NovelToon NovelToon
Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Romansa pedesaan
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.

Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.

Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.

Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.

Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.

Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 — Gudang yang Tidak Bisa Dipakai Lagi (Revisi)

“Mbak, njenengan mboten kedah ningali (Mbak tidak harus melihat).” Pak Hadi berdiri di sisi jendela kantor lantai dua. Topinya sudah ia lepas dan ia genggam di dada.

“Kalau saya tidak berdiri di sini, siapa yang menanggung keputusan ini, Pak?” Raras membuka daun jendela sejengkal. Udara subuh Yogya menyusup masuk dengan bau tanah basah dan solar. “Senin, pukul lima lewat dua puluh. Truknya sudah datang?”

“Sampun, Mbak. Itu di pelataran.”

“Mbak tidur semalam?”

“Dua jam, Pak.” Raras tersenyum tipis. “Sisanya saya habiskan membaca nota Bapak.”

“Nota itu sudah tua, Mbak.”

“Justru itu yang membuat saya tidak bisa tidur.”

“Pak Broto sudah paham pasalnya?”

“Sudah, Mbak. Semalam saya jelaskan, tidak lebih dan tidak kurang.”

“Terima kasih, Pak. Saya hanya mau aturan yang sama berlaku untuk semua orang.”

Di bawah, sebuah truk bak terbuka berhenti dengan lampu masih menyala. Terpal biru menutupi tumpukan karung. Seorang sopir turun, menyalakan rokok, lalu menengok jam.

“Berapa karung?”

“Empat ratus, Mbak. Beras spot. Mas Danang menelepon Sabtu sore, minta menitipkan selama tiga hari. Katanya cuma tiga hari.”

“Sabtu sore.” Raras mengulang. Waktunya sama dengan telepon Pak Bambang. “Apa jawaban Bapak?”

“Saya bilang akan diperiksa Pak Broto. Sampai sekarang Mas Danang belum tahu jawabannya.”

“Dulu penitipan seperti itu gratis, kan?”

“Gratis, Mbak. Atas dhawuh Mbak. Tidak ada di tata tertib gudang.”

“Sekarang bagaimana?”

“Pakai aturan biasa, Pasal Sembilan. Penitipan harus menggunakan perjanjian titip. Biayanya enam ratus ribu sehari, dibayar tunai di muka.”

Raras mengangguk. Ia mencengkeram bingkai jendela dengan tangan kiri, sementara jari kanannya yang masih berplester menyentuh kaca. “Layani seperti pembeli lain, Pak. Sopan, jelas, tanpa dendam.”

“Inggih, Mbak.”

Dari pintu kecil di sisi gudang, Pak Broto keluar membawa papan jalan dan pulpen. Kepala gudang itu berjalan tegak, kopiah hitamnya sedikit miring. Di belakangnya, sebuah sedan abu-abu yang Raras kenal sampai ke goresan di bumpernya masuk ke pelataran dan berhenti.

Danang turun.

Raras tidak sadar sedang menahan napas. Kemejanya kusut, rambutnya belum disisir, dan bayangan gelap di bawah matanya lebih jelas daripada hari Selasa. Ia membuka pintu belakang mobil, mengeluarkan jaket, lalu meletakkannya kembali karena sopir truk sudah menunjuk jam.

“Pak Broto.” Suara Danang terdengar jelas sampai ke jendela yang terbuka. “Tolong turunkan barangnya. Seperti biasa.”

“Nuwun sewu, Mas Danang.” Pak Broto menunduk sopan. “Meniko (ini) Pasal Sembilan, Mas. Penitipan hanya bisa dilakukan dengan perjanjian titip. Biayanya dibayar tunai di muka.”

“Pak Broto, saya sudah dua tahun menitipkan barang di sini.”

“Inggih, Mas. Tapi kebiasaan dua tahun itu tidak tertulis dalam peraturan.”

“Telepon Pak Hadi.”

“Pak Hadi ada di kantor, Mas. Tapi aturannya tetap sama.”

Raras menutup mata sejenak. Dadanya terasa diinjak, tetapi napasnya tetap teratur.

“Dia mau berdebat, Pak?” tanyanya pelan.

“Mboten, Mbak. Mas Danang sedang menghitung.”

“Menghitung apa?”

“Berapa lama harga dirinya bisa bertahan.”

“Mbak,” bisik Pak Hadi, “apa saya perlu turun?”

“Jangan, Pak.” Raras membuka mata. “Kalau Bapak turun, ini bukan lagi soal aturan. Ini soal belas kasihan.”

“Tapi Mas Danang...”

“Saya tahu, Pak. Tadi saya hampir turun juga. Lalu saya ingat satu hal.”

“Apa itu, Mbak?”

“Kalau saya menolongnya lagi, Mas Danang tidak akan pernah tahu apa yang selama ini saya tolong.”

Di pelataran, Danang mengeluarkan dompet dan membukanya. Ia menghitung isinya tanpa suara, lalu menutup dompet itu lagi.

“Berapa biayanya, Pak?”

“Enam ratus ribu sehari, Mas. Untuk tiga hari, satu juta delapan ratus ribu.”

“Saya transfer nanti.”

“Harus tunai, Mas. Di muka.”

“Saya tidak membawa uang tunai sebanyak itu.” Suara Danang merendah, nyaris tidak terdengar. “Bapak saya yang memegang kas sekarang.”

“Kalau begitu, barangnya tidak bisa diturunkan, Mas.”

“Mas!” teriak sopir truk dari bawah. “Mau dibongkar atau dibawa balik? Saya digaji per perjalanan, Mas!”

“Sepuluh menit, Pak!”

“Sepuluh menit, saya bisa dapat dua rit!”

“Tunggu sebentar!” Danang menoleh tajam, lalu merendahkan suaranya saat melihat Pak Broto tetap diam. “Maaf, Pak. Saya hanya... Tolong tunggu sebentar.”

Dari gerbang, sebuah mobil putih masuk dengan lampu menyala. Dimas turun, jasnya belum terkancing, lalu berjalan cepat ke arah adiknya.

“Nang.”

“Mas Dimas, jangan ikut campur.”

“Aku tidak ikut campur. Aku cuma melihat.” Dimas mendekat hingga berdiri sejajar dengan adiknya, memandang truk, karung, dan wajah Danang. “Bapak tahu kamu ke sini subuh-subuh?”

“Bapak masih tidur, Mas.”

“Bapak tidak pernah tidur kalau soal kas.”

“Berapa yang kurang?”

“Satu juta delapan ratus ribu.”

“Cuma itu?”

“Cuma itu, Mas.” Danang tertawa pendek, nyaris putus asa. “Seratus enam puluh juta bisa kupegang, tapi satu juta delapan ratus ribu tidak ada.”

“Karena uangnya sudah kamu pakai, Nang. Itu masalahnya.” Dimas berhenti sejenak. “Kamu masih mau bilang uang itu cuma pinjaman sampai besok?”

“Sampai besok, Mas.”

“Besok sudah berapa kali kamu janjikan?”

“Mas Dimas.”

“Aku bisa bayar.”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Kalau Mas yang membayar, Bapak akan tahu.”

“Bapak sudah tahu, Nang. Dia cuma menunggu kamu jujur.”

“Dia belum sarapan,” kata Raras nyaris tanpa suara.

“Mbak?” Pak Hadi menoleh.

“Mas Danang tidak pernah bisa bekerja sebelum minum teh manis, Pak. Kalau tidak, tangannya gemetar.” Raras menelan ludah. “Tadi dompetnya saja hampir jatuh.”

“Mau saya belikan nasi untuk beliau, Mbak?”

“Tidak.” Suara Raras patah di huruf pertama. “Dulu saya pasti menyuruh orang membelikan teh manis diam-diam, lalu tidak bilang itu dari saya. Itu larangan keempat yang saya tulis, Pak.”

“Tapi Mbak sendiri bilang larangan itu keliru.”

“Memang. Tapi sekarang saya sedang belajar untuk tidak menolong sebelum diminta.” Raras cepat-cepat mengusap sudut matanya. “Kalau nanti dia benar-benar membutuhkan bantuan, dia harus menelepon dan menyebut nama saya. Saya tidak akan diam-diam mengatur semuanya lagi.”

“Nggih, Mbak.”

Di bawah, Dimas mengeluarkan ponsel dan berbicara cepat dengan seseorang. Pak Broto menunggu dengan kedua tangan terlipat di depan perut. Sopir truk mengomel sendiri, lalu naik kembali ke kabin.

“Mas Danang,” kata Pak Broto lebih lembut. “Nuwun sewu, kalau Mas mau, ada gudang kosong di Sleman. Bukan milik kami. Sewanya murah.”

“Saya tidak perlu belas kasihan, Pak.”

“Saya hanya memberi alamat, Mas. Bukan menawarkan belas kasihan.” Pak Broto merogoh sakunya dan menyodorkan selembar kertas lusuh. “Wong dagang kuwi kudu eling, Mas (orang dagang itu harus ingat, Mas). Barang bisa pindah, nama baik tidak.”

“Alamat apa itu, Nang?” tanya Dimas.

“Gudang kosong di Sleman.”

“Pergi saja ke sana. Aku telepon pemiliknya.”

“Mas Dimas, ada satu hal yang mau kutanyakan.” Danang merendahkan suara, tetapi jendela itu terlalu dekat untuk membuat Raras tidak mendengarnya. “Menurut Mas, Pramesti itu siapa?”

“Menurutku, itu pertanyaan yang seharusnya kamu tanyakan tiga tahun lalu.”

“Itu nama istriku, Mas.”

“Itu bukan jawaban, Nang.”

Danang menerima kertas itu dengan kedua tangan. Ia membacanya lama sekali, bibirnya bergerak tanpa suara.

“Matur nuwun, Pak,” katanya.

“Sami-sami, Mas.”

“Pak Broto,” tambah Danang, “maaf kalau tadi saya terdengar kasar. Bapak hanya menjalankan aturan.”

“Mboten nopo-nopo, Mas (tidak apa-apa, Mas). Aturan itu berlaku untuk saya juga.”

Truk menyalakan mesin, mundur, lalu berjalan keluar gerbang dengan terpal biru melambai. Dimas menepuk bahu adiknya dan mengatakan sesuatu yang tidak terdengar. Danang mengangguk. Ia berbalik menuju mobilnya, lalu berhenti di tengah pelataran.

“Mbak, bagaimana dengan dus itu?” bisik Pak Hadi. “Katanya Mbak mau menyerahkannya.”

“Belum hari ini, Pak. Saya tidak mau menyerahkannya saat dia sedang menahan malu di pelataran.”

“Nggih, Mbak.”

“Waktunya harus tenang. Kalau tidak, dia tidak akan membaca. Dia hanya akan mencari cara untuk melarikan diri.”

“Mbak,” bisik Pak Hadi. “Mbak harus mundur.”

“Kenapa, Pak?”

“Kalau dia melihat Mbak di sini, dia akan mengira Mbak yang menyuruh Pak Broto.”

“Memang saya yang meminta Pak Broto menjalankan aturan.”

“Maksud saya, Mas Danang akan mengira ini hukuman.”

“Biar saja, Pak. Saya tidak mau bersembunyi dari keputusan saya sendiri.”

“Mbak yakin?”

“Tidak. Tapi saya tetap mau berdiri di sini meski belum yakin.”

“Mbak, beliau melihat ke atas.”

“Saya tahu, Pak.”

“Kalau beliau naik ke sini?”

“Saya akan membuka pintu dan memperlakukannya seperti tamu lain. Ketuk dulu, sebutkan keperluan, lalu tunggu dipersilakan masuk.” Suara Raras bergetar di kata terakhir. “Tapi hari ini, Pak, saya ingin dia tahu saya ada di sini. Itu saja.”

“Nggih, Mbak.”

Raras tidak mundur. Ia tetap berdiri di jendela yang terbuka, tangan kirinya di bingkai, plester putih di tangan kanan terlihat jelas dalam cahaya subuh. Di bawah, Danang mengangkat wajah. Tatapannya naik ke lantai dua, tepat ke arah jendela kantor tempat Raras berdiri.

1
Nurlaila Hidayah
Dia lah yg telah membersihkan jalan untuk ku mempermudah usahaku tnpa adanya hambatan, tapi dengan tidak tahu malu dan tidak tahu diri nya, diri ini berani untuk menduakan dan menceraikan demi wanita lain. padahal dia yg telah membantu usahaku
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya
Erchapram: Mohon sabar menunggu ya Kak, karena aku sedang revisi mulai bab 1. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Sri Widiyarti
Danang kesuksesanmu ternyata bantuan istri yang kau ceraikan demi perempuan lain..
Erchapram
Yang sudah baca sampai bab ini, boleh gak sih aku minta bintang limanya 🙏 Makasih banyak sebelumnya.
Sri Widiyarti
lanjut thor jangan lama2 🙏
Erchapram: Iya, Kak. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
Raras udh mulai bergerak ,,
Baek chanhun
next thort 💪💪
Muft Smoker
baruuu ini ad cerita byk pake bahasa daerah ,, cerita ny bagus kak ,,
lanjuut
Muft Smoker
hai kak ,, mampir aq ,,
Baek chanhun
thank, saran nya di terimah, yg bab tarakhir itu flasback ya.
🙏💪
Erchapram: Terima kasih kembali Kak dan iya, itu flashback.
total 1 replies
Baek chanhun
senang banget ada bahasa daerah, tapi, kalo ada artinya lebih bagus lagi, gua orang luar jawa ng ngerti apa.yg.di omongin, 🙏🙏
Erchapram: Sudah aku revisi Kak, bisa dibaca ulang. Terima kasih.😍
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Soraya
hadir thor lanjut
Baek chanhun
lanjutkan thort. 💪💪
Erchapram: Baik... terima kasih supportnya.
total 1 replies
Ma Em
mampir Thor , buat Danang menyesal karena sdh menduakan Raras .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!