Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibukota Provinsi Minta Bantuan & Bos Kecil Diajak Rapat Perang*
---
Malam hari setelah hujan daun teh Bos Kecil, Kota Batu Hitam punya pemandangan paling aneh dalam sejarah 100 tahun.
Di alun-alun yang biasanya dipakai jemur padi, kini ada tenda mewah Klan Giok Putih Utama yang didirikan, tapi bukan untuk perang. Tenda itu dipakai untuk... tempat tidur bersama.
Kepala Klan Su Feiyan, 3 Tetua Nascent Soul tingkat akhir, 50 pengawal lapis baja, semuanya duduk bersila di atas tikar goni pinjaman dari Klan Su, minum Teh Bos Kecil yang diseduh Su Qing'er, dan mendengarkan dongeng dari Ling'er tentang cara menghitung kembalian.
Su Lingtian, Tuan Muda yang 5 hari lalu sombong, kini duduk paling depan, mencatat dongeng Ling'er dengan serius, sesekali menyapu daun teh yang jatuh di tikarnya biar tidak kotor, karena nilainya masih 7 dan dia ingin naik jadi 8.
Mo Sha, yang tadinya siaga perang, kini jadi tukang kipas. Dia mengipas tenda dengan daun pisang besar biar tidak panas, karena di dalam tenda ada Bos Kecil yang tidur di tengah, dikelilingi Ling'er dan Su Qing'er.
Xiao Chen duduk di luar tenda, di kursi bambunya, dengan cangkir teh hitam keemasan di tangan, menatap langit. Langit di arah barat, arah Ibukota Provinsi, masih ada asap hitam tipis yang naik, tanda Jurang Kecil Gunung Giok Putih masih memuntahkan iblis.
Su Feiyan yang sudah tenang setelah 3 cangkir Teh Bos Kecil, merangkak keluar dari tenda - masih dengan jubah emasnya yang kotor daun teh - dan duduk di sebelah Xiao Chen, tapi menjaga jarak 1 meter, takut pedang kayu dot itu.
"Tuan... Tuan Bos Teh," bisiknya, akhirnya memanggil dengan hormat, karena 3 Tetuanya sudah berbisik bahwa pria compang-camping ini adalah Penjaga Jurang ke-100, "Terima kasih untuk tehnya... dan... maaf atas kelakuan anak saya... dan kelakuan saya tadi yang berisik."
Xiao Chen menyeruput tehnya. "Tidak apa. Sudah bayar? Teh Bos Kecil 5 koin 1 cangkir. Tadi kalian minum 47 cangkir, jadi 235 koin. Bayar ke Ling'er besok pagi."
Su Feiyan langsung mengangguk, mengeluarkan kantong batu spiritual tingkat menengah, "Saya bayar pakai batu spiritual 10 biji, kembaliannya..."
"Jangan pakai batu spiritual. Pakai koin tembaga. Peraturan kedai: koin tembaga saja. Biar Ling'er bisa belajar hitung sampai 1000." potong Xiao Chen.
Su Feiyan terdiam, lalu mengangguk lagi, "Baik, Tuan. Besok saya tukar di pasar."
Setelah urusan koin selesai, wajah Su Feiyan kembali serius. "Tuan Bos Teh, saya datang bukan hanya untuk anak saya. Saya datang karena... Ibukota Provinsi tidak tahan lagi. Jurang Kecil Gunung Giok Putih yang meledak 3 hari lalu, kini sudah mengeluarkan Iblis Tingkat Nascent Soul 2 ekor. 2 Tetua kami terluka parah, 1 sudah... meninggal."
Dia menunduk, air mata jatuh lagi, tapi kali ini bukan karena teh.
"Klan Utama sudah kirim elang emas ke 7 Klan Besar, tapi hanya Klan kami yang punya Jurang Kecil. Klan lain tidak mau bantu karena takut. Kami dengar... dengar Tuan Bos Teh adalah Penjaga Jurang Besar yang berhasil menutup kembali jurang yang 5000 tahun tidak ada yang bisa tutup. Kami... kami mohon bantuan. Bukan untuk Klan Utama, tapi untuk 2 desa yang sudah hilang dan 1 kota yang akan hilang besok kalau tidak ditahan."
Xiao Chen menatap asap hitam di langit barat. Dia tahu rasa menjaga jurang sendirian. 1000 tahun sendirian, tidak ada yang bantu, bahkan Klan Xiao yang dia lindungi mengusirnya sebagai sampah.
"Jurang Kecil itu, segelnya sama seperti Jurang Besar?" tanya Xiao Chen.
Su Feiyan mengangguk, "Sama, Tuan. Dibuat oleh Leluhur Xiao Potian. 7 lapis darah. Tapi kami tidak punya Penjaga, kami hanya punya Tetua yang gantian jaga di luar, tidak di dalam. Makanya saat resonansi dari Jurang Besar 10 hari lalu, segel kami langsung retak, tidak ada yang di dalam untuk menahan."
Xiao Chen diam lama, menyeruput tehnya sampai habis.
Di dalam tenda, Bos Kecil yang tidur tiba-tiba terbangun, mungkin karena mendengar kata "jurang". Dia tidak menangis, tapi merangkak keluar dari tenda - dengan kecepatan merangkak yang sangat cepat untuk bayi 2 hari - dan merangkak ke arah Xiao Chen, lalu memeluk kaki Xiao Chen lagi, seperti pertama kali menetas.
Semua Tetua di dalam tenda yang melihat Bos Kecil merangkak keluar, langsung terdiam dan menahan napas, takut mengganggu.
Bos Kecil mendongak, menatap Xiao Chen dengan mata keemasan hitam besar, lalu menatap asap hitam di langit barat, dan... menunjuk ke arah asap itu dengan tangan kecilnya.
"Ma... ma... ma... bu..." cadelnya tidak jelas, tapi semua mengerti: dia mau ikut.
Xiao Chen menggendong Bos Kecil, menatap tanda daun teh di dahi bayi itu. Tanda itu sedikit berdenyut, searah dengan detak jurang yang dia rasakan dari jauh.
"Dia kunci dari semua segel. Jika dia dekat dengan Jurang Kecil, segel itu akan... akan bereaksi. Bisa menutup, bisa meledak lebih besar," kata Xiao Chen pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Mo Sha yang mendengar itu, langsung berlutut, "Bos Teh! Jangan bawa Bos Kecil ke jurang! Terlalu berbahaya! Biar Mo Sha saja yang pergi dengan Kepala Klan Su! Mo Sha masih Raja Iblis, bisa tahan 2 ekor Nascent Soul!"
Ling'er dan Su Qing'er yang keluar dari tenda, menggendong selimut, juga menggeleng.
"Bos Teh, Bos Kecil baru 2 hari lahir! Jangan bawa ke tempat berisik dan bau iblis!" kata Ling'er, mahkota uapnya menyala protektif.
Su Qing'er mengangguk, "Iya, Bos Teh, di sana tidak ada susu teh!"
Bos Kecil yang mendengar kata "susu teh", langsung menatap Su Qing'er dan tertawa, lalu mengeluarkan gelembung kecil yang pecah menjadi daun teh hitam keemasan lagi, jatuh ke tangan Su Qing'er.
Seolah bilang: aku bisa bikin susu teh sendiri di mana saja.
Xiao Chen menatap murid-muridnya yang khawatir, menatap Su Feiyan yang berlutut memohon, menatap asap hitam di langit, dan menatap Bos Kecil di gendongannya yang menunjuk ke barat terus-menerus.
Akhirnya dia berdiri.
"Besok pagi jam 6, kedai tutup 1 hari. Semua Klan, ikut ke Ibukota Provinsi. Bawa sapu, bawa cangkir, bawa tikar. Kita bukan perang, kita bersih-bersih."
Semua terdiam, tidak mengerti.
"Bersih-bersih apa, Bos Teh?" tanya Su Batian.
"Jurang Kecil itu kotor, sudah 2000 tahun tidak disapu. Kita sapu. Kalau disapu bersih, iblisnya tidak betah, dia pergi sendiri. Seperti selokan Si Kecil Hitam, dulu bau, sekarang bersih, tidak ada tikus jahat lagi."
Logika Bos Teh yang aneh, tapi semua Tetua Nascent Soul mengangguk dengan serius, karena logika Bos Teh selama ini selalu benar, walaupun aneh.
Su Feiyan yang mendengar itu, walaupun tidak mengerti, tapi langsung bersujud, "Terima kasih, Tuan Bos Teh! Klan Giok Putih Utama akan siapkan 100 kereta sapu!"
Xiao Chen menggeleng, "Tidak perlu kereta. Jalan kaki saja. Biar Bos Kecil lihat pemandangan. Dia baru 2 hari lahir, belum pernah lihat sawah."
Malam itu, pengumuman ditempel di depan Kedai Teh oleh Ling'er dengan tulisan jelek tapi jelas:
_PENGUMUMAN KLAN KEDAI TEH:_
_Besok Kedai Tutup 1 Hari. Bos Teh, Bos Kecil, dan Semua Tukang Sapu Berangkat ke Ibukota Provinsi untuk Bersih-Bersih Jurang Kecil. Yang Mau Ikut, Bawa Sapu Sendiri, Jangan Berisik, Bayar Teh Tepat Waktu Sebelum Berangkat._
Warga yang membaca pengumuman itu, bukannya takut, malah bersemangat, karena mereka belum pernah lihat Ibukota Provinsi.
Jam 5 pagi keesokan harinya, iring-iringan paling aneh dalam sejarah benua berangkat dari Kota Batu Hitam.
Di depan: Xiao Chen menggendong Bos Kecil dengan gendongan goni, dot sendok teh kayu di mulut Bos Kecil.
Di belakangnya: Mo Sha 2 meter dengan sapu raksasa dan celemek KEPALA KEBERSIHAN.
Di belakangnya lagi: Ling'er dengan mahkota uap dan karung daun teh, Su Qing'er dengan ember dan sendok kayu, Si Kecil Hitam dengan sapu lidi selokan.
Di belakang mereka: 8 Klan cabang dengan 80 Tetua Nascent Soul dan Pembentukan Fondasi, semua membawa sapu, bukan pedang.
Di belakang mereka lagi: 50 pengawal Klan Utama dengan kereta yang kini dipakai untuk bawa tikar dan cangkir, bukan senjata.
Dan di paling belakang: Su Feiyan, Kepala Klan Utama, berjalan kaki sambil menyapu jalan yang mereka lewati, karena dia ingin nilainya juga 7 seperti anaknya.
Iring-iringan tukang sapu itu berjalan ke barat, ke arah asap hitam Ibukota Provinsi, tanpa bendera perang, hanya dengan spanduk kain goni yang ditulis Ling'er semalam:
_PASUKAN KEBERSIHAN KLAN KEDAI TEH - JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN!_