"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Makanan Berbisa
Rantang itu terlalu mewah untuk perempuan yang sedang dibuang.
Empat susun, dari perunggu berukir bunga cempaka. Dayang muda yang membawanya meletakkannya di ambang pintu Srigading tanpa melangkah masuk, lalu mundur dengan kepala tertunduk. Ia tidak menunggu rantang itu dibuka. Ia bahkan tidak menunggu ucapan terima kasih.
Langkahnya terdengar tergesa-gesa di antara alang-alang, nyaris berlari.
Dyah Ayu membuka susunan pertama. Nasi putih yang dikukus dengan daun pandan, masih mengepul. Susunan kedua: pepes ikan gurami bumbu kuning. Ketiga: sambal terasi dan lalapan kemangi.
Susunan terakhir berisi mangkuk perunggu dengan tutup. Sup daging rusa berkuah santan kuning, dengan irisan serai dan daun jeruk yang mengambang. Aromanya kaya, gurih, membuat lambungnya yang kosong sejak pagi mengerut.
Di Srigading, tikus-tikus di atap ikut bergerak mendekat.
***
Ki Bongkok muncul dari balik rumpun alang-alang di halaman belakang, menyeret kakinya. Ia tidak datang dari arah gerbang. Ada lorong pelayan di sana, di bawah akar pohon asam, dan Dyah Ayu baru mengetahuinya pagi tadi.
Dari lipatan kainnya, lelaki tua itu mengeluarkan jarum perak sepanjang jari kelingking. Ujungnya mengilap, baru digosok.
"Milik Gusti Ratu," gumamnya. "Beliau memakainya untuk menguji wedang setiap malam. Sampai suatu malam beliau berhenti memakainya."
Dyah Ayu mengangkat tutup mangkuk sup. Uapnya menyentuh wajahnya.
Ki Bongkok mencelupkan jarum itu ke dalam kuah. Pelan. Ujung peraknya menembus lapisan minyak santan, menghilang di bawah permukaan kuning, terus turun sampai menyentuh dasar mangkuk dengan bunyi denting halus.
Ia menariknya keluar.
Ujung jarum yang tadi menyentuh dasar mangkuk sudah berubah warna. Kehitaman. Seperti jelaga yang melekat. Bagian atasnya, yang hanya menyentuh kuah di permukaan, hanya kusam sedikit.
"Serbuknya berat," bisik Dyah Ayu. "Turun ke dasar."
"Buang." Tangan Ki Bongkok gemetar. Jarum itu bergetar di antara jemarinya yang kering. "Hamba buang ke sumur sekarang juga. Lalu kita..."
"Tidak."
***
Ki Bongkok menatapnya seolah Dyah Ayu baru saja kehilangan akal.
"Gusti Selir..."
"Dengar aku, Ki." Dyah Ayu meletakkan tutup mangkuk itu kembali. Suaranya rendah dan cepat. "Kalau rantang ini kembali ke dapur dalam keadaan utuh, mereka tahu aku tahu. Kalau rantang ini kembali kosong dan besok pagi aku berjalan-jalan di taman dengan sehat, mereka tahu aku tahu."
"Lalu apa bedanya? Gusti tetap hidup."
"Bedanya, mereka akan bertanya bagaimana aku tahu." Ia menatap lurus ke mata keruh lelaki tua itu. "Siapa yang melihat kantong kain hitam itu pagi tadi? Siapa yang menyapu di belakang dapur sesaji? Siapa yang punya mata di setiap lorong pelayan?"
Ki Bongkok membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
"Nyi Ageng Rukmi tidak bodoh. Dalam tiga hari, ia akan menemukan Ki. Dan kali ini, mereka tidak akan memukul punggung Ki dengan gada." Dyah Ayu menyentuh tangan tua itu. "Mereka akan menutup sumur dengan Ki di dalamnya."
Diam. Hanya derit pintu yang diganjal batu bata. Tok. Tok.
"Aku butuh mereka percaya racunnya bekerja. Aku butuh mereka untuk merayakannya. Orang yang merasa sudah menang berhenti berhati-hati." Ia mengangkat mangkuk itu dengan dua tangan. "Dan aku butuh mereka mengirim seseorang ke sini untuk memastikan mayatku."
"Gusti akan mati."
"Ibuku pernah merawat seorang pedagang garam dari Tuban yang diracun Sembilu oleh saingannya." Dyah Ayu memutar mangkuk itu perlahan, mengamati kuah yang beriak. "Ia meminum satu mangkuk penuh, sampai ke dasarnya. Ia mati sebelum subuh. Tetapi istrinya, yang hanya mencicipi kuah di permukaan untuk memeriksa garamnya, muntah darah dan demam selama tiga hari. Lalu sembuh."
Ia mengambil sendok kayu dari rantang.
"Racunnya di dasar. Aku hanya akan mengambil dari permukaan. Dua suap."
"Dan kalau Gusti salah hitung?"
Dyah Ayu tidak langsung menjawab.
"Siapkan air garam yang pekat dan arang kayu yang ditumbuk halus," ucapnya akhirnya. "Kalau aku berhenti muntah, lalu mulai menggigil tanpa keringat, paksa aku meminumnya. Paksa aku muntah sampai yang keluar hanya air. Kalau aku masih berkeringat dan meracau, biarkan saja."
"Bagaimana hamba tahu Gusti meracau atau sekarat?"
"Kalau aku masih bisa mengumpatmu, Ki, artinya aku masih hidup."
Ki Bongkok tidak tertawa.
***
Dyah Ayu memakan nasi pandan lebih dulu. Banyak. Ia mengunyahnya pelan, memaksa setiap suapan turun ke lambung sampai perutnya terasa penuh dan berat. Nasi yang menumpuk di lambung akan menyerap sebagian racun, kata ibunya. Memperlambatnya.
Lalu ia mengangkat sendok kayu.
Ia menyendok kuah dari permukaan paling atas, dari bagian yang berminyak, menghindari irisan daging dan serai yang mengendap. Tangannya stabil. Ia memperhatikan sendok itu dengan tenang, seolah sedang menakar garam untuk masakan.
Ia meniupnya. Lalu meminumnya.
Gurih. Santan, kunyit, serai. Tidak ada rasa aneh sedikit pun. Tidak ada pahit, tidak ada getir. Itulah yang membuat Sembilu ditakuti. Lidah tidak pernah memperingatkan apa-apa.
Suapan kedua.
Ia meletakkan sendok. Menutup mangkuk. Mendorong rantang itu menjauh dengan ujung jarinya.
"Sisakan separuh sup di mangkuk," katanya pada Ki Bongkok. "Buang separuhnya ke parit di belakang. Biarkan seolah aku memakannya dengan lahap dan berhenti karena mulai merasa sakit."
Ki Bongkok mengangguk. Tangannya masih gemetar saat mengangkat mangkuk itu.
Lalu mereka menunggu.
***
Sepemakan sirih, tidak ada apa-apa.
Dua pemakan sirih. Dyah Ayu duduk bersila di lantai jati, punggungnya tegak, mendengarkan tikus berlari di atap. Pelita berkedip. Di luar, jangkrik mulai bersahutan.
Lalu rasa itu datang.
Pertama, hanya rasa hangat di ulu hati. Seperti meminum wedang jahe yang terlalu pekat. Kemudian hangat itu menyebar ke atas, ke dada, ke pangkal tenggorokan, berubah menjadi panas. Menjadi bara.
Rasa besi cair menggenang di pangkal lidahnya. Ia menelannya. Rasa itu kembali, lebih pekat.
Keringat mengalir dari pelipis ke rahangnya. Tangannya yang tadi stabil kini bergetar hebat. Ia mencengkeram lututnya sendiri sampai kukunya menancap ke kulit melalui kain jarik.
Lambungnya mengejang. Sekali. Dua kali.
Ia membungkuk dan muntah ke lantai. Nasi pandan, santan kuning, dan merah. Merah gelap, bergaris-garis, seperti benang yang terurai di genangan air.
"Gusti!"
"Sekarang," bisik Dyah Ayu. Suaranya serak, terbakar. "Pergi sekarang, Ki."
Ki Bongkok tidak bergerak. Ia menatap darah di lantai, wajahnya pucat di bawah keriput-keriputnya.
"Sekarang."
Lelaki tua itu tersentak, lalu berbalik. Dengan punggung bengkoknya, ia terhuyung keluar pintu Srigading. Dyah Ayu mendengar suaranya pecah di halaman, melengking dan parau, menggema di dinding-dinding Keputren yang sepi.
"Tolong! Tabib! Selir Utama sekarat! Gusti Selir muntah darah! Penyakit! Penyakit mendadak!"
Suara itu menjauh. Lalu dari kejauhan, terdengar pintu-pintu paviliun lain yang terbuka. Langkah kaki. Bisikan.
Dyah Ayu ambruk ke samping.
***
Lantai jati itu dingin di pipinya yang terbakar demam.
Ia berbaring meringkuk, lututnya ditarik ke dada. Kain kembennya basah kuyup oleh keringat dingin. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan bara dari anglo. Dadanya terbakar dari dalam, seolah seseorang menuangkan minyak mendidih ke dalam rongga rusuknya.
Ia muntah lagi. Lebih sedikit kali ini. Lebih merah.
Masih berkeringat, pikirnya. Masih berkeringat. Bagus.
Di luar Srigading, suara Ki Bongkok sudah lama menghilang.
Yang menggantikannya adalah suara lain. Sayup-sayup, dari arah paviliun-paviliun di pusat Keputren. Gamelan. Pelan, lalu semakin jelas. Tembang yang riang, dengan kendang yang ditabuh cepat.
Seseorang sedang berpesta.
Dyah Ayu tertawa. Tawa itu keluar sebagai batuk, dan batuk itu membawa lebih banyak rasa besi ke mulutnya. Ia meludahkannya ke lantai.
Pelita kehabisan minyak. Nyalanya mengecil, berkedip, lalu padam. Bilik itu tenggelam dalam gelap. Hanya cahaya bulan yang menyelinap dari celah atap bocor, membentuk tiga garis pucat di lantai.
Di dalam gelap itu, dinding-dinding mulai bergerak.
Bercak-bercak jamur putih di dinding membesar, berdenyut. Ia melihat bayangan ibunya duduk di sudut bilik, menumbuk daun-daunan di lumpang batu. Ibunya tidak menoleh. Hanya terus menumbuk, dan setiap tumbukan menggema di kepala Dyah Ayu. Duk. Duk. Duk.
Ia tahu bayangan itu tidak nyata. Ia memaksa matanya terbuka lebih lebar, menatap garis cahaya bulan di lantai. Menghitung.
Satu tarikan napas. Panas. Dua. Panas. Tiga.
Keringat di dahinya mulai berkurang.
Dyah Ayu menyadarinya perlahan. Kulitnya yang tadi basah kini mulai terasa kering dan panas. Seluruh tubuhnya mulai menggigil, giginya bergemeletuk tanpa bisa dikendalikan.
Menggigil tanpa keringat.
Ia mencoba memanggil Ki Bongkok. Yang keluar hanya bisikan serak yang tenggelam oleh suara gamelan dari kejauhan.
Air garam ada di kendi dekat pintu. Arang tumbuk di mangkuk tanah liat. Enam langkah dari tempatnya berbaring. Ia menekan telapak tangannya ke lantai, mencoba mendorong tubuhnya untuk bangkit.
Lengannya tidak menjawab. Tubuhnya hanya bergeser sejengkal, lalu ambruk lagi. Pipinya membentur papan jati.
Garis-garis cahaya bulan mulai kabur. Bunyi lumpang batu ibunya semakin pelan. Duk. Duk.
Duk.
Lalu bunyi lain memotongnya. Bukan lumpang.
Derap kaki. Berat. Cepat. Melintasi alang-alang di halaman, menginjak batu, menghantam papan teras.
Bunyi logam beradu dengan logam di setiap langkah.
Pintu Srigading yang berkarat itu didobrak dari luar. Engselnya yang tinggal satu terlepas sepenuhnya. Daun pintu jati menghantam lantai dengan dentuman yang mengguncang seluruh paviliun, menerbangkan debu dan serpihan kayu.
Di ambang pintu, berdiri sesosok lelaki yang membelakangi cahaya bulan. Tubuhnya tinggi dan lebar, terbungkus zirah logam yang berkilau suram. Bahunya naik-turun dengan cepat. Napasnya terdengar keras dan tersengal, seperti baru saja berlari sepanjang separuh keraton.
Bau hujan dan besi memenuhi bilik itu.
Lelaki itu melangkah masuk. Zirahnya berdentang. Dan dalam kegelapan, Dyah Ayu tidak bisa melihat wajahnya.
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..