fatimah azzahra yang kerap di panggil fafa atau patimah oleh teman dekat maupun orang lain. fatimah sudah 3 tahun nikah bersama Hengki Affandi.dari pernikahan itu belum juga mendapatkan seorang pun anak sampai ia di usir oleh suaminya.
beberapa tahun hengki dan fatimah berpisah dan gak pernah ketemu,di suatu hari hengki bertemu dengan fatimah dan kedua anak kembar fatimah dari pernikahan mereka.
apa kelanjutannya baca ajah yah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui Fatimah
Pagi ini seluruh keluarga Affandi sedang menikmati sarapan pagi mereka. Tak ada suara selain dentingan sendok dan garpu. Hidangan Pagi ini hanya nasi goreng. Itu semua atas permintaan Hengki semalam. Mereka makan dengan hikmat tanpa dihadiahi canda tawa. Beginilah setiap mereka sarapan bersama, ataupun sendiri.
"Sayang, mas berangkat dulu ya?" pamitnya pada sang istri.
"Iya Mas, hati-hati!" jawab Jihan menyalami tangan Hengki yang disambut dengan ciuman di dahinya.
"Daddy berangkat kerja dulu Kev, kamu hati-hati berangkat sekolah, dan jangan buat ulah lagi!"
"Iya Dad,"
Hengki melajukan mobilnya menuju perusahaannya. Pagi ini ia akan mengadakan meeting dengan klien luar negeri. Maka dari itu ia harus datang lebih awal dari pada biasanya. Mobil yang dikendarai Hengki sudah terparkir dibessemen perusahaan HA.
Dengan langkah panjang, Hengki berjalan menuju life untuk mengantarkannya ke lantai khusus presdir. Hengki berjalan sedikit tergesa menuju ruangannya. Karena beberapa menit lagi ia akan mengadakan rapat.
Pukul 10:00 pagi Hengki telah selesai dengan rapatnya. Hari ini ia akan berkunjung ke boutique Fatimah setelah beberapa hari lalu ia mengetahui dimana boutique itu berada. Dengan menempuh perjalanan 2 jam, akhirnya ia sampai di depan sebuah boutique yang terlihat besar dengan papan nama bertuliskan "FATIMAH BOUTIQUE".
Hengki melangkahkan kakinya masuk ke dalam boutique tersebut. Seorang karyawan Fatimah menghampiri dirinya. " Maaf Pak, ada yang bisa saya bantu?"
Hengki memusatkan perhatiannya yang semula melihat-lihat isi boutique itu pada seorang karyawati di depannya. "Emm, bolehkah saya bertemu dengan Ibu Fatimah?" tanya Hengki to the point.
"Apa Bapak sudah membuat janji dengan atasan kami?"
"Emm, belum. Tapi bisakah saya bertemu dengan dirinya? Cuman sebentar," pinta Hengki dengan penuh harap.
"Tunggu sebentar Pak, coba saya tanya dulu apakah beliau sedang sibuk atau tidak," jawabnya yang diangguki Hengki.
Beberapa menit kemudian wanita itu kembali menghampiri Hengki dengan senyuman. "Silahkan langsung masuk Pak, Ibu Fatimah sudah menunggu di ruangannya," ujar wanita itu.
"Baiklah, terimakasih,"
"Sama-sama Pak,"
Hengki melangkahkan kakinya menuju ruang Fatimah yang kebetulan berada di lantai 2. Langkah demi langkah sudah ia lewati, dan kini berakhir kaki Hengki berhenti di depan pintu yang bertuliskan "FRR" Yang dibawahnya terdapat foto 3 orang yang sedang tersenyum manis ke arah kamera dengan sang wanita berdiri ditengah-tengah dua remaja laki-laki.
Hengki sempat tertegun melihat foto yang terpampang di depan pintu. Ada raut kesedihan yang terpancar di wajah tegasnya. Ada juga raut bahagia yang terpampang sekaligus disana.
Tok! Tok! Tok!
Tiga kali ketukan pintu akhirnya suara lembut di dalam ruangan itu menginstruksikan Hengki untuk masuk. "Assalamualaikum," salam Hengki melangkahkan kaki panjangnya ke dalam ruangan Fatimah.
"Waalaikumsalam." Fatimah cukup terkejut dengan kedatangan Hengki ke boutiquenya. Ia penasaran ada gerangan apa hingga Hengki mau bertemu dengan dirinya. Pensil yang semula berada di tangan Fatimah akhirnya ia lepaskan dan menghadap ke arah Hengki sepenuhnya, yang kini tengah duduk di depannya yang hanya dibatasi dengan meja kerja Fatimah.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Fatimah formal.
"Emm, bisakah kamu jangan bicara formal seperti itu. Kita bicara seperti dulu saja," pintanya.
'Apa katanya? Berbicara seperti dulu? Heyy Tuan Hengki apakah kau tidak tau ini sudah belasan tahun dan sekarang seenak jidatnya kau menyuruhku berbicara seperti dulu. Enak sekali menjadi dirimu,' batin Fatimah.
"Maaf Pak tidak bisa, karena disini masih kawasan boutique, kecuali bukan disini," terang Fatimah.
"Aku tidak biasa ngomong formal seperti itu sama kamu,"
"Hemm baiklah. Ada gerangan apa Mas kesini?"
'Apa? dia manggil aku Mas? Tapi kenapa bukan seperti dulu lagi. Bahkan aku sendiri tidak menyukainya saat dia memanggilku dengan sebutan Mas. Aku rindu dia memanggilku Abang,' batin Hengki seakan tidak terima.
"Apakah aku boleh menanyakan sesuatu kepada kamu, Fa?"
"Tentang apa?"
"Emmm, apakah dua remaja waktu itu anak-anak kamu?"
"Ya,"
"Apakah mereka anak-anak ku juga? Emm maksdunya apakah mereka anak-anak kita, soalnya dia sangat mirip dengan ku waktu remaja,"
'Cihh, enak sekali dia balang anaknya, lantas kemana saja kau selama ini? Kenapa kau tak berusaha mencariku dulu? Sekarang dengan seenaknya kau menanyakan apakah dia anak-anak mu,'
"Mereka bukan anak-anak mu, mereka anak-anak ku. Anak yang aku kandung dan aku besarkan dengan tanganku sendiri,"
"Ta-tapi mereka sangat mirip denganku waktu aku masih remaja Fa, tolong ... tolong jawab dengan jujur Fa, mereka anak-anak ku juga 'kan?" desak Hengki dengan mengiba.
Fatimah menarik nafasnya panjang. Jika ia tetap berbohong ujung-ujungnya pasti dia akan tau. Lebih baik jujur dari pada menanggung dosa, pikir Fatimah.
"Ia mereka juga anak-anak mu,"
"Be-benarkah Fa? Ap-apa aku boleh bertemu dengan mereka? Aku ingin memeluk mereka, a-aku rindu dengan me--"
"Tidak! Saya tidak akan membiarkan anda untuk memeluk diri saya maupun adik saya!" teriak Raikal di depan pintu masuk bersama kembarannya.
Tadinya mereka ingin mengajak Fatimah untuk makan bersama di restoran favorit mereka. Tapi saat mereka melihat seorang laki-laki duduk di hadapan Fatimah, mereka menghentikan langkah mereka dan mendengarkan semua yang diucapkan sepasang manusia itu.
Hengki menghadap ke sumber suara begitupun dengan Fatimah. Hengki mencoba melangkah mendekati dua remaja yang kini sedang berdiri di depan pintu masuk. "Nak ini daddy, Sayang," ujar Hengki dengan suara lirih.
"Tidak! Kami tidak punya Daddy. Kami hanya punya Ummi. Daddy kami tidak ada semenjak kami lahir ke dunia," Rayyan berbicara tanpa melihat wajah Hengki yang terlihat sangat memprihatinkan.
"Ummi mari kita makan bersama? rai sama Adek sudah sangat lapar. " ajaknya mendekati Fatimah dan menarik tangan itu lembut keluar dari ruangan serba biru. Meninggalkan seorang laki-laki berparas tampan itu sendirian.
Hengki hanya menatap nanar ke-tiga orang yang sudah keluar dari dalam ruangan itu. Apakah sebenci itu mereka kepada Hengki. Apakah tak akan ada harapan untuk Hengki merasakan kebersamaan dengan mereka? Entahlah, hanya takdir yang bisa menjawab.
Bersambung
walaupun singkat tapi mantap sekali 👍👍
teruslah berkarya dan sehat selalu 😘😘
makasih banyak kak thor 😘❤️