NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 014: Viral dan Uang yang Lenyap

Pukul delapan pagi, rekaman itu masuk ke media sosial lewat tiga akun kecil.

Pukul delapan lewat tujuh belas, nama Handoko sudah muncul di kolom komentar.

Pukul sembilan, wartawan bisnis mulai menelepon kantor Wijaya Group.

Hendra duduk di kamar hotel Surabaya, memegang secangkir kopi yang belum diminum. Di layar laptop, potongan suara Om Rusli diputar ulang oleh ribuan orang.

"Dia yang membuka jalan. Om yang mengurus orang lapangan."

Tidak ada wajah Hendra.

Tidak ada lokasi hutan.

Tidak ada kalimat yang bisa menariknya langsung ke kematian Rusli.

Hanya suara seorang paman keluarga Wijaya yang mengakui bahwa kecelakaan lama bukan kecelakaan.

Di bawah video, akun perantara menulis narasi pendek:

Direktur Wijaya Group diduga menghilang setelah rekaman pengakuan pembunuhan keluarga bocor. Apakah ini sebab ia kabur?

Kata "kabur" bekerja lebih cepat daripada fakta.

Dalam satu jam, orang-orang yang tidak pernah peduli pada keluarga Wijaya mulai merasa punya hak menghakimi. Mereka memotong suara Rusli, menambah teks merah, menaruh foto lama kecelakaan, lalu menempelkan wajah Handoko di sampingnya.

Hendra tidak menghentikan mereka.

Opini publik adalah banjir.

Ia hanya membuka pintu air.

Ponselnya bergetar.

Pengacaranya menelepon.

"Pak Hendra, Anda tahu soal rekaman yang sedang viral?"

"Saya baru lihat."

Di ujung sana, pengacara diam dua detik. Orang pintar tidak membuang waktu bertanya kebohongan yang tidak bisa dibuktikan.

"Nama Anda akan ditarik," katanya. "Anda keponakan Rusli, ahli waris, dan baru berkonflik dengan mereka."

"Siapkan pernyataan."

"Isinya?"

"Saya terkejut. Saya meminta aparat menelusuri kebenaran rekaman. Saya berharap Om Rusli segera muncul dan memberi klarifikasi."

Pengacara menghela napas pelan.

"Kalimat 'segera muncul' akan membuat publik percaya dia memang kabur."

"Bagus."

"Pak Hendra..."

"Jangan sebut Handoko terlalu keras. Biarkan publik yang menyebut."

Pengacara itu tertawa kecil, lelah. "Anda belajar cepat."

"Saya pernah kalah cukup lama."

Telepon ditutup.

Di Jakarta, Handoko tidak muncul di kamera. Tapi asistennya mengirim bantahan kaku: rekaman belum diverifikasi, isu lama, jangan menyebarkan fitnah.

Terlalu rapi.

Terlalu dingin.

Internet membenci jawaban dingin saat mereka sedang lapar darah.

Siang itu, tagar tentang Rusli dan Handoko naik.

Sore, satu berita daring menulis: Pengakuan Lama Keluarga Wijaya, Siapa Dalang di Balik Kecelakaan?

Malam, seseorang dari kepolisian Bandung ikut melihat potongan itu di layar kantor.

Namanya AKP Darma.

Ia tidak berteriak. Tidak ikut komentar. Ia hanya memutar ulang bagian suara Rusli, lalu menulis tiga nama di buku kecil.

Rusli Wijaya.

Handoko.

Hendra Wijaya.

Pulpen itu berhenti sebentar di nama terakhir.

Orang yang selalu ada di dekat peristiwa besar biasanya bukan korban biasa.

Di Surabaya, Hendra menutup laptop sebelum berita itu selesai.

Radar baru sudah menyala.

Tidak masalah.

Kiamat lebih dekat daripada berkas polisi.

Yang penting sekarang: uang.

Sore itu, Hendra menarik sebagian dana hasil vila menjadi uang tunai operasional. Tidak semua. Cukup besar untuk membuat orang serakah kehilangan akal. Beberapa koper hitam masuk ke mobilnya di depan bank, disaksikan kamera, satpam, dan mungkin juga mata kecil dari ponsel pelacak Firman.

Ia sengaja tidak melepas GPS.

Ia bahkan sengaja melewati jalan yang lebih sepi.

Malam turun di pinggir Surabaya. Lampu toko makin jarang. Jalan beton berubah ke jalur industri yang sepi, dengan gudang tertutup di kanan kiri dan lahan kosong di belakang pagar seng.

Mobil di belakangnya sudah mengikuti sejak dua puluh menit lalu.

Satu Avanza hitam.

Satu motor.

Satu truk box kecil yang "dihadiahkan" Firman muncul dari sisi lain jalan seperti tidak sengaja.

Hendra menghentikan mobil.

Tidak perlu membuat mereka bekerja terlalu keras.

Avanza hitam menyalip dan berhenti melintang.

Empat pria turun.

Satu membawa parang pendek. Satu membawa pistol rakitan. Dua membawa tongkat besi. Dari truk box, Bos Firman turun dengan kemeja mahal yang kini tertutup jaket gelap.

Senyumnya tidak lagi sopan.

"Pak Hendra," katanya. "Malam begini bawa uang banyak, bahaya."

Hendra membuka pintu mobil.

"Jadi Anda datang membantu?"

Firman tertawa.

"Saya datang mengambil kembali keberuntungan saya. Tiga vila itu saya bayar terlalu murah, tapi ternyata uangnya juga tidak pantas Anda pegang."

"Uang saya ada di bank."

"Jangan bercanda. Orang saya lihat koper."

Preman berpistol mengarah ke dada Hendra. "Buka bagasi."

Hendra berjalan ke belakang mobil.

Pelan.

Koper hitam tersusun di dalam bagasi.

Firman menjilat bibir. Matanya langsung basah oleh serakah.

"Buka."

Hendra membuka satu koper.

Tumpukan uang terlihat rapi.

Semua orang menahan napas.

Itu momen yang mereka tunggu.

Momen ketika orang kaya muda akhirnya menjadi mangsa di pinggir jalan.

Hendra meletakkan telapak tangannya di tepi koper.

Cincin di jarinya menyentuh logam pengait.

Dalam satu kedipan lampu jalan yang berkedip, uang di dalam koper lenyap.

Tidak terbang.

Tidak jatuh.

Tidak terbakar.

Lenyap.

Masuk ke Ruang Penyimpanan, bersama dingin waktu yang tidak bergerak.

Firman membeku.

"Mana uangnya?"

Hendra membuka koper kedua.

Kosong.

Koper ketiga.

Kosong.

Ia sudah memindahkan semuanya saat tangan menyentuh pengait, satu per satu, tertutup oleh badan dan bayangan bagasi.

Preman hanya melihat koper yang mendadak tidak memberi mereka apa-apa.

"Trik apa ini?" Firman meraung.

"Trik orang yang Anda kira tidak punya nyali."

Preman berpistol maju.

Terlambat.

Hendra bergerak.

Lutut pria itu patah ke samping dengan satu tendangan pendek.

Pistol jatuh.

Tongkat besi pertama menghantam bahu Hendra, tetapi tubuhnya hanya bergeser setengah langkah. Unsur Logam berdenyut. Rasa sakit ada, namun jauh, seperti pintu dipukul dari luar.

Hendra menyikut dada pemilik tongkat.

BUKK!

Pria itu terpental ke pintu mobil.

Yang membawa parang mencoba menusuk dari samping. Hendra menangkap pergelangan tangannya, memutar, lalu membuat parang itu jatuh ke aspal.

KRAK!

Jeritan pendek pecah.

Tidak ada pertarungan panjang.

Tidak ada kepahlawanan.

Hanya orang-orang yang memilih mangsa salah.

Dalam kurang dari satu menit, empat preman Firman tergeletak di jalan industri, masih hidup, tapi tidak lagi ingin berdiri.

Firman mundur sampai punggungnya menabrak truk box.

"Pak Hendra, tunggu. Ini salah paham. Saya cuma mau mengetes keamanan..."

Hendra mengambil ponsel kecil dari saku salah satu anak buah.

Layar peta masih menunjukkan titik mobilnya.

"GPS standar perusahaan?" tanya Hendra.

Wajah Firman memucat.

Hendra mendekat.

"Tiga vila itu sah milik Anda. Uang dua puluh delapan miliar itu sah milik saya. Mulai malam ini, kalau Anda atau orang Anda muncul lagi di dekat saya, saya kirim semua rekaman pelacak, senjata, dan perampokan ini ke pengacara."

Firman menelan ludah.

"Saya... saya mengerti."

"Belum."

Hendra menendang lututnya.

Firman jatuh berlutut di aspal.

"Sekarang baru mulai mengerti."

Hendra mengambil pistol rakitan dengan sarung tangan, menghapus jejak seperlunya, lalu melemparkannya kembali ke dekat para preman. Ia tidak perlu membawa bukti kotor. Cukup mengambil kartu memori kecil dari kamera dasbor mobilnya.

Malam ini Firman akan sibuk menjelaskan kepada orang-orangnya kenapa uang yang mereka incar berubah menjadi koper kosong.

Hendra kembali ke hotel sebelum tengah malam.

Di kamar, ia mengunci pintu, menutup tirai, lalu membuka Ruang Penyimpanan.

Koper-koper uang berdiri diam di ruang waktu beku.

Satu pun tidak hilang.

Di laptop, berita soal rekaman Rusli masih naik. Komentar baru terus bermunculan. Nama Handoko makin sering disebut. Nama Rusli mulai ditempeli kata kabur, takut, bersalah.

Hendra menghitung koper dalam diam.

Dendam terhadap Om Rusli selesai.

Uang Firman aman.

Handoko akhirnya merasakan api pertama di bawah kursinya.

Hendra menutup Ruang Penyimpanan.

Besok, ia kembali menimbun.

Karena membalas dendam memang nikmat.

Tapi bertahan hidup sampai dunia membeku jauh lebih penting.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!