NovelToon NovelToon
Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: isd

Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Untuk KKN

Pagi itu, halaman kampus sudah dipenuhi mahasiswa sejak pukul enam. Mereka berdiri dalam kelompok masing-masing dengan jaket almamater kampus.

Beberapa koper dan tas carrier telah disusun di dekat bus besar yang terparkir di pinggir lapangan.

“Semua barang sudah lengkap, kan?” tanya Keira kepada teman-teman satu kelompoknya.

“Lengkap!” jawab mereka hampir bersamaan.

Keira mengangguk pelan.

Ia berusaha memasang wajah biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, sebenarnya pikirannya masih dipenuhi percakapan bersama Arsen semalam.

Ucapan pria itu tentang perceraian setelah KKN terus terngiang di kepalanya.

Tidak lama kemudian, Arsen muncul dari arah gedung kampus dan menghampiri rombongan mahasiswa.

Penampilannya sudah rapi dengan kemeja yang dikenakan sebagaimana seorang dosen. Wajahnya kembali tenang dan dingin, seakan pertengkaran mereka di rumah tidak pernah terjadi.

Kini, ia sepenuhnya menunjukkan sosok seorang dosen pembimbing.

“Sudah sarapan semuanya?” tanyanya kepada para mahasiswa.

Beberapa mahasiswa mengangguk.

“Kalau begitu, segera naik ke bus. Kita akan berangkat sebentar lagi.”

Para mahasiswa mulai mengambil barang masing-masing dan bergerak menuju bus.

Keira sempat melirik Arsen.

Aneh rasanya melihat pria itu bersikap begitu formal kepadanya.

Di kampus, mereka benar-benar terlihat seperti dua orang yang tidak memiliki hubungan apa pun.

Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa setelah meninggalkan kampus, mereka akan pulang ke rumah yang sama.

Tidak ada yang tahu bahwa mereka bahkan berbagi kamar dan ranjang yang sama setiap malam.

Mungkin, memang lebih baik semuanya tetap menjadi rahasia.

“Aku belum sarapan. Aku mau beli makanan sebentar,” ujar Keira tiba-tiba.

Arsen menoleh sekilas.

“Jangan lama. Lima belas menit lagi kita berangkat.”

Keira hanya mengangguk kecil sebelum berjalan menuju minimarket yang berada tidak jauh dari gerbang kampus.

Suasana di dalam minimarket masih cukup sepi.

Keira langsung menuju rak makanan dan mengambil dua bungkus roti cokelat.

Namun, tangannya mendadak berhenti.

Pikirannya kembali mengingat kejadian pagi tadi.

Mereka bangun terlambat karena alarm yang berbunyi berkali-kali tidak juga membuat keduanya terjaga. Akibatnya, mereka hanya sempat mandi dan bersiap secepat mungkin sebelum berangkat ke kampus.

Tidak ada waktu untuk menyiapkan sarapan.

Keira menatap dua bungkus roti yang berada di tangannya.

Satu untuk dirinya.

Dan satu lagi...

Untuk Arsen.

Ia terdiam.

“Kenapa aku masih mikirin dia?” gumamnya pelan.

Namun, wajah Arsen dari percakapan semalam kembali muncul dalam ingatannya.

Suara dingin pria itu ketika mengatakan bahwa sejak awal mereka tidak pernah saling memilih.

Keira mengembuskan napas panjang.

Ia kembali menaruh satu bungkus roti ke rak.

“Peduli amat sama dia.”

Kali ini ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Keira hanya membawa satu roti dan sebotol air mineral ke kasir. Setelah membayar, ia segera kembali menuju lapangan kampus.

Dari kejauhan, bus terlihat semakin ramai.

Sebagian besar mahasiswa sudah berada di dalam. Sementara itu, Arsen berdiri di dekat pintu bus sambil memegang daftar hadir.

Tatapannya serius ketika memeriksa satu per satu mahasiswa yang masuk.

Begitu melihat Keira datang, Arsen melirik jam tangannya.

“Masih sesuai waktu,” ucapnya singkat.

Keira tidak menjawab.

Ia langsung menaiki bus dan memilih kursi di bagian tengah bersama dua orang temannya.

Beberapa saat kemudian, Arsen ikut masuk.

Sebagai dosen pembimbing, ia duduk di kursi bagian paling depan.

Sebelum duduk, pandangannya sempat bergerak ke arah belakang.

Entah apa yang sedang dicarinya.

Sampai akhirnya matanya berhenti pada Keira.

Perempuan itu sedang membuka bungkus roti yang baru dibelinya.

Keira merasakan tatapan tersebut.

Namun, ia memilih berpura-pura tidak menyadarinya. Ia malah sibuk mengobrol dengan kedua temannya sambil menggigit rotinya.

Tak lama kemudian, suara mesin bus terdengar.

Bus perlahan meninggalkan halaman kampus dan mulai melaju menuju lokasi KKN.

Suasana di dalam bus pun semakin ramai.

Ada mahasiswa yang bernyanyi, beberapa sibuk bercanda, sementara yang lainnya memilih tidur karena masih mengantuk.

Arsen duduk diam di kursi depan sambil memandang jalan melalui kaca bus.

Tanpa sadar, tangannya menyentuh perutnya sendiri.

Ia lapar.

Baru sekarang ia menyadari bahwa sejak bangun tadi pagi, tidak ada makanan yang masuk ke perutnya sama sekali.

Sesaat, pikirannya tertuju pada Keira.

Entah mengapa ia sempat berharap perempuan itu akan mengingatkannya untuk sarapan.

Atau setidaknya bertanya apakah dirinya lapar atau tidak.

Namun, Arsen segera menggeleng kecil.

Harapan seperti itu memang tidak masuk akal.

Mereka bahkan baru saja membicarakan perceraian.

Jadi, untuk apa ia berharap Keira masih memedulikannya?

Arsen kembali menatap jalan di depannya, berusaha mengabaikan rasa lapar sekaligus perasaan aneh yang sejak tadi mengganggu pikirannya.

Di tengah perjalanan, seorang mahasiswa tiba-tiba berdiri dari kursinya dan berjalan menuju bagian depan bus.

“Pak Arsen, untuk pembagian posko nanti bagaimana, Pak?” tanyanya.

Arsen yang sejak tadi memperhatikan jalan langsung mengalihkan perhatiannya kepada mahasiswa tersebut.

“Untuk pembagian posko, nanti kalian akan dibagi berdasarkan kelompok yang sudah ditentukan. Setelah sampai di lokasi, saya akan menjelaskan pembagiannya lebih lengkap,” jawab Arsen dengan suara tenang.

Ia kemudian menjelaskan beberapa hal terkait tempat tinggal, aturan selama KKN, serta pembagian tugas yang harus mereka jalankan.

Tidak ada nada keras dalam suaranya. Ia menjelaskan semuanya dengan runtut sehingga para mahasiswa bisa memahami dengan mudah.

Keira yang duduk beberapa baris di belakang tanpa sadar memperhatikannya.

Ada sesuatu yang membuatnya sedikit heran.

Saat berada di kampus, Arsen memang terkenal tegas. Namun, ternyata pria itu juga bisa menjelaskan sesuatu dengan sabar dan tidak selalu bersikap dingin seperti yang selama ini ia lihat di rumah.

Keira menghela napas pelan.

Kenapa kalau di rumah dia gak bisa bersikap seperti ini, sih?

Ia sendiri tidak mau mengakui bahwa ada sedikit rasa kagum melihat sisi Arsen yang jarang ia temui.

Tiba-tiba—

Bruk!

Bus berguncang cukup keras ketika roda melewati jalan yang berlubang.

Beberapa mahasiswa spontan berteriak kecil. Ada pula yang hampir terjatuh dari tempat duduknya.

Keira refleks mencengkeram sandaran kursi di depannya.

Arsen langsung berdiri untuk memastikan keadaan seluruh mahasiswa.

“Semua aman?” tanyanya.

Beberapa mahasiswa mengangguk.

“Kalau begitu, duduk yang benar. Jangan berdiri selama bus masih berjalan,” tegurnya.

Setelah memastikan tidak ada yang terluka, Arsen kembali ke kursinya.

Namun, sebelum duduk sepenuhnya, matanya tanpa sengaja kembali mengarah ke belakang.

Tepat ke arah Keira.

Pandangan mereka bertemu.

Hanya beberapa detik.

Tidak ada senyum.

Tidak ada kata-kata.

Hanya tatapan singkat yang kemudian sama-sama mereka hindari.

Keira segera mengalihkan wajahnya ke jendela, sementara Arsen kembali menghadap ke depan.

Bus terus melaju.

Perjalanan menuju lokasi KKN masih panjang.

Dan tanpa mereka sadari, dua bulan ke depan akan membuat mereka berada di tempat yang sama.

Mereka akan tinggal di desa yang sama, berada dalam lingkungan yang sama, dan bertemu hampir setiap hari.

Sesuatu yang selama ini mereka hindari justru tidak bisa lagi mereka hindari selama KKN berlangsung.

Keira menatap pemandangan di luar jendela.

Gedung-gedung tinggi yang sejak tadi memenuhi pandangannya perlahan menghilang. Pemandangan kota mulai berganti menjadi hamparan sawah, pepohonan, dan jalanan pedesaan.

Ia menyandarkan kepalanya pada kaca jendela.

“Dua bulan...” gumamnya lirih.

Entah kenapa, untuk pertama kalinya ia merasa dua bulan itu mungkin akan terasa jauh lebih lama dari yang dibayangkannya.

1
Annisa
lanjut Thor!
isd: love you buanyak² buat yang udah dukung author ❤❤
total 1 replies
Chenyu Wang
critanya menggemaskan Thor jadi bapper hihi lanjut sampe tamat ya anda luar biasa
Chenyu Wang: 🙏😍 semangat author luar biasa
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!