Kisah cinta yang terhalang dengan keegoisan orang tua. Namun kembali dipertemukan oleh takdir setelah semuanya berubah.
Cerita hanya fiktif belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Melihat-lihat pekarangan taman dan area kolam. Emma begitu sangat anteng di dalam baby walkernya.
Bayi berkulit putih itu mulai montok, sehat dan menggemaskan.
("Terima kasih Mila, terima kasih banyak...hiks...!" tangis haru Hartati setiap melakukan video call untuk melihat perkembangan cucunya yang kian hari kian menakjubkan. Betapa paniknya seorang nenek saat menghadapi cucu yang kala itu sudah diambang maut)
Emma yang sudah terlihat mandi dalam kondisi perut kenyang ditambah dengan terpaan angin sepoi-sepoi serta lantunan nyanyian kecil Mila, membuat dua bola mata bayi itu terlihat sayup-sayup mengantuk seperti berada dalam ayunan.
Melihat kondisi Emma yang sudah mengantuk. Mila mendorong baby Walker Emma kembali menuju kamar sang bayi.
"Mila!"
"Iyah Bik!"
"Dipanggil Tuan Bagas, dia ada di garasi mobil?"
"Ada apa yah Bik!" tanya Mila sedikit khawatir.
"Mana saya tau?"
"Tapi Emma sudah mengantuk, Mila harus segera menidurkannya?"
"Nanti biar Bibi yang tidurkan, sudah sana cepat, takutnya Tuan marah!" desak Sari.
"I-iyah!" Mila pun menyerahkan Emma kepada Sari dan bergegas menuju garasi.
"Ada apa yah" batinnya mulai cemas.
Sesampai di garasi. Mila tidak melihat siapa-siapa selain tiga mobil mewah milik Bagas.
Tiba-tiba Bagas muncul berjalan sambil membuka mobil Ferrari series terbaru dengan remote control canggih.
"Duduk!" ucap Bagas kepada Mila. Wanita itu hanya mengikuti perintah Bagas.
Bagas justru masuk ke dalam mobil Ferrari yang baru berhasil ia miliki. Ia Terlihat sedang memanaskan mobil itu.
Bagas juga sudah tergabung menjadi salah satu member club Ferarri di kalangan para pengusaha.
Sudah menunggu 15 menit. Bagas hanya sibuk menguji coba semua fitur canggih mobil terbarunya seolah-olah sedang menunjukkan kepada Mila bahwa ia memiliki mobil mewah dan canggih yang tidak semua orang bisa memilikinya.
Mobil Ferrari Berwarna hitam abu-abu memang sangat keren sangat memukau siapa saja yang melihatnya terutama kaum hawa.
"Apa sebenarnya dia ingin pamer?" gumam Mila terlihat mulai badmood.
"Huuuft!" tarikan nafas lelah Mila mencoba untuk bersabar, ia hanya menunduk fokus kepada ponselnya. Karena menunggu adalah hal yang membosankan.
"Dia pasti takjub dengan mobil ini!" Senyum bangga Bagas yang tujuannya ingin membuat sang mantan iri dan menyesal.
Bagas akhirnya keluar dan berkata pada Mila.
"Sore nanti. Aku ingin mengajak Emma jalan-jalan!" hanya berkata itu saja Bagas lalu pergi cuek meninggalkan Mila.
"i-i! Hanya bilang begitu doang aku harus menunggunya 20 menit disini!" gumam kesal Mila terbengong melihat tingkah jahil Bagas.
*
Hari itu Bagas benar-benar mengosongkan waktunya untuk Emma. Ia terlihat sudah mandi, harum dan sangat tampan dengan pakaian casual terbaik.
Pukul 16.09 WIB. Mila akhirnya turun menggendong Emma yang sudah didandani cantik dan imut. Ibu pengasuh itu tidak bergaya apapun selain memakai seragam pengasuh dan jilbab simpel.
Bagas langsung memperhatikan Mila.
"Kenapa saat di pekarangan rumah kamu tidak pakai jilbab?" tanya Bagas mulai protes.
"Di rumah saya belum pakai Tuan."
"Jadi hanya pergi-pergi doang!"
"Iyah!" Angguk Mila.
"Mulai besok berada di pekarangan rumah, kamu harus pakai jilbab, jangan labil begitu!"
"I-iyah!" Jawab cepat Mila tak ingin ribet berdebat.
"Terus, apa tidak ada baju lain selain seragam Babysitter?" tanya Bagas.
"Begini saja lebih baik Tuan, biar orang tau jika saya seorang Babysitter!" Jawab Mila.
"Ganti, jangan pakai seragam" Perintah Bagas mengambil Emma dari gendongan Mila.
Tidak bisa bicara Mila hanya mematuhi keinginan Bagas.
setelah itu...
Di posisi bangku sebelah supir Mila meletakkan sempurna posisi duduk Emma menggunakan Baby seat empuk tentunya sangat aman untuk bayi 5 bulan.
kemudian Mila memasukkan satu per satu keperluan Emma ke dalam mobil.
Bagas mulai menjalankan mobilnya.
"Sebenarnya ini benar-benar tidak nyaman, seharusnya ada supir diantara kami?" Batin Mila di dalam mobil.
"Emma"
"Emma" panggil lembut Bagas.
Terlihat Emma kesenangan dan mulai mengerti jalan-jalan menggunakan mobil. Sementara Mila hanya terdiam kaku dan sangat tegang di posisi belakang.
Bagas membawa Emma pergi ke salah satu salon Bayi terbaik si Jakarta. Disana Emma mendapatkan perawatan bayi seperti mandi, pijat serta pelatihan-pelatihan bayi usia 5 bulan yang mulai menggunakan otot-ototnya.
Dua bola mata itu tak dapat berdusta. Bagas hanya memperhatikan serius Mila dalam mendampingi Emma dari balik kaca.
Setelah selesai. Mereka lanjut mencari tempat makan. Mila tidak pernah berhenti istirahat, dengan sigap ia menyiapkan biskuit dan susu untuk Emma dan memilih terlambat makan.
Tidak ada percakapan apapun antara Mila dan Bagas. Mila hanya fokus 100% kepada Emma. Mila begitu menjaga jarak dirinya bersama Bagas sebagai majikannya.
Kata-kata hinaan Bagas cukup menyakitkan diri Mila. Namun wanita itu bisa menerima semua itu sebagai bentuk pembalasan dari ayahnya yang dulu suka menghina orang lain.
Hingga tiba-tiba seorang wanita cantik nan sexy berparas blasteran datang menyapa.
"Bagas!"
"Hai Laura!" Sapa senyum Bagas. Ayah Laura adalah rekan bisnis Bagas.
Tanpa rasa malu-malu wanita itu duduk mendekati Bagas dan melihat ada Mila bersama Emma.
Dalam percakapan bahasa inggris.
"Kamu sudah menikah lagi?" tanya Laura dalam tatapan kurang suka.
"Belum" jawab senyum manis Bagas.
"lalu dia siapa?"
"Dia pengasuh putriku!" jawab Bagas
Mila reflek tersenyum.
"Oh!" Wanita kembali sumringah dan semakin merapatkan duduknya kepada Bagas.
Mila yang begitu paham situasi itu lebih memilih mengajak Emma berkeliling resto agar tidak mengganggu obrolan Bagas dan teman wanitanya.
Bagas tampak mesra ngobrol dengan Laura walau kedua bola matanya lebih sering mengawasi Mila dan Emma.
"kau menyukai dia (Mila)!" tegur Laura yang bisa membaca gerak-gerik mata Bagas.
"Oh, tentu tidak, aku hanya mengawasi Emma!" jawab cepat Bagas.
"Emma baik-baik saja!" ucap Laura menyentuh lembut tangan Bagas.
Bagas cukup terkejut lalu menatap Laura yang sedang tersenyum manis ke arahnya. Dua bola mata wanita itu berbinar penuh cinta.
"Aku menyukaimu Bagas, sudah lama sekali aku ingin mengatakannya, tapi kita tidak pernah bertemu. Aku siap menggantikan Tyas dan mengasuh Emma seperti putriku sendiri!" ucap Laura.
Bagas hanya tersenyum tipis perlahan melepas sentuhan tangan Laura.
"Tapi aku belum ingin menikah lagi" ucap Bagas membuat Laura sedikit kecewa.
"Kamu sudah orang kelima yang menyatakan seperti ini, sungguh aku belum terpikir kesana, hanya ingin fokus kepada Emma!" Jawab Bagas.
"Tapi kamu jangan egois Bagas, Emma membutuhkan seorang ibu?" ucap Laura.
"Iya aku tau, mencari pengganti tidak semudah itu!" jawab Bagas.
Laura tampak begitu kecewa namun ia bisa menerima.
"Baiklah, aku hargai keputusanmu Bagas!"
Laura meminta Mila agar mengambil foto dirinya bersama Emma dan Bagas. Dengan senang hati Mila melakukannya.
Hingga tidak terasa. Senja berganti malam. Emma terlihat tertidur di baby seat nya yang nyaman.
Jangankan bujuk rayuan dari Mila. Sepatah kata untuk menegur Bagas pun tidak ada keluar dari mulut janda kembang itu. Keduanya begitu sama -sama dingin membeku. Kesunyian mobil hanya diisi oleh musik klasik pengantar tidur Emma.
Pandangan Mila hanya tertuju kepada suasana lampu gemerlap kota dari balik jendela mobil.
Sesekali tampak dua bola mata Bagas mencuri-curi pandang ke arah Mila melalui kaca spion tengah.
Sebenarnya Bagas ingin membawa Emma berjalan-jalan lagi, namun karena sang putri sudah tertidur kelelahan, ia akhirnya memilih pulang.
trimakasih banyak kaaaaa🙏🙏🙏🙏 akhir'y pecah telor
bikin karya baru yoook
Doa Bu Wirda tembus ke langit sehingga anak² beliau bisa mendapatkan kebahagiaan,,,
Very cepat datang dong tolong bos Bagas jangan sampai terlambat,,,
Mila jangan keluar nurut apa kata Bagas tetap di dalam mobil saja
Emang paling susah ngurusin anak mertua di lawan takut dosa, sudah bawel ya apalagi monster biawak😂😂😂