NovelToon NovelToon
Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:935
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.

Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Dunia

Tepuk tangan masih terdengar.

Begitu meriah hingga seolah-olah seluruh gedung opera bergetar karenanya.

Aku berdiri di balik tirai, masih mengenakan kostum pertunjukan, sementara suara para penonton terus menggema dari auditorium. Bunga-bunga memenuhi panggung. Para pemain saling memberi selamat. Beberapa orang tertawa dengan wajah penuh kegembiraan.

Malam itu terasa seperti sebuah mimpi.

Bukan.

Lebih dari sekadar mimpi.

Aku tidak pernah membayangkan sebuah pertunjukan opera dapat membuatku melupakan dunia di sekelilingku.

Musiknya...

Suara para penyanyi...

Kemegahan panggung...

Cahaya lampu yang jatuh di antara tirai merah...

Semuanya begitu nyata.

Aku menatap panggung untuk terakhir kalinya.

Suara tepuk tangan yang perlahan menjauh.

Semakin jauh.

Semakin samar.

Sampai suara itu berubah menjadi sesuatu yang lain.

Suara mesin.

Dengungan lembut.

Lalu bunyi kendaraan yang melintas dari kejauhan.

Aku mengerutkan kening.

Suara itu tidak seharusnya berada di dalam gedung opera.

Aku menoleh.

Lampu-lampu panggung mulai memudar.

Tirai merah di hadapanku berubah menjadi bayangan.

Suara orkestra yang tadi memenuhi ruangan perlahan terdengar seperti musik dari radio yang volumenya semakin dikecilkan.

Aku ingin bergerak.

Namun tubuhku terasa begitu berat.

Aku mengerjapkan mata, membuka mata.

Cahaya pagi langsung menyambutku.

Aku terdiam.

Langit-langit kamarku terlihat di atas kepala.

Tirai jendela membiarkan sinar matahari masuk.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Aku berada di kamarku. Di apartemenku.

Dunia modern.

Aku mengangkat tubuh perlahan dan duduk di atas ranjang.

“Faust...”

Nama itu keluar begitu saja dari bibirku.

Aku terdiam.

Semua itu masih terasa begitu nyata.

Aku dapat mengingat musiknya.

Aku dapat mengingat cahaya panggung.

Aku dapat mengingat wajah para pemain.

Bahkan aku dapat merasakan bagaimana rasanya berdiri di belakang panggung dan mendengar ribuan orang bertepuk tangan.

Aku mengusap wajah, “Indah sekali...”

Aku tersenyum kecil.

Bahkan kata indah terasa terlalu sederhana untuk menggambarkannya. Pertunjukan itu bukan hanya indah.

Itu luar biasa.

Aku belum pernah melihat sesuatu seperti itu sebelumnya. Entah mengapa, dadaku terasa hangat ketika mengingatnya.

Namun, aku menghela napas panjang.

“Kenapa selalu ada hal aneh di akhir?”

Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya.

Hari ini bukan hari untuk memikirkan mimpi.

Aku bangkit dari tempat tidur dan segera menuju kamar mandi.

Air hangat membasahi tubuhku.

Untuk beberapa saat, aku hanya berdiri di bawah pancuran sambil membiarkan pikiranku kosong. Aku menutup mata, menikmati setiap air hangat yang jatuh ke tubuhku.

Setelah selesai mandi, aku mengenakan pakaian kerja dan merapikan rambut.

Ketika aku membuka pintu kamar, langkahku langsung terhenti.

Aku mencium aroma sesuatu yang lezat.

Aku mengerjapkan mata.

“Hmm?”

Pemandangan di ruang tamu membuatku tersenyum.

Leo ada di dapur.

Pacarku itu sedang memasak dengan santai, seolah-olah apartemen ini memang miliknya.

Ia mengenakan kemeja yang sudah rapi.

Lengan bajunya digulung hingga siku.

Rambutnya tertata dengan baik.

Jas kerjanya bahkan sudah terlipat rapi di atas sofa ruang tamu.

Dari belakang, punggungnya terlihat tegap.

Entah mengapa, pemandangan sederhana itu membuatku merasa sangat tenang.

Aku berjalan mendekatinya tanpa suara.

Kemudian melingkarkan kedua tangan di pinggangnya dari belakang.

“Sayang?”

Leo sedikit terkejut sebelum tersenyum, “Sudah bangun?”

Aku menyandarkan diri di punggungnya.

“Lagi masak apa?”

“Hanya mengandalkan bahan-bahan yang ada di lemari esmu.”

Aku tertawa kecil.

“Jadi kamu memasak dengan sistem keberuntungan?”

“Kurang lebih.”

Ia menoleh sedikit, “Kalau rasanya tidak enak, jangan salahkan kokinya.”

“Kalau enak?”

“Berarti aku hebat.”

Aku terkekeh. Kemudian aku bergeser ke samping dan berjinjit untuk mencium pipinya.

“Terima kasih, sayang.”

Leo tersenyum kecil, “Pagi-pagi sudah manis.”

“Memangnya tidak boleh?”

“Boleh.”

Ia kembali fokus dengan masakannya,“Bahkan aku berharap setiap pagi seperti ini.”

Aku tersenyum, “Jangan mulai.”

“Kenapa?”

Aku menggeleng dengan senyum malu sementara Leo tertawa kecil.

Beberapa menit kemudian, kami duduk berhadapan di meja makan.

Sarapan sederhana itu terasa jauh lebih menyenangkan daripada yang seharusnya.

Telur.

Roti.

Sedikit buah.

Dan kopi hangat.

Aku menyandarkan punggung ke kursi sambil memandangi Leo.

Rasanya aneh.

Tadi malam aku berada di gedung opera Paris pada masa lalu. Pagi ini aku duduk sarapan bersama pacarku.

Dua dunia yang begitu berbeda.

Namun aku tidak mengatakan apa pun.

Leo sedang menuangkan kopi ke cangkirku ketika ia bertanya,

“Tidurmu bagaimana?”

Aku mengangkat wajah, “Lumayan.”

“Lumayan?”

Aku mengangguk, “Akhir-akhir ini aku sering mimpi aneh.”

Leo berhenti menuangkan kopi.

“Mimpi aneh?”

“Mm.”

Aku memainkan ujung sendok dengan jari.

“Sepertinya nanti aku harus kembali ke perpustakaan itu.” Lanjutku.

“Perpustakaan tempat kamu membeli buku itu?”

Aku mengangguk.

Aku tidak menjelaskan lebih jauh.

Tidak mungkin aku duduk sambil menceritakan bahwa dalam mimpiku aku mengunjungi gedung opera masa lalu, bertemu Christine, berbicara dengan seseorang yang menyebut dirinya Malaikat Musik, bertemu kembali dengan Raoul, dan melihat seorang pria misterius.

Aku sendiri akan terdengar seperti orang gila.

Leo menatapku beberapa saat, “Kamu yakin tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa.” Aku tersenyum, “Hanya mimpi.”

Leo menghela napas.

“Baiklah.”

Kemudian, “Tapi kamu berutang banyak penjelasan kepadaku.”

Aku tertawa, “Banyak?”

“Banyak.”

“Kenapa?”

“Karena sejak beberapa hari terakhir kamu terus terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.”

Aku terdiam.

Leo memang mengenalku cukup baik.

Kami bertemu ketika masih kuliah.

Awalnya hanya teman. Kami sering mengerjakan tugas bersama, pergi ke perpustakaan bersama, dan sesekali makan setelah kelas.

Hubungan itu tumbuh perlahan.

Tanpa kami sadari, perasaan yang awalnya hanya berupa persahabatan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Dan sekarang, beberapa tahun kemudian, ia menjadi orang yang paling mudah mengetahui ketika pikiranku sedang tidak baik-baik saja.

“Akan kuceritakan nanti,” kataku.

Leo mengangguk, “Aku akan menagihnya.”

“Baik.”

Kami kembali menikmati sarapan. Aku menikmati pagi bersama Leo

Sampai akhirnya waktu memaksa kami beranjak.

“Kita harus pergi.”Leo berdiri dan mengambil jasnya dari sofa.

Aku meraih tas kerja.

Kemudian mataku tanpa sengaja jatuh pada meja kecil di ruang tamu.

Buku itu.

Aku terdiam.

Buku tua yang semalam kututup dan letakkan dengan tanganku sendiri.

Sekarang... terbuka?

Aku berjalan mendekatinya.

“Leo.”

“Hm?”

“Buku ini...” Aku menyentuh sampulnya.

“Aku yakin semalam aku menutupnya.”

Leo yang sedang mengenakan jas menoleh.

“Terbuka?”

Aku mengangguk, “Padahal aku ingat betul sudah menutupnya.”

Leo melirik buku tersebut.

“Mungkin terkena angin.”

Aku menatapnya, “Angin?”

“Jendela tadi sempat kubuka.” Ia berkata santai.

“Mungkin terbuka sendiri.”

Aku masih memandangi buku itu.

Entah mengapa, alasan tersebut tidak sepenuhnya membuatku tenang.

Aku bahkan yakin telah meletakkannya dalam keadaan tertutup.

Namun aku tidak ingin memulai pagi dengan memikirkan hal-hal aneh.

Aku akhirnya mengambil buku itu.

“Kubawa?”

Leo mengangkat alis, “Bukankah kamu mau kembali ke perpustakaan?”

“Ya.”

“Kalau begitu bawa saja.”

Aku mengangguk. Aku memasukkan buku itu ke dalam tas.

Sebelum menutup ritsleting, mataku sempat kembali tertuju pada halaman yang terbuka.

Aku hanya melihat sekilas ilustrasi gedung opera.

Kemudian aku segera menutup tas.

“Ayo.”

Leo membuka pintu.

Kami keluar bersama.

Pagi Paris menyambut kami dengan udara yang sejuk dan cahaya matahari yang mulai menghangatkan jalanan.

Aku berjalan di samping Leo. Sampai di basement, dia membukakan pintu mobilnya untukku. Dia selalu semanis itu.

Leo mengantarku ke kantor terlebih dahulu.

Sebelum aku turun dari mobil, ia menatapku sambil mengelus puncak kepalaku, “Jangan terlalu lelah.”

aku tersenyum, “Aku akan berusaha.”

“Dan jangan lupa makan siang.” Lanjutnya.

Aku tersenyum, “Iya, sayang.”

Aku mendekat dan mencium pipinya.

Leo terkekeh, “Kabarin aku kalau sudah selesai kerja.” Ucapnya lalu mencium keningku.

“Baik.”

Aku membuka pintu mobil.

Namun sebelum benar-benar turun, Leo memanggilku.

“Sofia.”

Aku menoleh.

“Hm?”

“I love you." Ia tersenyum tipis.

Aku tertawa kecil. “Love you too."

Aku turun dari mobil.

Leo melambaikan tangan sebelum menjalankan mobilnya kembali.

Kami memang bekerja di perusahaan yang berbeda.

Namun sejak masa kuliah, kami selalu menemukan cara untuk saling menyempatkan waktu.

Aku berdiri sebentar di depan gedung kantor, memperhatikan mobil Leo menjauh.

Kemudian aku menarik napas.

Hari baru dimulai.

Aku berbalik menuju pintu masuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!