JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: PILIHAN DI ATAS AMBANG MAUT
kedatangan helikopter dengan suara gemuruh. Baling-baling besar kendaraan udara itu berputar hingga, menciptakan embusan angin kencang yang menerbangkan debu-debu jalanan, kerikil tajam, serta cipratan air laut ke segala arah di sekitar area luar pabrik ikan. Rangga dan Bara bergerak dengan gerakan yang sangat cepat serta cekatan. Mereka berdua membopong tubuh Eksan yang saat ini sudah sepenuhnya kehilangan kesadaran, melangkah terburu-buru memasuki pintu kabin helikopter rahasia milik jaringan Black Cobra yang sengaja disiapkan untuk situasi paling darurat.
"Tekan terus bagian lukanya, Rangga! Denyut nadi di pergelangan tangannya terasa semakin melemah dan lambat!" teriakan Bara sangat kencang di saat situasi genting dan panik, dia melompat masuk ke kursi kokpit samping pilot untuk memandu jalur penerbangan udara mereka malam itu.
Rangga menggunakan seluruh sisa kekuatan tangannya untuk menekan kuat perban yang melilit perut kiri Eksan. Cairan merah pekat terus merembes keluar tanpa henti di sela-sela jarinya, membasahi kedua telapak tangannya yang mulai gemetar. Di samping tubuh besar Eksan yang terbaring lemah, Nasya duduk di lantai kabin helikopter yang dingin. Pakaian kasual hitam ia kenakan kini sudah benar-benar kotor dan basah oleh noda darah milik pria yang baru saja mempertaruhkan seluruh nyawa dan sisa napasnya demi bisa menyelamatkannya dari penyekapan. Nasya hanya bisa menggenggam erat telapak tangan kanan Eksan yang dari menit ke menit terasa semakin mendingin, sambil terus membisikkan doa keselamatan di tengah isak tangisnya dan kelelahan.
Helikopter hitam itu melesat dengan kecepatan penuh membelah kegelapan malam kota, menuju ke arah sebuah rumah sakit swasta rahasia di pinggiran distrik barat yang seluruh operasionalnya telah dibeli secara legal oleh faksi Black Cobra sejak bertahun-tahun lalu. Rumah sakit tersembunyi ini memang dikhususkan untuk menangani kasus-kasus luka tembak atau duel maut tingkat tinggi yang tidak boleh tercium oleh radar pihak kepolisian. Selama perjalanan udara yang menegangkan dan berguncang itu, Eksan sempat membuka mata nya selama beberapa detik akibat rasa sakit yang teramat sangat. yang luar biasa kembali terpancar dari matanya, saat tangan nya yang kasar bergerak lemah di atas lantai, mencoba membalas pegangan tangan Nasya dengan sisa tenaga yang ia punya.
"Kau... sama sekali tidak boleh pergi dari sisiku, Nasya..." bisik Eksan dengan nada suara yang teramat sangat rendah, berat, dan parau tepat di depan wajah gadis itu, sebelum akhirnya kesadaran pemuda itu kembali tersedot habis oleh rasa sakit yang luar biasa dahsyat di perut kirinya.
Begitu helikopter mendarat dengan selamat di atas landasan atap gedung rumah sakit, tim dokter spesialis bedah yang sudah bersiap sejak menerima panggilan darurat langsung melarikan tubuh kekar Eksan ke dalam ruang operasi utama. Pintu besi tebal kedap suara ditutup dengan bantingan keras, menyisakan lampu indikator berwarna merah tanda operasi besar dimulai yang menyala terang benderang di atas kusen pintu kayu. Ruang tunggu rumah sakit seketika berubah menjadi sunyi dan menegangkan, menyisakan kecemasan yang mendalam bagi sisa-sisa petinggi faksi yang berjaga di luar.
Rangga berjalan perlahan mendekati posisi Nasya yang duduk termenung sendirian di salah satu kursi tunggu panjang, dengan seluruh tubuh mungilnya yang masih bergetar hebat akibat syok psikologis setelah menyaksikan duel berdarah di dermaga. Ia menyodorkan selembar selimut hangat dan segelas air putih hangat demi menenangkan gadis sekolah itu yang tampak tegang dan cemas.
"Minumlah sedikit, Nasya. Kau bisa pingsan kelelahan jika terus-menerus membiarkan tubuhmu terguncang seperti ini," kata Rangga dengan nada suara yang sangat serius namun tetap menjaga rasa hormat yang mendalam kepada gadis pilihan pemimpinnya tersebut.
Nasya menerima gelas itu dengan kedua tangan yang masih menyisakan noda darah kering milik Eksan. Ia meminumnya sedikit, merasakan kehangatan air yang melewati tenggorokannya yang terasa sangat kering. "Apakah... apakah Eksan akan selamat, Rangga? Lukanya sangat parah, dan semua darah itu..."
Rangga hanya bisa terdiam, lalu menyandarkan tubuh besarnya pada dinding di samping kursi Nasya, menatap lurus ke arah pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat. "Bos Eksan memiliki ketahanan fisik yang luar biasa kuat bagaikan monster jalanan. Dia sudah berkali-kali melewati ambang maut seperti ini sejak usianya masih belasan tahun. Tapi malam ini berbeda. Kau sudah melihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana dia memaksakan seluruh tubuh jahitannya yang hancur hanya untuk memastikan kau kembali dalam kondisi aman tanpa terluka seujung rambut pun."
Rangga berhenti berbicara pada saat itu, lalu memalingkan wajahnya untuk melihat ke arah Nasya yang tampak kelelahan dan matanya merah akibat terlalu banyak menangis sejak siang tadi.
"Di duniaku dan dunia hitam yang dipimpin oleh Eksan, sisi yang cenderung gila dan posesif yang dia tunjukkan padamu adalah bentuk komitmen perlindungan tertinggi yang pernah dia berikan kepada seseorang. Eksan tidak akan pernah sudi melepaskan apa yang dia anggap spesial di mata nya itu dirimu, bahkan jika seluruh jalanan kota ini harus hancur berantakan menjadi abu akibat perang antar faksi," lanjut Rangga dengan nada suara yang memberat, menegaskan realitas kejam yang harus dihadapi gadis itu.
"Sekarang, selagi Eksan masih berada di dalam ruang operasi dan berjuang melawan mautnya sendiri, keputusan besar berada sepenuhnya di dalam tanganmu, Nasya," ucap Rangga lagi, membuat Nasya terdiam dengan pandangan bingung. "Saat Eksan terbangun dan membuka matanya nanti, dia akan tetap menjadi sosok berandal posesif yang sama. Dia akan kembali mengurung di dalam sangkar emas penthouse mewah itu, membatasi ruang gerakmu, dan mengawasi selama dua puluh empat jam penuh demi memastikan tidak ada lagi musuh jalanan yang mengincar sebagai titik kelemahannya."
Rangga menarik napas dalam-dalam sebelum menawarkan sebuah pilihan yang sangat berisiko bagi keselamatan dirinya sendiri. "Jika kau memilih untuk tetap tinggal di sampingnya, kau harus mulai membiasakan diri menghadapi kegelapan, darah, dan kekerasan dunia ini bersama-sama dengan Eksan. Tapi... jika kau benar-benar merasa tersiksa, merasa terkurung seperti tawanan, dan ingin kembali ke kehidupan normal sebagai siswi SMA biasa bersama ibumu... katakan padaku sekarang juga, Nasya. Aku yang akan menanggung seluruh amukan kegilaan Eksan saat dia sadar nanti. Aku akan menyiapkan paspor palsu, uang tunai yang cukup, dan menyembunyikan mu bersama ibumu di luar pulau yang jauh sebelum Eksan sempat membuka matanya malam ini."
Mendengar tawaran dari mulut Rangga, Nasya seketika terdiam seribu bahasa. dengan tatapan kosong dan bingung apa yang harus di jawab. Di dalam benak dan ingatan kecilnya, bayangan sosok Eksan yang berdiri berselimutkan darahnya sendiri di gudang dermaga utara, dengan pandangan penuh rasa yang nyata namun sarat akan rasa takut kehilangan, kembali berputar dengan sangat jelas. Ada rasa takut yang luar biasa besar di dalam hatinya pada kejamnya dunia hitam jalanan ini, namun jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ada sebuah ikatan emosional baru yang aneh, hangat, dan begitu kuat yang kini justru menahan langkah kakinya untuk tidak melangkah pergi menjauh dari sisi pemuda berbahaya yang sedang sekarat tersebut.