SINOPSIS
Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!
Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Sponsor Pernikahan dan Calon Mertua yang Pelit
Pintu raksasa Ruang Tahta yang terbuat dari emas murni dan kayu mahoni terbuka perlahan.
Berbeda dengan ruangan VIP Caden yang modern-gothic, Ruang Tahta ini sangat kuno, dipenuhi pilar-pilar raksasa dan permadani merah. Di ujung ruangan, duduk seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah, mengenakan mahkota emas dan jubah kebesaran merah tua. Itu adalah Raja Reginald.
Di sisi kiri dan kanannya berdiri puluhan menteri senior dan penasihat kerajaan yang menatap tajam ke arah pintu masuk.
Aura melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi, menggandeng lengan Caden dengan mantap. Ia mengabaikan tatapan merendahkan dari para bangsawan tua itu.
"Caden," suara Raja Reginald menggema, penuh dengan otoritas dan amarah yang tertahan. "Jelaskan padaku. Aku pergi ke Benua Barat selama sebulan, dan saat aku kembali, istanaku hampir hancur oleh pemberontak, Marquis Vane ditangkap, dan kau memenjarakan saudaramu sendiri, Arthur?!"
Caden berhenti di tengah ruangan, sama sekali tidak menunduk.
"Mereka bukan pemberontak, Ayahanda. Mereka adalah tikus yang mencoba mencuri kunci pertahanan istana, dikomandoi oleh Arthur yang gagal membayar utangnya," jawab Caden dingin. "Aku hanya membersihkan hama. Seharusnya kau berterima kasih padaku."
"Berterima kasih?! Kau memenjarakan calon penerus takhta!" Raja Reginald menggebrak sandaran singgasananya. Matanya kemudian beralih menatap tajam ke arah Aura. "Dan kudengar, kau melakukan semua kegilaan ini demi seorang pelayan?! Gadis ini?!"
"Dia bukan pelayan," sela Caden, auranya menggelap. "Dia adalah Asisten Keuangan Utama, dan tunanganku."
Bisik-bisik keterkejutan langsung meledak di antara para menteri.
Raja Reginald tertawa meremehkan. "Tunangan? Jangan konyol, Caden. Seorang Pangeran Kekaisaran tidak bisa menikahi gadis tanpa asal-usul yang jelas! Pernikahan kerajaan adalah tentang aliansi politik! Tentang memperluas kekuasaan militer dan dukungan logistik dari Fraksi bangsawan lain! Apa yang bisa dibawa oleh gadis gembel ini ke dalam kekaisaran?!"
Aura yang sedari tadi diam, akhirnya mendecak sebal. Ia melepaskan gandengannya dari lengan Caden, menepuk jasnya, dan melangkah maju satu langkah.
"Permisi, Baginda Raja yang terhormat," sapa Aura dengan nada Customer Service yang sedang menghadapi Karen (pelanggan cerewet). "Sebelum Anda bawa-bawa kata 'gembel', boleh saya tahu berapa saldo kas negara kita bulan ini?"
Raja Reginald mengerutkan kening. "Apa urusanmu dengan kas negara, Pelayan?!"
Aura menjentikkan jarinya. Lucas, yang berdiri gemetar di belakang mereka, langsung berlari maju menyerahkan setumpuk dokumen tebal pada Aura.
"Urusannya banyak, Baginda!" Aura melempar dokumen itu ke lantai di depan tangga singgasana hingga berbunyi Brak! keras. Beberapa menteri sampai tersentak.
"Biar saya bacakan Summary-nya! Anak kesayangan Anda, Pangeran Arthur, membuat kas negara minus tiga ratus ribu emas karena gagal panen dan subsidi bodong! Sementara itu, departemen yang SAYA kelola, menghasilkan profit bersih lima juta koin emas dalam waktu tiga minggu dari akuisisi saham Wilmer, monopoli pangan Timur, dan lelang barang sitaan Vane!"
Aura berkacak pinggang, menatap tajam ke arah Raja. "Anda bilang pernikahan itu soal aliansi logistik? Baginda, saat ini 100% suplai gandum kekaisaran ini ada di bawah tanda tangan SAYA! Kalau saya dan Caden nggak nikah, besok pagi saya cabut subsidi gandum ke istana pusat. Biar Anda dan menteri-menteri tua ini sarapan pakai rumput liar! Gimana?!"
Keheningan yang mematikan melanda Ruang Tahta.
Raja Reginald ternganga. Tidak ada satu orang pun, apalagi seorang wanita, yang pernah berani mengancam kelaparan di hadapan Raja secara langsung dan logis.
"K-kau... beraninya kau mengancam Raja?!" tunjuk seorang menteri tua dengan tangan gemetar.
"Ini bukan ancaman, Pak Tua! Ini namanya negosiasi posisi Bargaining Power (Daya Tawar)!" balas Aura santai. Ia kembali menatap Raja. "Anda mau aliansi politik? Buat apa aliansi kalau ekonomi hancur? Coba pikir pakai logika bisnis, Baginda. Pernikahan saya dan Pangeran Caden bukan cuma menyatukan dua hati, tapi menyatukan seluruh aset kekaisaran!"
Caden yang sedari tadi menonton asistennya mengamuk, hanya bisa menyembunyikan senyum lebarnya dengan meletakkan tangan di depan mulut. Ia benar-benar memuja setiap omong kosong kapitalis yang keluar dari mulut gadis itu.
"T-tapi... pernikahan tanpa dukungan bangsawan tidak akan memiliki prestise!" bantah Raja Reginald, meskipun nada suaranya sudah mulai goyah mendengar angka lima juta emas. "Biaya Royal Wedding itu sangat mahal! Aku tidak akan mengeluarkan uang kas kerajaan sepeser pun untuk membiayai pernikahan seorang pelayan!"
"Hah! Siapa juga yang minta dibayarin?!" Aura tertawa keras. Ia melangkah mondar-mandir di depan tangga singgasana seperti Steve Jobs sedang presentasi iPhone terbaru.
"Denger ya, Baginda! Anda mikirnya Royal Wedding itu 'Beban Pengeluaran' (Expense). Kalau saya mikirnya ini 'Peluang Pendapatan' (Revenue Stream)!"
"Pendapatan bagaimana maksudmu?" Raja Reginald mulai terpancing.
"Kita jadikan pernikahan ini sebagai Event Komersial Skala Nasional!" Aura mulai mengabsen jarinya dengan penuh semangat. "Satu, kita jual Hak Siar Eksklusif ke perusahaan bola kristal komunikasi di seluruh benua! Dua, kita buka sistem Sponsorship! Kereta kuda pengantin kita bisa dikasih logo Perusahaan Tambang atau Butik Madame Roselia! Tiga, kita jual Merchandise resmi! Gelas, piring, kipas yang ada muka saya dan Pangeran Caden!"
Para menteri saling berbisik. Beberapa dari mereka, yang menjabat di kementerian ekonomi, mulai membelalakkan mata menyadari potensi cuan dari ide gila itu.
"Dan yang terakhir!" Aura menunjuk lurus ke arah para menteri. "Tiket Undangan VVIP! Undangan pernikahan kerajaan nggak akan dikasih gratis! Setiap bangsawan yang mau datang, wajib beli tiket meja seharga seribu emas! Kalau nggak mau beli? Ya nggak usah datang, nama mereka bakal dicoret dari daftar rekanan bisnis istana!"
"I-itu pemerasan!" protes seorang menteri.
"Itu namanya strategi Fear Of Missing Out (FOMO), Pak!" sahut Aura ngegas. "Baginda Raja, saya garansi, dari event pernikahan kami berdua aja, kita bisa meraup laba bersih minimal dua juta koin emas dalam sehari! Jauh lebih gede daripada pajak upeti bulanan Anda, kan?!"
Raja Reginald terdiam membisu. Ia menatap gadis kecil yang berdiri dengan percaya diri di tengah ruangan itu, lalu beralih menatap putra sulungnya, Caden.
Caden melangkah maju, berdiri di samping Aura dan meraih tangan gadis itu. "Dia adalah satu-satunya wanita yang sepadan denganku, Ayahanda. Tolak dia, maka kau akan kehilangan aku dan seluruh emas di brankasku. Dan percayalah, asistenku ini tidak pernah berbohong soal angka."
Raja Reginald mengusap wajahnya yang tiba-tiba terasa tua. Ia menyadari, kekuatan pedang dan aliansi militer ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan monopoli ekonomi yang dipegang oleh dua orang sinting di hadapannya ini.
"Terserah kalian," Raja Reginald akhirnya menghela napas panjang, melambaikan tangannya pasrah. "Jika kau bisa menghasilkan dua juta emas dari pernikahanmu sendiri... lakukan sesukamu. Tapi pastikan istana mendapat potongan dua puluh persen dari penjualan tiket!"
"Sepuluh persen! Nggak ada tawar-menawar! Istana kan nggak modal venue (tempat), pakai taman sendiri!" tembak Aura kilat.
"Tiga belas persen! Itu harga mati untuk uang sewa taman kerajaan!" Raja Reginald tiba-tiba ikut terseret dalam negosiasi barbar itu.
"Lima belas persen, tapi bebas pajak katering!" tawar Aura lagi.
"Sepakat!" Raja Reginald mengetuk tongkatnya.
"Deal!" Aura bersorak.
Seluruh menteri di ruangan itu sweatdrop berjamaah. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Kekaisaran Astoria, restu pernikahan kerajaan diputuskan melalui negosiasi margin keuntungan sewa taman.
Caden menarik pinggang Aura, berbisik pelan di telinganya. "Kau baru saja membuat ayahku berbisnis denganmu, Elara. Benar-benar mengerikan."
"Namanya juga networking, Bos! Kalau sama mertua nggak boleh pelit-pelit amat, yang penting kita yang pegang kas utamanya!" Aura mengedipkan sebelah matanya. Persiapan Royal Wedding paling kapitalis sepanjang sejarah resmi dimulai.
boleh gak bahasa si Elera ini di ganti jadi "Aku" Jangan "Gue" biar kita baca nya enak dikit gitu thor😄kasian di pangeran di gue guein