Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Dingin Lidahnya Panas
Bab 15 Istri Polos Tuan Garra
Anggara memang sangat lihai menjatuhkan harga diri seorang perempuan hanya dengan beberapa kata. Lidahnya setajam silet. Kini, Elisa dibuat menahan malu yang luar biasa, pipinya panas menahan ucapan pria tersebut yang merendahkannya habis-habisan.
"Anggap rumah sendiri," ucap Anggara kemudian setelah melihat Elisa diam tak merespon cibiran yang dia lontarkan beberapa saat lalu. Nada suaranya datar, dingin, tapi penuh penekanan dan kesombongan.
Kata-kata pedas, menusuk hingga ke ulu hati. Namun, bagi Anggara itu bukan urusannya. Masalah perasaan Elisa, perasaan lawan bicaranya, sakit hati atau tidak, itu bukan dia yang harus menanggungnya. Di kamus hidupnya, perasaan orang lain adalah sampah.
Anggara lalu duduk dengan angkuh di sofa beludru di dalam kamar super mewah itu, kakinya disilangkan dengan elegan. Dia memperhatikan Elisa dari atas ke bawah yang diam saja seperti patung.
"Kau menyukai kamar ini?" tanya Anggara lagi, matanya menyipit menilai.
Kamar ini ukurannya 4 kali lipat dari kos Elisa yang sempit dan pengap. Ada walk-in closet, kamar mandi dengan bathtub marmer, dan balkon yang menghadap langsung ke taman belakang villa yang luas.
"Asal bisa untuk tidur dan istirahat, itu cukup," Elisa menjawab dengan dingin dan ketus. Dia masih sakit hati dengan lelaki tersebut. Suaranya bergetar, tapi ia paksa untuk terlihat kuat. Gadis polos yang dulunya sangat takut-takut itu, kelihatan jauh lebih berani sekarang kalau menghadapi Anggara.
Sementara itu, Anggara langsung tersenyum remeh, senyum yang paling dibenci Elisa. Senyum merendahkan.
"Nikmatilah selagi bisa! Ini jauh lebih baik daripada tempat tinggalmu yang sebelumnya yang seperti kandang tikus itu! ... Kau bahkan tak perlu membayar sewa di sini, makan sepuasnya, AC 24 jam, semua pelayan melayanimu ...! Apa lagi yang kau keluhkan? Banyak wanita di luar sana yang berlutut ingin berada di posisimu sekarang, Lisa."
"Tapi anda merenggut kebebasan saya!" sela Elisa akhirnya meledak. Matanya berkaca-kaca menatap Anggara. "Anda mengurung saya di sini! Saya seperti tahanan!"
Anggara tertawa pelan, tawa yang dingin.
"Siapa suruh kau mengandung benih dariku? Siapa suruh kau begitu subur, hah? Kau yang datang ke kehidupanku membawa masalah, jadi kau yang harus menanggung akibatnya."
Elisa mencengkram ujung bajunya dengan sangat kuat sampai kuku jarinya memutih. Dia tak bisa menjawab. Masalah dia menjadi hamil, itu bukan kuasanya, bukan maunya. Salahkan saja pria brengsek di depannya itu, kenapa melakukannya dengan lalai dan tanpa pengaman malam itu! Kenapa harus dia yang menanggung semua dosanya sendirian.
"Jika anda mau tahu siapa yang salah, sebenarnya ini salah anda! Kenapa anda tak menggunakan alat pengaman malam itu?!" Kalimat itu akhirnya meledak juga dari mulut Elisa. Wajahnya merah padam karena emosi.
Elisa terdiam setelahnya, kata-kata lanjutannya tertahan di tenggorokan, tak mampu dia utarakan karena takut. Ia baru sadar ia sudah membentak Tuan Anggara.
Di sisi lain, Anggara bangkit perlahan dari sofa. Raut wajahnya berubah dingin dan berbahaya. Dia membuka jendela kaca yang tinggi itu lebar-lebar, berjalan santai ke balkon kamar Elisa. Angin masuk menerpa tirai.
Ia tak menanggapi pernyataan Elisa barusan. Ia memilih jalan ke balkon.
Sejujurnya, malam itu salah nya juga. Kenapa tidak pakai pengaman? Tak mau mengakui kelalaian nya, Anggara merubah topik.
"Berdiri di sini ... maka kau bisa melihat ke luar dengan bebas. Di sini... kau bisa melihat dengan leluasa pemandangan villa ini. Taman, kolam renang, hutan pinus di belakang," jelasnya sambil bersandar di pagar balkon.
"Namun, jangan harap, kau bisa kabur dari sini. Kau tahu, Lisa? Di bawah balkon ini ada dua anjing penjaga impor jenis Doberman. Dia sangat galak pada orang asing, dilatih untuk menggigit leher penyusup. Jika kau tertangkap olehnya karena mencoba kabur... aku takut dia akan memakanmu sampai tulang-tulangmu tidak bersisa dan tidak akan ada yang bisa menemukanmu!"
Elisa langsung bergidik ngeri. Merinding satu badan dari ujung kaki sampai kepala. Membayangkan dikejar dua anjing hitam besar yang menyalak. Pasti Anggara cuma menakut-nakutinya agar ia patuh, tapi beberapa menit kemudian, seolah sudah diatur, terdengar suara anjing yang menggonggong bersahutan dengan keras dari taman bawah.
Guk! Guk! Guk!
"Nah, kau dengar suaranya... Anjingku lapar hari ini. Jadi jangan sampai ada pikiran bodoh untuk kabur dari sini!" ucap Anggara lalu berbalik masuk, tatapannya tajam menusuk.
Ia tatap muka Elisa yang pucat pasi dan ketakutan, dalam hati Anggara mulai tersenyum puas. Puas menakuti gadis yang berlagak berani menentang nya tersebut. Ia suka melihat Elisa takut, karena kalau takut, gadis itu akan menurut.
"Satu jam lagi, turunlah! Kita makan! Jangan sampai aku harus menyuruh orang menyeretmu turun!" Anggara langsung meninggalkan kamar Elisa dengan langkah angkuh. Bibirnya mengulas senyum licik. Lagi-lagi berhasil menekan dan mengintimidasi Elisa. Ia menutup pintu kamar itu dengan sedikit keras.
Brak!
Setelah Anggara keluar dari kamarnya dan suara langkah kakinya menghilang di koridor, Elisa langsung lemas. Setelah sepi, ia lebih banyak melamun menatap jendela yang masih terbuka, sampai akhirnya ponsel bututnya yang ia sembunyikan di dalam tas berdering keras.
Ada telepon masuk. Nama di layar: Susan.
"Lisa??? Ya Tuhan Lisa??? Kamu di mana? Kata perawat kamu sudah pulang paksa siang tadi? Aku dari rumah sakit sekarang, aku di kos sama Mas Dimas, kamar kamu kosong melompong. Bu kos bilang kamu belum balik lagi! Kamu bikin panik tahu nggak?!" cerocos Susan yang khawatir setengah mati, suara temannya itu hampir menangis di telepon.
"San, Maaf ya, San," jawab Elisa dengan suara pelan dan serak.
"Kamu di mana sekarang, heh? Kamu sama siapa? Kamu baik-baik aja kan?"
"Em,.." Elisa bingung mau alasan apa, otaknya berputar cepat mencari kebohongan yang masuk akal. "Aku .. aku sekarang di tempat aman, San. Kamu ingat pak donatur itu? Beliau yang urus administrasi RS ibu kemarin. Dan tadi beliau juga yang jemput aku."
"Jadi kamu sama bapak-bapak donatur itu? Donatur yayasan itu? Kamu rencana balik kos kapan? Biar aku jemput sekarang! Kasih shareloc!"
"Itu... itu, nggak usah, San. Sepertinya aku akan tinggal di yayasan dulu untuk sementara. Di sini lebih dekat untuk kontrol kandunganku," Elisa berpikir keras agar kebohongannya terdengar sempurna, hampir keceplosan.
"Lis, kamu yakin tidak apa-apa? Kalau kamu butuh bantuan, bilang aja, aku gak apa-apa banget dateng. Kita kan sudah berteman lama dari maba. Kamu cerita aja kalau kamu ada masalah, jangan dipendam sendiri."
"Iya, beneran. Tidak apa-apa, mereka semuanya baik di sini. Kamu ingat kan, ibu aku habis biaya besar sekali untuk perawatannya di ICU kemarin, jadi aku harus... harus mengabdi dulu di yayasan ini sebagai gantinya," lanjut Elisa, biar Susan tak curiga.
"Hemmm, iya juga sih. Tapi... Hati-hati Lis, di jaman sekarang. Tidak ada orang yang ngasih semuanya gratis. Tidak ada makan siang gratis, Lis. Apalagi bapak-bapak kaya begitu," nasehat Susan dengan nada khawatir untuk sahabat polosnya.
Elisa langsung lesu dan diam seribu bahasa, karena dia sudah membayar semuanya sejak awal dengan harga yang paling mahal. Kesuciannya telah habis dia gadaikan untuk biaya rumah sakit ibunya malam itu pada Tuan Anggara.
Tok tok tok
"Nona Elisa... Pak Anggara meminta Nona segera turun ke meja makan. Semuanya sudah siap," suara pelayan wanita paruh baya dari luar pintu.
Elisa langsung panik dan menutup telpon, "San, nanti aku telpon lagi ya."
Tut!
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,