Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Pukul satu dini hari, roda mobil Aston Martin itu akhirnya memasuki pekarangan mansion keluarga Maverick. Marco melangkah gontai melewati pintu utama, energinya benar-benar terkuras habis. Ia hanya ingin melempar jasnya, mandi, dan tidur selama dua belas jam ke depan.
Namun, baru saja ia menginjak anak tangga pertama, lampu kristal di ruang tengah kembali menyala terang.
"Marco Maverick. Kita perlu bicara."
Marco mengerang pelan, kepalanya tertunduk pasrah. Ia memutar tubuhnya dan menatap ruang tamu. Di sana, ayah dan ibunya—Alden dan Rowena—sudah duduk bersedekap di atas sofa kulit dengan balutan jubah tidur mewah mereka. Wajah keduanya tampak sangat serius, seperti hakim yang siap menjatuhkan vonis mati.
"Ayah, Ibu... ini jam satu pagi," keluh Marco dengan suara serak. "Aku baru saja diganggu hantu masa lalu, dan dikejar wanita sinting di kelab malam. Kepalaku mau pecah."
Mendengar kata 'wanita di kelab malam', mata Rowena biasanya akan berbinar. Tapi kali ini, wanita paruh baya itu justru mendengus keras. Ia berdiri dan berkacak pinggang.
"Jangan mengalihkan pembicaraan dengan cerita khayalanmu!" sembur Rowena tajam. "Ibu baru saja mendapat laporan dari kepala HRD Wiliam Group sore tadi! Jelaskan pada Ibu, Marco! Ada apa dengan seleramu yang luar biasa hancur itu?!"
Marco mengerutkan kening bingung. "Seleraku? Selera apa?"
"Sekretarismu!" sahut Alden ikut berdiri, menunjuk putranya dengan kipas lipat milik istrinya. "Dulu kau mempekerjakan Nyonya Brenda, nenek-nenek galak yang usianya sudah pantas jadi pensiunan. Dan sekarang? Sekretaris barumu? Kata orang HRD, kau mempekerjakan gadis yang penampilannya seperti buku sejarah usang! Kacamata tebal, baju kedodoran, kusam!"
"Ayah sungguh kecewa padamu, Nak," tambah Alden mendramatisir keadaan, mengusap dada kirinya.
"Ayah kira seleramu tinggi. Ternyata seleramu sungguh memprihatinkan. Apa matamu bermasalah? Kau... sudah rabun, ya? Perlu Ayah jadwalkan operasi lasik untukmu?"
Marco memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. "Astaga, dari mana kalian tahu soal Magnolia? Dan apa masalahnya dengan penampilannya?! Aku kan mencari sekretaris, bukan mencari finalis Miss Universe!"
"Tentu saja itu masalah!" jerit Rowena tak terima. "Pria normal seusiamu biasanya mencari sekretaris yang cantik, anggun, dan harum! Setidaknya, kalau kau pusing bekerja, kau bisa cuci mata! Ini? Kau malah mempekerjakan gadis buruk rupa?! Kenapa kau sangat anti pada wanita cantik?!"
"Karena wanita cantik itu isinya cuma bisa menuntut, berkhianat, dan menipu, Ibu!" balas Marco tak kalah keras, traumanya pada Alana dan Isabel membuat nadanya sedikit meninggi. "Aku butuh seseorang yang bekerja menggunakan otaknya! Bukan dengan kecantikannya! Magnolia itu jenius, teliti, dan dia tidak akan pernah mencoba menggodaku! Jadi tidak ada masalah, kan?!"
Rowena terbelalak, lalu melempar bantal sofa tepat ke wajah putranya.
Bugh!
"Tentu saja bermasalah, Bocah Tengik!" omel Rowena merana, matanya mulai berkaca-kaca secara dramatis. "Kalau kau dikelilingi wanita tua dan gadis buruk rupa, kapan kau akan jatuh cinta?! Kapan Ibu bisa menimang cucu?!"
"Ibu, tolonglah, jangan mulai lagi..."
"Kau pikir harta keluarga kita yang tak berseri ini mau dikemanakan?!" cerocos Rowena tanpa rem, menunjuk sekeliling mansion mewahnya. "Lalu berlian-berlian Ibu? Saham-saham Ayahmu? Mau diwariskan ke siapa kalau kau mati sebagai bujang lapuk yang hanya ditemani tumpukan dokumen?! Apa gunanya kami menumpuk harta selama ini, hah?!"
"Warisan bisa disumbangkan ke panti asuhan, Ibu!" jawab Marco asal, bersiap memutar tubuhnya. "Aku mau tidur! Selamat malam!"
"Marco! Ibu belum selesai bicara! Marco!"
Mengabaikan teriakan ibunya dan gelengan kepala dramatis ayahnya, Marco mengambil langkah seribu menaiki tangga. Ia berlari menyusuri lorong kamarnya, masuk, lalu membanting pintu dan menguncinya rapat-rapat.
"Hah... hah..." Marco bersandar di balik pintu, mengatur napasnya.
Ia melempar jasnya sembarangan ke lantai, lalu berjalan gontai menuju ranjang king size-nya. Baru saja ia hendak menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk itu, ponsel di saku celananya bergetar hebat.
Marco mengerang frustrasi. Ia merogoh sakunya, berniat mematikan benda persegi itu. Namun, melihat nama yang tertera di layar, gerakan tangannya terhenti.
Rumah Sakit Medika Pusat.
Kening Marco berkerut. Firasat buruk tiba-tiba merayap di tengkuknya. Dengan cepat, ia menggeser tombol hijau.
"Halo?" sapa Marco tegang.
"Halo, benar ini dengan Tuan Marco Maverick?" Suara seorang wanita yang terdengar seperti perawat menyapa dari seberang sana. "Kami dari pihak IGD Rumah Sakit Medika Pusat. Nomor Anda terdaftar sebagai kontak darurat utama dari pasien bernama Nyonya Brenda Winata."
Jantung Marco seolah berhenti berdetak sesaat. Rasa kantuk dan lelahnya seketika menguap, digantikan oleh kepanikan luar biasa.
"Nyonya Brenda? Ada apa dengannya?!" tanya Marco dengan suara meninggi.
"Nyonya Brenda baru saja dilarikan kemari menggunakan ambulans, Tuan. Beliau kehilangan kesadaran di apartemennya akibat serangan jantung ringan. Kondisinya saat ini sedang ditangani, namun kami membutuhkan kehadiran pihak keluarga atau wali secepatnya."
"Saya walinya! Saya segera ke sana sekarang! Tolong berikan penanganan yang paling maksimal, berapa pun biayanya!" perintah Marco tegas.
Klik.
Marco memutuskan panggilan. Tanpa membuang waktu sedetik pun untuk mengganti kemejanya yang kusut, pria itu menyambar kembali kunci mobil Aston Martin-nya di atas nakas dan berlari keluar kamar bak kesetanan.