Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.
Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.
Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sulit menebak ekspresi apa diwajahnya
Aku akan kehilangan moment moment kebersamaan keluarga disaat kakak kakak sudah mulai dewasa. Perasaan takut kehilangan sering kali menghantui pikiranku. Perdebatan, canda tawa di meja ini akan berubah menjadi sunyi. Waktu berjalan begitu cepat, kehangatan dimeja makan seperti ini lambat laun akan mulai berubah.
Waktu cepat sekali berlalu tak terasa tiba tiba saja mba Renata mau nginep di asrama.
Hari ini hari sabtu tepatnya dimana setelah pulang sekolah nanti kami akan pergi liburan ke pantai putih.
Tetapi hari ini juga akan menjadi hari yang sangat penting, latihan basket nanti sore akan ada pengumuman siapa aja yang akan terpilih menjadi pemain yang akan bertanding di Porsimaptar (Pekan Olahraga dan Seni Mahasiswa, Pelajar, dan Taruna) di AKPOL.
Aku berangkat sekolah seperti biasa. Melaju pelan diperempatan pasar burung. Masih saja selalu aku melihat Aldrian diseberang kanan.
Saat aku sudah berbelok kekiri sosoknya akan terlihat dikaca spionku, Dalam pantulan kaca yang cembung, ditengah jalanan yang teduh penuh pepohonan yang rindang ini aku melihatnya menggunakan jaket warna hitam. Lensa gelap menutupi pandangan arah matanya. Sulit menebak ekspresi apa diwajahnya.
Aldrian seperti sengaja memakai kacamata hitam dimatanya, bukan sebagai pelindung mata dari sinar akan tetapi pelindung dari tatapan orang. Begitulah yang ada difikiranku.
Kadang aku berfikir antara nyata, atau sekadar prasangka, Aldrian seperti sengaja mengikutiku. Tepat di belakang selalu saja seperti itu, berjarak begitu dekat.
Sesampainya kami disekolah masih saja, dia dibelakang, memparkirkan sepeda motornya tepat sederet denganku hanya berselisih 1 atau 2. Seperti sebuah mesin yang terus mengulang ulang hal yang sama.
Entah ini sudah keberapa kalinya, selalu dan selalu dengan ritme yang sama. Kami sampai disekolah, dia terus berjalan dibelakangku. Aku memperlambat langkah dia akan lambat, aku mempercepat langkah dia akan cepat.
Pemandangan ini yang hampir setiap pagi terjadi, sepanjang parkiran sampai lorong kelas. Aku dapat melihat siluetnya pada kaca kaca jendela dilorong kelas yang kami lewati.
Aku berbelok kekiri ke arah lorong kelas 10. Dibalkon kelas terlihat sudah banyak yang sedang ngobrol menjadikan suasana begitu ramai.
Putri selalu datang lebih awal, karena setiap pagi dia bersama kakaknya yang berangkat bekerja.
Aku berhenti didepan kelas, tepatnya disebelah Putri yang sedang melamun di balkon.
"Tuh liat Put, tiap pagi nggak bosen banget dia ngikutin mulu" Aku sambil melihat dengan pandangan kosong seolah olah aku tak melihat Aldrian yang sedang berjalan menuju kelasnya.
"Kenapa kamu jadi orang pede banget ya Ya...? hehe yakin banget dia ngikutin kamu gitu" Putri seperti biasa selalu saja dengan ledekannya sambil tersenyum.
Aku tersenyum menjawab Putri "Yakin yakin aja sih kalau aku, hehe"
"Sebenernya dia itu kenapa Ya... Sediem diemnya orang tapi ya nggak gitu gitu juga kan" Putri menoleh ke kanan ke arahku tetapi memandang Aldrian dari kejauhan.
"Liat aja ntar aku kerjain lagi dia, mau diem sampai kapan"
"Kamu suka ya sama dia?"
Deg... Begitu kagetnya aku dengan pertanyaan Putri, membuat jantungku seperti mau copot.
"E... Sapa bilang, akukan cuma iseng iseng aja ngerjain"
"Udah fix kamu suka dia.. nggak bisa bohong lagi"
"Aku masuk dulu lah naruh tas berat" Aku meninggalkan putri di balkon, menaruh tas dikursi lalu duduk sebentar.
Jadi kepikiran kata kata Putri, kata "suka dia" sepertinya masih terlalu jauh. Tetapi tentangnya terkadang melintas begitu saja tanpa kurencanakan.
Tamiya tiba tiba duduk disebelahku "Ngelamunin apa sih... Serius amat. keluar dulu yok nyari udara segar, kelas masih lama ini"
Aku melihat ke arah Tamiya mengangguk lalu berdiri, Tamiya pun berdiri lalu kami berjalan ke balkon.
Aku duduk dibangku panjang deoan kelas, sedangkan Putri dan Tamiya berdiri menghadap kedepan entah sedang melihat apa. Inilah pekerjaan kita disaat kegabutan melanda.
Putri menepuk nepuk pundakku "Aya... Tuh dicari kak Arya"
Aku terkaget dari lamunanku, lalu berdiri tepat persis didepan pagar balkon menatap Arya, dengan gerak bibir yang ngga ada suaranya "Apaaaaa?"
Diseberang Arya menatap langsung ke arahku dengan senyumnya yang ramah. Arya menunjukan jari telunjuknya diletakkan tepat disudut luar bibir. Jari jari tersebut kemudian ditarik melengkung, meniru bentuk kurva senyuman. Sepertinya Arya sedang berusaha memberikan intruksi kepadaku untuk tersenyum.
Tatapanku masih intens ke Arya, memaksakan senyum lebar yang kaku. Namun 3 detik kemudian aku melihat Aldrian berjalan berdiri tepat disebelah Arya, Aku memiringkan kepalaku ke kanan ke arah Aldrian, aku berusaha tersenyum lebih lepas.
Dari kejauhan terlihat bibir Aldrian bergerak sedikit, walaupun terlihat sangat jauh tapi aku melihat dengan pasti hampir saja membalas senyumanku. Lagi lagi dan lagi Aldrian menyerah memilih untuk membuang pandanganya lalu menjauh dari balkon masuk ke dalam kelas.
Dan aku... selalu gagal dan gagal, perasaan kecewa menyelimuti hatiku akan tetapi ada rasa sedikit bahagia. Entah apalah aku sendiri bimbang mengartikan.
Triinggggggg...... Triinggggggg......
Bel masuk berbunyi kami mulai masuk kedalam kelas. Kali ini akan ada bu Dewi yang akan memberikan materi pelajaran matematika.
Putri duduk mendekat kearahku berbisik pelan "Masih bilang nggak suka??"
Kali ini aku sudah dapat menetralkan hatiku, dapat dengan tenang menjawab Putri "Cuma becanda doang Put"
"Terserahlah, awas loh entar keseringan bercandain lama lama kepikiran trus jadi suka" jawab Putri sambil berpaling ke arah meja.
Duk..duk.. duk... Suara langkah bu Dewi sudah semakin dekat ke kelas. Ketika bu Dewi sudah mulai masuk, suasana kelas menjadi sangat hening dan tenang.
Seperti biasa bu Dewi yang sempurna menjelaskan dengan sangat teliti dan serius, sehingga murid muridnya terlihat lebih serius.
Akhirnya pelajaran bu Dewi hari ini selesai juga, saatnya kami bersiap untuk mengikuti latihan basket.
Aku sambil memegangi perut "Pengen makan mie ayam tapi waktunya mepet banget ya, belum antrinya"
Putri masih beberes mejanya "Makan yang gampang gampang aja, yang udah siap nggak nunggu dimasak dulu"
"Tiap mau basket yang dimakan selalu roti, gantilah jangan roti mulu!"
"Yang enggak usah masak kan bukan coba roti! banyak yang lain "
"Makan somay ajalah, ayok turun" aku menarik tangan Putri
"Tunggu... Tamiya kemana?" Putri matanya menyapu seisi kelas mencari keberadaan Tamiya.
BUKK.. BUKK.. BUKK...
Tamiya datang setelah berlari enggak tau udah seberapa lama, dengan nafas yang masih naik turun matanya terbelalak, mulutnya sudah terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu.
Aku mendekat menelisik Tamiya "Tenang... Tenang dulu Tam... Tarik nafas, keluarkan pelan pelan!"
Putri mendekat ke Tamiya, memandang berlahan "Kamu dari mana sih? habis lihat apa Tam?? Setan???"
"Tadi aku udah nggak tahan, langsung lari kesana tuh, kamar mandi belakang ruang OSIS, waktu aku didalam kan terdengar suara ramai ramai orang ngobrol tapi ketika aku keluar sepi nggak ada orang" Tamiya menunjuk ruang OSIS diseberang yang bersebelahan dengan kelas Aldrian.
Aku "Ahhh kirain apa... Ya iyalah sepi mungkin udah pergi, pada ngaca aja atau cuma cuci rangan doang"
Putri berjalan menggandeng tangan kanan aku dan tangan kiri Tamiya "Kirain ketemu setan beneran cuma orang dikamar mandi doang" Ayolah turun makan dulu udah laper"
Tamiya masih saja bercerita mencoba meyakinkan aku dan Putri disepanjang jalan "Beneran horor banget tau, tiba tiba tuh sepi, suara langsung hilang ngga ada apa apa diluar"
"Udah, mending mikirin makanan aja, orang laper biasa halusinasi" Aku meyakinkan Tamiya agar tidak terlalu banyak berfikir.
Kami sudah sampai dikantin, berdiri menatap deretan makanan yang masih tersaji ramai siang ini.
"Ayo kita beli mpek mpek saja sepertinya cocok dicuaca yang panas ini. Cuko nya yang pekat, asem ditambah pedasnya membuat mata ini akan terbuka lebar" Dengan mata berbinar aku menunjuk, mpek mpek yang ada diujung.
Putri menggelengkan kepala tidak setuju "Sadar.. sadar... Habis ini kita mau latihan basket, terlalu beresiko makan asem pedes! Somay aja tuh liat tadi bukanya rencana makan somay?"
Tamiya berdiri diantara aku dan Putri kepalanya menoleh ke mpek mpek lalu ke somay "Aku setuju somay saja yang enggak pakai lama, ga usah digoreng goreng jadi kita hemat waktu!"
Akhirnya kami bertiga bersepakat secara kompak dan bersama sama berjalan menuju somay. Dengan pertimbangan disana tidak begitu ramai dan tidak memelukan waktu untuk memasak terlebih dahulu.
Yang kami lakukan masih sama seperti seperti biasanya setelah makan, sholat, berganti pakaian diruang ganti belakang lalu menuju lapangan basket yang sudah ramai anak anak yang bermain.
Kami memilih untuk berdiri di pinggir lapangan, menunggu anak anak selesai bermain, tiba tiba ada teriakan "awas bola!"
Karena sedang asyik ngobrol jadi reflekku terlalu lamban. Saat aku menoleh sebuah bola basket meluncur mengarah tepat ke wajahku begitu cepat. Seketika aku memejamkan mata erat-erat, menyilangkan tangan di kepala, bersiap menerima hantaman bola.
Bugh!
Suara hantaman bola terdengar sangar keras dan dekat tapi kenapa aku tidak merasakan sakit... Terasa aroma segar yang menenangkan sedang berada sangat dekat. Berlahan aku membuka mata. Dia... berdiri kokoh tepat dihadapanku menahan bola dengan satu tangan.