Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Gerbang Kota Perhimpunan
Jantung Ji Ming berdegup kencang saat penjaga gerbang itu membandingkan wajahnya dengan sketsa di kertas usang, matanya berpindah bolak-balik beberapa kali sebelum akhirnya mendongak dengan tatapan curiga yang semakin jelas.
"Meridian Kosong," penjaga itu bergumam, tangannya sudah bergerak mendekati peluit tanda bahaya di ikat pinggangnya. "Buronan dari Puncak Elang Hitam, dicari hidup atau—"
"Cukup." Tetua Kang melangkah maju, suaranya kembali pada nada berwibawa seorang tetua sekte, meski kini terasa berbeda—bukan lagi wibawa yang dibangun di atas kebohongan, melainkan sesuatu yang lebih hati-hati, lebih sadar diri. Ia mengangkat lencana kecil dari balik jubahnya, tanda pengenal resmi tetua Puncak Elang Hitam yang masih berlaku. "Aku Tetua Kang dari Puncak Elang Hitam. Pemuda ini berada dalam pengawasanku, dalam rangka investigasi khusus atas perintahku sendiri. Sayembara itu akan segera dicabut."
Penjaga gerbang itu terdiam, jelas terkejut melihat lencana asli seorang tetua sekte besar berdiri langsung di hadapannya. "Investigasi... khusus, Tetua?"
"Ada informasi yang keliru dalam laporan awal," Tetua Kang menjawab tenang, meski Ji Ming bisa melihat sedikit ketegangan di rahangnya, berbohong dengan cara yang berbeda kali ini—bukan untuk menutupi dosa, tapi untuk membeli waktu demi kebenaran yang lebih besar. "Aku sedang dalam perjalanan menuju Kota Perhimpunan untuk menyelesaikan masalah ini secara resmi. Kuharap kau bisa menahan diri untuk tidak menyebarkan kabar ini lebih jauh sampai investigasiku selesai."
Penjaga itu, meski masih ragu, akhirnya mengangguk hormat—jarang ada yang berani mempertanyakan langsung perintah seorang tetua sekte besar. "Tentu, Tetua. Silakan lewat."
Begitu mereka cukup jauh dari gerbang, memasuki keramaian jalan utama Kota Perhimpunan yang dipenuhi pedagang dan pengrajin dari berbagai penjuru, Yun Xia menghela napas panjang. "Itu terlalu dekat."
"Aku tahu," Tetua Kang berkata, wajahnya masih tegang. "Dan itu masalahnya—begitu penjaga itu melaporkan pertemuan ini ke atasannya, sekte akan tahu aku masih hidup dan berkeliaran, alih-alih diam-diam menyelesaikan masalah pribadi seperti yang mereka kira selama ini. Waktu kita mungkin lebih sempit dari yang kuduga."
Mereka menemukan penginapan sederhana di distrik pengrajin, jauh dari pusat kota yang lebih ramai, sementara Old Bo pergi sendirian untuk mencari kontaknya di Perhimpunan Pengrajin—seorang wanita bernama Nyonya Rui, ketua salah satu guild pengukir kayu paling dihormati di kota itu, yang menurut Old Bo punya reputasi tegas dalam hal kejujuran dan keberanian membela yang benar.
Saat Old Bo kembali menjelang malam, wajahnya menunjukkan campuran lega dan khawatir.
"Nyonya Rui bersedia mendengarkan," ia melaporkan, duduk di meja kecil kamar penginapan mereka. "Tapi ia juga memberitahuku sesuatu yang mengkhawatirkan—kabar tentang buronan bermeridian kosong dengan boneka kayu hidup sudah menyebar lebih jauh dari yang kita kira. Beberapa pemburu bayaran lain, bukan hanya Han Lie, sudah mulai tertarik dengan bayaran yang ditawarkan."
"Berapa banyak?" Su Mei bertanya, wajahnya serius.
"Tidak jelas pastinya. Tapi cukup untuk membuat Nyonya Rui menyarankan kita bertemu dengannya secara diam-diam besok pagi, sebelum kabar tentang kedatangan kita di kota ini menyebar lebih jauh."
Ji Ming menatap Xiao Mu yang duduk tenang di pangkuannya, memikirkan betapa rumitnya jalan menuju kebenaran yang sederhana—bahwa ia tak pernah mencuri apa pun, bahwa seninya bukan kutukan melainkan warisan yang layak dihormati. Perjalanan yang dimulai dari sebuah gerbang berkarat di Makam Terlarang kini membawa mereka ke tengah jaringan politik dan kepentingan yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
"Besok," Tetua Kang berkata, menutup diskusi malam itu, "kita akan tahu apakah Kota Perhimpunan bisa jadi sekutu kita, atau justru medan pertempuran baru yang harus kita hadapi."