NovelToon NovelToon
Gadis Galak Milik Tuan Muda

Gadis Galak Milik Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Transmigrasi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yusriani Yusuf

Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.

Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.

Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan

Dua puluh tahun sejak peluru kendali pertama menghancurkan peradaban, Wilayah Barat tidak lebih dari kuburan massal yang luas. Langitnya mati bahkan, selalu tertutup kabut hitam yang pekat. Di bawahnya, di antara tiang-tiang beton yang keropos, deru senapan masih saling bersahutan.

Di tengah jalanan yang retak dan dipenuhi lubang bekas bom, kepungan itu akhirnya mengunci mereka.

Dinda berdiri di depan, jubah hitamnya yang panjang berkibar kasar dihantam angin malam yang dingin. Wajahnya coreng-moreng oleh jelaga dan darah kering, tetapi matanya tetap tajam. Di telapak tangannya seberkas cahaya putih kebiruan mulai berdenyut, memancarkan aura murni yang mematikan.

Di belakangnya, Kevin berdiri dengan setelan lengkap, tangannya mencengkeram pistol dengan buku-buku jari yang memutih.

"Komandan Pertama Barat! Menyerahlah, hari ini riwayatmu tamat!" teriak salah satu prajurit dari balik barikade runtuhan.

Dinda tidak menjawab. Ia hanya menyeringai tipis.

Bum!

Dengan satu sentakan tangan, gelombang cahaya melesat membutakan mata. Ledakan energi itu menghantam barisan depan hingga tubuh-tubuh berbaju zirah terlempar menghantam puing bangunan. Suasana langsung kacau. Tembakan dilepaskan memecah kesunyian malam. Namun, Dinda bergerak terlalu cepat setiap kali tangannya terangkat, satu nyawa terenggut.

Sementara di belakangnya Kevin hanya bergeming. Sepasang matanya menatap punggung Dinda dengan tatapan yang sulit diartikan.

Hanya butuh beberapa menit sampai semuanya selesai. Medan perang kembali sunyi, menyisakan kepulan asap dan tubuh-tubuh yang tak lagi bernyawa.

Dinda menurunkan tangannya napasnya sedikit terengah. "Selesai juga..."

DOR!

Suara tembakan itu terdengar begitu dekat, tepat di belakang telinganya.

Dinda tersentak, rasa dingin yang teramat sangat mendadak menembus punggungnya, disusul oleh rasa panas yang membakar dada. Tubuhnya terhuyung ke depan. Cairan kental beraroma mulai menetes dari sudut bibirnya.

Dengan sisa tenaganya, ia membalikkan badan. Matanya membelalak menatap moncong pistol yang masih berasap. Di ujung senjata itu Kevin berdiri dengan wajah datar.

"Kenapa Kevin?" Suara Dinda tercekat di tenggorokan.

"Orang yang paling ingin melihatmu mati adalah komandan sendiri," jawab Kevin, tanpa ada sedikit pun nada bersalah. "Aku cuma menjalankan perintah Dinda."

Dinda memegangi dadanya lalu tertawa getir. Napasnya mulai pendek-pendek. "Kau benar-benar berpikir sebutir peluru rongsokan bisa membunuhku?"

"Peluru ini dilapisi baja murni dan zat peredam energi. Dibuat khusus untuk makhluk monster sepertimu," Kevin melangkah maju. "Sebesar apa pun kekuatanmu, hari ini kau tetap akan mati."

Dinda mencoba melangkah maju untuk mencengkeram leher laki-laki itu, tetapi kedua lututnya justru mengkhianatinya. Ia ambruk ke tanah berlutut sambil memuntahkan darah segar yang menodai debu jalanan.

"Aku.. aku selalu menjagamu di garis depan, dan mengira kau rekan yang bisa kupercayai untuk menjaga punggungku," bisik Dinda lirih menatap tanah dengan pandangan yang mulai kabur. "Aku tidak pernah menyangka, orang yang menusukku dari belakang adalah kau."

Kevin malah terkekeh suara tawanya terdengar mengejek. "Komandan menjanjikan posisimu untukku, seorang Panglima Tertinggi Wilayah Barat! Jenderal yang memegang kuasa atas ribuan pasukan! Siapa yang waras untuk menolak tawaran itu?"

Ia menodongkan pistolnya tepat ke dahi Dinda.

"Di dunia yang hancur ini aturan cuma satu, yang kuat memangsa yang lemah. Masa jenderal besar sepertimu tidak paham hal sepele begitu?"

Dinda mendongak. Alih-alih ketakutan seulas senyum miring terpahat di wajahnya yang pucat. "Kau pikir orang sepertimu pantas duduk di kursiku?"

Jantung Kevin mendadak mencelos. "Apa maksudmu?!"

Dinda memaksa tubuhnya untuk bangkit berdiri. Secara mendadak udara di sekitar mereka menjadi sangat panas. Cahaya putih kebiruan kembali meledak dari tubuh Dinda—kali ini jauh lebih menyilaukan jauh lebih pekat. Tanah di bawah kaki mereka bergetar, peluru yang tadinya bersarang di punggung Dinda mendadak terdorong keluar oleh tekanan energi dan melayang di udara tepat di depan dada Kevin.

Kevin mundur dua langkah wajahnya mendadak pucat pasi. "Mu... mustahil! Seharusnya energimu sudah habis!"

Dinda menatap Kevin dengan mata yang sepenuhnya telah berubah menjadi sepasang permata bercahaya.

"Kalau begitu mari kita turun ke neraka bersama-sama, Kevin."

Syuut!

Peluru melayang itu melesat balik dengan kecepatan luar biasa, menembus perut Kevin hingga tembus ke belakang. Laki-laki itu terbelalak menjerit kesakitan sambil ambruk memegangi perutnya yang bolong.

Di saat yang sama pertahanan Dinda runtuh. Memaksa energi inti dalam kondisi sekarat membuat seluruh organ dalamnya hancur. Tubuhnya goyah lalu jatuh telentang menghadap langit malam yang kelabu.

Senyum tipis tersisa di bibirnya yang bersimbah darah.

"Aku tidak takut mati," bisiknya pada kegelapan. "Dunia sialan ini... sudah membuatku muak terlalu lama."

Tepat saat jantungnya berhenti berdetak sebuah bola cahaya murni keluar dari keningnya, membungkus jiwanya sebelum seluruh kesadarannya tersedot ke dalam kegelapan abadi.

Sedangkan di tempat lain, seorang gadis sedang di tahan

"Siapa kalian?! Lepaskan aku! Mau apa kalian?!"

Jeritan seorang gadis memecah kesunyian di lantai empat sebuah gedung mangkrak yang belum selesai dibangun. Kedua lengan gadis itu dicengkeram erat oleh dua orang pria berbadan kekar penuh tato, sementara seorang pria lain tampak bersandar santai di dinding beton yang bolong.

Ana Pramudia, gadis berseragam sekolah itu, meronta sekuat tenaga hingga seragamnya kusut.

"Cepat pegangi yang kuat jangan sampai lepas," perintah pria yang bersandar di dinding dengan nada bosan.

Ana mengalihkan pandangannya pada sosok gadis lain yang berdiri tidak jauh dari sana. Gadis yang mengenakan seragam sekolah yang sama persis dengannya.

"Jesika?" Suara Ana bergetar tidak sadar air matanya menetes. "Kenapa... kenapa kau tega melakukan ini padaku? Kita ini bersaudara!"

Jesika tersenyum sinis sambil melipat kedua tangannya di dada. "Bersaudara? Jangan bermimpi Ana. Setelah video memalukanmu tersebar kau pikir Ayah masih mau mengakuimu? Ayah itu Kolonel Kekaisaran! Dia selalu memberikan semua fasilitas terbaik untukmu, tapi kau malah mempermalukan nama keluarga!"

"Lepaskan aku! Ayah tidak akan tinggal diam kalau tahu kalian menyergapku!"

"Justru aku ingin Kakek dan Ayah melihat betapa menjijikkannya dirimu sekarang," potong Jesika dingin. Ia menoleh pada para preman bayarannya. "Habisi dia sekarang juga, buat dia cacat sekalian."

Mendengar perintah itu, keempat preman itu mulai melangkah maju. Ketakutan yang amat sangat membuat Ana mendapatkan lonjakan tenaga mendadak. Ia meronta sekuat tenaga menggigit tangan preman yang memegangnya hingga cengkeraman mereka terlepas. Ana berlari panik, hingga punggungnya menempel pada tiang beton pembatas luar gedung yang langsung menghadap ke dasar tanah.

"Jangan mendekat!" teriak Ana histeris. "Kalau kalian maju satu langkah lagi, aku bersumpah akan melompat dari sini!"

Jesika dan para preman itu menghentikan langkah mereka sejenak. Mereka melongok ke bawah. Di bawah sana hanya ada hamparan lantai semen, besi-besi tua dan puing tajam. Jatuh dari lantai empat sama saja dengan menjemput maut.

Bukannya panik Jesika malah meledak dalam tawa renyah yang terdengar sangat kejam.

"Melompat? Baguslah! Silakan melompat kalau punya nyali!"

"Ayo lompat, Nona! Kami mau lihat!" ejek salah satu preman sambil bersiul nakal.

"Cepat lompat!" bentak Jesika, matanya berkilat penuh kebencian. "Atau kau cuma bisa menggertak saja?"

Air mata Ana mengalir semakin deras. Ia menatap langit sore yang pucat, lalu memejamkan matanya rapat-rapat. Dunia ini sudah tidak adil padanya dan keluarganya sendiri menginginkannya hancur.

"Kalau aku harus mati di tangan kalian," bisik Ana suaranya bergetar namun penuh penekanan, "lebih baik aku mati dengan caraku sendiri."

Tanpa ragu lagi Ana melangkah mundur.

Tubuh ringkihnya langsung meluncur bebas menembus angin, menghantam kerasnya tanah di bawah sana.

BRAK!

Hening. Gadis itu tergeletak tak bergerak di atas tanah gersang, darah mulai merembes dari kepalanya.

Dari atas gedung Jesika melongok ke bawah lalu mendecak. "Cepat turun! Cari mobil tanpa pelat nomor, angkut mayatnya dan buang ke jurang pinggir gunung. Jangan sampai polisi atau orang rumah menemukan jejak kita!"

Para preman itu bergegas turun. Tubuh malang Ana dilempar kasar ke dalam bagasi mobil sebelum kendaraan itu melesat membelah malam. Di area pembuangan yang sepi di lereng gunung, tubuh Ana dilemparkan begitu saja ke semak-semak jurang, lalu mobil itu pergi meninggalkan debu yang mengepul.

Tepat setelah mobil itu menghilang, sebuah keajaiban terjadi. Langit malam yang gelap mendadak terbelah oleh seberkas cahaya putih kebiruan yang jatuh melesat dari angkasa. Cahaya itu menukik tajam, lalu meresap masuk ke dalam dada tubuh Ana yang sudah dingin.

Uhuk!

Dada Ana tersentak ke atas. Jari-jari tangannya yang kaku mulai bergerak.

Sepasang kelopak matanya terbuka lambat laun. Namun, sorot mata itu bukan lagi milik gadis lemah yang ketakutan. Sorot mata itu sangat tajam dan penuh dengan aura pembunuh.

"Di mana... aku?" bisiknya dengan suara terdengar serak.

Secara mendadak, gelombang ingatan asing menghantam kepalanya bagai air. Memori tentang penghinaan, kesepian, pengkhianatan dari saudara tiri, serta penderitaan seorang gadis malang yang selalu ditindas oleh keluarganya sendiri mengalir masuk ke otaknya.

Di dalam alam bawah sadarnya, jiwa Dinda sang Panglima Perang tersenyum dingin. Ia merekatkan potongan memori itu dalam benaknya.

"Jadi... aku hidup kembali? Di tempat Kekaisaran?" Dinda menggumam merasakan tekstur tubuh barunya. "Dan nama gadis malang ini... Ana Pramudia."

Dari kejauhan di bawah lereng, terdengar lamat-lamat suara deru mesin mobil lain yang sedang mendekat.

Ana tidak, Dinda yang berada di tubuh Ana perlahan bangkit berdiri. Ia mengusap darah di keningnya, sementara sisa-sisa cahaya putih kebiruan masih berkilau samar di bola matanya.

Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman mengerikan.

"Jesika Keluarga Pramudia kalian sudah salah mencari musuh. Mulai hari ini, aku tidak akan mati sebagai korban."

1
SRIANA
bagus ceritanya, semangat KK.
Syifaa
👍
Syifaa
🙏
Syifaa
👍
imran
Lanjut lagi
yuyusss: 🙏🙏😍😍😍😍
total 1 replies
imran
Makin penasaran
imran
Gregetnya
yuyusss: 😍baguss banget lanjut
total 1 replies
Syifaa
Jangan lupa like
Syifaa
Jangan lupa komen
yuyusss
greget
yuyusss
😍
yuyusss
uhuyy
yuyusss
lanjuttt
Syifaa
Makin seru nggak
imran
Lanjut kak
imran
Baguss banget
Syifaa
Lanjut nggak
Putri Sajak
kak yuk like punya kuh🤭
imran
Bagus
imran
Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!