Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ORANG YANG MENGHILANG
Berita tentang Tegar Prasetyo membuat suasana di kantor polisi berubah.
Dimas berdiri di dekat pintu ruang tunggu, ponsel masih di tangannya. Wajahnya serius, dan Nayla bisa melihat ada sesuatu yang membuatnya enggan langsung mengucapkannya.
“Pak Raka,” panggil Dimas.
Raka menoleh. “Ada apa?”
“Tim IT menemukan bahwa akun Tegar terakhir aktif pukul 23.41 semalam. Bukan dari kantor.” Dimas menarik napas. “Lokasi sinyalnya berada di sekitar pelabuhan kontainer.”
Nayla menegang. “Pelabuhan?”
“Belum pasti itu Tegar yang menggunakan perangkatnya. Bisa saja ponselnya dibawa orang lain.” Dimas menatap Raka. “Tapi ada hal yang lebih aneh. Malam itu, Tegar sempat mengunduh satu berkas dari sistem perusahaan, lalu mengirimnya ke alamat surel yang tidak terdaftar.”
“Berkas apa?” tanya Nayla.
“Salinan laporan audit lama. Yang sama dengan dokumen yang Bayu gunakan untuk menuduh Pak Raka.”
Raka mengatupkan rahangnya.
“Jadi dokumen itu memang dipalsukan ulang.”
“Belum bisa dipastikan dipalsukan,” jawab Dimas hati-hati. “Tapi ada indikasi kuat. Versi yang dikirim Tegar memiliki perubahan pada dua halaman. Tanda tangan Pak Raka tetap ada, tetapi ada tambahan kalimat yang tidak ada dalam arsip resmi.”
Nayla menatap Raka.
“Kalimat apa?”
Dimas membuka layar laptop dan menampilkan dua dokumen berdampingan. Keduanya tampak hampir sama. Namun di dokumen yang dikirim Tegar, ada satu paragraf tambahan di bagian akhir.
Nayla membacanya perlahan.
*Hasil pemeriksaan menunjukkan keterlibatan langsung Raka Aditya dalam pengalihan dana vendor. Rekomendasi: penghentian kerja sama dan penarikan investasi.*
Nayla mengangkat wajah.
“Kalimat itu tidak ada di dokumen asli?”
“Tidak,” jawab Raka. “Dan tidak mungkin ada. Laporan itu dibuat sebelum dugaan penyalahgunaan dana ditemukan. Yang ada hanya rekomendasi pemeriksaan lanjutan.”
“Jadi seseorang menambahkan kalimat itu setelah laporan dibuat?”
“Kemungkinan besar.” Dimas menutup laptop. “Tanda tangan bisa dipindahkan dari dokumen asli. Namun ada jejak metadata yang sedang kami periksa.”
Nayla merasa pusing.
Bayu tidak hanya menculik Raka dan mengancam Nayla. Pria itu sedang membangun cerita agar Raka tampak seperti pelaku utama. Jika dokumen itu sampai ke tangan investor, media, atau pihak berwenang tanpa pemeriksaan yang benar, nama Raka bisa hancur sebelum kebenaran sempat terungkap.
“Kenapa Tegar mau membantu Bayu?” tanya Nayla.
“Kita belum tahu.” Raka menatap Dimas. “Apakah ada catatan keuangan yang menghubungkan Tegar dengan Bayu?”
“Sedang diperiksa. Tapi ada satu hal lagi.” Dimas menunduk sebentar. “Tegar punya utang. Banyak.”
Nayla terdiam.
Utang.
Arga juga pernah berkata ia terlibat karena utang.
Bayu tampaknya tahu cara menemukan orang yang sedang terjepit, lalu menawarkan jalan keluar yang justru menjerat mereka lebih dalam.
“Bayu tidak hanya mencari orang yang bisa dia pakai,” kata Nayla pelan. “Dia mencari orang yang tidak punya pilihan.”
Raka menatapnya. “Dan itu yang membuatnya berbahaya.”
***
Mereka kembali ke apartemen Raka setelah pemeriksaan.
Bukan karena Nayla ingin tinggal di sana. Ia hanya perlu menemani Raka mengambil beberapa dokumen penting dan perangkat kerja yang diminta penyidik. Polisi menyediakan pengawalan, sementara Dimas berjalan di depan mereka.
Apartemen Raka berada di lantai tinggi. Ruangannya luas, minimalis, dan terlalu tenang. Tidak banyak barang pribadi yang terlihat. Ada rak buku, meja kerja besar, dan beberapa foto keluarga yang ditempatkan rapi di rak samping.
Nayla melihat sebuah foto kecil di antara bingkai-bingkai itu.
Raka masih muda. Di sampingnya ada seorang perempuan berambut panjang.
Alena.
Nayla mengenali wajah perempuan itu dari foto lama yang dikirim Bayu.
Raka menyusulnya membawa map dari meja kerja. Ketika melihat arah pandangan Nayla, ia berhenti sebentar.
“Itu foto waktu kami masih bertunangan,” kata Raka.
Nayla menoleh. “Bapak tidak membuangnya?”
“Dulu saya ingin membuangnya.” Raka meletakkan map di atas meja. “Tapi lama-lama saya sadar, menghapus foto tidak menghapus pengkhianatannya. Saya biarkan saja sebagai pengingat bahwa kepercayaan bisa rusak oleh orang yang paling dekat.”
Nayla menatap foto itu lagi.
“Bapak pernah mencintai dia?”
“Saya pikir begitu.” Raka menjawab dengan suara tenang. “Sekarang saya tidak yakin apakah yang saya rasakan dulu cinta, atau hanya kebiasaan percaya pada seseorang yang sudah lama ada di hidup saya.”
Kalimat itu membuat Nayla terdiam.
Ia memahami perasaan itu terlalu baik.
“Arga dan saya pernah pacaran dua tahun sebelum menikah,” katanya pelan. “Dulu saya pikir kalau seseorang sudah lama ada, pasti dia tahu apa yang saya butuhkan.”
“Tapi kadang orang justru berhenti melihat karena merasa sudah terlalu lama mengenal.”
Nayla menatap Raka.
“Bapak juga begitu?”
Raka tidak langsung menjawab. Ia memandang foto Alena, lalu mengalihkan pandangan.
“Mungkin.”
Keheningan itu tidak terasa nyaman, tetapi juga tidak terasa salah.
Nayla tidak ingin memaksa Raka bercerita. Ia juga tidak ingin membuat dirinya terlalu dekat hanya karena mereka sama-sama pernah dikhianati.
“Kita harus pergi,” kata Dimas dari pintu. “Pak, polisi menunggu di bawah.”
Raka mengangguk.
Nayla mengikuti mereka keluar. Namun sebelum pintu apartemen tertutup, ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor tidak dikenal.
**Nomor tidak dikenal:** Kamu pikir Raka bersih? Tanyakan kepadanya siapa yang membantu Alena pergi dari kota setelah pertunangan mereka batal.
Nayla membeku.
Raka yang sudah melangkah beberapa langkah menoleh ketika melihat ekspresi Nayla.
“Apa?”
Nayla menunjukkan pesan itu.
Raka membacanya. Wajahnya tidak berubah banyak, tetapi tangannya yang memegang map mengeras.
“Ini bukan dari Bayu,” katanya.
“Kenapa Bapak yakin?”
“Bayu tidak pernah tahu soal ini.” Raka menatap pesan itu. “Hanya sedikit orang yang tahu Alena pergi dari kota.”
“Siapa?”
“Keluarga saya. Pengacara saya. Dan…” Raka terdiam.
“Dan siapa?”
“Tegar.”
Nayla menatapnya.
“Tegar?”
“Dia asisten administrasi saya dulu. Sebelum pindah ke divisi proyek.” Raka menarik napas. “Alena meminta bantuan untuk pindah karena takut ditemukan keluarganya. Tegar yang mengurus tiket dan tempat tinggal sementara.”
“Kenapa Bapak membiarkan dia tahu?”
“Karena saat itu saya masih percaya Tegar.” Raka menatap Nayla. “Dan saya tidak ingin Alena menghilang tanpa jejak. Saya butuh tahu dia aman, meski saya tidak ingin berhubungan lagi.”
Nayla menelan ludah.
“Jadi Tegar tahu tentang Alena, Bayu, dan dokumen lama.”
“Semua.” Raka menatap pesan itu lagi. “Dan sekarang dia menghilang.”
***
Mereka kembali ke kantor polisi.
Kali ini, Tegar menjadi fokus pembicaraan. Penyidik menampilkan rekaman kamera dari apartemen Raka. Pada malam sebelum Raka diculik, Tegar terlihat datang ke lobi pada pukul 22.15.
Ia tidak naik lift ke lantai apartemen Raka.
Ia hanya berdiri di dekat meja resepsionis selama beberapa menit, lalu keluar.
“Kenapa dia datang kalau tidak bertemu Bapak?” tanya Nayla.
“Mungkin untuk memastikan Raka ada di rumah,” jawab Inspektur Wina. “Atau untuk menanamkan sesuatu.”
“Menanamkan apa?”
“Kami sedang memeriksa sistem keamanan apartemen. Namun ada kemungkinan Tegar mendapat informasi tentang jadwal Raka.”
Raka menatap rekaman itu.
“Tegar tahu saya biasanya pulang larut. Dia juga tahu saya sering keluar pagi untuk menemui tim proyek.”
“Jadi dia bisa memberi tahu Bayu kapan waktu terbaik untuk menculik Bapak,” ujar Nayla.
“Kemungkinannya besar.”
Pak Hendra yang menemani Nayla duduk di kursi tunggu menghela napas berat.
“Kalau begitu, orang ini bukan sekadar karyawan yang kabur,” katanya. “Dia bagian dari rencana.”
“Belum bisa disimpulkan,” kata Inspektur Wina. “Namun kami akan memeriksa hubungan Tegar dengan Bayu secara menyeluruh.”
Nayla menatap layar yang menampilkan wajah Tegar. Pria itu terlihat biasa saja. Tidak tampak seperti seseorang yang mampu menjadi bagian dari penculikan dan pemalsuan dokumen.
Tetapi Nayla sudah belajar bahwa penampilan tidak selalu mencerminkan niat.
“Apakah Tegar punya keluarga?” tanyanya.
“Ada ibu dan adik perempuan,” jawab Dimas. “Kami sudah menghubungi ibunya. Beliau bilang Tegar tidak pulang semalam dan ponselnya tidak aktif.”
“Apakah beliau tahu Tegar punya masalah utang?”
Dimas mengangguk. “Beliau tahu, tapi tidak tahu seberapa besar.”
Nayla menunduk.
Lagi-lagi utang.
Lagi-lagi seseorang yang terjepit dipakai untuk melakukan hal yang salah.
“Apakah Bayu menyandera Tegar?” tanyanya.
“Kemungkinan itu ada,” jawab Inspektur Wina. “Tapi kita juga tidak bisa menutup kemungkinan Tegar kabur karena takut ditangkap.”
Nayla menatap Raka.
“Bapak percaya Tegar membantu Bayu secara sadar?”
Raka terdiam cukup lama.
“Saya tidak tahu.” Jawabannya jujur. “Tegar pernah menjadi orang yang saya percaya. Tapi orang bisa berubah ketika mereka terlalu takut kehilangan sesuatu.”
Nayla mengangguk.
Ia tahu itu benar.
Arga berubah karena utang dan ketakutan.
Siska berubah karena ancaman.
Tegar mungkin juga berubah karena alasan yang sama.
Namun perubahan tidak menghapus tanggung jawab.
***
Sore itu, Nayla kembali ke rumah orang tuanya.
Ia merasa lelah, tetapi tidak bisa tidur. Terlalu banyak hal yang berputar di kepalanya. Dokumen palsu. Tegar yang hilang. Bayu yang ditangkap. Siska yang mengaku ditekan. Arga yang masih dirawat.
Nayla duduk di teras belakang rumah sambil memandangi langit yang mulai gelap.
Pak Hendra keluar membawa dua cangkir teh hangat.
“Kamu masih memikirkan Tegar?” tanyanya.
Nayla mengangguk.
“Bapak tidak tahu harus percaya siapa lagi,” katanya. “Bayu bilang Raka bersalah. Siska bilang Bayu yang memaksa. Raka bilang dokumennya dipalsukan. Sekarang Tegar hilang.”
Pak Hendra duduk di kursi sebelahnya.
“Kamu tidak harus langsung percaya siapa pun,” katanya. “Kamu hanya perlu melihat bukti dan tindakan.”
“Tapi bagaimana kalau bukti itu dipalsukan?”
“Maka kita cari bukti lain. Kebenaran yang benar biasanya tidak takut diperiksa.”
Nayla memandangi cangkir teh di tangannya.
“Pa, kalau Raka benar-benar bersalah?”
Pak Hendra tidak langsung menjawab.
“Kalau dia bersalah, dia harus menanggung akibatnya,” katanya akhirnya. “Sama seperti Arga. Tidak ada orang yang di atas hukum.”
Nayla mengangguk.
“Dan kalau dia tidak bersalah?”
“Maka kamu tidak perlu merasa bersalah karena sempat meragukannya.”
Nayla menatap ayahnya.
“Papa tidak marah aku dekat dengan Pak Raka?”
Pak Hendra tersenyum tipis.
“Papa tidak suka melihat kamu terluka. Tapi Papa juga tidak akan menganggap semua laki-laki jahat hanya karena satu orang menyakitimu.” Ia menatap Nayla. “Yang Papa minta, jangan biarkan siapa pun mengambil keputusan hidupmu. Bukan Arga. Bukan Raka. Bukan Bayu.”
Nayla menggenggam cangkir teh lebih erat.
“Saya akan mencoba.”
***
Malam itu, Nayla menerima telepon dari Dimas.
“Bu Nayla, ada kabar tentang Tegar.”
Nayla langsung berdiri. “Dia ditemukan?”
“Belum.” Suara Dimas terdengar berat. “Tapi kami menemukan mobilnya di tempat parkir dekat stasiun kereta barang.”
“Lalu?”
“Di dalam mobil ada tas kerja, dokumen palsu, dan ponsel kedua. Tidak ada Tegar.”
Nayla menutup mata.
“Apakah dia diculik?”
“Kami belum tahu. Tapi ada bekas perkelahian kecil di sekitar mobil. Juga ada surat yang tertinggal di kursi penumpang.”
“Surat apa?”
Dimas terdiam sejenak.
“Surat itu ditujukan kepada Ibu.”
Nayla menegang.
“Kirim fotonya.”
Beberapa detik kemudian, gambar masuk ke ponselnya.
Tulisan tangan di atas kertas terlihat cepat dan gemetar.
**Nayla, kalau kamu membaca ini, aku tidak bunuh diri. Aku tidak kabur. Bayu menyandera adikku. Dia menyuruhku menyalin dokumen dan mengirimnya. Aku tidak tahu mereka akan menculik Raka. Aku cuma tahu kalau aku tidak menurut, adikku akan disakiti. Tolong jangan percaya semua yang dikirim Bayu. Ada orang lain di kantor yang membantunya. Aku tidak tahu siapa, tapi dia memakai nama samaran: Langit.**
Nayla membaca surat itu sampai selesai.
Tangannya gemetar.
“Mas Dimas,” katanya pelan, “ada orang lain di kantor.”
“Saya tahu.”
“Dan dia menyebut dirinya Langit.”
“Kami akan menyelidikinya.”
Nayla menatap langit malam di luar jendela.
Bayu mungkin sudah ditangkap.
Siska mungkin sudah dihentikan.
Tetapi ada seseorang yang masih bersembunyi di balik nama samaran.
Dan orang itu mungkin lebih dekat daripada yang Nayla kira.