NovelToon NovelToon
Retak Di Antara Kita

Retak Di Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Priska Heriska

Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.

sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.

dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hinaan akan menjadikan kami untuk lebih tinggi

Ibu menghela nafas panjang, mencoba meredam getaran di hatinya sebelum akhirnya mulai berbicara dengan suara yang sangat lirih.

"Tadi pagi, kakakmu berniat baik mau membantu ibu. Dia pergi ke tukang sayur keliling di ujung gang untuk membeli bayam dan ayam," kata ibu, matanya menatap kosong ke arah talenan. "Di sana ramai ibu-ibu kompleks begitu kakakmu datang, Bu wanti langsung menyindir dengan suara keras. Dia bilang, 'loh, jam segini kok malah belanja? Enggak sekolah ya? Malas banget atau dikeluarkan?"'

Ibu mengepalkan tangannya kuat-kuat, mengingat kembali kejadian itu.

Bu wanti malah memanasi yang lain, bilang kalo itu cuma alasan anak malas yang bolos sekolah. Ibu-ibu lain ikut tertawa mengejek.

Air mata ibu akhirnya lulur juga, membasahi pipinya yang kemerahan karena hawa panas kompor.

"Kakakmu cuma diam, dia langsung membayarkan uang belanja, menggambil kantong kreseknya, dan berlari pulang sambil menangis. ibu sakit hati, anak yang penurut dan rajin, malah dijadikan bahan olokan orang-orang yang nggak tau apa-apa.

Aku mendengar cerita ibu dengan rahang mengencang. Rasa sesak di hatiku kini berubah menjadi amarah yang membakar. Pantas saja kakak langsung mengurung diri di kamar setelah makan tadi.

Ibu mengusap air matanya dengan ujung daster, lalu menatapku dengan tatapan yang sangat dalam dan serius. Beliau memegang kedua pundakku, seolah ingin memastikan setiap kata yang keluar dari mulutnya tertanam kuat di dalam benakku.

"Ris" suara Ibu bergetar namun terdengar tegas. "Kamu harus sekolah yang benar.

Nggak usah kamu pedulikan omongan orang-orang di luar sana, atau teman-temanmu yang usil di sekolah nanti. Yang kamu cari itu belajar, cari ilmu buat masa depanmu sendiri, bukan cari perhatian atau pujian mereka."

Ibu menunjuk ke arah kamar Kakak dengan dagunya.

"Kakakmu juga harus tetap belajar. Jangan sampai karena masalah ini dia jadi mogok sekolah hari Senin nanti. Orang-orang seperti Bu Wati itu cuma mau melihat kita jatuh dan menyerah. Kalau kalian berdua sukses, lewat pendidikan itulah cara terbaik kita membalas hinaan mereka tanpa perlu mengotori tangan."

Ibu melepaskan pegangannya, lalu mengambil kembali pisau dapur yang tadi sempat diletakkannya. Gerakannya kini jauh lebih tenang dan mantap, tanda tekadnya sudah bulat.

"Sekarang, kamu ambilkan segelas teh hangat. Bawa ke kamar Kakakmu. Bilang sama dia, Ibu nggak marah sama dia, dan Ibu mau dia tetap kuat. Kita buktikan sama mereka kalau anak-anak Ibu bisa jadi orang sukses."

Aku mengangguk pasti. Kalimat Ibu barusan berhasil memadamkan amarahku dan mengubahnya menjadi bahan bakar semangat yang baru. Aku bergegas mengambil segelas teh untuk Kakak.

Ibu menghela nafas panjang, mencoba meredam getaran di hatinya sebelum akhirnya mulai berbicara dengan suara yang sangat lirih.

"Tadi pagi, kakakmu berniat baik mau membantu ibu. Dia pergi ke tukang sayur keliling di ujung gang untuk membeli bayam dan ayam," kata ibu, matanya menatap kosong ke arah talenan. "Di sana ramai ibu-ibu kompleks begitu kakakmu datang, Bu wanti langsung menyindir dengan suara keras. Dia bilang, 'loh, jam segini kok malah belanja? Enggak sekolah ya? Malas banget atau dikeluarkan?"'

Ibu mengepalkan tangannya kuat-kuat, mengingat kembali kejadian itu.

Bu wanti malah memanasi yang lain, bilang kalo itu cuma alasan anak malas yang bolos sekolah. Ibu-ibu lain ikut tertawa mengejek.

Air mata ibu akhirnya lulur juga, membasahi pipinya yang kemerahan karena hawa panas kompor.

"Kakakmu cuma diam, dia langsung membayarkan uang belanja, menggambil kantong kreseknya, dan berlari pulang sambil menangis. ibu sakit hati, anak yang penurut dan rajin, malah dijadikan bahan olokan orang-orang yang nggak tau apa-apa.

Aku mendengar cerita ibu dengan rahang mengencang. Rasa sesak di hatiku kini berubah menjadi amarah yang membakar. Pantas saja kakak langsung mengurung diri di kamar setelah makan tadi.

Ibu mengusap air matanya dengan ujung daster, lalu menatapku dengan tatapan yang sangat dalam dan serius. Beliau memegang kedua pundakku, seolah ingin memastikan setiap kata yang keluar dari mulutnya tertanam kuat di dalam benakku.

"Ris" suara Ibu bergetar namun terdengar tegas. "Kamu harus sekolah yang benar.

Nggak usah kamu pedulikan omongan orang-orang di luar sana, atau teman-temanmu yang usil di sekolah nanti. Yang kamu cari itu belajar, cari ilmu buat masa depanmu sendiri, bukan cari perhatian atau pujian mereka."

Ibu menunjuk ke arah kamar Kakak dengan dagunya.

"Kakakmu juga harus tetap belajar. Jangan sampai karena masalah ini dia jadi mogok sekolah hari Senin nanti. Orang-orang seperti Bu Wati itu cuma mau melihat kita jatuh dan menyerah. Kalau kalian berdua sukses, lewat pendidikan itulah cara terbaik kita membalas hinaan mereka tanpa perlu mengotori tangan."

Ibu melepaskan pegangannya, lalu mengambil kembali pisau dapur yang tadi sempat diletakkannya. Gerakannya kini jauh lebih tenang dan mantap, tanda tekadnya sudah bulat.

"Sekarang, kamu ambilkan segelas teh hangat. Bawa ke kamar Kakakmu. Bilang sama dia, Ibu nggak marah sama dia, dan Ibu mau dia tetap kuat. Kita buktikan sama mereka kalau anak-anak Ibu bisa jadi orang sukses."

Aku mengangguk pasti. Kalimat Ibu barusan berhasil memadamkan amarahku dan mengubahnya menjadi bahan bakar semangat yang baru. Aku bergegas mengambil segelas teh untuk Kakak.

Aku melangkah perlahan menuju kamar Kakak sambil membawa segelas teh hangat yang permukaannya sedikit bergoyang. Setiap ketukan langkahku di lantai terasa seperti detak peneguh janji yang baru saja ku buat di dalam hati.

Rasa panas dari gelas yang merambat ke telapak tanganku seolah menyalurkan kembali energi ketegasan Ibu tadi.

Aku berhenti di depan kamarnya yang tertutup oleh gorden. Dari dalam, tidak ada suara apa pun. Sunyi, seolah Kakak sedang berusaha melenyapkan keberadaannya dari dunia yang baru saja melukainya.

Aku masuk mengesankan gorden itu

"Kak... Aku bawakan teh hangat dari Ibu," ucapku setengah berbisik, takut mengejutkannya.

Kakak yang sedang berbaring menyamping di atas kasur tipisnya tidak langsung menjawab. Dia hanya bergeming, membelakangi ku.

Dengan bahu yang sesekali masih naik turun menahan sisa tangis. Di pojok kamar, tas sekolahnya tergeletak begitu saja, seolah-olah benda itu baru saja menjadi beban yang sangat berat untuk dipikulnya.

Aku melangkah mendekat dengan sangat hati-hati, lalu meletakkan gelas teh hangat itu di atas meja kayu kecil di samping tempat tidurnya. Wangi melati dari teh yang mengepul tipis perlahan memenuhi sudut kamar yang pengap.

"Kak," panggilku lagi, kali ini aku duduk di pinggiran kasur, tepat di belakang punggungnya. "Ibu bilang, Ibu sama sekali enggak marah sama Kakak. Ibu tahu Kakak niatnya baik mau bantu Ibu belanja tadi pagi."

Mendengar kata "Ibu", pertahanan Kakak runtuh. Dia membalikkan badannya, memperlihatkan matanya yang sembap dan merah.

"Aku enggak bolos, Ris... Hari Sabtu kan libur sekolah" suaranya serak dan gemetar, nyaris tenggelam oleh isak tangis yang kembali pecah. "Tadi pagi kan libur sekolahnya hari Sabtu kecuali kamu berangkat. Aku bantu Ibu belikan sayur.

Kenapa Bu Wati jahat banget ngomong begitu di depan orang banyak? Aku malu, Ris. Aku malu besok hari Senin harus ketemu orang-orang kompleks lagi."

Melihat Kakak yang biasanya tegar menjadi serapuh ini, dadaku kembali berdenyut sakit. Namun, bayangan wajah Ibu di dapur tadi segera melintas di kepalaku, menahan amarahku agar tidak kembali meledak sia-sia.

Aku memegang lengan Kakak, mencoba menyalurkan kekuatan. "Jangan dengerin Bu Wati, Kak. Ibu bilang, orang-orang kayak gitu cuma senang kalau melihat kita jatuh dan menyerah. Kalau Kakak mogok sekolah hari Senin besok, itu artinya mereka menang."

Kakak menghapus air matanya dengan kasar, menatapku dengan tatapan terluka.

"Tapi rasanya sakit, Ris. Sakit dicap anak malas padahal mereka enggak tahu apa-apa."

"Aku tahu, Kak. Ibu juga tahu," ujarku sambil menyodorkan gelas teh hangat yang tadi kubawa. "Makanya, Ibu mau Kakak tetap kuat. Ibu bilang, cara terbaik kita buat membalas hinaan mereka tanpa perlu mengotori tangan adalah dengan membuktikan kalau kita bisa sukses lewat pendidikan."

"Kita tunjukkan sama mereka kalau anak-anak Ibu enggak serendah apa yang mereka ucapkan."

Kakak menatap gelas teh di tanganku selama beberapa saat. Uap hangatnya menerpa wajahnya yang lesu. Perlahan, dia bangun dari posisi berbaringnya dan duduk bersandar di dinding. Dia menerima gelas itu, menggenggamnya erat-erat seolah mencari sandaran hidup dari kehangatan yang menjalar ke jemarinya.

Setelah meminum beberapa teguk, napas Kakak mulai teratur. Isak tangisnya mereda, berganti dengan tatapan mata yang perlahan-lahan kembali fokus dan mengeras sebuah kilatan tekad yang sama dengan yang kulihat pada mata Ibu beberapa menit lalu.

hari senin besok, kita berangkat sekolah bareng-bareng. Kita jalan tegak melewati gang depan, enggak usah nunduk sama sekali."

Kakak mengangguk pelan, sebuah senyuman tipis akhirnya terukir di sudut bibirnya yang pucat. Rasa hangat di kamar itu kini bukan lagi sekadar dari segelas teh, melainkan dari sebuah janji tak tertulis antara aku, Kakak, dan Ibu: bahwa mulai hari ini, hinaan orang lain hanya akan menjadi bahan bakar bagi kami untuk terbang lebih tinggi.

1
Gunadi Hudaya
priska, bisa ikuti aku? ada beberapa bagian yg ingin aku review dari novelmu kalo kamu tidak keberatan
Priska: Tentu saja boleh kakak
total 1 replies
Gunadi Hudaya
dulu aku memang pernah menikmati pendidikan di sekolah dasar. tp sdh lama sekali. dan ternyata saat berhadapan dengan keponakanku yg sd juga ga bisa related. sd dulu dan sd sekarang beda sekali
Priska: Benar SD sekarang berbeda, terimakasih kk udah mau mampir 🙏
total 1 replies
Jiayou
semangat ya kak
pokoknya harus Sampek ending
Priska: iya terimakasih kakak udah mampir 🙏
total 1 replies
Bayu Aksa
Berasa nostalgia jaman sekolah dasar 🤭💪semangat terus ya👍
Priska: siap, terimakasih kk
total 1 replies
Dino Prayoga
seruuu😍😍
Priska: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Dino Prayoga
💪
Huang ying308
halo kak , semangat👍
Priska: hai, terimakasih kak
total 1 replies
Pae Karjo
bagus semangat 💪💪
Priska: terimakasih
total 1 replies
jinggaarundari
waduhh, sedih juga ya jadi Riska...
Priska: iya, terimakasih sudah mampir kk
total 1 replies
Huang ying308
💪💪💪 semangat KK ⭐⭐⭐⭐⭐
Priska: terima kasih
total 1 replies
Rahman Ncusbre
yo tetap semangat
Priska: terima kasih
total 1 replies
Novita Wulan Sari
Ceritanya seru dan Emosional banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!