Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Barang
Arsen yang sejak tadi tanpa sadar memperhatikan bibir Keira terlalu lama, perlahan mendekat. Wajahnya semakin turun, tepat mengarah ke bibir Keira.
Keira yang menyadari jarak mereka semakin dekat langsung membelalakkan mata.
"Eh!"
Secara refleks, Keira mendorong wajah Arsen dengan telapak tangannya.
Arsen sontak tersentak dan segera menjauh. Wajahnya terlihat sedikit salah tingkah, tetapi ia buru-buru memasang ekspresi tenang.
"Jangan geer," katanya cepat, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku cuma mau lihat... tadi kayaknya ada sesuatu di bibir kamu."
Keira mengerjapkan mata beberapa kali. Ia masih belum sepenuhnya percaya.
"Aku kira kamu mau cium bibirku."
Arsen terdiam sejenak. Kemudian, dengan nada datar seolah kalimat yang akan ia ucapkan bukan sesuatu yang aneh, ia berkata, "Kalau cium juga memangnya kenapa? Kita ini suami istri yang sah."
Setelah mengatakan itu, Arsen langsung memejamkan mata dan membaringkan tubuhnya, berpura-pura sudah tertidur.
Keira menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Bukannya kamu bilang jijik cium bibir aku?" tanyanya, masih terkejut.
Arsen tidak menjawab sedikit pun. Ia tetap memejamkan mata, memasang wajah tenang seolah benar-benar sudah tertidur dan tidak mendengar pertanyaan Keira.
Keira mendengus kesal. "Malah tidur. Dasar! Suami nggak peka!"
Ia kemudian membalikkan tubuh, membelakangi Arsen.
"Eh, salah..." gumamnya pelan. "Otw mantan suami."
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Namun, di belakang Keira, Arsen perlahan membuka matanya.
"Otw mantan?" gumamnya dalam hati.
Tatapannya jatuh pada punggung Keira yang kini membelakanginya. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa berbeda di dalam dadanya.
Tidak nyaman. Bahkan... mengganggu.
Dulu, kata "cerai" terdengar begitu biasa baginya. Tidak pernah benar-benar membuatnya peduli.
Namun sekarang, hanya mendengar Keira menyebut dirinya sebagai "mantan suami" saja sudah membuat pikirannya terasa kacau.
Untuk pertama kalinya, Arsen menyadari bahwa mungkin...
.....
Pagi mulai menyapa.
Dari luar rumah terdengar suara ayam berkokok bersahutan. Sinar matahari perlahan menyusup melalui celah-celah jendela, menerangi kamar yang masih dipenuhi suasana tenang.
Keira menggeliat kecil di atas kasur. Namun begitu kedua matanya terbuka— Tubuhnya langsung menegang. Arsen... sedang memeluknya. Bahkan cukup erat.
"Eh?! Peluk?!" Keira spontan berteriak kaget.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung mendorong tubuh Arsen.
Bruk!
"Aakh!"
Arsen terjatuh dari sisi kasur dalam posisi yang sama sekali tidak siap. Ia meringis sambil mengusap punggungnya yang terasa nyeri.
"Keira, bisa nggak jangan main dorong seperti itu?" keluhnya.
"Kamu sadar nggak sih? Kamu tadi meluk aku!" Keira masih belum bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Arsen bangkit perlahan. Setelah berdiri, ia menatap Keira dengan wajah datar.
"Sadar."
"Lalu?!"
"Apa salahnya?" jawab Arsen santai. "Tadi malam dingin. Selimutnya tipis. Aku kedinginan."
Keira menyipitkan mata. Tatapannya penuh kecurigaan.
"Jangan-jangan..." gumamnya.
Arsen mengernyit. "Jangan-jangan apa?"
Keira langsung menunjuk ke arahnya.
"Jangan-jangan kamu modus! Bilang saja kalau sebenarnya kamu nggak bisa menahan diri. Iya, kan?"
"Itu nggak benar!"
Arsen langsung berdiri tegak. Kali ini wajahnya terlihat sedikit kesal.
Keira melipat kedua tangannya di depan dada.
"Awas, ya. Ingat perjanjian yang sudah kamu buat. Nggak boleh ada yang jatuh cinta di antara kita. Kalau sampai itu terjadi, rumahmu jadi milikku."
Arsen mendadak diam. Ia tidak menjawab.
Tatapannya tetap datar, tetapi ada sesuatu yang berbeda di dalamnya. Seolah ucapan Keira barusan membuat pikirannya berhenti sesaat.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Arsen berbalik dan melangkah keluar kamar.
Pintu terbuka. Kemudian tertutup kembali. Keira mengembuskan napas panjang. Kamar kembali sunyi. Ia masih menatap pintu selama beberapa detik.
"Kalau dia sampai jatuh cinta..." gumamnya lirih.
Keira berpikir sebentar.
"Mana mungkin dia mau cerai."
Ia mengangguk kecil, seolah baru saja menemukan jawaban yang masuk akal.
"Itu berarti... dia memang meluk aku karena kedinginan."
Keira kembali merebahkan tubuhnya di kasur, berusaha bersikap biasa saja. Namun tanpa disadari, tangannya justru menyentuh pinggangnya sendiri.
Tepat di bagian yang tadi dipeluk Arsen. Wajah Keira perlahan memerah.
"Pasti cuma karena dingin..." gumamnya lagi, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Padahal, jauh di dalam hatinya—
Keira sendiri tidak sepenuhnya yakin dengan kesimpulan tersebut.
---
Di luar rumah Pak Salim, Arsen menghirup udara pagi dalam-dalam.
Udara terasa sejuk dan menenangkan. Suara alam yang terdengar dari berbagai arah membuat suasana pagi itu terasa damai.
Namun pikirannya justru tidak setenang suasana di sekitarnya.
"Gimana keadaan istrimu?"
Suara Pak Salim yang tiba-tiba muncul dari samping membuat Arsen sedikit terkejut.
"Oh—baik, Pak. Kondisinya sudah lebih baik," jawab Arsen singkat.
Pak Salim tersenyum, kemudian terkekeh kecil.
"Melihat kalian berdua, saya jadi teringat masa lalu."
Arsen menoleh ke arahnya.
"Saya sama istri saya dulu juga dijodohkan," lanjut Pak Salim santai. "Awalnya? Wah, hampir setiap hari bertengkar."
Ia terkekeh lagi.
"Tapi sekarang... kami malah punya lima anak."
Arsen hanya tersenyum tipis. Namun entah kenapa, perkataan Pak Salim membuat sebuah bayangan tiba-tiba muncul di kepalanya.
Keira... sedang hamil. Wajah Keira yang biasanya cerewet terlihat lebih lembut. Perempuan itu memanggil namanya dengan nada yang berbeda dari biasanya.
Arsen langsung mengernyit. Ia menggeleng kecil, seolah ingin mengusir bayangan aneh tersebut dari pikirannya.
"Ngapain aku mikir sampai sejauh itu..." batinnya, buru-buru mengalihkan pikirannya.
Pak Salim kemudian menepuk bahu Arsen pelan.
"Yang penting, dijaga baik-baik. Kadang-kadang, orang yang awalnya nggak kita inginkan justru menjadi orang yang paling sulit untuk kita lepaskan."
Arsen terdiam. Entah kenapa, kalimat itu terasa begitu tepat mengenai dirinya.
"Panggil Keira. Sarapan sudah siap," ujar Pak Salim kemudian.
"Iya, Pak. Terima kasih banyak."
Pak Salim mengangguk dan kemudian berjalan meninggalkannya. Arsen masih berdiri di tempat selama beberapa saat. Pikirannya kembali dipenuhi satu nama.
Keira. Lalu perjanjian mereka. Dan tentang kata berpisah yang dulu terasa begitu mudah baginya.
Arsen mengembuskan napas perlahan. Setelah itu, ia berbalik dan kembali masuk ke rumah. Namun langkahnya kini tidak lagi secepat sebelumnya.
Seolah ada sesuatu yang mulai memenuhi pikirannya.
---
Keira berdiri di depan pintu kamar sambil membawa handuk.
Arsen yang berada tidak jauh darinya bersandar pada dinding, lalu menatap perempuan itu.
"Kamu mau mandi?" tanyanya.
"Iya. Sebelum keburu antre," jawab Keira santai.
Arsen mengernyit. "Kamu kan bisa mandi di rumah Pak Salim. Nggak perlu ke kamar mandi umum."
Keira menatapnya sebentar.
"Mas..."
Arsen sedikit terdiam mendengar panggilan itu.
"Mulai malam nanti aku mau tidur bareng Rina lagi. Aku nggak mau tidur di sini."
Ekspresi Arsen seketika berubah.
"Kenapa?"
"Karena ada kamu," jawab Keira jujur.
Ia kemudian berbalik dan hendak keluar dari kamar.
Namun Arsen dengan cepat menahan pintu sebelum Keira sempat melangkah lebih jauh.
"Nggak boleh."
Keira langsung menatapnya kesal. "Kenapa sih?"
"Kita ini suami istri. Kamu tetap tidur di sini," ujar Arsen tegas.
Namun beberapa detik kemudian ia buru-buru menambahkan, "Bukan karena apa-apa. Aku cuma nggak mau nggak menghargai Pak Salim."
Keira menyipitkan mata.
"Alasan banget."
Arsen menghela napas kecil.
"Nanti orang-orang malah curiga. Aku juga nggak mau mereka tahu kalau kamu istriku."
Arsen mengangkat sebelah alis.
"Harusnya kamu bangga."
Keira langsung menatapnya dengan ekspresi tak percaya.
"Hah?"
"Banyak perempuan yang ngejar-ngejar saya," lanjut Arsen santai, bahkan terdengar sedikit menyombongkan diri.
"Ih, pede banget sih!" Keira mendengus.
"Itu kenyataan," balas Arsen tanpa sedikit pun merasa bersalah.
Keduanya kembali saling tatap. Beberapa detik berlalu. Suasana di antara mereka perlahan memanas lagi, persis seperti biasanya.
---
Di luar kamar, Pak Salim yang kebetulan sedang lewat mendadak menghentikan langkah.
Ia bisa mendengar suara Keira dan Arsen yang kembali berdebat dari dalam kamar.
Namun bukannya merasa terganggu, Pak Salim justru tersenyum kecil.
"Persis..." gumamnya pelan.
"Kayak dulu."
---
Di dalam kamar, Keira menggeleng dengan wajah kesal.
"Aku tetap mau pindah."
Arsen menatapnya lekat. "Coba saja."
Nada suaranya tidak tinggi, tetapi terdengar cukup tegas. Keira terdiam sesaat. Tanpa membalas perkataan Arsen, ia akhirnya membuka pintu dan pergi untuk mandi.
Arsen tetap berdiri di dalam kamar. Matanya mengikuti Keira sampai perempuan itu menghilang di balik pintu.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar kembali tertutup.
Rahang Arsen sedikit mengeras. Entah karena kesal melihat Keira yang begitu keras kepala, atau karena alasan lain yang bahkan tidak ingin ia akui.
Arsen menghela napas dan hendak berbalik.
Namun matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di lantai.
Sebuah barang milik Keira tergeletak di sana.
Arsen mengernyit.
"Astaga..."
Ia segera membungkuk, mengambil barang tersebut, lalu menyimpannya dengan hati-hati.
---
Sementara itu, di kamar mandi, Keira baru saja menyadari ada sesuatu yang hilang. Ia memeriksa barang-barangnya satu per satu.
"Duh! Perasaan tadi sudah aku bawa. Kok nggak ada, sih?"
Keira kembali mencari-cari dengan panik.
Tiba-tiba—
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar mandi diketuk dari luar.
"Siapa?"
"Saya!"
Keira langsung mendengus. "Mau ngapain? Jangan bilang kamu mau BAB! Ganggu terus, ih! Di rumah ataupun di sini tetap saja ganggu!"
"Bukan!" jawab Arsen dari luar. "Tadi barang kamu jatuh di lantai."
Keira langsung terdiam.
"Ha?!"
Ia baru sadar.
"Barangku?!"