Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.
Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Jatah sekolah
Imah terdiam sejenak. Tatapannya masih tertuju pada Nadira yang kini berdiri dengan wajah memerah menahan amarah. Wanita itu tidak menyangka Nadira akan membalas perkataannya dengan nada setegas itu.
Namun, bukannya merasa bersalah, Imah justru menghela napas panjang.
"Ibu hanya mengatakan kenyataan."
"Kenyataan versi siapa?" Nadira membalas cepat.
Tangannya masih menggenggam surat yang diberikan Imah. Kertas itu sampai sedikit kusut karena terlalu kuat diremas.
"Sejak kapan menjadi seorang perempuan berarti tidak berhak mendapatkan pendidikan yang terbaik?"
"Nadira..." Arhan mencoba menenangkan.
Namun, Nadira segera menoleh kepada suaminya. "Jangan hentikan aku, Arhan. Aku sudah lelah putriku terus diperlakukan buruk!"
Nada suaranya tidak tinggi, tetapi terdengar bergetar. Jelas sekali ia sedang berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Aku diam ketika Ibu memperlakukan Naya seperti anak yang tidak penting. Aku diam ketika Ibu terus membandingkan Naya dengan Arkan. Tapi sekarang Ibu ingin mengambil sekolah yang sudah kami siapkan untuk anak kami sendiri?"
Nadira menghela napas, ia menatap tajam ke arah ibu mertuanya itu." Saya tidak akan membiarkan ibu merebut biaya atau pun jatah sekolah yang sudah, saya siapkan untuk putri saya!"
Imah menatap kesal ke arah menantunya itu," Nadira! Apa maksudmu, berani sekali kau membantah ibu mertuamu!"
Nadira tidak peduli, ia melepaskan apron yang tengah ia kenakan dan melemparnya ke arah lantai. Ia segera pergi dari dapur, menuju ke arah ruang tengah tepat dimana semua keluarga berkumpul.
" Arhan! Urusi istrimu itu! " tegas Imah.
Nadira segera mendekat ke arah Naya, ia menarik tangan gadis itu untuk pergi dari rumah ibu mertuanya. Namun, sang ibu mertua sudah lebih dahulu menahan tangannya.
"Nadira! Berani sekali kamu pergi!" teriaknya.
Nadira menghempas tangan ibu mertuanya dengan kasar, ia menatap tajam ke arah ibu mertuanya dan suaminya yang tengah menatapnya.
"Arhan! Kau juga berpikir untuk memberikan jatah sekolah Naya untuk Arkan?"
Namun, belum sempat Arhan menjawab. Seorang wanita yang jauh lebih muda dari Nadira segera mendekat ke arahnya, ia menggenggam tangan anak kecil laki laki itu.
"Sudahlah kakak ipar, kita ini keluarga lebih baik kamu menuruti permintaan ibu. Lagi pula Arkan juga keponakanmu."
Nadira perlahan mengalihkan pandangannya kepada wanita yang baru saja berbicara. Sorot matanya berubah dingin. Tangannya yang sejak tadi menggenggam tangan Naya semakin erat, seolah ingin memastikan putrinya tidak akan berada terlalu dekat dengan orang-orang yang sedang menyakitinya.
Wanita itu adalah Rania, istri dari Jordi—adik dari Arhan sekaligus ibu dari Arkan.
"Dia adalah putramu! Seharusnya kau mengusahakannya, bukan malah mencuri uang dan jatah sekolah orang lain!" tegas Nadira.
Rania terdiam, ia segera menatap ke arah ibunya. Imah kembali menatap kesal ke arah menantunya itu.
"Apa maksudmu seperti itu Nadira! Kau itu kakak ipar seharusnya kau juga yang membiayai Arkan, lagi pula Arkan juga keponakanmu!"
Seorang wanita yang tengah hamil segera menggenggam tangan Imah dengan wajah yang memelas.
"Benar kakak ipar, kamu juga harus mencarikanku tempat persalinan terbaik saat aku mau melahirkan!"
Nadira terdiam selama beberapa detik. Tatapannya perlahan beralih kepada wanita hamil yang kini berdiri di samping Imah. Ia mengenal wanita itu sebagai Siska, adik Arhan yang selama ini selalu mendapatkan perhatian lebih dari keluarga besar tersebut.
Siska masih menggenggam lengan Imah dengan wajah memelas. Satu tangannya yang lain mengusap perutnya yang mulai membesar.
"Aku sedang keponakanmu juga kak," ucap Siska pelan. "Bukankah sudah sewajarnya keluarga membantu?"
Nadira hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia menatap satu per satu orang yang berada di ruang tengah. Tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat merasa perkataan itu keterlaluan.
Justru beberapa orang hanya diam, seolah menunggu Nadira mengalah seperti biasanya.
Nadira menarik napas dalam-dalam. Kemudian, ia tertawa kecil. Bukan karena lucu. Melainkan karena dirinya benar-benar tidak habis pikir.
"Jadi sekarang semua kebutuhan keluarga ini harus aku yang tanggung?"
Siska terdiam. Nadira melanjutkan dengan suara yang jauh lebih tenang.
"Biaya sekolah Arkan, biaya persalinanmu, lalu apa lagi setelah ini?"
Ia mengangkat alis.
"Biaya kuliah anak kalian? Biaya membeli rumah? Atau mungkin biaya kehidupan kalian setiap bulan?"
Wajah Rania langsung berubah.
"Kak Nadira, jangan bicara seolah-olah kami memanfaatkan Kakak."
"Memangnya bukan? Bukankah kalian selalu meminta uang kepadaku atau Arhan! Kalian meminta kepadaku, tetapi kalian malah menindas putriku!" Jawaban Nadira begitu cepat hingga Rania tidak sempat membalas.
Nadira kemudian mengalihkan pandangannya kepada Imah. "Ibu tadi bilang aku adalah bagian dari keluarga ini." Ia tersenyum tipis. "Kalau begitu, kenapa setiap kali keluarga ini membutuhkan sesuatu, kalian datang kepadaku dan Arhan?"
Tidak ada jawaban.
"Ketika Arkan membutuhkan sekolah, kalian mengambil uang yang seharusnya untuk Naya." Tatapan Nadira berpindah kepada Siska. "Ketika kamu membutuhkan persalinan terbaik, kamu juga meminta aku yang mencarikannya."
Nadira menggeleng pelan. "Lucu sekali. Jadi ini yang kalian maksud dengan keluarga?"
"Nadira!" bentak Imah.
Namun kali ini Nadira tidak mundur sedikit pun.
"Ibu jangan berteriak kepadaku. Saya sudah muak menjadi sapih perah keluarga kalian!"
Suaranya tetap tenang, tetapi setiap kata yang keluar terdengar tegas. "Selama ini aku diam bukan karena aku tidak tahu apa yang kalian lakukan."
Arhan yang sejak tadi hanya berdiri memperhatikan akhirnya menundukkan kepalanya. Sang ibu yang terlampau kesal segera menatap tajam ke arah putranya.
"Arhan! Lihat apa yang dilakukan istrimu itu!"
Arhan mengepalkan tangannya, ia menatap ke arah ibunya dan istrinya secara bergantian lalu tanpa aba aba ia memukul pipi sang istri dengan kasar.
"Diam Nadira!"
ga tau malu,ga tau diri....rsanya pgn..
hhkkkkk....
orng2 ga tau diri ky mreka,emng pnts jd gmbel.....drpd bkin repot orng trs.....🙄🙄🙄
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡