Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.
Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Terlalu Gaul
Motor tua Devan berhenti di warung makan Padang pinggir jalan yang cukup ramai. Aroma rendang dan bumbu gulai yang kaya mendadak membangkitkan selera makan mereka berdua yang habis terkuras sejak pagi.
Saat Devan dan Bellona duduk berhadapan di meja kayu, Bapak pemilik warung yang sedang meracik piring pesanan tiba-tiba menatap mereka berdua lekat-lekat. Pria paruh baya itu tersenyum lebar sambil menyerahkan dua piring nasi rames.
"Aduh, Mas... ini anak sama bapak miripnya kagak ada obat," celetuk Bapak warung sambil tertawa renyah. "Garis mukanya, bentuk matanya, pas cemberutnya... plek-ketiplek persis banget! Tapi kok bicaranya gaul banget ya? Kagak ada sopan-sopannya pisan, panggilnya 'gue-lo' sama bentak-bentak kayak temen tongkrongan."
Bellona yang baru saja memegang sendok seketika membeku. Ia melirik tajam ke arah lain, pura-pura sibuk merapikan daun pisang di piringnya.
Sementara Devan? Pria itu cuma diam.
Devan hanya tersenyum kaku pada Bapak warung, lalu menunduk menyuap nasinya.
Di dalam hatinya, dada Devan terasa berdesir aneh.
Jujur saja, di lubuk hatinya yang paling dalam, Devan punya keinginan kecil untuk bersikap layaknya seorang ayah yang normal—mengelus kepala Bellona dengan penuh kasih sayang, mendengar gadis itu memanggilnya 'Papa' atau 'Ayah' dengan lembut, dan merawatnya tanpa harus adu mulut setiap lima menit sekali.
Namun, semuanya sudah terlanjur berantakan sejak awal. Hubungan mereka dimulai dari rasa benci, kejutan konyol, dan pertengkaran hebat. Bellona sudah terlanjur membentenginya dengan kata 'gue-lo' dan tatapan jijik. Devan sendiri pun terlalu gengsi dan canggung untuk mendadak merubah sikapnya jadi pria dewasa yang manis.
Lagipula, kepala Devan makin pusing kalau mengingat tumpukan kebohongannya sendiri.
Di depan warga dan Pak RT, dia mengaku Bellona itu adiknya yang baru datang dari kampung. Di depan guru sekolah tadi, profesinya mendadak naik jabatan jadi paman. Devan sampai kehabisan alasan untuk menutupi kenyataan—atau kebohongan—soal status gadis di depannya ini.
Dan yang paling membuat pikirannya buntu: Devan sendiri masih belum sepenuhnya yakin. Logikanya masih terus berontak, bertanya-tanya bagaimana bisa pria slengean sepertinya tiba-tiba punya anak perempuan sebesar ini tanpa ia sadari belasan tahun lalu?
"Ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu?" desis Bellona ketus, menyadari Devan yang malah melamun menatap piringnya. "Awas tuh kuah gulai lo netes ke meja."
Devan tersentak dari lamunannya. Pria itu cepat-cepat berdehem, memoles kembali cengiran tengil yang biasa menutup segala kecanggungannya.
"Yee... siapa yang ngeliatin lo? Gue lagi ngeliatin rendang di piring lo tuh, pelit amat kagak mau bagi-bagi," celetuk Devan asal, menyamber potongan kerupuk kulit dari wadah plastik.
"Beli sendiri, Bego!" bentak Bellona sambil menggeser piringnya menjauh.
Devan terkekeh pelan, melahap kerupuknya dalam-dalam. Biarlah. Mau dipanggil adik, keponakan, atau apa pun itu di depan orang lain, untuk saat ini Devan cuma mau memastikan bocah galak di hadapannya ini bisa makan kenyang dan punya tempat untuk pulang.
•••
Selesai makan siang di warung Padang, Devan mengantar Bellona kembali ke rumah tua mereka sebelum ia pamit untuk pergi ke tempat latihan band.
Rumah itu kini tak lagi sekadar bangunan kosong yang dingin. Suara dengung halus kulkas tua yang kembali menyala dan cahaya matahari yang menerobos masuk lewat celah gorden memberi sedikit kehangatan. Bellona masuk ke kamarnya, mengeluarkan seragam sekolah dan buku-bukunya dari dalam ransel, lalu menatanya rapi di atas meja kayu.
Gadis itu menjatuhkan diri ke tepi ranjang. Ia menatap langit-langit kamar yang beberapa bagian catnya mengelupas. Pikirannya berputar liar—mengingat ucapan ibu-ibu warung, tuduhan warga, bentakan Sarah, hingga komentar Bapak warung Padang tadi siang.
‘Kalian ini kek ayah dan anak...’
Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya. Bellona memejamkan mata erat-erat, meremas sprei kain di bawah jemarinya. Di satu sisi, ada rasa benci yang begitu pekat terhadap takdir konyol ini. Namun di sisi lain, Devan—dengan segala kelakuan ajaib, rumah sampahnya, dan mulut kasarnya—adalah satu-satunya orang yang berdiri menahan gempuran dunia saat semua orang memilih membuangnya.
***
Malam harinya, Devan pulang dengan langkah terseret. Tas gitarnya tersampir di bahu, dan wajahnya tampak kelelahan setelah seharian dipaksa memeras otak oleh anak-anak band.
Saat membuka pintu depan, pandangannya langsung tertuju pada meja makan kecil di dekat dapur. Di sana, Bellona sedang duduk menyandar sambil memegang ponselnya yang baru diisi daya. Di atas meja, sudah tertutup tudung saji plastik.
Devan melepas jaket kulitnya, melemparkannya asal ke sofa, lalu berjalan mendekat ke area dapur sambil mengendus-endus udara.
"Wangi apaan nih?" tanya Devan, nada suaranya otomatis kembali ke mode tengil. "Lo kagak ngeracunin gue pake ramuan aneh, kan?"
Bellona meliriknya dingin dari atas layar ponsel. "Kalau mau makan, makan aja. Kagak usah banyak bacot."
Devan membuka tudung saji. Di dalamnya ada dua porsi nasi goreng telur buatan Bellona dari sisa bahan tadi pagi. Tanpa diminta dua kali, Devan langsung menyambar sendok dan melahapnya di tempat sambil berdiri.
"Anjir... enak banget," gumam Devan di sela-sela kunyahannya. Pria itu menatap Bellona yang masih berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Hening melingkupi mereka untuk beberapa saat—keheningan yang anehnya tidak lagi terasa mencekam seperti hari pertama.
"Besok gue anter sekolah," ujar Devan tiba-tiba, memecah kesunyian sambil mengunyah.
Bellona menghentikan gerakan jemarinya di atas layar ponsel. Ia menengadah, menatap pria berkaus hitam di hadapannya.
"Kagak usah," sahut Bellona pelan, suaranya naik sedikit dari nada ketusnya yang biasa. "Gue bisa naik angkot."
Devan mendengkus, menelan makanannya lalu menunjuk Bellona menggunakan ujung sendok. "Kagak ada angkot-angkotan. Gue yang anter. Gue kan... 'paman' lo yang bertanggung jawab," kekeh Devan kaku, mencoba mencairkan kecanggungan kata-kata itu sendiri.
Bellona menatap Devan lekat-lekat. Ia ingin menyemprot pria itu, ingin meneriakkan kata-kata pedas seperti biasanya. Tapi melihat raut wajah Devan yang lelah dengan sisa bekas keringat di pelipisnya, suaranya mendadak tertahan di tenggorokan.
"Terserah lo," bisik Bellona akhirnya, memalingkan wajah dan bangkit dari kursi. "Habis makan, piringnya dicuci. Jangan biasain numpuk sampah."
Gadis itu berjalan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu, meninggalkan Devan yang berdiri mematung memegang piring nasi gorengnya di tengah dapur.
Devan menatap pintu kamar yang tertutup rapat itu, lalu menghembuskan napas panjang. Ia menunduk menatap piring di tangannya, tersenyum tipis yang tak mampu ia tahan.
"Ngeselin sih. Tapi setidaknya makanan tuh bocah enak."