Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.
Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Malam yang Terlalu Sepi
Malam di rumah putih itu terasa lebih panjang dari biasanya. Aira berbaring miring di tempat tidur, menghadap jendela yang tirainya hanya ditutup separuh. Cahaya bulan tipis menembus kaca, membuat bayangan daun pinus bergerak pelan di lantai kayu. Dia sudah mencoba tidur sejak dua jam yang lalu, tapi setiap kali mata terpejam, wajah Arya muncul dengan suara yang memanggilnya Paman seolah masa kecil yang dihapus itu pernah benar-benar hangat.
Di luar pintu, langkah Reza masih terdengar sesekali untuk memeriksa, lalu diam lagi. Dia menepati kata-katanya. Malam itu dia yang menjaga langsung di depan kamar.
Aira akhirnya duduk. Nyeri di rusuknya sudah mereda menjadi denyutan tumpul yang bisa ditahan. Dia ambil jaket Raka yang masih tersampir di kursi, memakainya di atas kaos longgar, lalu membuka pintu.
Reza yang duduk di kursi lipat langsung berdiri. “Tidak bisa tidur?”
“Tidak.” Aira menutup pintu di belakangnya sampai terbuka sedikit. “Kopi. Atau teh. Apa saja yang hangat.”
Reza mengangguk. “Tunggu di dalam. Saya ambilkan.”
“Saya ikut.”
“Aira—”
“Saya ikut. Kaki saya masih berfungsi. Dan saya tidak suka diperlakukan seperti pasien lumpuh.”
Reza terdiam sejenak, lalu mengalah. Mereka turun tangga bersama. Lampu dinding hanya dinyalakan redup, membuat bayangan mereka memanjang di dinding. Di ruang tamu, Raka tertidur di sofa dengan tangan masih dekat senjata. Keenan tidak kelihatan—kemungkinan besar sedang berjaga di sisi lain rumah atau memeriksa inventaris medis.
Dapur dilengkapi dengan peralatan yang terlalu bagus untuk rumah aman. Reza merebus air dalam diam, sementara Aira duduk di kursi tinggi dekat meja dapur, kaki tidak menginjak lantai.
“Kamu berlebihan sejak kemarin,” kata Aira akhirnya. Suaranya pelan, tidak menuduh, hanya menyatakan.
Reza tidak menoleh. “Saya tahu.”
“Raka hanya membawakan makan. Keenan hanya memeriksa luka. Kamu memperlakukan mereka seolah mereka akan menculik saya di depan matamu.”
“Bukan mereka yang saya takutkan.” Reza menuang air panas ke dalam cangkir, menaruh teh celup. “Saya takut pada celah. Setiap kali ada orang lain di dekatmu, ada kemungkinan jejak. Kemungkinan salah satu dari mereka dilacak, disuap, atau dilukai untuk membuatmu keluar.”
Aira menerima cangkir yang disodorkan. Hangat merambat ke jari. “Kamu berbicara seperti orang yang sudah kehilangan terlalu banyak.”
“Saya hampir kehilanganmu tiga kali dalam seminggu.” Reza bersandar ke meja, lengan tersilang. “Di arena, safe house, dan di helikopter. Saya tidak ingin ada yang keempat.”
Aira meniup permukaan teh. “Sikap protektifmu membuat Raka semakin sering menggoda. Dan membuat Keenan semakin sering mencari alasan untuk memeriksa saya. Kamu menciptakan persaingan yang tidak perlu.”
“Saya tidak bersaing.”
“Kamu menarik garis pembatas.” Aira menatapnya di atas uap teh. “Garis itu terlihat jelas... dan dua pria itu tidak suka dibatasi.”
Reza menghela napas panjang. Dia terlihat lebih tua dari usianya di bawah cahaya dapur yang kuning. “Kakek saya bilang jaga kamu dengan nyawa. Wasiat bilang kamu tunangan saya. Arya bilang kamu kunci yang harus diambil. Semua orang memberi label padamu. Saya hanya… mencoba memastikan label itu tidak membunuhmu.”
Aira diam cukup lama, menyeruput teh yang masih terlalu panas. “Saya tidak minta dilabeli. Saya minta hanya dilindungi. Tapi bukan dengan cara mengusir orang yang sudah membuktikan mereka mau mati untuk saya.”
Reza menatap lantai dapur. “Baik. Saya longgarkan. Tapi malam ini tetap saya yang di depan pintu.”
“Terserah.”
Mereka kembali naik dalam diam. Di sofa, Raka membuka satu mata saat mereka lewat, tapi tidak bilang apa-apa. Hanya mengikuti Aira dengan tatapannya sampai dia menghilang di tangga.
Di kamar, Aira meletakkan cangkir di meja. Reza berdiri di ambang pintu lagi, seolah ragu meninggalkan posisinya. “Tidur,” katanya pelan. “Saya di luar.”
Aira mengangguk. Pintu ditutup sampai terbuka selebar biasa. Langkah Reza kembali ke kursi lipat. Aira berbaring, kali ini menghadap langit-langit. Teh di perutnya terasa hangat, tapi dadanya masih sesak oleh sesuatu yang bukan nyeri rusuk. Sikap Reza yang semakin ketat, Raka yang semakin sering mencari celah, Keenan yang diam-diam selalu ada—semuanya terasa seperti dinding yang perlahan menutup.
Dia baru saja menutup mata ketika suara ketukan sangat pelan terdengar dari luar kaca jendela. Aira duduk tegak. Jendela kamarnya menghadap ke sisi rumah yang agak gelap, dilindungi oleh pohon-pohon tinggi. Di balik kaca yang berembun, tidak ada wajah. Hanya bayangan yang bergerak sangat singkat, lalu menghilang di antara daun.
Aira meraih pisau lipat. Dia tidak berteriak... hanya berjalan pelan ke pintu dan membukanya.
Reza langsung berdiri. “Ada apa?”
“Jendela. Ada yang bergerak di luar.”
Reza tidak bertanya lebih jauh. Dia sudah berbicara ke radio di bahu, suara rendah dan cepat. Dalam hitungan detik, Raka sudah naik tangga dengan senjata di tangan, Keenan menyusul dari koridor lain.
Mereka masuk ke kamar Aira. Tirai ditarik. Lampu taman luar dinyalakan lebih terang. Pengawal di bawah sudah bergerak memeriksa area pohon.
“Tidak ada siapa-siapa,” laporan radio masuk. “Jejak kaki basah. Satu orang. Sudah menjauh ke arah lereng barat.”
Reza mengunci rahang. “Arya mengirim pengintai. Dia ingin kita tahu bahwa dia bisa sampai ke jendela kamar.”
Raka menatap kaca yang masih berembun. “Dia sedang bermain. Menakut-nakuti sebelum benar-benar bergerak.”
Keenan berdiri di samping Aira, memeriksa apakah dia gemetar. “Kamu baik?”
“Baik.” Aira masih memegang pisau. “Tapi saya tidak akan tidur di kamar ini lagi malam ini. Pindahkan saya ke kamar yang tidak langsung menghadap ke hutan.”
Reza mengangguk segera. “Ada kamar di sayap dalam. Tidak ada jendela besar. Hanya ventilasi tinggi.”
Mereka memindahkan Aira dalam hitungan menit. Kamar baru lebih kecil dan tertutup dengan dinding tebal. Aira duduk di tepi tempat tidur masih memakai jaket Raka.
Raka bersandar di ambang pintu. “Saya jaga di koridor bersama Reza malam ini. Bergantian.”
Reza tidak menolak. Dia hanya menatap Aira lama. “Dari sekarang, tidak ada yang mendekati jendela. Tidak ada yang keluar tanpa pengawalan. Dan…” dia ragu sejenak, “saya minta Raka dan Keenan tetap dekat. Tapi di bawah aturan yang lebih ketat.”
Aira mengangkat alis. “Kamu mengalah?”
“Saya menyesuaikan,” jawab Reza. “Karena kamu benar. Mengusir mereka hanya membuat celah lebih besar. Tapi saya tetap yang bertanggung jawab penuh atas keamananmu.”
Aira tidak menjawab. Dia hanya berbaring di tempat tidur baru yang terasa lebih dingin, pisau tetap di bawah bantal.
Di luar, di antara pohon yang sekarang disinari lampu sorot, jejak kaki basah sudah mulai mengering. Pria yang meninggalkannya berdiri jauh di lereng, menatap rumah putih yang kini lebih terang. Dia menekan earpiece. “Pesan sudah disampaikan. Mereka tahu kita bisa sampai ke jendela.”
Suara Arya di seberang tenang. “Bagus. Biarkan mereka sleepless. Besok kita mulai langkah berikutnya....”