"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Terbangun di Kasur Lama
Napas Evelyn tersentak hebat. Ia langsung terduduk di atas kasur. Jemari tangannya refleks menekan pundak tempat peluru bersarang. Tapi tidak ada. Tidak ada lubang. Tidak ada bekas jahitan. Aneh sekali, pikirnya.
Evelyn mencoba turun dari kasur dan menatap bayangan dirinya sendiri di cermin besar yang terpampang di dalam kamar apartemennya.
"Ini aku tapi kenapa terasa berbeda ya?" guman Evelyn.
Tapi Evelyn dapat mengingat rasa sakit yang menusuk sampai ke tulang punggung, akibat tembakan Cedric. Evelyn masih ingat udara dingin bercampur darah yang menusuk malam itu. Suara tawa Leonor masih menggema di kepalanya.
Aku... belum mati?
Evelyn mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dengan napas yang masih terasa berat.
Kamar ini berukuran sedang dengan cat dinding warna krem, meja belajar yang penuh tumpukan buku kuliah di sudut ruangan, serta gorden kain tipis yang terkuak sedikit memperlihatkan sinar matahari pagi. Ini bukan tanah lembap di tengah hutan pinus yang dingin. Ini adalah kamar apartemen lamanya saat masih kuliah!
Selasa, 14 Mei.
Tiga tahun lalu. Tepat saat ia masih berstatus sebagai mahasiswi tingkat akhir—dan saat ia masih menjadi cewek bodoh yang tergila-gila pada Cedric Ashworth.
Tawa pelan yang getar dan pahit lolos begitu saja dari bibir Evelyn. Ia mengusap wajahnya yang basah oleh keringat. Entah ini keajaiban atau takdir yang lagi mempermainkannya, satu hal yang pasti: jeritan batinnya sebelum matanya tertutup di atas pangkuan Matthew malam itu... benar-benar dikabulkan.
Tuhan memberi aku kesempatan.
Kehidupan kedua. Kesempatan buat keluar dari lingkaran setan Keluarga Ashworth.
Kring! Kring!
Layar ponsel di genggamannya mendadak bergetar hebat, menampilkan nama yang membuat sekujur tubuh Evelyn seketika kaku: Cedric.
Kilatan memori tentang Cedric yang memeluknya sambil menangis ketakutan, lalu berlari meninggalkannya sendirian yang sekarat demi mencari pertolongan malam itu tiba-tiba terlintas lagi. Evelyn tahu Cedric tidak bersalah tapi dia tidak mau mengulang kembali waktu hanya untuk mati karena Cedric.
Evelyn menenangkan dirinya. Dengan masih gemetar ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa bersuara.
"Eve? Sayang, kamu sudah bangun?" Suara Cedric terdengar dari seberang telepon. Nadanya begitu lembut, hangat, dan penuh perhatian—suara yang dulu selalu berhasil membuat jantung Evelyn berdebar bahagia. "Maaf ya pagi-pagi sudah telepon. Kamu hari ini ada kelas pagi, kan? Aku sudah di depan nih, bawain sarapan kesukaan kamu."
Evelyn memejamkan matanya rapat-rapat. Suara itu... suara dari pria yang sama yang telah menghancurkan hidupnya, pria yang membuat ibunya punya celah untuk menjebaknya hingga mati mengenaskan.
"Eve? Kamu masih di sana, Darling?" panggil Cedric lagi karena Evelyn tak kunjung merespons.
Evelyn membuka matanya. Sorot mata yang dulu penuh kepolosan dan rasa cinta yang dalam, kini berganti menjadi tatapan yang luar biasa dingin dan tajam.
"Nggak usah," jawab Evelyn pendek. Suaranya datar, tanpa nada.
Di seberang sana, Cedric terdengar terkekeh pelan, mengira kekasihnya cuma lagi merajuk. "Lho, kenapa? Aku cuma mau antar sarapan sebentar sebelum berangkat ke kampus, Eve. Buka pintunya ya?"
"Aku bilang enggak usah, Cedric," potong Evelyn tegas. "Aku lagi gak di apartemen Cedric. Kita ketemu lain kali aja, ok."
Hening sejenak di seberang telepon. Cedric tampaknya kaget mendengar nada bicara Evelyn yang sama sekali tak pernah ia dengar sebelumnya.
"Eve... kamu kenapa sih? Aku ada salah ya?" suara Cedric berubah panik dan bingung. "Kalau soal kemarin aku terlambat jemput—"
"Enggak kok. Aku cuma sadar ada beberapa hal yang memang harus kita luruskan Cedric. Ada baiknya kita pisah."
Kata itu keluar meluncur begitu saja dari mulut Evelyn dengan sangat lancar, tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Apa?" Cedric tertawa canggung, seperti orang bingung yang tidak mempercayai pendengarannya. "Eve, kamu becanda kan? Pisah gimana maksud kamu? Jangan ngomong sembarangan begini ah—"
"Aku nggak bercanda," bisik Evelyn dingin, tiap katanya ditekankan dengan jelas. "Aku ingin sendiri dulu Cedric. Give me space. Privacy. I need time to be alone. Just leave me would you? Dont talk or call me please!"
TUT.
Evelyn langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia memblokir nomor Cedric detik itu juga, lalu melempar ponselnya ke atas kasur.
Kedua tangannya bertumpu di tepi meja belajar, napasnya memburu. Dadanya terasa sangat lapang, meski tangannya masih sedikit gemetar. Ini baru langkah pertama. Ia sudah bersumpah di detik-detik kematiannya: tidak akan pernah lagi jatuh cinta atau menyerahkan hidupnya pada Cedric Ashworth.
Namun, di tengah emosi di dadanya, bayangan lain mendadak melintas di ingatan Evelyn.
Wajah tampan dengan mata keemasan yang memerah basah oleh air mata, merengkuh tubuh dinginnya di bawah remang cahaya bulan hutan pinus.
Matthew Pendragon.
Evelyn mengerutkan keningnya, memegang dadanya yang berdebar aneh.
Kenapa... kenapa waktu itu Grand Duke yang dingin itu, yang bahkan nggak pernah menyapaku di kampus, malah menangis sejadi-jadinya saat melihatku mati?