NovelToon NovelToon
Drachenfutter (Hadiah Dari Sang Suami)

Drachenfutter (Hadiah Dari Sang Suami)

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Cintamanis / Kriminal / Eksplorasi-detektif / Chicklit / Tamat
Popularitas:245.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Mei Shin Manalu

Sebuah kasus mengerikan menyerang seorang teman Gevio di sekolah. Demi menyelamatkan teman sang anak, Elden, Erie dan seluruh anggota organisasi harus menghadapi pertarungan penuh intrik dengan para pemimpin negara guna menangkap pelaku sebenarnya. Bisakah mereka melawan para penguasa dan menyelamatkan korban?

Novel ini merupakan kelanjutan dari novel ‘Danke, Häschen !!!’. Dengan mengangkat genre action romance, novel ini ingin menantangmu untuk berpikir, bersimpati dan tentu saja berimajinasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Shin Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gevio’s Life

Keluarga kecil Elden sudah kembali ke negara mereka. Pekerjaan Elden di New York sudah ia bereskan. Meski tersendat karena persiapan pernikahan Daniel, tapi Elden bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Kini Elden sudah kembali bekerja di kantor pusat Alvaro Group bersama dengan Mario.

Hal yang sama juga terjadi pada Erie dan Gevio. Usai menghabiskan liburan musim panas mereka sekaligus melewati hari-hari yang sibuk karena pernikahan Daniel dan Lena, Erie dan Gevio telah kembali ke rutinitas mereka semula. Erie bekerja di butik dan Gevio kembali bersekolah.

Dan pada hari itu, seperti sebelumnya, ketika menjelang senja setelah mandi, Gevio akan pergi ke studio musik yang baru Elden buat lima bulan lalu. Alasan pria itu menyulap satu ruangan di rumahnya menjadi studio musik adalah agar anaknya merasa nyaman berlatih di sana.

Memang, sejak mengerjakan tugas pertama di sekolahnya yang membahas mengenai cita-cita, Gevio dengan lantang mengatakan bahwa cita-citanya adalah menjadi musisi. Sebuah aliran seni yang tidak pernah dipikirkan Erie dan Elden sebelumnya sebab, di dalam keluarga mereka, mayoritasnya merupakan orang-orang yang jago di bidang seni rupa. Ayah kandung Erie adalah seorang pelukis sekaligus arsitektur. Begitu pula dengan ibu kandung Elden yang juga bergelut dalam dunia seni rupa. Secara garis keturunan, tidak ada satu pun dari keluarga mereka yang bekerja sebagai pemusik.

Akan tetapi, melihat Gevio yang bersungguh-sungguh dengan pilihannya, Elden dan Erie tidak mempunyai pilihan selain mendukungnya. Sebagai orang tua, di saat seorang anak benar-benar berniat melakukan sesuatu, tugas mereka hanyalah memberikan dukungan. Masalah gagal atau berhasil anak itu dengan pilihannya, itu urusan nanti. Urusan belakangan. Yang terpenting ialah memupuk anak mereka untuk memiliki mimpi.

Gevio pun tidak terlihat menyerah sampai detik ini. Walaupun ia masih tergolong sangat kecil, setiap minggu setidaknya Gevio selalu meluangkan waktu dua hari untuk berlatih. Di dalam ruangan kedap suara itu, Gevio berlatih ditemani dengan pelatihnya yang didatangkan oleh Elden.

“Gevio, bolehkah Mommy masuk?” ucap Erie sambil mengetuk pintu studio musik Gevio sebentar lalu ia membukanya dan masuk ke dalam. Kedatangan Erie itu langsung disambut dengan sapaan oleh A8 yang ikut berada di sana untuk mengawal, dan juga pelatih musik Gevio. Erie membalas mereka semua dengan melemparkan senyumnya.

“Mommy di sini?” seru Gevio sambil mengangkat wajahnya dari partitur yang ada di depannya. Ia memandang ibunya yang tengah berjalan ke sebuah kursi penonton.

Oh ya, konsep studio yang dibuat Elden ini tidak hanya sebagai tempat latihan. Elden mendesainnya agar bisa digunakan sebagai tempat yang memungkinkan untuk menggelar sebuah konser mini dengan jumlah penonton lima belas orang. Itulah sebabnya, selain ada beberapa alat musik, di sana juga terdapat bangku-bangku yang diperuntukkan bagi penonton.

“Iya. Apa Mommy mengganggumu?” kata Erie sembari duduk di salah satu bangku.

Gevio menggelengkan kepalanya. “Tidak. Mommy sama sekali tidak mengganggu. Malah Gevio ingin menunjukkan sesuatu pada Mommy.”

“Benarkah? Apa itu?” balas Erie.

“Mommy dengarkan dulu. Nanti Mommy tebak judul lagunya ya,” seru anak itu. Ia mengambil dua tongkat kecil yang ada di bawahnya dan mulai memukul drum kecil di depannya.

Erie mengamati tongkat yang ditabuhkan Gevio ke atas drum. Rangkaian melodi dalam satu lagu diperdengarkan oleh Gevio. Berbeda dari sebelumnya, kali ini tempo yang keluar dari setiap pukulan tongkat yang Gevio lakukan sudah mulai terdengar lebih baik.

Di mata Erie, Gevio tak ubah seperti Elden dalam versi yang kecil. Baik Elden maupun Gevio sama-sama berbakat dalam banyak hal, terutama bakat untuk membuat orang lain terpesona dengan wajah mereka. Harus diakui, melihat Gevio yang serius dengan tongkat drumnya tampak seperti Elden yang serius dengan setumpuk dokumen kantornya. Mereka terlihat begitu tampan.

Erie merasa sangat beruntung dikelilingi oleh pria-pria tampan seperti anak dan suaminya. Apalagi saat anak dan ayah itu keluar dari ruang gym usai melakukan olahraga bersama. Sungguh, itu adalah pemandangan terbaik di rumah itu.

Semakin Gevio bertambah besar, Erie semakin yakin bahwa putranya akan menjadi anak yang baik, pintar dan berbakat. Dengan semua yang dimiliki Gevio, perempuan itu merasa kelak anaknya akan digadrungi oleh gadis-gadis di sekolahnya.

Huh! Membayangkan itu saja sudah membuat Erie merasa kesal. Ditambah lagi jika kelak Gevio memperkenalkan seorang gadis sebagai kekasihnya. Memang masih lama. Masih ada belasan tahun lagi menuju ke sana. Tetapi, bukankah Erie harus bersiap dari sekarang? Supaya pada saat itu datang, Erie tidak bertindak sebagai ibu yang terlalu posesif akan putranya.

PROK, PROK, PROK!

Suara gemuruh tepuk tangan mengisi ruangan studio itu saat Gevio selesai memainkan alat musiknya. Erie berdiri dan mendekati anaknya. “Bagus sekali, My Prince! Kau luar biasa!” puji Erie sambil menepuk kepala Gevio.

Gevio tersenyum senang. Anak itu merasa bangga karena berhasil menunjukkan hasil belajarnya beberapa hari ini kepada sang ibu. “Apa Mommy tahu tadi itu lagu apa?” tanyanya seraya menatap wajah ibunya.

Erie mengangguk. “Tentu saja Mommy tahu. Bukankah itu lagu Twinkle Twinkle Little Star?”

“Iya!” ujar Gevio dengan semangat. “Gevio baru belajar tiga hari,” jelas anak itu.

“Benarkah?” Erie tampak takjub dengan kemampuan anaknya. “Mommy bangga kau bisa belajar dengan cepat, My Prince!”

Gevio membalas perkataan Erie dengan senyumannya. Dari kedua mata hazel kecilnya itu terpancar cahaya kebahagian. Erie senang. Setiap perkembangan putra kecilnya itu selalu sukses membuat perempuan itu merasa bahagia sekaligus bangga.

“Pelajaran hari ini sampai di sini dulu Tuan Muda. Minggu depan kita akan mempelajari lagu yang baru dengan tempo yang lebih cepat. Saya harap Tuan Muda bisa mengulang lagi pelajaran yang saya berikan,” ucap pelatih musik Gevio.

“Baik Pak Guru. Gevio akan berlatih lebih giat lagi,” jawab Gevio.

“Kalau begitu saya pamit pulang,” kata pelatih musik itu sambil mengambil tasnya. “Permisi Nyonya. Permisi Tuan Muda,” lanjutnya.

Gevio turun dari kursinya dan membungkukkan tubuhnya. “Terima kasih Pak Guru,” ujarnya.

Erie juga menimpali ucapan anaknya. “Terima kasih, Pak.”

Laki-laki berusia 40 tahun itu tersenyum lalu keluar dari ruang studio ditemani oleh A8.

“My Prince, ayo cepat kita bereskan tempat ini karena Daddy akan pulang sebentar lagi,” tutur Erie seraya menutup partitur dan meletakkannya di dalam lemari.

Gevio memasukkan kursi kecilnya ke celah di antara drumnya. “Daddy pulang jam segini, Mommy?” tanya Gevio heran karena tidak biasanya ayahnya pulang sesore ini. Biasanya pria itu akan pulang pada tengah malam. Atau paling cepatnya pukul sembilan malam.

“Iya, katanya Daddy tidak ada pekerjaan jadi Daddy bisa pulang lebih awal. Dan tadi Daddy juga bilang kalau Daddy membawa pesananmu. Memangnya apa yang kau pesan, My Prince?”

“Ah, itu! Gevio memesan kotak pensil.”

“Untukmu?”

Gevio menggeleng. “Bukan untuk Gevio, Mommy. Tapi untuk Rebecca karena besok ulang tahun Rebecca, jadi Gevio mau memberi kotak pensil itu sebagai hadiah.”

“Rebecca?” ulang Erie. Setelah kejadian sakitnya Gevio, hubungan anak itu dan Rebecca memang sudah membaik. Menurut penuturan putranya, Rebecca masih sering tidak masuk sekolah. Gevio tidak tahu alasannya. Ia juga tidak berani bertanya kepada gadis itu karena ia takut akan dijauhi lagi olehnya. Tetapi setidaknya, hubungan Gevio dan Rebecca sudah kembali akrab seperti sedia kala.

Erie tersenyum. “Apa nanti mau Mommy bantu untuk membungkus hadiahmu, My Prince? Kebetulan Mommy juga ingin memberikan kado untuk Rebecca.”

“Iya Mommy. Nanti malam tolong bantu Gevio ya?” kata Gevio sambil terus membereskan alat-alat musiknya.

“Iya, My Prince!” balas Erie.

Usai membereskan studio musik itu dan mencabut semua kabel yang tercolok, Erie menghampiri Gevio. “Apa kau sudah selesai?” tanyanya.

Gevio mengangguk. Ia menepuk-nepuk kedua telapak tangannya lalu mengelap keningnya yang berkeringat. “Sudah selesai, Mommy!”

Erie menggenggam tangan Gevio. “Ayo kita siapkan makan malam untuk Daddy,” ajak Erie sambil mematikan lampu ruangan itu. Kemudian mereka melangkahkan kaki ke arah dapur.

“Nenek!” ujar Gevio dengan riang memanggil Marline. Ia bahkan melepaskan tangan Erie hanya untuk menghampiri wanita tua itu. “Nenek masak apa untuk makan malam hari ini?” lanjut anak kecil itu.

Marline melepaskan spatula yang ia pegang untuk memandang Gevio. “Nenek sedang menyiapkan Caldo Verde, Tuan Muda,” jawab Marline menyebutkan makanan bersup yang terbuat dari kentang dan sosis itu.

“Hm, sepertinya enak.” Gevio menoleh ke belakang dan melihat ke arah ibunya. “Mommy, makanan pencuci mulut malam ini apa?” tanyanya lagi.

Jika sudah berbicara tentang makanan, Gevio akan menjadi anak yang sangat cerewet. Ia tidak akan merasa sengan menanyai banyak hal mulai dari jenis makanan yang sedang dimasak, bahan-bahannya sampai cara pembuatannya, meskipun ia tidak mengerti sama sekali. Kata-kata yang sering keluar dari bibir kecil Gevio setelah mendapatkan penjelasan dari pertanyaannya biasanya hanya gumaman dan anggukan kepala.

“Pudding. Kau mau lihat?” tawar Erie.

Gevio mengangguk antusias. Ia mengikuti ibunya dengan menyeret sebuah kursi. Ketika sang ibu membuka kulkas bagian atas, cepat-cepat Gevio menaiki kursinya agar bisa melihat karya ibunya itu. “Gevio bisa menghabiskannya sekarang juga,” gumamnya.

“Tidak boleh sayang!” sergah Erie. “Kalau kau menghabiskannya, Daddy dan Mommy akan makan apa? Dan, bukankah Gevio sudah janji akan menghabiskan makan malam terlebih dahulu sebelum memakan makanan pencuci mulut?”

“Iya Mommy. Gevio akan menepati janji.”

“Bagus. Sekarang cuci tanganmu. Kita harus membantu Nenek Marline.”

“Yes, Mom!” seru Gevio bersemangat.

XXXXX

Sudah tampan, baik hati, pintar, kaya, suka olahraga, sekarang mahir bermain alat musik lagi. Unnchh, Gevio ini adalah paket lengkap untuk dijadikan pasangan di masa depan. Kutunggu dewasamu ya Gevio… Wkwkwk ><

Oh ya, aku juga udah siapin special visual untuk adegan Gevio main drum lho… Cus check di instagramku yak..

Dan jangan lupa tinggalkan jejak di novel ini. Itu juga aku tunggu lho… Danke ^^

By: Mei Shin Manalu (ig: meishinmanalu)

1
Idasesoega
untukmu author : sungguh cerita bagus berdasar data & fakta.
namun mnrtku. cerita terlalu panjang.
lbh baik berseri, sehingga mdh dibuat film bersepisode. dan mdh dipelajar pr anggota parlemen unt buat atau merevisi sebh uu.
di nkri, dg anggota parlemen yg terlalu banyak dg kw (kualitias) spt sekarang kok sbh mimpi bisa membuat uu apapun yg bagus dan berkualitas. kt gus dus, angg parlemen kita kan spt "taman kawak kawak😜maaaaaf
Krystal Zu
Cerita author ini selalu menarik
Udah lama aku gak baca novel, terus keinget Ceritanya Erie eh udah ada anaknya aja🦋🌼
Google
🤎🤎🤎
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
ayah lebih sayang anaknya daripada istrinya 😂
Devoy 🍁
🤎🤎🤎
Devoy 🍁
Gevio🤗🤗🤗
Devoy 🍁
Sweet nyaaa😍😍😍
Devoy 🍁
🤎🤎🤎
Elisabeth Ratna Susanti
tuntaskan like yang tertinggal 😍
Elisabeth Ratna Susanti
suka 😍
Elisabeth Ratna Susanti
mantap 😍
Elisabeth Ratna Susanti
keren 😍
D'ՇɧeeՐՏ🍻
🤎🤎🤎🤎
Devoy 🍁
💋💋💋
D'ՇɧeeՐՏ🍻
🤎🤎🤎
🦈Bung𝖆ᵇᵃˢᵉ
semangat
🦈Bung𝖆ᵇᵃˢᵉ
lope² mas elden
🦈Bung𝖆ᵇᵃˢᵉ
cukup elden
🦈Bung𝖆ᵇᵃˢᵉ
pelayan laknat
🦈Bung𝖆ᵇᵃˢᵉ
Mario aku menunggu mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!