Menikah muda dan Kirana menyerahkan seluruh masa depannya untuk menjadi penopang di balik kesuksesan Gibran. Lima belas tahun ia setia mengabdi sebagai ibu rumah tangga, merawat anak-anak dan memastikan nama suaminya bersinar sebagai pria sempurna yang dipuja publik.
Namun, ketika harta dan tahta telah tergenggam, Gibran justru menganggap Kirana bab lama yang harus dibuang demi wanita lain.
Surat gugatan cerai dilayangkan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali.
Gibran mengira Kirana akan menangis mengemis cinta. Betapa naifnya. Bagi Kirana, ketenangannya bukanlah kepasrahan, melainkan strategi catur dingin.
Saat Gibran sibuk bertarung di ruang sidang, Kirana melangkah anggun menikmati masa mudanya yang tertunda. Kirana sengaja menjaga nama baik suaminya tetap bersih memastikan aset yang dibangun bersama berada di puncak nilai tertinggi.
Ketika Gibran mulai kehabisan napas, Kirana melayangkan pukulan balik. Ia mengincar delapan puluh lima persen harta gono-gini dan secara takt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan
Deru halus mesin pesawat Boeing 777-300ER milik maskapai penerbangan internasional berembus lembut di dalam kabin Business Class. Suasana di area eksklusif ini terasa amat tenang, dibalut aroma kopi arabika yang baru diseduh dan wangi lembut bunga lili dari kabin depan.
Aku menyandarkan tubuhku di atas kursi kulit leather seat berwarna krem yang luas dan nyaman. Di samping dan depanku, tiga sahabat karibku sejak masa kuliah Dena, Nela dan Sherin duduk berdekatan. Kami berempat baru saja menyelesaikan agenda singkat di Singapura dan kini dalam perjalanan udara menuju Jakarta.
Ketiganya adalah ibu rumah tangga kelas atas, sama sepertiku. Namun, ada satu hal besar yang membedakan kehidupan kami saat ini: suami mereka adalah pria-pria matang yang teramat menjaga komitmen dan kehormatan rumah tangga.
"Jujur ya, Kirana," buka Dena, memiringkan tubuhnya di kursi penerbangan eksklusifnya seraya memangku cangkir porselen berisi earl grey tea. "Waktu kamu cerita soal cara kamu meladeni pancingan Gibran dan si Melani itu di rumah, aku sampai merinding bangga. Kamu tuh cerdik dan cerdas banget. Nggak pakai teriak-teriak konyol, tapi langsung mengunci poin-poin krusial."
Nela, yang mengenakan blazer kasual rancangan desainer ternama dan perhiasan mutiara yang melingkar anggun di lehernya, langsung menimpali dengan anggukan tegas.
"Betul banget kata Dena. Langkah kamu menolak tanda tangan surat cerai dan tetap bertahan di kamar utama rumah itu adalah skakmat paling elegan," ujar Nela dengan mata berbinar. "Perempuan seperti Melani itu mengira dia bisa dengan mudah menggeser posisi istri sah dan menguasai rumah mewahmu. Dia lupa kalau kamu berdiri bukan cuma pakai perasaan, tapi pakai otak dan perhitungan hukum yang matang."
Sherin yang duduk tepat di sebelah kiriku memegang lembut jemariku, menatapku penuh empati sekaligus kekaguman. "Kamu tuh benar-benar Ratu sejati, Kirana. Di saat perempuan lain mungkin sudah emosi dan mengamuk sampai bikin malu diri sendiri di media sosial, kamu justru dingin, anggun, dan memindahkan seluruh kendali permainan ke tanganmu."
Aku menyunggingkan senyuman paling lembut, membalas genggaman tangan Sherin seraya menyesap teh hangatku.
"Bagi wanita seperti kita, melabrak atau menangis di depan publik itu cuma bakal menurunkan harga diri," ucapku halus namun sarat akan ketegasan. "Gibran mengira aku bakal mengalah dan angkat kaki dari rumah yang kubangun belasan tahun bersamanya. Tapi aku nggak akan pernah menyerahkan tahtaku begitu saja pada siapa pun, apalagi cuma karena godaan murah."
"Dan soal si Melani itu..." Nela menyunggingkan senyum sinis yang sangat tipis, memutar-mutar gelas jus jeruknya. "Aku yakin seratus persen, dia itu pelakor yang menyamar! Pura-pura jadi konsultan pemasaran lah, rekan kerja profesional di NexTech Group lah... Alasan klasik! Padahal aslinya cuma wanita haus harta yang mau tinggal memetik buah manis dari pohon yang kamu siram belasan tahun bareng Gibran."
"Sama persis!" sahut Dena tajam. "Tipe-tipe begitu tuh merasa sok pintar. Mereka pikir mereka bisa membodohi pria-pria berumur yang sedang krisis identitas. Tapi mereka lupa kalau di balik pria sukses, ada istri sah yang tahu persis setiap seluk-beluk dan pondasi dari kekayaan itu."
Sherin membetulkan posisi duduknya, lalu menghela napas pendek seraya mengingat suaminya sendiri. "Makanya aku sama Arya sempat bahas masalah ini pas makan malam kemarin. Arya sampai heran sendiri sama Gibran. Suamiku bilang, pria yang tega mengkhianati istri yang menemani dari nol dan merusak ketenangan anak-anaknya itu bukan cuma bodoh secara moral, tapi juga mulai kehilangan akal sehat dalam memimpin."
"Suamiku juga bilang gitu!" sela Nela cepat. "Rizal kemarin langsung bilang ke aku, 'Kalau Gibran saja bisa berkhianat sama Kirana yang sudah sesempurna itu mendampinginya, berarti karakter kepemimpinannya di bisnis juga patut dipertanyakan.' Asal kamu tahu ya, Kirana, Rizal bahkan sudah minta tim investasinya untuk meninjau ulang rencana ekspansi kerja sama dengan NexTech Group."
Dena mengangguk setuju. "Sama. Rendy juga langsung menarik diri dari wacana konsorsium proyek baru sama perusahaan suamimu. Kita para ibu rumah tangga memang nggak berkantor tiap hari, tapi pengaruh pertimbangan kita ke suami-suami kita itu nyata. Pria yang nggak bisa menghormati istrinya sendiri bukanlah mitra bisnis yang aman dalam jangka panjang."
Pernyataan dari ketiga sahabatku membuat hatiku berdesir hangat. Mereka bertiga bukan sekadar teman arisan atau teman minum teh; suami-suami mereka adalah jajaran pengusaha dan pimpinan eksekutif berintegritas tinggi yang terbiasa hidup lurus dan amat meratukan istri mereka. Dukungan yang mereka berikan bukan cuma dukungan moral, melainkan juga perlindungan sosial dan bisnis yang sangat mematikan bagi posisi Gibran.
"Terima kasih ya, Teman-teman," ucapku tulus, memandangi wajah ketiga sahabatku satu per satu. "Kalian benar-benar membuatku merasa nggak berjalan sendirian di lorong ini."
"Kamu nggak akan pernah sendirian, Kirana," tegas Sherin lembut namun mantap. "Kita ini satu lingkaran. Kita tahu betapa berharganya kerja keras seorang istri sah dalam membangun rumah tangga. Biarkan Gibran menikmati ilusi semunya sama perempuan simpanannya itu. Saat panggungnya runtuh nanti, dia baru sadar siapa yang sebenarnya memegang kunci utama dari seluruh istananya."
"Betul!" timpal Nela dengan kekehan renyah. "Apalagi anak-anakmu, Kayla dan Evan, pintar banget dan berdiri tegak di pihakmu. Kemarin pas kamu cerita Kayla membalas ucapan Papi-nya dengan skakmat soal peran kepala keluarga dan sosok ayah, aku sampai mau tebas tepuk tangan! Anak-anakmu tumbuh jadi benteng pertahanan yang luar biasa karena mereka dididik sama ibu yang hebat."
Dena mengagumi kilau berlian di jemariku yang baru kubeli di Singapura. "Lagipula, investasi properti dan perhiasan atas nama pribadimu yang kamu urus selama di Singapura ini benar-benar langkah genius. Di saat Gibran sibuk menghamburkan uang buat nyewa penthouse si pelakor, kamu justru mengamankan seluruh aset masa depan buat anak-anak."
"Gibran terlalu buta oleh kebanggaan semu sampai nggak sadar kalau pondasi finansialnya perlahan sedang berpindah tangan," jawabku pelan seraya tersenyum tenang. "Dia pikir dia sedang memegang kendali penuh. Padahal dia cuma sedang berjalan menuju perangkap yang dia buat sendiri."
Tawa halus menyelimuti deretan kursi Business Class kami. Di ketinggian puluhan ribu kaki di atas udara, di antara denting cangkir porselen dan kehangatan persahabatan sejati, rasa percaya diriku kian melambung tinggi. Gibran dan Melani boleh saja merasa menang untuk sementara di bumi, tapi di atas sini, Ratu sesungguhnya telah menyusun peta kemenangan dengan begitu anggun dan sempurna.
nanti kalo jatuh bukan cuma sakit ,, tp malu ny tu looo ,, gx bisa d tampung dmna2🤭🤭🤭🤣🤣🤣
gmna ga stia,duitnya msh bnyak trs pnya jbatan jg...cba kl nnti udh ga pnya apa2,plingn jg bkln kabur.....🙄🙄🙄
🕺🕺🕺🕺🕺🕺🕺🕺🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
amsyong" dah semua kesombongan kamu, hartamu mah ga ada seberapanya dari yg dia punya Gibran, bae" kismin mendadak...