NovelToon NovelToon
KETIKA HATI NAVIN KALAH

KETIKA HATI NAVIN KALAH

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 Catatan Dimas

Di dalam mobil, Navin duduk diam dengan kemeja yang menempel di tubuhnya dan rambut yang meneteskan air ke kerah. Sopir menyalakan penghangat tanpa diminta. Di bangku depan, Dimas menoleh dengan ekspresi yang sengaja dibuat polos.

"Pak, payung Bapak?"

"Hilang."

"Hilang di lobi, Pak?"

"Ya."

"Dua-duanya?"

Navin menatap ke luar jendela. Hujan memukul kaca dengan irama tak teratur. Ia meletakkan telapak tangan di jendela yang dingin dan bertanya-tanya berapa lama payung besar itu akan bertahan menghadapi angin. "Kamu terlalu banyak bertanya."

"Maaf, Pak." Dimas kembali menghadap ke depan. Tapi sebelum itu, ia sempat menunduk dan mencatat sesuatu di tablet dengan cepat.

Navin melihatnya lewat pantulan kaca. "Apa yang kamu tulis?"

"Jadwal besok, Pak."

"Kamu menulis lebih dari jadwal."

"Jadwal besok cukup panjang, Pak."

Navin memejamkan mata. Ia tidak punya tenaga untuk berdebat. Yang ada di kepalanya hanya satu adegan: perempuan itu berjalan menjauh di bawah payung hitam besar, punggungnya lurus, dan tanpa menoleh sampai lima belas langkah kemudian, saat ia menoleh sekali dan mungkin, hanya mungkin, tersenyum.

Ia tidak yakin. Jarak terlalu jauh, hujan terlalu deras. Tapi ia sudah memutar adegan itu sepuluh kali dalam kepalanya.

Ia sendiri yang, dengan suara pelan pada Dimas Senin pagi, berkata: payung di kantor ini, pastikan tidak terlalu banyak yang tersisa. Sekarang ia menyesali kalimat itu, atau setidaknya berusaha keras menyesalinya.

Ia bersin.

Dimas menoleh lagi, tanpa bertanya, dan menyodorkan sebungkus tisu dari saku jasnya beserta termos kecil. "Teh jahe, Pak."

"Kamu siapkan ini?"

"Saya selalu menyiapkan cadangan, Pak."

"Untuk apa?"

"Untuk hari ketika Bapak memberikan payung Bapak pada orang lain dan berlari di bawah hujan."

Navin membuka mata perlahan. "Dimas."

"Ya, Pak?"

"Pindah ke logistik atau diam."

"Saya diam, Pak."

Dimas benar-benar diam sisa perjalanan, meski Navin bisa merasakan pantulan senyum di punggungnya sepanjang jalan.

* * *

Selasa pagi, Navin datang ke kantor pukul 07.30 dengan hidung sedikit merah. Ia sudah mengganti kemeja tiga kali, minum dua cangkir teh jahe, dan meminta Dimas membatalkan satu rapat karena ia yakin suaranya terlalu serak.

Di mejanya, sebuah payung hitam berdiri bersandar di sisi kaca, kering dan terlipat rapi. Di gagangnya terikat secarik kertas kecil dengan pita tipis.

Ia menatapnya beberapa detik sebelum berani membaca.

Terima kasih atas payungnya, Pak. — O. Puspa

Hanya itu. Tulisan tangan yang rapi dan tegas, seperti tanda tangan di dokumen resmi. Tidak ada tambahan. Tidak ada emotikon. Tidak ada kalimat manis.

Tapi Navin membacanya tiga kali.

Ia meraih kertas itu dan menaruhnya dengan sangat hati-hati di laci meja, di sebelah kertas-kertas permintaan maaf yang tak pernah terkirim. Lalu ia menutup laci dan duduk tegak, seolah baru saja menyembunyikan barang bukti.

"Selamat pagi, Pak." Dimas masuk dengan tablet dan senyum yang sangat, sangat netral.

"Pagi."

"Payung sudah dikembalikan, ya."

"Ya."

"Ibu Ophelia yang mengembalikan."

"Ya."

"Tadi pagi, sebelum jam kerja."

Navin mengangkat kepala. "Kamu mengawasi meja saya?"

"Saya hanya melihat, Pak. Kebetulan Ibu Ophelia meletakkannya sendiri, pukul tujuh dua puluh, sambil celingukan seperti orang yang takut ketahuan mengembalikan sesuatu yang bukan miliknya."

"Itu memang miliknya... maksud saya, milikku."

"Betul, Pak."

Sunyi. Dimas menatap tabletnya, lalu menatap atasannya, lalu menghela napas pelan seperti orang yang sudah mengambil keputusan besar.

"Pak, boleh saya bertanya dengan hormat?"

"Tidak."

"Apakah Bapak menyukai Ibu Ophelia?"

Ruangan seolah berhenti bernapas. Navin menatap Dimas dengan tatapan yang, dalam sejarah karier Dimas, sudah cukup untuk membuat tiga direktur meminta cuti sakit.

"Kamu tidak waras."

"Itu bukan jawaban, Pak."

"Saya tidak menyukai siapa pun."

"Itu juga bukan jawaban, Pak."

"Saya hanya merasa bersalah." Navin berdiri, berjalan ke jendela, dan menatap keluar tanpa melihat apa-apa. "Saya mengatakan sesuatu yang tidak pantas padanya. Wajar kalau saya merasa bersalah. Manusia normal merasa bersalah."

"Betul, Pak. Manusia normal merasa bersalah."

"Nah."

"Tapi manusia normal yang merasa bersalah biasanya mengirim surat permintaan maaf." Dimas melirik tong sampah di bawah meja. "Bukan mengumpulkan semua payung di kantor, menyuruh orang membeli stabilo, dan memasang mesin kopi khusus untuk satu orang."

"Itu kamu yang..."

"Atas perintah Bapak, Pak."

Navin membuka mulut untuk membantah, lalu tidak menemukan kata-kata. Dimas, yang sudah sangat lama belajar membaca kemarahan atasannya, tahu persis saat itu adalah saat untuk menusuk sedikit lebih dalam.

"Pak, saya sudah mencatat. Sejak Kamis lalu, Bapak menghitung berapa kali Ibu Ophelia lewat di depan kaca."

"Tidak."

"Empat kali dalam satu hari, Pak. Kemarin. Bapak menyebutnya keras-keras."

"Saya menyebut?"

"Ya, Pak. Bapak bilang, 'Empat.' Saya kira Bapak menghitung dokumen."

Navin menutup mulutnya dengan telapak tangan, lalu menurunkannya lagi. "Berapa kali dia menoleh pada saya?"

Dimas berkedip. "Maaf, Pak?"

"Bukan. Maksud saya, tidak. Lupakan."

"Nol, Pak."

Sunyi. Navin memejamkan mata. Ia merasa seperti orang yang sedang berlari menuruni bukit tanpa rem.

"Nol," ulangnya pelan.

"Ya, Pak. Kecuali kemarin, di depan lobi, Pak. Saya rasa satu."

Navin menatapnya lama. Wajahnya sedatar biasa, tapi telinganya, yang sempat dilihat Dimas dengan jelas, sedikit memerah.

"Kalau kamu membicarakan ini pada siapa pun," ucapnya rendah, "saya akan memindahkan kamu ke kantor cabang paling jauh yang kita punya."

"Merauke, Pak?"

"Lebih jauh."

"Kita tidak punya lebih jauh, Pak."

"Saya akan membukanya."

Dimas menahan tawa dengan susah payah. "Saya tidak akan bicara pada siapa pun, Pak. Tapi saya harap Bapak tahu, kalau Bapak butuh seseorang untuk bicara..."

"Keluar."

"Baik, Pak."

Ia keluar, dan di ambang pintu ia berhenti sekali lagi. "Pak?"

"Apa?"

"Kalau memang bukan menyukai, saya rasa kata yang lebih tepat adalah 'kalah'."

Pintu tertutup sebelum Navin sempat melempar sesuatu.

Ia duduk di kursinya dan menatap laci yang tertutup. Ia tahu apa yang ada di dalamnya: satu kertas kecil dengan tulisan tegas dan tiga puluh kata permintaan maaf yang tak pernah selesai.

Aku tidak menyukainya, ia berkata dalam hati. Aku hanya ingin dia berhenti membenciku.

Kalimat itu terdengar seperti alasan yang rapi. Tapi, seperti semua alasan rapi, ia tidak tahan diuji lebih dari sepuluh detik.

Di lorong, Dimas membuka tablet dan menatap catatannya.

1. Rabu: mesin kopi hitam (kopi hitam!). 2. Kamis: tiga stabilo. 3. Jumat: kopi tumpah, Bu O. tertawa. 4. Senin: payung dua, lari di bawah hujan. 5. Selasa: catatan kecil disimpan di laci kiri, tempat draf permintaan maaf. Kesimpulan: Pak Navin sedang jatuh cinta dan belum tahu.

Ia menutup tablet dengan senyum kecil, lalu menambahkan satu baris lagi: Observasi lanjutan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!