Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 — Rumah Prasetya (Revisi)
“Ibu sudah bilang berkali-kali, Danang itu laki-laki. Jangan ditahan kalau dia mau pergi.”
Marlina duduk di sofa panjang ruang tengah dengan kaki bersilang. Cincin zamrud di jarinya berkilat setiap kali ia mengibaskan kipas. Raras berdiri di depannya, belum dipersilakan duduk. Ia datang langsung dari rumah, masih mengenakan kebaya yang dipakainya pagi tadi. Punggung tangan kanannya dibalut kain kasa seadanya.
“Tanganmu kenapa? Mau cari simpati?”
“Kena teh panas, Bu. Tadi pagi di rumah saya sendiri. Ibu mau lihat?”
“Nggak perlu.”
“Kalau begitu, saya lanjut. Saya tidak menahan Mas Danang.”
“Tidak menahan? Niken bilang kamu bersikap kasar padanya tadi pagi.”
“Saya menyuguhkan teh, Bu. Dia juga cerita soal itu?”
“Raras!”
“Duduk, Raras,” kata Surya dari kursi rotan dekat jendela tanpa mengangkat mata dari korannya. “Jangan berdiri seperti orang yang sedang diadili.”
Raras duduk di tepi kursi. Dari ujung meja makan, Dimas mengamatinya sebentar, lalu menggeser kotak tisu ke arahnya tanpa bicara. Raras melihatnya, tetapi tidak mengambilnya.
“Saya datang bukan untuk bertengkar, Pak, Bu. Saya mau bertanya.”
“Tanya apa?” Marlina mengibaskan kipasnya. “Danang sudah memutuskan. Niken anak baik. Ibu rasa dia lebih cocok mendampingi Danang.”
“Karena Niken lulusan luar negeri? Karena bahasa Inggrisnya lancar dan dia bisa bicara dengan relasi Mas Danang?”
“Kamu menyindir Ibu?”
“Tidak, Bu. Saya cuma ingin tahu apa yang membuat dia lebih cocok.”
“Jangan memutar kata-kata.”
“Saya tidak memutar kata-kata. Saya bertanya.”
Raras menatap Marlina.
“Pagi ini Ibu memanggil Niken dengan sebutan Nduk. Saya dengar sendiri.”
Kipas Marlina berhenti. “Itu cuma panggilan.”
“Tiga tahun saya menunggu Ibu memanggil saya begitu.”
“Kenapa harus mempermasalahkan panggilan?”
“Saya tidak mempermasalahkannya. Saya ingin tahu kenapa Ibu bisa memanggil dia begitu, tapi tidak pernah memanggil saya begitu selama tiga tahun.”
“Kamu terlalu baper, Ras. Ibu bebas memanggil siapa pun.”
“Betul, Bu. Tapi Ibu tahu saya selalu berharap dianggap keluarga.”
Marlina membuang muka. Surya melipat korannya perlahan.
“Kita tidak sedang membahas panggilan. Danang sudah mengambil keputusan. Keluarga ini tidak akan menghalanginya.”
“Bapak dan Ibu sudah memutuskan semuanya sebelum bicara dengan saya.” Raras menatap Surya. “Ibu mengundang Niken ke rumah ini sejak sebulan lalu. Saya baru tahu semalam.”
“Ibu cuma ingin mengenalnya.”
“Kenapa Ibu tidak mengenalkan dia kepada saya?”
Marlina tidak menjawab. Dimas menunduk menatap laptopnya, tetapi jarinya berhenti mengetik.
“Ibu tahu Mas Danang menandatangani surat itu tiga hari lalu?”
“Tahu.”
“Ibu menyuruhnya?”
“Ibu hanya memberi saran.”
“Saran untuk menceraikan saya?”
“Jangan menuduh, Raras,” kata Surya.
“Saya belum menuduh, Pak. Saya bertanya. Kalau memang bukan begitu, Bapak bisa menjelaskannya.”
“Mas Danang di mana sekarang?” tanya Raras.
“Di kantor. Kami menyuruhnya tidak ikut,” jawab Surya.
“Jadi Bapak dan Ibu memang mengatur pertemuan ini tanpa Mas Danang.”
“Kami tidak perlu menjelaskan semua urusan keluarga kepadamu,” kata Marlina.
Raras mengangguk pelan. “Baik. Setidaknya sekarang saya tahu.”
Marlina mendengus. “Jangan memasang wajah korban di rumah ini.”
“Saya tidak berpura-pura, Bu. Saya memang terluka.”
“Saya mau bertanya satu hal lagi, Pak.” Raras mengeluarkan map dari tas, membuka halaman kedua, lalu meletakkannya di meja. “Siapa yang menyusun kalimat pertama di halaman ini?”
Surya meliriknya. “Pengacara keluarga.”
“Mas Danang bilang dia membayar pengacaranya sendiri.”
“Keluarga yang menunjuk, Danang yang membayar. Apa masalahnya?”
“Siapa yang menentukan isi suratnya, Pak?”
“Itu urusan pengacara. Surat perceraian memang harus punya alasan.”
“Tapi alasan di sini menyebut saya sebagai penyebabnya. Apa dasar tuduhan itu?”
“Tidak semua masalah rumah tangga perlu dijelaskan kepadamu satu per satu.”
“Saya yang dituduh, Pak. Saya berhak tahu.”
“Jangan membesar-besarkan masalah.”
Raras mengepalkan jemari yang terbalut kasa di pangkuannya.
“Selama tiga tahun saya tidak meninggalkan rumah, tidak pernah bertengkar besar dengan Mas Danang, dan tidak pernah mengadu tentang keluarga ini. Kalau saya memang bersalah, katakan kesalahan saya.”
“Jangan dibawa ke hukum, Raras,” sela Marlina. “Keluarga ini punya nama. Kami tidak mau ribut. Danang itu anak Ibu. Ibu tahu yang terbaik untuknya.”
“Ibu tahu yang terbaik untuk Mas Danang. Tapi siapa yang memikirkan saya?”
“Wis, ora usah dawa-dawa (sudah, tidak usah panjang-panjang).”
“Saya juga tidak mau ribut, Bu. Saya hanya tidak mau menandatangani surat yang menyalahkan saya atas sesuatu yang tidak saya lakukan.”
“Ojo ngeyel, Raras (jangan keras kepala).” Marlina menutup kipasnya dengan bunyi tajam. “Dengar baik-baik. Kamu masuk keluarga ini tanpa membawa apa-apa. Danang yang membuat hidupmu lebih baik. Sekarang, tahu diri.”
Ruangan itu hening. Jam dinding berdetak di antara mereka.
Raras menunduk sebentar. Panas menjalar dari dadanya hingga ke mata. Ia menarik napas, lalu kembali menatap Marlina.
“Saya menikah dengan Mas Danang, Bu. Bukan dengan hartanya.”
“Kamu mau bilang kamu tidak menikmati hidup dari uang Danang?”
“Saya tidak pernah menyangkal bantuan Mas Danang. Saya berterima kasih. Tapi itu tidak berarti saya harus menerima semua perlakuan keluarga ini.”
“Kamu mau mengungkit apa yang sudah kamu lakukan untuk Danang?”
“Saya tidak minta dibalas. Saya hanya tidak mau dianggap tidak berguna setelah tiga tahun mendampinginya.”
“Bapak yang menyekolahkan Danang,” kata Surya. “Bapak yang mengenalkannya kepada Hartono. Bapak yang membukakan jalan untuk usahanya.”
“Saya tahu, Pak. Saya berterima kasih atas semua itu.”
“Kalau begitu, tahu diri.”
“Cukup.” Surya meletakkan korannya. Tatapannya dingin. “Raras, Bapak bicara terus terang. Danang butuh istri yang bisa mendampinginya di depan relasi dan membawa nama keluarga. Kamu baik, tapi kamu tidak cocok untuk peran itu.”
“Saya pernah mendampingi Bapak bertemu Pak Hartono. Beliau bilang saya sopan.”
“Sopan saja tidak cukup.”
“Kalau begitu, apa yang kurang dari saya, Pak? Katakan dengan jelas.”
“Kamu tidak cocok.”
“Itu bukan jawaban. Saya ingin tahu apa yang membuat Bapak menilai saya tidak cocok.”
“Kamu terlalu banyak bertanya,” kata Marlina.
“Karena tidak ada yang mau menjawab.”
“Raras!” bentak Marlina.
“Biar dia bicara,” kata Dimas pelan.
Semua menoleh kepadanya. Dimas tidak menambahkan apa-apa. Ia hanya menatap Raras sebentar, lalu kembali melihat laptopnya.
Raras menarik napas. Tangannya yang terluka berdenyut, tetapi ia tidak menyembunyikannya.
“Pak, Bu, saya tidak datang untuk meminta Mas Danang tetap menjadi suami saya. Saya tahu dia sudah memilih.” Raras menyentuh map di meja. “Saya hanya minta satu hal. Hapus kalimat yang menyalahkan saya. Saya akan membaca bagian lainnya, lalu kita selesaikan dengan adil.”
“Tanda tangan dulu,” kata Surya.
“Saya tidak akan menandatangani surat yang isinya tidak benar.”
“Kalau kamu tidak tanda tangan, pengacara tidak bisa menyelesaikannya.”
“Pengacara bisa memperbaikinya kalau Bapak dan Mas Danang setuju.”
Surya menyipitkan mata. Ruangan itu kembali sunyi.
“Dengar baik-baik,” katanya. “Kalau kamu tidak tanda tangan, jangan berharap keluarga ini akan membantumu. Tidak ada tunjangan. Tidak ada bantuan. Pulang saja ke orang tuamu dengan tangan kosong.”
“Itu ancaman, Pak?”
“Itu akibat dari keputusanmu sendiri.”
Raras berdiri. Ia merapikan kebayanya, mengambil map itu, lalu memasukkannya kembali ke tas.
“Saya tidak pernah meminta uang dari keluarga ini, Pak. Saya datang tanpa harta, dan saya tidak pernah meminta-minta.”
“Tangan kosong,” kata Marlina sinis. “Kebaya yang kamu pakai itu pun dibeli dengan uang Danang.”
“Kebaya ini hadiah dari ibu saya waktu menikah, Bu. Kalau Ibu ingin menghitung semua yang saya miliki, silakan. Tapi jangan mengarang.”
Marlina membuka mulut, tetapi tidak segera menjawab.
“Pastikan dia tidak membawa barang yang bukan miliknya, Dimas,” kata Surya dingin.
“Yang saya bawa hanya tas dan map ini, Pak. Map ini pun salinan.”
Raras membungkuk sedikit.
“Nuwun sewu, kula pamit (permisi, saya pamit). Terima kasih sudah menerima saya selama tiga tahun.”
Dimas berdiri dari kursinya.
“Saya antar sampai gerbang, Mbak. Saya mau mengantar, bukan karena disuruh.”
“Tidak usah, Mas Dimas.”
“Saya minta maaf atas sikap Bapak dan Ibu.”
“Jangan minta maaf untuk orang lain,” kata Raras lembut. “Mas tidak bertanggung jawab atas ucapan mereka.”
Dimas terdiam sebentar. “Nomor saya masih sama, Mbak.”
“Saya ingat, Mas.”
Raras berjalan keluar dengan punggung tegak. Pagar besi menutup di belakangnya dengan dentang berat.
Kali ini, ia tidak menoleh. Di luar pagar, ia berhenti sebentar untuk mengatur napas. Ia masih terluka, tetapi setidaknya kali ini ia sudah menyampaikan batas yang tidak akan ia biarkan dilanggar lagi.
lanjuut
🙏💪