander, laki - laki tampan berusia 24 tahun itu baru saja patah hati setelah kekasih yang sudah dia kencani selama lebih dari 4 tahun itu telah di tiduri oleh laki - laki lain.
Hancur.? Tentu saja dia sangat hancur menerima kenyataan pahit itu.
Pada akhirnya dia harus melepaskan wanita yang hampir saja dia nikahi dalam waktu dekat ini.
Mampukah Nicho melupakan cinta pertamanya.?Dan menemukan cinta sejati yang sesungguhnya.?
Siapakah wanita beruntung itu yang akan mendapatkan cintanya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Jeje dimana mah.?" Nicho baru ingat kalau Jeje sudah tinggal disini sejak beberapa hari lalu. Namun sejak dia datang sampai sekarang sudah pindah ke ruang keluarga, Jeje belum terlihat.
"Pergi sejak pagi sama Kenzo. Katanya mau ke pantai,,,"
Nicho hanya mengangguk saja. Adiknya itu sudah tumbuh dewasa, sudah memiliki suami dan akan menjadi seorang ibu. Sudah lama Jeje tidak membuntutinya, tidak lagi bergelayut dan merengek padanya.
"Jeje adik perempuan Nicho,,," Tutur Mama Rissa pada Sisil. Karna Sisil terlihat penasaran dengan sosok yang sedang di cari oleh Nicho.
"Dia sudah menikah dan sedang hamil sekarang,,," Ujarnya lagi.
"Sepertinya Sisil akan cocok kalau bertemu dengan Jeje. Umur kalian pasti tidak jauh beda,,,"
Sisil tersenyum menanggapi ucapan mama Rissa, kemudian melirik Nicho yang duduk disebelahnya.
Nicho hanya menatap malas dan menghela nafas pelan. Sedikit kesal karna kedua orang tuanya bisa menerima Sisil dengan baik. Nicho jadi semakin cemas jika nantinya mereka akan menuntut hubungan dia dan Sisil ke arah yang lebih serius.
Sakit hati dan rasa kecewanya saja belum hilang, Nicho tidak ingin memikirkan percintaan untuk saat ini bahkan beberapa tahun ke depan. Dia hanya ingin fokus pada kuliah dan bisnisnya sampai dia benar - benar sukses.
Kegagalan membuatnya sulit untuk membuka hati kembali. Bahkan merasa takut untuk memulai lagi.
Dia masih harus menata hati, menyembuhkan luka dan menghilangkan kekecewaan yang begitu membekas di hati dan ingatannya.
"Jadi bagaimana hubungan kalian ke depannya.?" Sisil tersedak minuman yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Dia meletakan gelas di atas meja sambil menatap ke arah Papa Alex dengan senyum kaku.
"Maaf om, tapi kami hanya teman saja." Sahut Sisil cepat. Dia benar - benar tidak ingin membuat kedua orang tua Nicho berharap lebih pada kedekatan dia dan Nicho. Sisil juga menghindari resiko yang mungkin hanya akan merugikan diri sendiri jika memaksakan hubungannya. Terlebih dia tau bagaimana perasaan Nicho padanya. Laki - laki itu sama sekali tidak memiliki ketertarikan sedikitpun padanya. Sisil bisa melihat itu dari sorot mata Nicho yang selalu datar saat menatapnya.
"Papa tidak menyuruh kamu untuk membawa teman Nich,!" Papa Alex langsung menegur Nicho.
"Kamu masih ingat bukan dengan permintaan Papa.?"
"Bawa wanita yang sedang dekat denganmu, dekat dalam arti memiliki hubungan lebih dari sekedar teman.!" Jelasnya tegas.
"Masih ada waktu 1 minggu lagi sebelum Papa menutup semua kafe milikmu,,!"
Papa Alex beranjak dari duduknya. Wajahnya terlihat sangat kesal, dengan kedua manik mata yang terus menatap tajam ke arah Nicho.
"Semua butuh proses Pah.!" Seru Nicho lantang. Dia berhasil membuat Papa Alex menghentikan langkahnya.
"Saat ini kita memang masih berteman, dan tidak menutup kemungkinan untuk menjalin hubungan kedepannya,,"
Ucapan Nicho membuat Sisil terkejut. Matanya membulat sempurna menatap Nicho yang terlihat santai berbicara seperti itu.
Papa Alex tersenyum lebar. Sepertinya dia sangat puas dengan jawaban yang diberikan oleh Nicho.
Begitu juga dengan Mama Rissa yang tersenyum lega. Dia pasti senang jika melihat putranya mulai bangkit setelah hubungannya dan Fely berakhir.
"Kalau begitu Papa tunggu kabar baik dari kalian.!" Seru Papa Alex.
"Papa merestui hubungan kalian dan jangan mengecewakan papa lagi.".
Papa Alex bergegas pergi dari ruang keluarga. Meninggalkan ketiga orang yang ada di sana dalam ke adaan bengong dan terkejut karna pernyataannya.
"Sepertinya Papa tau mana yang terbaik untuk kamu." Mama Rissa membuyarkan lamunan Nicho.
Laki - laki itu menarik nafas dalam. Dia tidak menyangka akan membuat sang Papa dengan mudah memberikan lampu hijau untuk hubungannya dan Sisil.
"Nicho pulang dulu Mah, harus ke kafe sekarang,,,"
Nicho beranjak dari duduknya, Sisil juga ikut beranjak meski dia masih bingung dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Pulang dulu tante,,," Sisil meraih tangan Mama Rissa dan mencium punggung tangannya.
"Salam untuk om dan adik Nicho,,," Ucapnya ramah. Mama Rissa mengangguk.
"Sering - sering datang ke kesini, kamu harus bertemu dengan Jeje. Dia akan senang bertemu dengan pacar kakaknya,,," Tutur Mama Rissa dengan senyum yang mengembang.
"Iya tante,,"
Nicho mendekat dan memberikan pelukan sekilas pada Nicho.
"Jaga kesehatan, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Mama akan memiliki cucu sebentar lagi, itu artinya Mama sudah tidak muda lagi dan harus banyak dirumah,,," Ujar Nicho. Dia sengaja meledek Mama Rissa.
"Dasar anak bandel.!" Mama Rissa menjewer telinga Nicho.
"Jaga Sisil, jangan berbuat yang macam - macam.!" Ucapnya memberikan peringatan pada Nicho.
"Aku bukan Kenzo mah.!" Sahut Nicho cepat.
Mama Rissa langsung diam di buatnya. Dia jadi ingat dengan menantunya itu yang berani mencium anaknya di dalam rumah ini. Yang akhirnya membuatnya terpaksa untuk secepatnya menikahkan Jeje dan Kenzo.
...****...
Sisil menatap cemberut pada Nicho. Sedangkan laki - laki itu hanya diam saja dan fokus menyetir. Dia sama sekali tidak merasa bersalah sudah memberikan harapan palsu kepada kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Sisil yang merasa dirugikan karna Nicho mengambil keputusan sepihak.
"Kenapa harus menjanjikan kita akan punya hubungan ke depannya.? Kakak sama aja kasih harapan sama mereka."
"Kakak kan cuma minta aku buat pura - pura sedang dekat, bukan untuk menjalin hubungan nantinya."
Sisil mulai memberikan protes. Dia jadi menyesal sudah karna mau ikut dengan Nicho.
"Jangan banyak protes.! Kita jalani saja." Sahut Nicho tegas.
"Tetap pura - pura sampai kafe ku tidak di berhentikan." Tambahnya lagi. Sisil semakin geram dibuatnya. Nicho seperti sedang memanfaatkan dirinya untuk kepentingan pribadi.
"Enak sekali jadi kak Nicho,!" Seru Sisil menyindir. Dia melirik sinis ke arah Nicho.
"Aku nggak mau.! Untung di kakak, rugi di aku."
Geram Sisil. Bibirnya mencebik kesal.
Nicho menghela nafas kasar. Dia segera menepikan mobilnya, menghentikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi. Keduanya saling pandang hingga suasana menjadi hening. Tidak ada suara kendaraan yang lalu lalang, juga tidak ada suara yang keluar dari mulut keduanya.
Nicho tampaknya sedang berfikir keras untuk mencari jalan tangah agar kafe nya tetap jalan dan tidak ada merasa dirugikan atau akan dikecewakan nantinya.
"Kalau begitu kita mulai dari awal." Suara Nicho terdengar lirih namun tegas.
"Anggap saja kita sedang melakukan pendekatan untuk hubungan ke depannya. Lupakan rencana yang sudah aku buat, dan anggap aku tidak pernah memintamu untuk berpura - pura.!"
"Tentang bagaimana hubungan kita kedepannya, kita putuskan nanti,,"
Nicho terlihat yakin saat mengatakan ingin memulai dari awal, sepertinya dia sudah memiliki keputusan yang terbaik.
"Aku tau perasaan tidak bisa di paksakan, tapi apa salahnya mencoba,," Tambahnya lagi. Dia melihat Sisil yang diam saja. Seperti bingung untuk menanggapi ucapan Nicho.
"Aku serius,,,!" Ucapan Nicho membuyarkan lamunan Sisil. Dia masih bingung untuk mengambil keputusan.
Tidak masalah jika memang Nicho serius dan bisa mencintainya nanti, tapi bagaimana kalau hanya dirinya saja yang mencintai Nicho.? Bukankah itu hanya akan membuatnya terluka.
"Aku tetap nggak mau kak, Aku takut hanya akan,,,,
Nicho menarik tengkuk Sisil dan langsung menciumnya. Kali ini dia membiarkan luma*an lembut pada bibir bawah Sisil, tidak seperti saat pertama kali dia mencium Sisil.
"Aku tau kamu punya perasaan padaku, jadi jangan pura - pura untuk menolak lagi.!" Tegas Nicho.
Sisil memaku, perasaannya mulai bercampur aduk. Setelah mendengar ucapan Nicho, Sisil baru menyadari kalau memiliki perasaan lebih pada Nicho. Perasaan yang bukan hanya sebatas mengagumi.
"Kamu diam saja.! Aku anggap kamu setuju.!" Ujar Nicho lagi. Dia menghidupkan mobil dan kembali melakukan mobilnya. Keduanya saling terdiam sampai mobil Nicho berhenti di depan apartemen.
"Aku harus ke kafe,," Kata Nicho memberi tau. Sisil mengangguk dan bergegas turun.
"Hati - hati di jalan,," Ucapnya, dia menutup pintu tanpa menunggu jawaban dari Nicho.
Pikirannya masih berkecambuk, dia masih ragu untuk menuruti keinginan Nicho. Takut hatinya akan terluka jika Nicho tidak bisa mencintainya.
...****...