Karakter sesuai judul, jadi jangan di judge lagi ya Readers ...
Marissa, 19 tahun. Gadis berwajah cantik dengan tubuh yang seksi dan nyaris sempurna.
Ia tergila-gila pada seorang duda berusia 39 tahun, Marcello Alexander. Seorang Owner sekaligus CEO dari Antariksa Group, perusahaan besar yang bergerak dalam bidang Otomotif.
Namun, sayangnya kisah cinta Marissa harus pupus tatkala ia mengetahui bahwa Marcello adalah seseorang yang pernah menjadi bagian dari dirinya.
Penasaran gak sih? Yukk ... ikuti cerita cinta mereka 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri!" hardik Fattan sembari melepaskan tubuhnya dari cengkeraman para Bodyguard Tuan Marcello.
"Baguslah, sekarang Anda keluar dan jangan pernah perlihatkan wajah Anda lagi disini!" sahut Joe
"Cih!" Fattan berdecih kesal sembari merapikan kemejanya yang berantakan akibat diseret para Bodyguard itu dengan sangat kasar.
Fattan melangkah menuju tempat parkir dan setibanya disana, ia segera melajukan mobilnya meninggalkan Mansion megah milik Marcello.
"Semakin mereka menjagamu, Marissa! Semakin besar tekadku ingin memiliki dirimu," gumam Fattan dengan wajah kesal.
Sementara itu,
"Daddy, Icha mau dibawa kemana?!" rintih Marissa sembari mencoba melepaskan cengkeraman Marcello dari lengannya.
Lelaki itu masih kesal, ia bahkan tidak ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis itu. Marcello terus menuntun Marissa hingga mereka tiba di kamarnya.
"Masuk!" titah Marcello sembari melepaskan cengkeraman tangannya.
"Iya, iya, baiklah!" kesal Marissa sambil mengelus lengannya yang terasa sakit akibat cengkeraman Daddy-nya .
Setelah Marissa masuk kedalam kamar, ternyata Marcello pun ikut masuk. Marissa menghampiri tempat tidurnya kemudian duduk disana.
"Heh, siapa yang suruh kamu duduk? Sini, ikut Daddy!" titahnya lagi.
Marissa menekuk wajahnya. Namun, ia tetap mengikuti perintah lelaki itu. "Baiklah, sekarang kemana?!" tanya Marissa. Ia bangkit dari posisi duduknya kemudian menghampiri Marcello.
"Ke kamar mandi!" sahut Marcello seraya melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
"Eh, Daddy ngapain ngajak Icha ke kamar mandi? Jangan bilang Daddy mau mandi bareng Icha, ya!" celetuk Marissa.
"Dasah bocah! Yang ngajakin kamu mandi bareng siapa?! Memangnya tadi Daddy bilang begitu?! Geer," kesal Marcello.
Marissa pun akhirnya mengalah dan mengikuti langkah Marcello menuju kamar mandi. Lelaki itu berhenti tepat didepan westafel.
"Bersihkan mulutmu!" titah Marcello dengan wajah serius menatap Marissa.
"Apa?!" pekik Gadis itu.
"Aku bilang, bersihkan, ya, bersihkan! Bukankah tadi bibirmu itu menyentuh bibir Dosen menyebalkan itu?! Sebaiknya, bersihkan sampai benar-benar bersih!" ucap Marcello dengan wajah malas menatap Marissa.
"Tapi, kami ti ...."
"Lakukan!" tegas Marcello.
Marissa membuang napas kasar sambil menekuk wajahnya. Ia meraih pembersih mulut kemudian berkumur-kumur dengannya.
Beberapa kali Marissa melirik Marcello dan ternyata lelaki itu masih saja memperhatikan dirinya.
"Sudah?!" tanya Marissa setelah ia selesai berkumur-kumur.
"Sekali lagi!" titah lelaki itu.
"Tapi,"
"Sekali lagi!" tegasnya.
Marissa menghembuskan napas kasar sekali lagi dan kembali berkumur-kumur dengan pembersih mulut seperti perintah Marcello. Setelah selesai berkumur-kumur untuk yang kedua kalinya, Marissa memasang wajah malas sembari menatap Lelaki itu.
"Bagus, anak baik!" ucap Lelaki itu sembari meraih lengan Marissa kemudian menuntun Gadis itu kembali ke kamarnya.
"Sekarang tidurlah dan renungkan semua kesalahanmu," ucap lelaki itu.
"Apa!!!" pekik Marissa.
Marissa berlari mengejar Marcello yang sudah hampir diambang pintu kamarnya.
"Dad, Icha tidak melakukan kesalahan apapun, kenapa Daddy malah menghukum Icha?!" tanya Marissa dengan setengah berteriak.
Marcello tersenyum kecut, "Aku akan buat perhitungan kepada Dosen menyebalkan itu, Cha! Lihat saja nanti," ucap Marcello.
"Ingat, Dad! Jika Daddy berani menyentuh Fattan sedikit saja, maka aku akan pergi dari rumah ini!" ancam Marissa.
Marcello tidak peduli, ia kembali meneruskan langkahnya.
"Aku serius, Dad!" tegas Marissa dengan wajah serius menatap punggung Marcello.
Lelaki itu menghembuskan napas berat. Namun, ia tidak menghentikan langkahnya. Marcello meraih gagang pintu kamar kemudian menutupnya dengan cepat.
"Dad, Daddy!" teriak Marissa sembari menggedor-gedor pintu kamarnya.
"Pelayan, tetaplah berjaga disini. Siapa tahu Gadis kecilku membutuhkan sesuatu," ucap Marcello kepada salah satu Pelayannya.
"Baik, Tuan!" sahut Pelayan itu.
Marcello segera meninggalkan kamar Marissa kemudian menuju ruangan pribadinya. Setibanya disana, Marcello segera menjatuhkan tubuhnya diatas sofa yang ada diruangan itu sembari menatap langit-langit.
"Bagaimana dengan pestanya, Tuan? Pesta masih berlangsung hingga sekarang," tanya Joe yang baru saja tiba di ruangan itu.
"Biarkan saja mereka, aku sudah tidak ingin kembali ke pesta itu. Mood ku benar-benar sudah hancur," sahut Marcello tanpa menoleh kepada Joe.
"Nona Sarrah?"
Marcello memijit pelipisnya, ia bahkan sampai melupakan wanita itu. Wanita yang kini resmi menjadi tunangannya.
"Biarlah, disana masih banyak teman-temannya. Aku yakin, dia tidak akan merasa kesepian," sahutnya.
Joe menganggukkan kepalanya kemudian iapun pamit kepada Marcello yang masih terdiam di ruangan itu. Setelah berpamitan, Joe bergegas menuju ruangan, dimana pesta masih berlangsung. Ia dan para Bodyguard memantau jalannya pesta sambil berjaga-jaga.
Sementara itu,
Ternyata benar, Sarrah masih berada disana sambil berbincang-bincang bersama teman-teman sosialitanya. Sambil berbincang, Sarrah terus menggaruk-garuk jari manisnya yang terasa gatal.
"Kamu kenapa, Sarrah?! Dari tadi aku lihat kamu garuk-garuk terus?!" tanya salah satu temannya.
"Entahlah, jari manisku terasa sangat gatal!" sahut Sarrah.
"Wah, sayang sekali. Cincin mahal-mahal malah bikin gatal!" ejek salah satu sahabatnya sambil terkekeh.
"Aku serius loh, ini! Heran, kenapa aku merasa gatal, ya? Padahal harganya bikin geleng-geleng kepala, loh! Kalian pasti tidak akan mampu belinya." seru Sarrah.
...***...