Lelaki yang hidup berkecukupan, dan sudah dipastikan akan menjadi pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. sudah pasti di minati para wanita, banyak wanita yang ingin menjadi pacarnya namun ia selalu menolaknya karena seseorang.
Setelah menunggu sekian lamanya, seseorang itu datang. namun, diwaktu yang tidak tepat.
Ia sudah memiliki seorang istri, yang bahkan belum ia cintai.
"Menikahi wanita usia tiga puluh tahun itu bukan keinginan ku" ucap gatra dengan tegas
Apakah seorang gatra bisa mencintai istrinya? atau malah terjadi perselingkuhan? atau perceraian?
Yuk baca, kita intip rumah tangga gatra.
ig ; diah.ifro dan ruangg rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DiahIfro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Maudy yang memang merasakan perutnya lapar, memutuskan makan di warung makan yang dekat dengan rumahnya.
"Makasih bu" ucap maudy mengambil piring dan duduk dikursi
"Pendatang baru ya? baru liat saya" tanya penjual itu sambil menyodorkan teh hangat
"Iya, itu rumah nya disana warna abu" jawab maudy menujuk rumah yang bersebrangan jalan dengan selang tiga rumah
"Loh itu toh, emang dijual sih yang punya rumah pindah ke surabaya katanya" saut ibu penjual nasi
Raka mengerucutkan keningnya sambil menatap haris "pikiran kita sama" ucap haris menepuk pundak raka
Mereka baru sadar bahwa wanita yang sedari tadi menjadi bahan tontonan nya ialah maudy sayderline, kekasih gatra yang mereka temui di rumah makan padang waktu itu.
"Bu..es teh dua" ucap raka saat mereka sampai di depan etalase
"Hai maudy, inget gak?" tanya haris sambil duduk disamping maudy
"Eh kalian kan, inget inget" jawab maudy sambil tersenyum bingung kenapa mereka berdua bisa ada dihadapannya
Raka memberi kode agar haris mengajak ngobrol maudy yang tentunya dipahami betul oleh haris. saat maudy menatap wajah haris satu jepretan foto pun didapatkan dengan sempurna, tentunya ia mengirimkan langsung kepada gatra.
"Triling"
"Barang bagus coy" sebuah tulisan yang dikirimkan raka dibawah foto yang ia kirim
Gatra tak langsung bisa melihatnya karena gangguan sinyal, ia dihampiri seorang satpam yang memberitahukan bahwa bu tania keluar sejak sepuluh menit lalu beliau pergi bersama dewi sekertaris nya.
"Lah ngerjain gue doang nih bu tania" ucap gatra sambil memutar stir hendak pulang
Saat ia hendak memasukkan handphonenya ke saku celana ia melihat foto dari raka sudah terunduh, matanya melotot bingung menatap haris duduk bersebelahan bersama maudy sambil tersenyum lebar.
Gatra langsung menelepon raka namun dengan sengaja raka mematikan panggilan dari gatra, tentunya raka sengaja memancing amarah dari gatra.
"Anjing!!! ini maudy ngapain lagi? mana teleponnya gak pada aktif!!!" ia memperhatikan dengan jelas dimana gambar itu diambil.
"Warung ibu ibu yang ada di samping bengkel raka? ngapain maudy kesana?" bingung gatra sambil segera bergegas pergi
Raka sengaja tentunya mengambil bagian jalan agar gatra tak kesulitan mencari keberadaan nya, kini raka dan haris tertawa girang saat maudy memperbolehkan nya untuk main ke rumah barunya.
"Wah deket banget sama bengkel aku, bisa ketemu tiap hari dong" ucap raka berusaha menggoda, maudy hanya tersenyum ramah
"Mau minum apa?" tanya maudy "eh tapi air putih aja ya, aku belum belanja soalnya" sambungnya sambil tersenyum langsung pergi untuk mengambil minuman
Raka terkekeh menunjukkan pada haris bahwa gatra dari tadi mencoba menghubungi nya. sedangkan haris tak membawa handphone dari tadi.
"Makasih maudy, eh ngomong-ngomong sendiri disini?" tanya raka sambil meneguk air putih itu
"Sendiri" jawab maudy
"Kalo kamu lagi takut sendirian aku bisa temenin loh, aku tiap hari ada dibengkel"
"Bohong banget, biasanya aja disuruh ke bengkel ribut dulu sama papahnya" celetuk haris sambil tersenyum sinis
Tak berlangsung lama suara gerungan mesin mobil berhenti di depan warung makan dengan gatra yang celingukan menatap kursi makan yang kosong.
"Oh jadi raka pergi ke rumah situ bu, makasih ya" ucap gatra setelah bertanya pada ibu penjaga warung makan
Ia sengaja tak langsung ke bengkel karena ia yakin maksud raka adalah agar gatra mencari keberadaan nya dengan menanyakan kepada ibu warung ini.
Gatra awalnya bingung harus masuk atau tidak, terlebih pintu gerbangnya tertutup rapih dan setahunya ini bukan rumah kerabat raka ataupun haris.
"Tring"
Suara bel didepan membuat raka dan haris menghentikan ucapannya yang sedari tadi menggoda maudy.
Maudy pun langsung bangun sambil pamit untuk melihat ke depan, raka langsung yakin bahwa itu adalah gatra.
"Yakin lo?" tanya haris "tapi kenapa dia gak langsung masuk aja?"
"Kayanya si gatra gak tau deh kalo ini rumah barunya maudy, buktinya dia tadi nelepon gue sampe berkali-kali dan ngirim pesen nanya gue dimana" perjelas raka
Saat maudy membuka gerbang ia mengerutkan keningnya bingung saat melihat yang berdiri dihadapannya adalah kekasihnya, Padahal seingatnya ia belum memberitahu gatra tentang rumah barunya ini "Gatra?"
Gatra menatap maudy sambil mengerutkan keningnya juga"kok kamu ada di sini?"
"Iya maaf ya aku lupa kabarin kamu" maudy meraih lengan gatra yang sedang memasang wajah datarnya "aku juga baru tau kalo aku ternyata pindahnya ke rumah ini"
"Handphone kamu mana? kenapa aku telepon gak di angkat?" tanya gatra menyelidik
"Ah handphone aku lupa ada di kamar, maaf ya" maudy mencoba memasang wajah penuh pengampunan
Seketika gatra baru teringat dengan kedua sahabatnya yang super mesum yang tadi bisa-bisa nya bersama maudy. ia langsung menerobos masuk ke dalam rumah, diikuti oleh maudy.
Raka dan haris masih dengan posisi santainya, kaki nya di angkat ke atas meja sambil tersenyum lebar ke arah gatra yang baru saja berdiri dihadapan nya.
Maudy tersenyum kecil saat gatra menoleh ke belakang ke arahnya "mereka aku yang izinin kok ke sini"
"Duduk bro, baru datang dari tadi" suruh haris sambil menepuk sofa di sampingnya
Gatra menghela nafasnya sambil menjatuhkan bokongnya "sini" ia menyuruh maudy duduk disampingnya
"Kamu mau minum?" tanya maudy sambil duduk disamping gatra
"Gak usah, kalian dari kapan disini?" tanya gatra menatap haris dan raka bergantian
"Dari tadiiiiii bangettt" jawab haris berusaha memanas manasi gatra
"Ada kali dari jam..." raka menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya
"Pas aku makan doang ih di depan, paling setengah jam lah" tangkis maudy menatap tajam haris dan raka
Raka dan haris tertawa bersamaan menatap maudy dan gatra yang sedang saling menatap tajam.
"Eh beli makanan gih minuman segala, lapar" suruh gatra sambil menaruh beberapa lembar uang ke atas meja
Haris langsung mengambilnya, ia memang berniat keluar sekalian mengambil handphonenya yang masih ada dibengkel raka.
"Lo gak ikut?" tanya gatra penuh penekanan berharap raka bangun dari duduknya dan ikut pergi bersama haris, namun dengan mudahnya raka menggelengkan kepalanya "nemenin kalian aja"
Gatra menghela nafas beratnya "aku ikut mandi dong"
"Aku siapin air hangat dulu, mau di kamar mandi mana?" tanya maudy bangun dari duduknya
"Kamar kamu" jawab gatra yang dijawab anggukan, dengan segera maudy pergi
Raka tersenyum tipis menatap punggung maudy yang menjauh "gue colok lo lama-lama" gertak gatra sambil menendang kaki raka sampai terjatuh dari meja
"Yaampun posesif banget sih tra jari orang"
"Bukan masalah posesif, gue juga tau lo tuh orang kaya apa" jawab gatra kesal "mata lo itu, secara gak langsung nelanjangin maudy!!!" bentaknya
Gatra melempar kunci mobil ke wajah gatra "pergi ambil baju lo di bengkel, gue pinjem. nanti sekalian ambil charger di mobil"
Ucapnya langsung melipir menaiki anak tangga, haris mengerutkan keningnya "yaampun, udah minjem baju nyuruh yang lain pula. gak ada sopan sopan nya lu gatra!!"
Gatra tersenyum kecil menundukkan kepalanya menatap raka yang menggerutu kesal dibawah sana.
"Duduk sini" gatra menarik lengan maudy ke tepi kasur agar duduk disampingnya
"Kenapa? air hangat udah tuh"
"Kamu belum cerita masalah rumah loh" ucap gatra sambil mengerutkan keningnya
Akhirnya maudy pun mulai menceritakan tentang perdebatan soal masalah tempat tinggal dengan papahnya, ia mengatakan bahwa papahnya menyuruh dirinya untuk tinggal di tempat pilihannya.
Setelah ia mendapatkan alamat, ia mengira itu adalah sebuah apartemen namun ternyata sebuah rumah. dan ia pun menceritakan soal pekerjaan yang akan ia ambil dari orang kenalan papahnya.
"Dimana perusahaan nya?" tanya gatra memasang wajah kesalnya
"Di..dimana ya? ini alamat nya ada di handphone" maudy mengambil handphonenya dan menyerahkan nya pada gatra
"Jangan kerja" ucap gatra menatap tajam maudy
Maudy hanya menghela nafasnya ia yakin bahwa gatra pasti akan melarangnya lagi dan terbukti, namun ia segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar sambil memberitahu gatra agar segera mandi.
"Gatra mana?" tanya raka dengan sebuah plastik hitam yang ia pegang menatap maudy yang duduk memainkan ponselnya di sofa
"Di atas" jawab maudy sambil menselonjor kan kakinya
Niat hati ingin memberikan kantong plastik berisi pakaian, malah berubah menjadi lebih baik memandang wajah cantik dan kaki mulus maudy.
-hati yang tersakiti' konflik rumah tangga
'-pemikat sukma" mistis, romansa
-kuntilanak pemakan janin" horor
karya siti H
semalu malunya dia sebagai wanita kan karakter dasar yg kuat krn srbagai dosen lalu juga bantu urus segala perusahaan walau lewat tangan kanan, kan pastinya dah siap mental kl ada hal yg buruk gitu loh ko ini mewek banget bin lembek