NovelToon NovelToon
CROSSLINE

CROSSLINE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sci-Fi / Iblis
Popularitas:434
Nilai: 5
Nama Author: Niskala Cakrabuana

Dunia tidak pernah benar-benar dikuasai manusia. Jauh sebelum manusia mengenal sihir, teknologi, atau kekuatan supernatural, dunia telah dihuni oleh Primordial, entitas purba yang merupakan manifestasi dari kekuatan alam dan dunia itu sendiri. Manusia pernah berperang melawan mereka. Untuk bertahan hidup, manusia menciptakan berbagai cara untuk melawan. Sebagian terlahir dengan kekuatan. Sebagian mempelajari sihir. Sebagian mengembangkan alkimia dan teknologi. Dan sebagian lainnya memilih jalan yang seharusnya tidak pernah ditempuh. Dari sejarah panjang itu, lahirlah delapan kekuatan besar: Esper. Magic. Alchemy. Science. Artificial Esper. Mutant. Mafia. Primordial. Mereka tidak saling percaya. Mereka tidak saling menyukai. Dan beberapa bahkan saling membenci. Namun ketika ancaman Primordial kembali meningkat, para Alchemist memaksa berbagai pihak untuk membentuk sebuah gencatan senjata bernama Peace Faction. Lima orang kemudian dipertemukan. Dafa, Artificial Esper dengan kemampuan Nullification yang tidak dapat dipahami. Alicia, Pure Esper tingkat Infinity yang kekuatannya berasal dari rasi bintang. Sirhan, Magician pengguna Dark Magic yang bahkan ditakuti oleh kaumnya sendiri. Raga, Mutant tingkat Rare dengan tubuh yang mampu berevolusi hingga menjadi sekeras berlian. Dan Nerissa, seorang Alchemist yang menjadi penghubung di antara mereka. Mereka seharusnya bekerja sama. Masalahnya, tidak ada seorang pun yang benar-benar datang untuk berdamai. Ada yang ingin membuktikan bahwa kaumnya adalah yang paling unggul. Ada yang ingin membalas dendam. Ada yang menyembunyikan tujuan sebenarnya. Dan ada manusia yang sejak awal memanfaatkan kekacauan ini untuk sesuatu yang jauh lebih besar. Karena perang melawan Primordial mungkin bukan satu-satunya perang yang sedang berlangsung. Di CROSSLINE, musuh tidak selalu berada di seberang garis. Kadang, mereka berdiri tepat di sampingmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala Cakrabuana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

THE ENCOUNTER

Raga dan Albert akhirnya menemukan Dafa dan Alicia di pinggiran Esper City. Setelah berkeliling sejak pagi, mereka sempat kesulitan menemukan keberadaan pemimpin Artificial Esper tersebut. Namun, berkat kemampuan penciuman Albert dalam wujud Fenrir, mereka berhasil mengikuti jejak Aether Dafa hingga ke sebuah kawasan yang cukup sepi.

Albert masih berada dalam wujud Fenrir ketika keduanya mendekat. Sosok humanoid berbulu putih itu berjalan di samping Raga, melewati beberapa bangunan kosong sebelum akhirnya menemukan dua orang yang mereka cari.

Raga menghentikan langkahnya. “Dafa!!.”

Dafa yang sedang berbicara dengan Alicia langsung menoleh. Ia tampak sedikit terkejut melihat kedatangan Raga, terlebih dengan sosok manusia serigala yang berdiri di sampingnya.

“Raga? Kamu mencariku?”

“Ya. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”

Tatapan Dafa kemudian beralih kepada Albert. Sebelum ia sempat bertanya, Albert perlahan kembali ke wujud manusianya. Bulu putih dan cakarnya menghilang, memperlihatkan seorang pria bertubuh besar.

Raga kemudian memperkenalkan rekannya. “Ini Albert, salah satu Gatekeeper Mutant Village. Dia yang membantuku menemukanmu.”

Albert mengulurkan tangan. “Senang bertemu denganmu, Dafa.”

Dafa menyambut jabat tangannya. “Dafa. Senang bertemu denganmu juga.”

Setelah berkenalan, Dafa kembali menatap Raga. “Bagaimana kalian bisa menemukanku?”

“Albert memiliki kemampuan penciuman yang sangat tajam dalam wujud Fenrir. Dia bisa membedakan aroma Aether manusia biasa, Esper, dan Artificial Esper.”

Dafa melirik Albert. “Jadi, kalian mengikuti jejak Aether-ku?”

“Benar,” jawab Albert. “Aku juga menemukan aroma Alicia di sepanjang jejakmu.”

Alicia menatap Albert sejenak, tetapi tidak menanggapi lebih jauh.

Raga kemudian kembali pada tujuan kedatangannya. “Dalam pertemuan Council, Adrian menyampaikan rencana untuk membersihkan Syndicate. Council tidak memberikan persetujuan untuk melakukan tindakannya, tetapi aku tidak yakin dia akan membatalkan rencananya.”

Dafa mengernyit. “Adrian berencana menyerang Syndicate?”

“Ya. Dia bahkan sudah mempersiapkan Project 3 untuk menghadapi ancaman yang menurutnya tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa.”

Dafa terdiam sejenak. Informasi itu belum pernah ia dengar sebelumnya. “Lalu, apa yang akan dilakukan Council?”

“Untuk sekarang, tidak ada keputusan bersama untuk menyerang Syndicate. Namun, masing-masing wilayah tetap harus memperhatikan perkembangan situasi.”

Raga berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Aku belum tahu apakah Artificial Esper akan ikut menjadi sasaran. Tapi aku tidak ingin menunggu sampai semuanya terlambat.”

Dafa memandangnya dengan serius. “Jadi itu alasanmu mencariku?”

Raga mengangguk. “Aku sudah memutuskan bahwa Mutant Village bersedia memberikan perlindungan kepada Artificial Esper. Aku ingin kamu menyampaikan tawaran itu kepada mereka.”

Dafa tidak langsung menjawab. Tawaran tersebut bisa memberikan tempat yang lebih aman bagi kelompoknya, tetapi keputusan itu tidak hanya menyangkut dirinya.

“Aku akan membicarakannya dengan yang lain terlebih dahulu.”

“Silakan. Aku akan menunggu keputusan kalian.”

Dafa mengangguk. “Setelah kami membicarakannya, aku akan segera menghubungimu.”

Raga menerima jawaban itu tanpa mendesak lebih jauh. Ia sudah menyampaikan informasi dan tawarannya. Keputusan selanjutnya berada di tangan Dafa dan para Artificial Esper.

Setelah percakapan selesai, Raga dan Albert bersiap kembali ke Mutant Village. Sementara itu, Dafa dan Alicia meninggalkan kawasan tersebut untuk menuju tempat persembunyian Artificial Esper. Dafa perlu menyampaikan tawaran Raga kepada kelompoknya sebelum memberikan jawaban.

Pembicaraan mengenai tawaran Raga berakhir menjelang sore. Dafa meminta Leon mengumpulkan pendapat anggota lain yang belum hadir sebelum mereka mengambil keputusan. Ia tidak ingin terburu-buru menerima tawaran tersebut tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi seluruh kelompok.

Setelah anggota lain mulai meninggalkan ruangan, Alicia menghampiri Dafa yang sedang merapikan beberapa dokumen di atas meja.

“Kenapa kamu tidak langsung menerima tawaran Raga?” tanya Alicia.

Dafa mengangguk. “Mutant Village punya pertahanan yang kuat. Kalau situasi memburuk, tempat itu bisa menjadi pilihan bagi kami. Tapi sepertinya untuk sekarang, kami belum memerlukannya.”

“Kalau menurutku, tawaran itu layak dipertimbangkan. Raga bukan tipe orang yang menawarkan bantuan tanpa alasan yang jelas, tetapi dia juga tidak terlihat sedang mencari keuntungan dari kalian.”

“Kamu baru bertemu dengannya beberapa kali. Tapi sudah bisa menilai dia sejauh itu.”

Alicia tersenyum tipis. “Aku cukup pandai menilai orang, Dafa.”

“Seingatku, kamu pernah salah menilai seseorang.”

Senyum Alicia langsung memudar. Ia menyipitkan mata ke arah Dafa. “Kamu masih mengungkit kejadian waktu itu?”

“Bukankah kamu sendiri yang memulainya?”

“Itu bukan alasan untuk terus mengungkitnya.”

Dafa tertawa kecil, lalu kembali merapikan dokumen. Alicia menggeleng, tetapi sudut bibirnya ikut terangkat. Percakapan ringan itu berlangsung begitu alami, seolah keduanya sudah terbiasa menghabiskan waktu bersama.

Dari dekat pintu, Michele memperhatikan mereka.

Ia sebenarnya hendak mengajak Dafa memeriksa persediaan yang baru tiba. Namun, melihat keduanya berbincang dengan akrab, langkahnya terhenti. Pandangannya beralih dari Alicia kepada Dafa, lalu kembali kepada Alicia.

Michele mengenal Dafa cukup lama untuk mengetahui bahwa laki-laki itu jarang tertawa lepas di hadapan orang yang belum benar-benar dipercayainya. Karena itulah, keakraban mereka menarik perhatiannya.

“Dafa,” panggil Michele.

Dafa menoleh. “Ada apa?”

“Aku mau menunjukkan persediaan yang baru datang. Sepertinya, ada beberapa barang yang perlu kamu periksa.”

“Baik. Aku akan ke sana sebentar lagi.”

Michele mengangguk, tetapi matanya sempat melirik Alicia.

Alicia menangkap tatapan itu. Alih-alih merasa tersinggung, ia justru menyapa Michele dengan ramah. “Kamu yang mengurus persediaan di sini?”

“Sebagian,” jawab Michele. “Aku hanya membantu memastikan, agar kebutuhan semua anggota terpenuhi.”

“Pasti cukup merepotkan, apalagi kalau jumlah anggota kalian cukup banyak.”

“Aku sudah terbiasa melakukannya,” Michele menjawab singkat, kemudian kembali menatap Dafa. “Kamu jangan lupa. Ada beberapa hal yang harus diperiksa sebelum barang-barang itu disimpan.”

“Aku tidak akan lupa.”

Alicia melipat tangan di depan dada, lalu melirik Dafa dengan senyum kecil. “Sepertinya kamu punya seseorang yang selalu mengingatkanmu.”

“Michele memang sering membantuku mengurus tempat ini,” jawab Dafa, tanpa menangkap maksud di balik ucapan Alicia.

“Aku bisa melihatnya.”

Michele terdiam sesaat. Ia tidak yakin apakah Alicia sekadar mengomentari situasi atau sengaja menggodanya. Namun, cara perempuan itu tersenyum membuat Michele sedikit kehilangan kata-kata.

“Aku hanya memastikan semuanya berjalan dengan baik,” ujarnya, berusaha terdengar biasa.

“Aku sudah melihatnya,” balas Alicia. “Tempat ini pasti tidak akan berjalan semudah sekarang tanpa bantuanmu, Michele.”

Pujian itu membuat Michele sedikit terkejut. Ia sempat mengira Alicia akan bersikap arogan sebagai Pure Esper Class Infinity, tetapi perempuan itu justru berbicara dengan santai.

“Terima kasih,” jawab Michele akhirnya.

Alicia mengangguk, kemudian kembali menghadap Dafa. “Kalau begitu, aku akan menunggu di luar. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaan kalian.”

“Kamu tidak mengganggu,” kata Dafa. “Aku hanya perlu memeriksa persediaan sebentar. Setelah itu, kita bisa kembali ke Esper City.”

Michele yang mendengar ucapan itu segera menoleh. “Kalian akan kembali ke kota?”

“Iya. Masih ada beberapa urusan yang harus kami selesaikan di sana.”

“Oh.” Michele mengalihkan pandangannya sejenak. “Kupikir Alicia akan tinggal lebih lama.”

“Kenapa?” tanya Alicia, nada suaranya terdengar ringan.

Michele menatapnya kembali. “Tidak ada alasan khusus. Hanya saja, jarang sekali kami punya tamu.”

Alicia tidak mendesaknya lebih jauh. Ia hanya tersenyum sebelum berjalan menuju pintu. “Aku tunggu di luar, Dafa.”

Dafa mengangguk. “Jangan pergi terlalu jauh. Aku tidak tahu berapa lama pemeriksaan ini akan berlangsung.”

“Kalau begitu, jangan membuatku menunggu terlalu lama.”

Alicia meninggalkan ruangan dengan langkah santai. Dafa menyusul Michele menuju tempat penyimpanan, tanpa menyadari bahwa Michele sempat memperhatikan punggung Alicia dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Setelah beberapa saat, Michele akhirnya bertanya, “Kalian sudah lama saling mengenal?”

Dafa menoleh kepadanya. “Aku dan Alicia?”

Michele mengangguk.

“Belum terlalu lama. Kami bertemu ketika dia mencari informasi tentang Artificial Esper untuk mencari saudara kembarnya.”

“Begitu, ya.”

Dafa memperhatikan wajahnya. “Jarang sekali kamu tertarik pada seseorang, Michele.”

“Bukan begitu. Hanya saja kalian terlihat akrab.”

“Dia memang type orang yang mudah diajak bicara.”

Michele terdiam. Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa justru membuatnya enggan melanjutkan pertanyaan.

Dafa kembali memeriksa daftar persediaan tanpa menyadari perubahan ekspresi Michele.

Sementara itu, Michele berusaha mengalihkan perhatiannya pada pekerjaan. Ia tidak punya alasan untuk mempermasalahkan kedekatan Dafa dengan Alicia. Lagi pula, Alicia belum melakukan sesuatu yang pantas untuk dicurigai.

Namun, ketika mereka selesai dan kembali ke ruangan utama, pandangan Michele tanpa sadar mencari sosok Dafa lebih dahulu, sebelum akhirnya berhenti pada Alicia yang sedang menunggunya di dekat pintu.

Michele mengembuskan napas pelan.

Ia tidak menyukai perasaan aneh yang muncul sejak Alicia datang, terlebih ketika melihat Dafa tersenyum kepadanya dengan cara yang jarang Michele lihat.

Dan untuk saat ini, Michele memilih menyimpan perasaan itu sendiri.

Sementara itu ditempat lain Raga dan Albert tiba kembali di Mutant Village ketika matahari mulai condong ke barat. Beberapa warga yang sedang beraktivitas menyapa mereka. Raga membalas seperlunya sebelum berjalan menuju bangunan tempat Razen dan Aurora biasa berkumpul.

Razen sedang memeriksa laporan keamanan ketika Raga masuk. Aurora duduk tidak jauh darinya, membaca catatan mengenai persediaan desa.

“Kalian sudah menemukan Dafa?” tanya Aurora.

“Sudah,” jawab Raga sambil menarik kursi. “Aku bertemu dengannya di pinggiran Esper City.”

Razen menutup laporan di tangannya. “Bagaimana tanggapannya terhadap tawaran kita?”

“Dia akan membicarakannya dengan anggota Artificial Esper terlebih dahulu. Dia tidak ingin mengambil keputusan tanpa mendengar pendapat mereka.”

“Setidaknya dia tidak langsung menolak,” ujar Aurora. “Mereka mungkin membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan tawaran sebesar itu.”

Raga mengangguk. “Aku juga tidak mengharapkan jawaban saat itu juga. Keputusan tersebut menyangkut seluruh kelompoknya, bukan hanya dirinya.”

Aurora meletakkan catatannya di atas meja. “Kalau mereka menerima tawaran kita, kita perlu menyiapkan tempat tinggal yang layak untuk mereka. Jumlahnya mungkin cukup banyak, jadi kita harus memastikan kebutuhan mereka bisa terpenuhi.”

“Kita bisa menggunakan bangunan di sisi timur desa,” kata Razen. “Tempat itu cukup luas, tetapi sudah lama tidak digunakan. Kita perlu hanya memeriksa kondisinya.”

“Kalau begitu, periksa bersama beberapa orang besok,” ujar Raga. “Pastikan bangunannya layak digunakan. Kita tidak tahu berapa banyak anggota Artificial Esper yang datang nanti.”

Razen mengangguk, lalu kembali membuka laporannya. “Ada satu hal lagi. Jika Artificial Esper tinggal di sini, keberadaan mereka tidak akan bisa dirahasiakan selamanya. Orang-orang di luar desa mungkin akan mempertanyakan keputusan kita.”

“Nanti aku akan mengumumkannya,” jawab Raga tenang. “Kita tidak sedang mengundang mereka untuk membuat masalah. Kita menawarkan perlindungan kepada orang-orang yang membutuhkannya.”

“Aku tidak mempermasalahkan keputusanmu,” kata Razen. “Aku hanya ingin memastikan kita siap menghadapi konsekuensinya.”

“Aku mengerti.”

Aurora memperhatikan keduanya sebelum ikut berbicara. “Kalau mereka datang, kita perlakukan mereka seperti warga yang membutuhkan tempat berlindung. Mereka tidak perlu langsung menyesuaikan diri dengan semua kebiasaan di desa. Kita bisa memberi mereka waktu.”

Raga menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia senang setidaknya mereka tidak mempermasalahkan tawaran yang telah ia berikan kepada Dafa.

“Tapi untuk sekarang, kita tunggu keputusan Dafa terlebih dahulu.”

“Baik,” jawab Aurora.

Razen kembali menatap laporan keamanan di hadapannya. “Bagaimana dengan Adrian Veyron? Apakah menurutmu dia akan berhenti hanya karena Council tidak menyetujui usulannya?”

“Tidak.” Raga menjawab tanpa ragu. “Adrian bukan orang yang mudah melepaskan rencananya begitu saja. Kalau dia sudah memutuskan untuk bergerak, kita harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.”

“Kalau begitu, kita perlu memastikan pertahanan desa tetap dalam kondisi terbaik,” ujar Razen.

“Kamu bisa mempercayakan itu padaku,” kata Razen lagi setelah menutup laporannya. “Aku akan memeriksa penjagaan bersama Albert dan memastikan tidak ada celah yang terlewat.”

Albert, yang sejak tadi berdiri dekat pintu hanya mengangguk.

Aurora kemudian bangkit dan merapikan catatannya. “Aku akan mulai mendata kebutuhan tambahan jika kita harus menerima penghuni baru. Dengan begitu, kita tidak perlu menunggu sampai mereka tiba.”

Raga memandang mereka bergantian. “Terima kasih. Aku tidak ingin tawaran ini hanya menjadi ucapan tanpa persiapan nyata.”

“Kita sudah membicarakannya bersama,” jawab Aurora. “Kalau kita memang berniat membantu mereka, sudah sewajarnya kita bersiap.”

Raga tidak menanggapi lebih jauh. Ia berdiri dan berjalan menuju jendela, memandang desa yang masih menjalani aktivitas seperti biasa.

Di luar sana, kehidupan penduduk Mutant Village berlangsung tenang. Namun, ketenangan itu tidak menjamin mereka akan terbebas dari konflik yang sedang berkembang di Nexoria.

Raga menyadari bahwa jika rencana Adrian benar-benar dijalankan, ancamannya mungkin tidak akan berhenti pada Syndicate. Dan jika saat itu tiba, ia tidak berniat membiarkan Artificial Esper menghadapi semuanya sendirian.

Ditempat lain, malam telah menyelimuti Scientists City. Cahaya dari gedung-gedung tinggi masih menerangi jalanan, sementara aktivitas di pusat penelitian belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Di salah satu fasilitas dengan akses terbatas, para teknisi masih bekerja di ruang kendali Project 3, memastikan setiap unit siap menjalankan misi yang telah direncanakan.

Di balik dinding kaca ruang kendali, Adrian Veyron berdiri menghadap layar besar yang menampilkan laporan kesiapan seluruh unit. Wajahnya tenang saat membaca setiap baris informasi, sesekali mengalihkan pandangan ke layar lain yang menampilkan hasil pemeriksaan sistem.

Noah berdiri di dekat meja kendali, menunggu laporan terakhir dari tim teknis.

“Seluruh unit telah menyelesaikan pemeriksaan,” lapor seorang teknisi. “Destroyer, Sentinel, dan Executor siap dikerahkan. Seraphim juga telah melewati pemeriksaan sistem terakhir.”

“Bagaimana kondisi Eira?” tanya Adrian.

“Transfer kesadarannya berjalan normal. Tidak ditemukan gangguan pada sistem Neural Transfer.”

“Pastikan pemantauan tetap berjalan sampai pengerahan dimulai.”

“Dimengerti, Pak.”

Teknisi itu kembali ke tempatnya. Adrian kemudian mengalihkan perhatian kepada Noah. “Kamu sudah mempelajari berkas target kita?”

“Sudah.”

“Kalau begitu, apa yang bisa kamu simpulkan tentang dirinya?”

Noah menatap layar yang menampilkan profil The Conman. “Dia adalah Vice Don Syndicate sekaligus orang kepercayaan Vincenzo Aldoric. Dia mengoordinasikan hubungan antara Vincenzo dan Four Kings, serta memiliki jaringan informasi yang luas. Kemampuan bertarungnya bukan ancaman utama. Bahaya terbesarnya terletak pada kecerdasan dan kemampuannya mengendalikan situasi.”

“Lalu, bagaimana kamu akan menghadapinya?”

“Menyerangnya secara terbuka akan memberinya kesempatan untuk mengatur perlawanan. Aku perlu memastikan dia tidak mengetahui kedatanganku sebelum mencapai target.”

Adrian memperhatikan jawaban Noah tanpa segera menanggapi. “Jangan menganggapnya mudah dikalahkan hanya karena dia tidak memiliki kemampuan. Orang seperti Conman bisa menjadi lebih berbahaya daripada lawan yang mengandalkan kekuatan.”

“Aku memahami itu.”

“Pastikan kamu benar-benar memahaminya. Informasi yang kita miliki tidak selalu menggambarkan seluruh kemampuan seseorang.”

Noah mengangguk. Ia kembali menatap profil Conman, mengamati informasi mengenai kedudukannya di dalam Syndicate.

“Apakah aku akan bergerak sendiri?”

“Untuk tahap awal, kamu akan mengikuti instruksi yang telah ditetapkan. Detail pengerahan akan diberikan setelah seluruh persiapan selesai.”

“Bagaimana jika Four Kings ikut campur?”

“Jangan kehilangan fokus pada target utama. Jika situasi berubah, aku akan mengirim Destroyer dan Sentinel untuk melakukan Backup. Sesuaikan tindakanmu tanpa mengabaikan tujuan misi.”

Noah terdiam sejenak, lalu mengangguk.

Adrian beralih ke layar lain. Di sana, beberapa laporan operasi tersimpan dalam direktori terpisah. Akses terhadap berkas-berkas tersebut dibatasi, bahkan bagi sebagian personel senior Scientists.

“Untuk saat ini, fokuslah pada tugas yang diberikan padamu, Noah,” ujar Adrian. “Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal di luar misi.”

“Dimengerti.”

Noah hendak meninggalkan ruang kendali ketika Adrian kembali memanggilnya.

“Noah, satu hal lagi.”

Ia berhenti di dekat pintu dan menoleh. “Jangan biarkan penilaian pribadimu mengganggu misi. Jika situasi tidak berjalan sesuai perkiraan, gunakan pertimbanganmu untuk menyelesaikan misi, bukan untuk mengubah tujuan yang telah ditetapkan.”

Noah menatap Adrian beberapa saat. “Aku akan selalu menjalankan instruksi yang ayah berikan padaku.”

“Aku tahu. Karena itu, aku mempercayakan tugas ini kepadamu.”

Jawaban Adrian membuat Noah terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk dan meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, Adrian kembali mengamati layar utama. Seluruh unit Project 3 telah dinyatakan siap, tetapi ia belum memberikan perintah pengerahan. Ia tidak ingin memulai operasi sebelum setiap kemungkinan diperhitungkan.

Conman bukan sekadar anggota Syndicate. Selama pria itu masih berada di sisi Vincenzo, ia akan menjadi penghalang bagi rencana Adrian untuk mengambil kendali atas situasi di dunia bawah.

Dan Adrian tidak berniat membiarkan penghalang itu bertahan lebih lama dari yang diperlukan.

“Periksa kembali seluruh jalur operasi,” perintahnya kepada tim kendali. “Aku ingin laporan final sebelum pengerahan.”

“Baik, Pak.”

Di koridor luar, Noah terus berjalan menuju area persiapan. Pantulan cahaya lampu memanjang di lantai, sementara di balik dinding fasilitas, beberapa unit Project 3 berada dalam ruangan masing-masing.

Noah melewati ruang observasi dan berhenti sejenak di depan kaca yang memisahkan koridor dari salah satu ruang penyimpanan. Di dalamnya, Destroyer berdiri diam dalam posisi siaga.

Ia memandangi mesin itu selama beberapa detik.

Destroyer dirancang untuk beradaptasi dengan lawan. Sentinel dan Executor dikembangkan dari cetak biru yang sama. Sementara Seraphim menawarkan pendekatan berbeda melalui transfer kesadaran manusia ke tubuh mekanis.

Semua itu merupakan hasil penelitian yang terus berkembang di bawah kendali Adrian.

Noah melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi. Persiapan Project 3 hampir selesai. Yang tersisa hanyalah menunggu perintah Adrian untuk memulai operasi.

1
Niskala Cakrabuana
Gasssd
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!