NovelToon NovelToon
Memburu Langit Abadi

Memburu Langit Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: RENDY Marcelius

Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.

Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.

Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.

Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI PERTAMA DARI DUNIA BARU

Langit di atas Domain Abadi tidak lagi berwarna emas dingin. Hari ini berwarna biru lembut, dengan awan yang bergerak pelan seakan tidak terburu waktu. Di halaman istana yang kemarin sunyi senyap, kini orang-orang berjalan berbicara pelan, ragu, tapi hidup. Mereka adalah pengikut klan Tian yang selama ribuan tahun hanya tahu satu perintah: taat. Hari ini, untuk pertama kalinya, mereka diberi pilihan.

Xuanyuan berdiri di balkon tertinggi Menara Langit. Angin menerpa rambutnya yang kini sebagian memutih di ujung-ujungnya jejak pertama dari kekuatan yang ia pikul. Di sampingnya, Lian Yue memegang kedua ujung Cermin Jiwa Terbelah, yang kini sudah menyatu sempurna, tidak lagi retak.

"Mereka takut," katanya pelan. "Bukan takut padamu. Mereka takut pada kebebasan. Karena selama ini, takdir sudah ditentukan untuk mereka. Sekarang... mereka harus menentukan sendiri."

Xuanyuan menatap ribuan orang yang berkerumun di bawah. Wajah-wajah yang dulu menakutinya kini terlihat kecil, bingung, dan manusiawi.

"Aku tidak datang untuk memimpin mereka. Aku datang agar tidak ada yang perlu dipimpin dengan paksa. Tian Jue membangun kerajaan atas ketakutan. Kita akan membangun rumah atas kepercayaan. Dan kepercayaan butuh waktu, bukan perintah."

Langkah kaki terdengar di belakang mereka. Xiao Kun berjalan mendekat, pakaiannya lusuh, tubuhnya penuh luka lama yang belum sempat sembuh. Di belakangnya, Lang Wuyan muncul perlahan dari cincin perak di jari Xuanyuan, wujudnya masih samar namun lebih jelas dari sebelumnya.

Xiao Kun menepuk bahu Xuanyuan keras, tulus, dan sedikit canggung.

"Kau tahu, sepupuku... dulu aku membencimu. Aku benci karena kau terlihat lemah tapi tetap bertahan. Aku benci karena kau tidak pernah menyerah meski dunia menendangmu. Dan sekarang... aku membencimu karena kau membuatku menangis tanpa izin."

Ia tersenyum lebar, lalu tertawa tawa yang bergema di seluruh halaman, tawa yang tidak pernah terdengar di tempat ini selama ribuan tahun.

"Aku sudah mencapai ranah Raja Kuno. Tubuh tirani ini akhirnya benar-benar milikku. Dan aku memutuskan satu hal: aku tidak akan tinggal di istana emas ini. Istana ini terlalu bersih, terlalu rapi, terlalu mati. Aku akan pergi ke pegunungan terluar, melatih anak-anak yang dibuang seperti kita. Agar tidak ada yang merasa sendirian seperti dulu."

Xuanyuan menatapnya, matanya hangat.

"Kau boleh pergi kapan saja. Tapi ingat di mana pun kau berada, kau adalah kakakku. Dan pintu ini selalu terbuka untukmu."

Xiao Kun mengangguk, lalu berbalik berjalan turun menuju halaman, melambaikan tangan tanpa menoleh lagi.

Lang Wuyan berdiri di sisi lain Xuanyuan. Wujudnya bergetar pelan, seakan semakin kuat berarti semakin dekat dengan lenyapnya.

Aku juga akan pergi. Ada banyak hal yang kubuat salah di masa lalu. Banyak racun yang kubuat, banyak eksperimen yang menghancurkan nyawa. Aku akan berjalan dari satu desa ke desa lain, menyembuhkan apa yang pernah kuracuni. Menebus dengan cara yang sederhana.

Ia menatap Xuanyuan dalam-dalam.

Kau bukan muridku, Liu Xuanyuan. Kau adalah guruku. Kau mengajarkanku bahwa kekuatan terbesar bukanlah yang menaklukkan langit, tapi yang memaafkan musuhnya.

Lang Wuyan perlahan memudar, seakan terserap angin pagi itu.

Sampai jumpa, anak harapan. Jangan terlalu memikul semuanya sendirian. Bahkan pelita terang pun butuh waktu untuk menyalakan satu per satu.

Hanya tersisa Xuanyuan dan Lian Yue di balkon itu. Matahari terbit perlahan, menyinari ribuan atap istana yang dulu terlihat menindas, kini terlihat damai.

Lian Yue meletakkan tangannya di atas telapak tangan Xuanyuan.

"Dan kau? Apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau bisa tinggal di sini. Kau bisa memerintah empat keluarga. Kau bisa menjadi kaisar yang tidak pernah dimiliki dunia ini."

Xuanyuan menatap ke kejauhan, ke arah cakrawala di mana kabut emas perlahan menghilang, memperlihatkan bintang-bintang yang belum pernah dilihat siapa pun.

"Aku tidak akan memerintah. Aku akan pergi. Ada langit di luar langit ini, Lian Yue. Ada tempat yang bahkan orang tuaku tidak sempat capai. Dan di sana... ada yang menunggu. Bukan musuh. Bukan kawan. Sesuatu yang lebih tua dari waktu itu sendiri."

Ia meremas lembut tangan gadis di sampingnya.

"Tapi aku tidak akan pergi sendirian. Dan aku tidak akan terburu-buru. Kita akan berjalan perlahan. Melihat dunia yang dulu hanya kudengar dari cerita. Makan buah yang tumbuh di gunung yang tidak dilarang. Tidur di bawah langit yang tidak penuh awan hitam. Hidup. Bukan bertahan hidup. Hidup."

Lian Yue tersenyum, dan untuk pertama kalinya, senyumnya tidak tertutup bayangan masa lalu.

"Lalu ajaklah aku. Ke mana pun kau pergi. Selama di sampingmu, aku tidak takut pada kegelapan apa pun."

Xuanyuan menarik napas dalam-dalam. Udara pagi terasa segar, murni, dan penuh kemungkinan. Di dadanya, Benih Primordial berdenyut lembut bukan beban, tapi janji. Di belakangnya, empat keluarga mulai membangun dunia baru. Di depannya, jalan tak berujung membentang luas.

Ia tidak tahu apa yang menanti di luar sana. Ia tidak tahu apakah entitas di Kekosongan akan kembali. Ia tidak tahu apakah harapan cukup kuat untuk menahan gelap yang tak bernama.

Tapi untuk hari ini... itu tidak penting.

Untuk hari ini, cukup dengan berdiri di sini, di samping orang yang dicintainya, melihat matahari terbit di atas dunia yang baru saja diselamatkan bukan dengan pedang, tapi dengan hati.

"Ada banyak langit yang belum terlihat. Ada banyak kebenaran yang belum terungkap. Tapi perjalanan panjang selalu dimulai dengan satu langkah kecil. Dan langkah pertama... adalah memilih untuk hidup."

Xuanyuan melangkah menjauhi tembok istana. Menjauhi singgasana. Menuju jalan setapak yang turun ke lembah tempat orang-orang biasa mulai beraktivitas.

"Ayo kita pergi," katanya pelan. "Dunia menunggu."

Dan berjalanlah mereka bukan sebagai pahlawan legenda, bukan sebagai penguasa langit, tapi sebagai dua jiwa yang akhirnya bebas untuk mencari tahu siapa mereka sebenarnya.

1
Eka P
h
Predi Siswanto
kapan kuat nya kalau kayak gini ini bukan pemburu langit tapi pemburu sampah bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!