NovelToon NovelToon
Pengantin Dalam Kegelapan

Pengantin Dalam Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Pengantin Pengganti / Perjodohan / Roman-Angst Mafia / Mafia
Popularitas:642
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.

Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.

Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemicunya adalah Emosi

Celeste berdiri menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Keheningan kamar terasa begitu ganjil, menyengat kepalanya dengan teka-teki yang makin membingungkan. Sikap Lucian malam tadi saat berada di ruang senjata dan aksinya di atas ranjang benar-benar bertolak belakang dengan pria yang baru saja mengecup pelipisnya dan meminta maaf dengan bahasa isyarat.

Apakah hembusan suara bariton malam tadi hanya halusinasi yang diciptakan oleh rasa takutnya? Tidak mungkin. Celeste ingat betul getaran vokal di leher pria itu saat membisikkan kata Cantik di altar dan ucapan Selamat datang di neraka di ruangan gelap itu.

Celeste menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan prasangka liar. Ia melangkah mendekati walk-in closet yang sangat luas. Di sana, deretan pakaian wanita bermerek sudah tertata rapi sesuai ukurannya. Pilihannya jatuh pada gaun sutra berlengan panjang berwarna krem dengan kerah tinggi. Kerah itu sengaja ia pilih untuk menutupi jejak-jejak keunguan di lehernya yang ditinggalkan Lucian semalam.

Saat sedang merapikan riasan tipis di depan meja rias, pintu kamar mandi terbuka.

Lucian keluar dengan celana kain hitam dan kemeja abu-abu yang belum dikancingkan sepenuhnya. Pria itu tampak sibuk memasangkan kancing kemeja di dadanya. Namun, begitu pandangan mereka bertemu di cermin, gerakan tangan Lucian mendadak terhenti.

Mata hitamnya menatap Celeste dengan sorot yang teramat dalam. Pria itu merogoh saku celananya, mengambil ponsel, lalu jemarinya mengetik sesuatu sebelum menyodorkan layarnya ke arah Celeste.

[Maaf untuk semalam. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Apakah tubuhmu terasa sangat sakit?]

Celeste menelan ludah, membalikkan badan menghadapi suaminya secara langsung. Ia menatap lekat-lekat wajah tampan itu, mencari celah atau petunjuk dari dua kepribadian yang ia curigai.

"Kamu... benar-benar tidak mengingatnya?" tanya Celeste pelan, suaranya agak serak. "Atau kamu sengaja berpura-pura di depan orang lain?" Tidak tahu kenapa, ia lebih berani bicara dan tatap dengan pria di depannya sekarang daripada pria yang menggagahi nya semalam.

Lucian terdiam. Alis tebalnya bertaut kencang. Ia tidak langsung mengetik. Pria itu hanya menggelengkan kepala pelan dengan tenang, lalu kembali mengetik pesan baru.

[Aku ingat segalanya, Celeste. Tapi kadang... ada saat di mana aku tidak bisa mengendalikan dorongan dalam diriku. Terutama saat emosiku terpicu atau saat rasa ingin memilikimu terlalu kuat. Maafkan aku.]

Membaca tulisan itu, napas Celeste tertahan sejenak. Jadi bukan kepribadian ganda yang sepenuhnya terpisah, melainkan sebuah dorongan gelap dari trauma atau gangguan emosional yang menyelimuti pria ini.

[Apa kamu takut kepadaku?]

Celeste menggeleng cepat, "Aku tidak takut kepadamu, hanya saja aku belum terbiasa dengan sifatmu yang semalam"

"Lucian..." Celeste melangkah mendekat. Tangan mungilnya terulur, memberanikan diri menyentuh pergelangan tangan pria itu. "Kamu bisa bicara padaku, kan? Semalam aku mendengar suaramu. Kamu tidak benar-benar bisu."

Tubuh Lucian seketika membeku kaku saat jemari Celeste menyentuh kulitnya. Tatapan matanya berguncang hebat. Pria itu menarik tangannya pelan, lalu mengambil napas panjang yang terdengar berat dari tenggorokannya. Dengan gerakan jemari yang lambat dan kaku, ia memperagakan bahasa isyarat.

"Suaraku... hanya keluar saat emosiku di puncak batas. Pita suaraku rusak karena trauma masa kecil. Pita suaraku... terkunci."

Trauma? Pria menakutkan ini punya trauma juga? Pria yang mempunyai keluarga yang harmonis memiliki trauma juga?

Trauma apa? Apa yang ia alami sehingga tak bisa bicara seperti itu?

Celeste terpaku. Jawaban itu menghantam dadanya dengan rasa iba yang tak terduga. Pria di depannya bukan monster yang sengaja mempermainkannya dengan berpura-pura bisu, melainkan seorang penyintas trauma berat yang memendam kerusakan psikologis dan fisik secara bersamaan.

Mereka berdua kemudian berjalan berdampingan menuruni tangga melingkar menuju ruang makan. Mansion yang semalam terlihat mengerikan kini tampak begitu megah dan hangat karena cahaya matahari pagi memantul sempurna di atas lantai marmer, berkat kaca khusus penahan UV yang dipasang di seluruh penjuru rumah.

Di meja makan panjang, seorang pelayan wanita muda, gadis yang kemarin ditunjuk sebagai pelayan pribadi Celeste, sedang menata piring dengan tangan yang agak gemetar.

Sembari menunggu hidangan disajikan, Lucian merogoh ponselnya dan mengetik sebuah pertanyaan untuk Celeste.

[Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?]

Celeste terdiam sejenak. Ia meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, merasa agak bingung. Biasanya, saat masih di rumah Delacroix, ia menghabiskan waktunya dengan terkurung di ruang lukis atau mengerjakan tugas kuliah online-nya. Tinggal di mansion semewah dan seluas ini tanpa kegiatan pasti membuat bayangan kebosanan menyelinap di pikirannya.

"Aku... tidak tahu." jawab Celeste jujur, tersenyum canggung.

Lucian menarik senyum tipis yang amat samar. Jemarinya kembali menari di atas layar ponsel.

[Kamu bisa menghabiskan waktu di ruang lukis dan ruang musik.]

Mata hazel Celeste seketika membelalak lebar. "Benarkah? Di mansion ini ada ruang lukis dan musik?" tanya Celeste antusias, matanya berbinar gembira. "Apa aku boleh menggunakannya setiap hari?"

Lucian mengangguk pelan.

[Tentu saja boleh. Ruangan itu milikmu. Mommy yang mempersiapkan semuanya khusus untukmu.]

Mendengar hal itu, hati Celeste mendadak dipenuhi rasa hangat yang luar biasa. Ibu mertuanya ternyata begitu perhatian dan memikirkan kenyamanannya hingga sedetail ini. "Aku... aku akan menggunakan tempat itu dengan baik. Terima kasih banyak, Ian."

Sebelum mengetik balasan lagi, Lucian menatap jam tangannya. Ia harus segera berangkat ke kantor untuk mengurus beberapa dokumen penting klan.

[Nanti malam ada acara makan malam keluarga. Aku akan menjemputmu nanti malam.]

Celeste menghentikan gerakannya, menatap Lucian dengan raut cemas. "Makan malam keluarga? Apa... apa aku harus berakting lagi menjadi Caelia?"

Lucian menggelengkan kepala perlahan, memberikan ketenangan lewat tatapan matanya.

[Tidak perlu. Kakek sudah terbang kembali ke Eropa kemarin malam.]

Celeste menghembuskan napas lega yang amat dalam. Beban berat di pundaknya seketika terangkat. "Syukurlah kalau begitu..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!