NovelToon NovelToon
Memanjakan Istriku Cukup Minta, Kuberikan

Memanjakan Istriku Cukup Minta, Kuberikan

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Tamat
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Naysol C.

Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.

Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.

Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."

Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

— Emira —

Namaku Emira Prawira, usiaku dua puluh tiga tahun. Semua orang selalu bilang aku cantik, dan aku cukup beruntung terlahir di salah satu keluarga terpandang dan berada di negeri ini.

Sejak dulu, garis keturunan keluarga Prawira selalu melahirkan anak laki-laki. Tapi aku lahir sebagai perempuan, anak tunggal sekaligus pewaris. Aku tidak diizinkan memimpin perusahaan ayahku, sebab hanya laki-laki yang boleh melakukannya.

Sejak aku lahir, seluruh hidupku sudah dirancang: bagaimana aku harus berpakaian, bagaimana aku harus bersikap, apa yang harus kusukai, dan bagaimana membiasakan diri pada hal-hal yang tak kusukai. Dengan kata lain, aku hanyalah boneka hidup tanpa kebebasan untuk berekspresi, merasa, atau memiliki selera sendiri. Aku dipaksa menyesuaikan diri dengan selera tunanganku, Marko Gunawan. Aku mengenalnya sejak berumur sepuluh tahun; keluarga kami sudah bersahabat turun-temurun.

Bisa dibilang, dulu kami hanya teman masa kecil, lalu saat remaja kami resmi menjadi sepasang kekasih. Bagiku, itulah satu-satunya hal baik yang pernah terjadi dalam hidupku — sejak pertama melihatnya, aku langsung menyukainya. Awalnya hubungan kami begitu indah, tapi seiring waktu, Marko berubah dingin dan menjauh dariku.

Aku salah satu dari empat sekretaris di kantor pusatnya. Orang tuaku memaksaku bekerja di perusahaannya agar aku bisa lebih dekat dengannya dan kelak menjadi Nyonya Gunawan. Marko memang pria yang sanggup membuat wanita mana pun bertekuk lutut — tinggi, bertubuh kekar, sosok yang membuat perempuan meneteskan air liur.

Saat ini aku berdiri di dalam ruangannya, menyaksikan langsung ia bermesraan dengan sekretarisnya, tepat di depan hidungku. Ia tak pernah sekali pun tersenyum padaku, tak pernah memperlakukanku selembut caranya memperlakukan sekretaris itu atau perempuan-perempuan lain.

Dengan suara menggoda, sekretaris itu berkata, "CEO Marko, bagaimana kalau rapat berikutnya kita adakan di Hotel White S?" Ia mencondongkan tubuh ke arah Marko sampai belahan dadanya terlihat.

Marko menarik pinggangnya hingga perempuan itu jatuh ke pangkuannya. "Ide bagus. Sekalian pesankan satu kamar, supaya setelahnya aku bisa bersantai." Lalu ia menoleh ke arahku, tunangannya, dan melempar tatapan dingin. "Ada apa? Tidak lihat aku sedang sibuk?"

Darahku mendidih mendengar penghinaan itu. Ia tahu betul aku menyimpan perasaan padanya, tapi tetap saja ia melukaiku seperti ini. Aku menggertakkan gigi dan berbicara setenang mungkin, berusaha agar ia tak melihat betapa kecewanya aku.

"Aku ke sini untuk mengingatkan, malam ini kita harus ke rumah orang tuamu."

"Cuma untuk itu kau datang...?" balasnya angkuh. "Soal makan malam nanti, aku akan sedikit terlambat. Kau duluan saja." Ia melirik sekretarisnya dengan tatapan menggoda. "Aku akan sangat sibuk."

"Tapi mereka bilang—"

"Kau tuli, ya?" potongnya berang. "Sudah kubilang aku sibuk. Sekarang keluar dari ruanganku."

"Maaf... aku permisi."

Aku berbalik sambil menahan air mata. Tapi begitu pintu tertutup, aku mempercepat langkah menuju toilet agar bisa menumpahkan tangisku. Aku tak bisa menghapus bayangan senyum dan kelembutan yang ia berikan pada perempuan lain, sementara aku selalu diperlakukan dengan cara terburuk — selalu marah, dan setiap kali aku mencoba menyentuhnya, ia hanya membalas dengan tatapan dingin tak acuh.

Ia hanya bersikap baik saat berada di depan orang tuanya, atau ketika kami sedang dalam sorotan media.

Dua puluh menit berlalu dan aku sudah sedikit lebih tenang, ketika tiba-tiba masuk pesan dari orang tua Marko, mengingatkan agar kami tidak datang terlambat.

Kenapa hidupku serumit ini? Aku tak ingin ada yang mengendalikanku dan menyuruhku melakukan ini-itu. Kenapa kami tak bisa menjadi sepasang kekasih yang normal?

Tetap saja, aku bertanya-tanya, mampukah suatu hari nanti aku mengungkapkan semua yang kurasakan. Aku bangkit untuk kembali ke meja kerjaku. Jam demi jam berlalu, sementara tunanganku mengurung diri bersama sekretarisnya di dalam ruangan. Setelah berjam-jam, perempuan itu keluar dengan wajah puas dan melempar tatapan jijik ke arahku sebelum berjalan menuju mejanya.

Pukul sembilan malam, kantor sudah gelap. Aku masih setia menunggu Marko yang bekerja di dalam ruangannya.

Aku mulai mondar-mandir, karena sudah waktunya ia keluar untuk menghadiri makan malam keluarga. Tapi aku takut mengganggunya dan membuatnya marah lagi. Setengah jam kemudian ia keluar dan mendapatiku tertidur di meja. Ia mendekat untuk membangunkanku — tapi ponselku tergeletak di sampingku, dan ia melihat pesan dari orang tuanya yang menanyakan keberadaan kami serta mengabarkan bahwa mereka menunggu. Marko mengernyitkan dahi, lalu membangunkanku dengan bentakan.

"HEI, BANGUN!"

"Mmm..." Aku mengucek mata dan menatapnya. "M-Marko, maaf, aku ketiduran."

"Kau ini merepotkan. Sudah kubilang jangan menungguku... kusuruh berangkat duluan."

Aku menunduk. "Maaf... tapi orang tuamu bilang kita harus datang bersama."

Marko berdecak. "Cih... menyebalkan. Cepat, kita berangkat."

Kami berjalan menuju tempat parkir, tapi langkah Marko terlalu lebar dan cepat untuk kuimbangi; dengan susah payah aku mencoba mengejarnya dengan sepatu hakku. Kami masuk ke mobil, tapi Marko tak sekali pun meliriku, tak menyadari bahwa pergelangan kakiku terluka dan lecet, membuatku meringis menahan sakit.

Setibanya di depan pintu rumah orang tua Marko, ia meraih tanganku dan mengubah ekspresi dinginnya menjadi tatapan lembut untukku. Sikap ini tak lagi mengejutkanku, karena aku tahu betul ia hanya berpura-pura agar tidak dimarahi atau dikritik orang tuanya.

Makan malam berjalan lancar; kami tertawa dan mengobrol dengan riang. Aku tak peduli bahwa keramahannya padaku hanyalah sandiwara — aku sudah cukup bahagia hanya karena ia mau menatapku. Tapi tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya, dan ia berdalih harus kembali ke kantor, katanya ada dokumen penting yang tertinggal di perusahaan. Ia mengecup keningku dan berpamitan pada orang tuanya untuk pergi.

Beberapa saat kemudian aku pun berpamitan pada pasangan Gunawan, tapi Bu Wulan menggenggam kedua tanganku dan berkata,

"Semua baik-baik saja dengan Marko?"

"Jangan khawatir, Bu... hubungan kami sangat baik. Kami akur, dan seperti yang Ibu lihat sendiri, ia memperlakukanku dengan lembut."

"Baguslah... tapi jangan ragu memberitahuku kalau Marko bersikap kasar padamu."

"Tentu saja. Selamat malam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!