Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Suara pecahan vas bunga kristal seharga ratusan keping emas menghiasi lantai marmer kamar yang luas itu.
Kayna tidak jatuh dari jendela. Kakinya yang baru saja hendak melangkah ke udara tiba-tiba tersandung oleh sesuatu yang berat. Ia terhempas ke belakang, mendarat dengan kasar di atas karpet tebal, dan napasnya tercekat.
"NONAAAA! ANDA TIDAK BOLEH MELAKUKAN ITU!"
Jeritan melengking itu hampir memecahkan gendang telinga Kayna. Di atasnya, seorang pelayan perempuan bertubuh gempal sedang memeluk erat kedua kakinya, menangis tersedu-sedu dengan ingus yang mulai mengotori gaun sutra mahal milik tubuh yang kini ditempati Kayna.
Kayna menatap langit-langit kamar yang bergambar dewa-dewa, lalu menghela napas panjang. Sangat panjang.
"Lepaskan," ucap Kayna datar. "Kau sedang merusak momen sakralku."
"Momen sakral apa?! Nona Kay, Anda baru saja mencoba melompat dari lantai tiga! Jika Anda mati, Tuan Duke akan menggantung kami semua di gerbang depan!" Pelayan itu, yang dari memori asli tubuh ini Kayna tahu bernama Rosa kini mencium sepatu bot Kayna berkali-kali.
Kayna memijat pelipisnya. Kepalanya masih berdenyut akibat benturan memori asli tubuh ini dengan jiwanya.
Ia ingat sekarang. Tubuh ini milik adalah milik Kayla von Ardent, seorang Duchess dan tunangan dari Pangeran Mahkota, Duke Adrian. Dan tadi pagi, Kayla yang asli baru saja mendorong Freya, gadis yatim piatu yang dianggap suci dan tak bersalah, hingga jatuh dari tangga dan patah tangan.
Itu adalah *trigger* utama. Titik balik di mana kesabaran Duke Adrian habis, dan ia akan mengeksekusi Kayla di akhir cerita.
"Tapi Rosa," kata Kayna sambil berusaha menarik kakinya dari pelukan pelayan itu. "Aku tidak peduli jika Duke Adrian ingin menggantung kalian. Yang aku pedulikan sekarang adalah bagaimana caranya aku bisa mati dengan tenang sebelum dia sempat menyentuhku."
Rosa terdiam, matanya membelalak ngeri. "N... Nona? Apakah Anda gila?"
"Aku tidak gila, Rosa. Aku hanya sedang yoga" jawab Kayna serius, meski pelayan itu tentu tidak mengerti arti kata-katanya.
Bagi Kayna, kematian di novel ini bukanlah akhir. Ini adalah sistem reinkarnasi. Jika ia mati di tangan Duke Adrian karena dieksekusi sebagai penjahat, siapa yang menjamin ia akan terlahir di keluarga yang baik? Bisa saja ia terlempar ke tubuh anak ayam yang akan disembelih besok pagi, atau menjadi kotoran di dasar laut.
Ia butuh kontrol. Ia harus mati dengan caranya sendiri, dalam keadaan suci, agar dewa reinkarnasi memberinya keluarga yang normal di kehidupan selanjutnya.
"Rosa, dengarkan aku," Kayna duduk, menatap pelayannya dengan tatapan yang begitu tenang hingga membuat Rosa merinding. "Bantu aku lepas gaun ini. Aku butuh pakaian yang lebih... mudah untuk mati. Mungkin gaun berwarna putih? Atau setidaknya yang bahannya tidak terlalu mahal agar darahnya tidak susah dicuci."
"D-Darah? Nona, Anda mau bunuh diri?!" Rosa kembali menjerit.
"Shhh!" Kayna menutup mulut pelayan itu dengan tangan. "Jika kau berteriak lagi, aku akan memukul kepalaku ke meja ini sampai mati. Pilihannya ada di tanganmu."
Rosa membeku, air matanya berhenti mengalir seketika. Ia menatap mata Kayna atau lebih tepatnya, tatapan kosong dan pasrah milik Kayna yang kini berada di wajah Kayla yang biasanya angkuh. Tidak ada kemarahan, tidak ada keputusasaan yang meledak-ledak. Hanya ada... kepasrahan yang mengerikan.
Dengan tangan gemetar, Rosa membantu Kayna berganti pakaian.
Sambil membiarkan Rosa mengancingkan gaun sederhana berwarna abu-abu, otak Kayna bekerja cepat.
Lompat dari jendela? Gagal. Pelayan ini terlalu lengket..
Gantung diri? Talinya mungkin tidak kuat menahan berat badan tubuh bangsawan yang kelebihan gizi ini..
Racun? Aku tidak punya akses ke dapur atau racun.
Pandangan Kayna jatuh pada sebuah pembuka surat bermata perak yang tergeletak di atas meja rias. Benda itu cukup tajam. Jika ditusukkan tepat di bawah rahang dan diarahkan ke otak... Bingo.
Dengan gerakan cepat yang tidak disadari Rosa, Kayna menyambar pembuka surat itu dan menyembunyikannya di dalam lengan gaunnya.
"Selesai, Nona," ucap Rosa pelan. "Tuan Duke... sudah menunggu di ruang utama. Bersama Nona Freya."
Tubuh Kayna kaku sejenak. Nama 'Freya' dan 'Duke Adrian' adalah kombinasi yang sama mematikannya dengan sebutan 'Ayah' di kehidupan sebelumnya. Tapi kali ini, Kayna tidak merasa takut. Ia hanya merasa kesal.
Baiklah, Duke Adrian. Kau ingin menghukumku? Kau ingin melihatku memohon ampun sambil menangis di kakimu? Maaf saja. Aku sudah memesan tiket untuk kehidupan selanjutnya, dan aku tidak mau terlambat.
"Ayo," ucap Kayna, melangkah keluar dari kamar dengan punggung tegak.
..gagal terus🤣