Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam tanpa Suara
Kamar pengap itu kini hening. Suara teriak-teriak Doni dan gedoran pintu yang tadi sempat mengguncang engsel kayu perlahan-lahan mereda, digantikan oleh deru angin malam Kota Solo yang menerobos masuk lewat celah ventilasi. Di luar, suara televisi di ruang tengah terdengar pelan, diselingi bisik-bisik ketus antara Rini dan ibunya.
Eda masih duduk di kursi kayu meja belajarnya. Kedua tangannya mengelus permukaan map cokelat yang berisi berkas-berkas pentingnya. Sisa uang tiga puluh ribu rupiah yang tadi ditinggalkannya di meja luar benar-benar menandai habisnya pegangan uang tunainya hingga akhir bulan. Tapi alih-alih merasa cemas atau takut kelaparan, hati Eda justru terasa aneh: ada keheningan yang tenang, sebuah rasa pasrah yang tidak lagi dibebani rasa bersalah.
Pukul sembilan malam, kenop pintu kamar berputar pelan dari luar. Klek, klek. Agus mencoba membuka pintu. Karena terkunci rapat dari dalam, terdengar hembusan napas gusar dari hidung suaminya di balik pintu kayu.
"Ed, buka pintunya," panggil Agus. Suaranya ditekan rendah, tidak lagi membentak seperti di ruang tamu tadi, tapi menyimpan nada dingin yang sangat kentara.
Eda tidak bergeming dari kursinya. Ia menatap ke arah pintu tanpa berniat berdiri.
"Ed! Kamu dengar tidak? Buka! Malu didengar Mama sama Mas Doni kalau kita kunci-kuncian kamar begini!" desak Agus lagi sambil mengetuk pintu dengan ketukan pendek.
Eda menarik napas panjang, lalu menjawab dengan suara datar yang cukup keras untuk didengar Agus. "Aku mau tidur, Agus. Pikiranku capek. Kalau kamu mau tidur di dalam, tidak usah bawa-bawa omongan Mama atau Mas Doni lagi."
Di balik pintu, Agus terdiam beberapa detik. Terdengar decakan kesal sebelum akhirnya suara langkah kakinya menjauh menuju ruang tengah. Pria itu memilih tidur di kasur luar atau sofa ketimbang harus mengalah dan bicara baik-baik dengan istrinya.
Eda menyunggingkan senyum tipis. Baguslah, batinnya. Ia malah merasa lega tidak harus berbagi udara di kamar pengap ini dengan pria yang selalu membiarkannya dihujani caci maki.
Eda menghidupkan laptopnya. Pendar cahaya dari layar monitor menyinari wajahnya yang lelah. Ia membuka situs portal resmi Seleksi Guru Penggerak dari Dikdas. Jemarinya yang luwes mulai mengetikkan nomor NIK, NUPTK, dan mengisi lembar demi lembar esai refleksi diri yang dipersyaratkan.
Saat mengisi kolom esai tentang "Tantangan Terbesar dalam Mengembangkan Diri dan Cara Mengatasinya", gerakan jemari Eda terhenti sejenak di atas kibor.
Matanya menerawang menatap baris-baris pertanyaan di layar. Tantangan terbesarnya selama belasan tahun ini bukanlah sulitnya materi pelajaran Matematika di SD Harapan Bangsa, bukan pula lelahnya mengajar anak-anak kelas empat. Tantangan terbesarnya adalah perjuangan melawan rasa rendah diri, lingkaran pemerasan finansial berkedok kekeluargaan, serta suami yang mematikan jiwa dan rasa percaya dirinya perlahan-lahan.
Eda mulai mengetik kembali. Kalimat-kalimat yang mengalir keluar dari pikirannya tidak lagi kaku seperti membaca buku teks. Ia menuliskan refleksinya dengan jujur, lugas, dan menyentuh—menggambarkan bagaimana seorang pendidik harus mampu berdiri merdeka di atas kakinya sendiri sebelum ia bisa menuntun murid-muridnya menjadi manusia yang berkarakter dan mandiri.
Tanpa terasa, jam dinding tua di atas lemari menunjuk angka sebelas malam. Seluruh persyaratan esai dan pindaian dokumen SK PPPK serta surat izin dari Pak Burhan berhasil diunggah dengan lancar.
Saat menekan tombol Submit dan melihat tanda centang hijau di layar, dada Eda mendadak berdesir hebat. Ada rasa bangga yang meletup-letup di dalam hatinya. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun pernikahan, Eda melakukan sesuatu yang murni demi masa depan dan harga dirinya sendiri, tanpa minta izin atau bayang-bayang persetujuan dari Agus maupun ibunya.
Keesokan paginya, Kota Solo diselimuti kabut tipis dan udara dingin yang menembus tulang. Eda bangun pukul empat pagi, menunaikan salat Subuh, lalu melipat mukenahnya rapi.
Ketika Eda membuka kunci kamar dan melangkah keluar, suasana ruang tengah sangat sepi. Di atas karpet plastik, Agus tertidur lelap ditutupi sarung lurik tua. Di dekat meja makan, sisa tiga puluh ribu rupiah yang diletakkan Eda semalam sudah tidak ada lagi entah diambil oleh Rini untuk belanja beras atau dibawa Ibu Ratna. Eda tidak peduli lagi.
Eda tidak menyentuh peralatan dapur. Ia tidak memasak air, tidak menyiapkan kopi untuk Agus, dan tidak menyapu lantai. Ia berjalan lurus ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap.
Pukul setengah six pagi, Eda sudah rapi mengenakan seragam dinas harian cokelat mudanya. Tas kerjanya terselip rapi di pundak, sementara di dalam kantong jas hujannya tersimpan potongan kue bolu kukus yang sengaja dibelinya dari warung kemarin sore untuk ganjal perut.
Saat Eda melangkah menuju pintu depan, Agus terbangun. Pria itu mengucek matanya, mendudukkan badan di karpet, lalu menatap Eda yang sudah rapi dengan pandangan heran bercampur ketus.
"Kamu tidak masak air atau bikin sarapan, Ed?" tanya Agus dengan suara serak khas bangun tidur.
Eda berhenti di ambang pintu, menatap suaminya yang masih berbalut sarung lecek di lantai.
"Beras di dapur sudah habis, Agus. Kompor juga tidak ada minyaknya," jawab Eda tenang, suaranya mengalun datar tanpa ada nada marah. "Kalau kamu lapar, kamu bisa minta tolong Mbak Rini atau Mas Doni. Kan kemarin uang bensin dan uang LKS-nya sudah kalian bicarakan bersama."
Wajah Agus seketika mengeras. Pria itu hendak membalas dengan omelan, tapi Eda sudah lebih dulu memutar engsel pintu dan melangkah keluar ke halaman.
Eda menutup pintu kontrakan dari luar tanpa menimbulkan bunyi gaduh. Di teras depan, angin pagi bertiup menyegarkan wajahnya. Eda merapikan letak jilbabnya, menarik napas panjang menikmati udara segar Solo yang bebas dari bau asap rokok dan ketegangan rumah tangga.
Dengan langkah kaki yang mantap dan kepala yang terangkat tegak, Eda berjalan menyusuri gang menuju jalan raya. Pagi ini, tidak ada lagi rasa bersalah yang mengikat kakinya. Eda siap menyongsong hari di SD Harapan Bangsa sebagai manusia yang mulai belajar mengepakkan sayapnya sendiri.