"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"
"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.
Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak Baik Banget
***
"Bagus ya kamu, Za. Punya rahasia apa sebenarnya sama Bu CEO?"
Suara Pak Mamat memecah keheningan begitu Mirza melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang OB di lantai dasar.
Mirza yang baru saja menyangkutkan jepitan id card-nya tertegun. Dia menyapu pandangan ke sekeliling ruangan. Beberapa rekan OB lainnya menatapnya dengan tatapan penuh curiga dan rasa penasaran yang membuncah.
Mirza berjalan canggung menghampiri Nilam yang sedang duduk di meja tengah, memperhatikan sebuah bingkisan besar bermerek restoran mahal.
"Ada apa, sih? Kok pada ngeliatin aku kayak gitu?" tanya Mirza polos.
Nilam menunjuk bingkisan di atas meja dengan dagunya.
"Itu ... ada titipan dari Bu Alana. Katanya khusus buat Tante Maya."
Mirza membelalakkan mata. Dia mendekat dan memeriksa isi bingkisan tersebut, berisi beberapa wadah makanan dari restoran berbintang, sekantong buah-buahan kualitas impor, dan susu nutrisi khusus lansia.
"Bu Alana sendiri yang nganterin ke sini?" tanya Mirza tak percaya.
"Bukan, tadi sekretarisnya, Mbak Shiren, yang bawain langsung ke sini," sahut Pak Mamat dari pojokan.
"Aneh banget tahu enggak, Za? Selama ber-tahun-tahun kita kerja di Mahendra Group, Bu Alana itu jangankan ngasih makanan mahal begini, lirik OB saja hampir enggak pernah. Lah ini, kamu baru kerja di sini, kok Bu Alana perhatian banget sama kamu dan ibumu?"
"Iya, Za. Ada hubungan apa kamu sebenarnya sama Bu Alana?" timpal OB lainnya menyenggol bahu Mirza.
"Kok Bu Alana bisa mendadak baik banget sama kamu?"
Mirza mendadak bungkam. Tenggorokannya terasa tercekat, bingung harus merangkai alasan apa di depan teman-temannya. Saat dia melirik ke arah Nilam, wanita itu sedang melipat tangan di dada sambil melotot tajam menatapnya, menuntut penjelasan yang jujur.
Melihat situasi yang makin menyudutkan, Mirza mengambil keputusan cepat. Dia menyambar bingkisan tersebut, lalu meraih pergelangan tangan Nilam.
"Ikut aku sebentar, Lam," panggil Mirza tegas.
"Eh, mau ke mana, Za?!" seru Nilam kaget, namun tetap menuruti tarikan tangan Mirza.
Mirza membawa Nilam keluar dari ruang OB dan melangkah cepat menuju lorong tangga darurat yang sepi dan jauh dari lalu lalang karyawan. Pintu besi tangga darurat tertutup rapat di belakang mereka.
Selama ini Nilam adalah sahabat terbaiknya. Nilam yang membantunya memasukkan lamaran hingga bisa bekerja sebagai OB di kantor ini, dan Nilam juga yang selalu ada saat ibunya jatuh sakit. Mirza merasa tidak bisa terus-terusan membohongi wanita di hadapannya ini.
Mirza membalikkan badan, menatap mata Nilam dalam-dalam.
"Lam, aku mau bicara jujur sama kamu," ujar Mirza dengan suara berat dan berbisik.
Nilam memiringkan kepalanya, memasang raut makin penasaran.
"Jujur soal apa, Za? Makanan dari Bu Alana ini? Kamu hutang penjelasan sama aku ya!"
"Aku bakal cerita semuanya sama kamu ... dari awal sampai akhir," tegas Mirza, menahan napas sejenak sebelum melanjutkan.
"Tapi kamu harus janji dulu sama aku. Setelah dengar ini, kamu enggak boleh bocorin ke siapa pun. Cukup kamu saja yang tahu. Janji?"
Melihat raut wajah Mirza yang mendadak sangat serius dan tegang, rasa penasaran Nilam makin memuncak. Dia mengangguk pelan tanpa ragu.
"Iya, aku janji! Sekarang cerita, Za, sebenarnya ada apa antara kamu sama Bu Alana?!"
"Aku sama Bu Alana ... sudah menikah, Lam."
Nilam membeku seketika. Untuk beberapa detik, ruangan tangga darurat yang sepi itu mendadak makin hening. Nilam menyipitkan mata, lalu menyentil kening Mirza cukup keras.
"Aduh! Kok malah disentil, sih?!" ringis Mirza sambil mengelus keningnya.
"Kamu tuh halunya kebangetan ya, Za!" seru Nilam tertawa mengejek, melempar tatapan tak percaya.
"Gara-gara kepepet butuh uang buat Tante Maya, kamu jadi ngayal tingkat tinggi begini? Kepengen nikah sama orang kaya sampai ngaku-ngaku suaminya Bu CEO!"
"Aku serius, Nilam! Aku enggak bercanda sama sekali," potong Mirza dengan nada amat tegas dan wajah penuh keseriusan, sampai membuat tawa Nilam terhenti seketika.
Melihat raut wajah sahabatnya yang sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda main-main, tawanya perlahan luntur.
"Z-Za ... kamu ... beneran enggak lagi bercanda, kan?"
Mirza menghela napas panjang lalu mengangguk. Dia mulai membeberkan semuanya dari awal. Soal Alana yang butuh suami untuk menutupi kebohongan kehamilannya di depan orang tuanya, hingga tawaran kontrak pernikahan yang menjanjikan seluruh biaya rumah sakit dan pengobatan Maya ditanggung penuh oleh Alana.
Nilam mendengarkan dengan mulut sedikit terbuka. Mulai dari kronologi di rumah sakit, mahar, hingga alasan kenapa Maya bisa dibawa ke apartemen Alana.
Setelah mendengar seluruh penjelasan panjang lebar itu, Nilam akhirnya manggut-manggut dengan mata membelalak lebar.
"Gila ... aku masih enggak nyangka," cicit Nilam sambil memegangi dadanya yang syok.
"Bu Alana yang galak dan judesnya mirip emak-emak kontrakan itu ... kok bisa-bisanya dapet suami selembut kamu, Za?"
Mirza tertawa tipis, menggeleng-gelengkan kepala.
"Namanya juga takdir kepepet, Lam."
"Tapi ingat ya, Za!" Nilam menunjuk dada Mirza dengan jari telunjuknya, memberi peringatan tegas.
"Jangan sampai kamu jatuh cinta beneran sama Bu Alana! Enggak cocok banget kamu sama dia. Nanti sifat judes dan dinginnya malah nular ke kamu!"
"Ya enggaklah, ini kan cuma kontrak," sahut Mirza pelan, walau hatinya mendadak agak ragu mengingat kejadian tadi malam saat Alana menggenggam tangannya erat.
"Pantesan aja Bu Alana mau bayar mahal kamu!" cerocos Nilam lagi tanpa beban, mengomeli ketidakadilan nasib.
"Kamu itu kan tipe cowok yang nurut, sabar, dan cuma bisa bilang iya, iya aja. Coba kalau laki-laki lain? Mana mau sama cewek modelan Bu Alana! Cerewet, dingin, judes gitu ... pantesan susah cari jodohnya!"
Mirza hanya bisa meringis mendengar penuturan jujur Nilam yang terlampau ceplos-ceplos soal bos mereka itu.
***
"Mirza! Dari mana aja kamu?" suara Ardi menyambut saat Mirza dan Nilam baru saja melangkah masuk kembali ke ruang OB. Ardi menunjuk ke arah lorong dengan raut muka bingung bercampur curiga.
"Napa, Mas Ardi?" tanya Mirza berusaha tenang.
"Itu, Mbak Shiren baru aja turun. Katanya kamu disuruh langsung ke ruangan Bu Alana buat bersihin ruangannya," terang Ardi sambil menggeleng-geleng heran.
Mendengar itu, rekan-rekan OB di ruangan itu langsung saling pandang. Pak Mamat menyahut dari pojokan.
"Aneh banget asli. Selama ini Bu Alana mana pernah minta khusus siapa yang bersihin ruang kerjanya? Dia mah mana peduli sama urusan pegawai rendah kayak kita. Tumben-tumbenan hari ini minta kamu sendiri yang ke sana?"
"Iya tuh, Za," timpal Ardi lagi.
"Ada apa sih sebenarnya kamu sama Bu Alana? Kok Bu Alana kelihatan kayak mau dekat terus sama kamu?"
Nilam yang berada di samping Mirza hanya bisa gigit jari menahan tawa sekaligus meringis, mengingat rahasia besar yang baru saja diketahuinya di tangga darurat tadi. Dia melirik Mirza yang mulai kelabakan menyusun alasan.
"E-enggak ada apa-apa kok, Mas," alibi Mirza cepat.
"Mungkin cuma kebetulan aja. Ya udah, saya ambil peralatan dulu ya."
Mirza bergegas mengambil troley dan perlengkapan kebersihannya, menghindari kejaran pertanyaan teman-temannya. Dia langsung naik ke lantai atas menggunakan lift khusus.
Tok, tok, tok.
"Masuk," suara tegas Alana terdengar dari dalam.
Mirza mendorong pintunya pelan, menatap Alana yang tampak sibuk mengetik sesuatu di laptop mewahnya.
"Permisi, Bu. Saya izin bersihkan ruangannya."
Alana menghentikan jemarinya di atas keyboard. Dia mendongak, menatap Mirza lurus-lurus dengan raut wajah datar yang tak terbaca.
"Kunci pintunya," perintah Alana singkat.
Mirza mengernyit heran namun tetap memutar kunci pintu di belakangnya.
"Ada apa, Bu Alana? Kenapa tiba-tiba suruh saya bersihin ruangan Ibu?"
Alana menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, menyilangkan tangan di dada, lalu melontarkan kalimat yang membuat Mirza seketika membeku.
"Saya ikut kamu. Saya mau tinggal di kontrakan kamu sama Ibu."
Mirza terperanjat sampai hampir menjatuhkan kain lap di tangannya.
"Ibu serius? Ibu mau tinggal di kontrakan sempit saya?"
"Saya kelihatan bercanda?" Alana mendengkus, menatapnya tajam.
"Ibu kamu benar, Mirza. Suami istri itu tidak boleh tinggal terpisah. Kalau Mama sama Papa sampai tahu kita beda atap, tamat riwayat rencana saya!"
"Tapi, Bu ...." Mirza mendekati meja kerja Alana dengan raut cemas.
"Di sana panas, cuma pakai kipas angin. Enggak ada AC dingin seperti apartemen Ibu, enggak ada perawat, jalannya sempit. Ibu mana bakal betah?"
Alana langsung berdiri dari kursi kebesarannya, melipat tangan di dada dengan dagu terangkat, mencoba mempertahankan martabatnya walau hatinya sebenarnya sedikit kerdil membayangkan hidup di kontrakan.
"Kamu meremehkan saya?" cetus Alana ketus.
"Saya bisa beradaptasi. Lagipula, ini demi menyelamatkan sandiwara kita. Kamu pikir saya mau keduluan ketahuan Mama hanya gara-gara kamu tidak mau melarang cewek itu jenguk Ibu?"
Mirza menghela napas panjang, mengusap tengkuknya.
"Jadi ini gara-gara Nilam?"
"Bukan!" potong Alana cepat dengan pipi yang mendadak merona.
"Ini gara-gara kebohongan kita! Titik. Pulang kantor nanti, kita langsung ke kontrakan kamu. Saya bawa pakaian seperlunya."
Mirza menatap wanita anggun di hadapannya itu dengan gelengan kepala tak percaya. Di balik keangkuhan dan sikap judesnya, Alana ternyata nekat juga demi mempertahankan ide gila ini.
"Ya sudah kalau itu mau Ibu," pasrah Mirza.
"Tapi jangan komplain kalau malam-malam Ibu kepanasan, ya."
"Tidak akan," tukas Alana gengsi.
"Sudah, sana bersihkan meja saya. Nanti staf lain makin curiga kamu lama-lama di sini."
Mirza pun hanya bisa tersenyum tipis, lalu mulai mengelap meja kerja sang istri atau lebih tepatnya, bos sekaligus istrinya dalam kontrak ini.