Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Kebahagiaan
Perjalanan pulang terasa begitu hangat meski kabut tipis mulai turun menyelimuti jalanan berkelok yang menanjak naik ke lereng Gunung Pati. Di dalam mobil, piala kristal yang berkilau lembut di bawah cahaya lampu jalan diletakkan di pangkuan Sari, dipegangi erat seolah benda paling berharga di dunia, jauh lebih berharga daripada sekadar penghargaan apa pun. Aurel duduk di sebelahnya, menatap ke luar jendela melihat bayangan pepohonan yang bergerak perlahan tertinggal di belakang. Hatinya penuh kebanggaan, bangga pada ibunya, bangga pada ketekunan yang selama ini mereka jaga bersama hari demi hari tanpa kenal lelah. Tidak ada yang pernah meragukan bahwa Aurel bukan anak kandung Sari dan Slamet. Semua orang di kampung ini mengenalnya sebagai putri mereka, tumbuh besar di antara mereka, disayang dan diterima apa adanya. Tidak ada yang mencurigai apa apa, tidak ada yang berbisik di belakang punggung, tidak ada yang menyangsikan kebenaran itu. Bagi semua orang, Aurel adalah darah daging mereka, lahir di sini, dibesarkan di sini, dan tak pernah ada pertanyaan yang muncul.
Sesampainya di rumah, malam sudah larut. Udara di sekitar kediaman mereka jauh lebih dingin dibandingkan di pusat kota, dan kabut sudah turun menyelimuti halaman serta kebun rempah di belakang rumah. Lampu lampu rumah tetangga sebagian sudah padam, menyisakan keheningan yang tenang dan damai. Sari menaruh piala di meja ruang tamu, tepat di tempat yang paling terang, lalu berdiri diam sejenak menatapnya. Air mata bahagia menetes perlahan di pipinya yang sudah mulai terlihat garis garis lelah akibat bekerja keras bertahun tahun lamanya.
"Siapa sangka ya, Rel..." suaranya bergetar pelan, hampir berbisik seakan takut mengganggu keheningan malam. "Dulu Ibu hanya meracik jamu di dapur kecil ini, hanya untuk dijual berkeliling kampung dengan tas anyaman di pundak. Banyak yang meremehkan, banyak yang berkata usaha ini tidak akan pernah berkembang. Tapi sekarang namaku dikenal di Balai Kota."
Aurel mendekat dan memeluk ibunya dari samping, merasakan bahu yang mulai membungkuk itu terasa hangat di pelukannya. "Itu semua karena Ibu tidak pernah menyerah. Orang lain mungkin sudah berhenti sejak lama, tapi Ibu tetap berdiri tegak, tetap bangun pagi pagi sekali, tetap meracik dengan teliti, meski penghasilannya belum tentu cukup untuk kebutuhan sehari hari."
Sari mengusap kepala putrinya perlahan, senyumnya tulus dan penuh kasih sayang. "Semua ini juga karena kamu, Nak. Kamu adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan titipkan kepada Ibu. Sejak hari pertama kamu datang ke pelukan Ibu, Ibu merasa lengkap. Kamu tumbuh sehat, menjadi gadis yang baik, kuat, dan berhati lembut. Ibu tidak meminta apa apa lagi selain melihatmu bahagia."
Sari benar benar tidak tahu. Ia menganggap Aurel darah dagingnya sendiri, lahir dari rahimnya, tumbuh di bawah perawatannya, dan tak pernah sekalipun terlintas keraguan di hatinya. Slamet pun sama. Mereka berdua mencintai Aurel sepenuhnya, tanpa syarat, tanpa keraguan sedikit pun. Kerabat, tetangga, semua orang di kampung ini tidak ada satu pun yang mencurigai sesuatu yang berbeda. Bagi mereka semua, Aurel adalah putri Sari dan Slamet, tidak ada yang lain. Sesekali ada yang berkata wajahnya tidak mirip, namun itu hanya dianggap sebagai perpaduan sifat dari kerabat jauh, hal yang wajar terjadi pada siapa saja. Tidak ada yang berpikir lebih jauh, tidak ada yang menyimpan keraguan.
Namun malam itu, setelah Sari terlelap, Aurel belum bisa memejamkan mata. Ia duduk di tepi jendela kamarnya, melihat ke arah kebun rempah yang tampak gelap dan samar tertutup kabut. Piala penghargaan itu berdiri di sudut meja, memantulkan cahaya bulan yang masuk melalui celah gorden tipis. Sesekali muncul keraguan kecil di benaknya, mengapa wajahnya tidak persis sama dengan Sari maupun Slamet? Mengapa orang orang kerap memujinya cantik namun dengan tatapan yang seakan melihat sesuatu yang lain? Ia segera menepis pikiran itu. Semua orang bilang ia mirip kerabat jauh, cukup masuk akal. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang salah. Ia anak mereka, pasti begitu.
Keesokan paginya, Aurel bangun lebih awal dari biasanya. Udara pagi terasa sejuk dan menyegarkan, embun masih menempel di ujung daun daun pisang di halaman. Ia membawa kendi tanah liat menuju sumur umum di pertengahan kampung untuk mengambil air. Di jalan setapak yang berkelok, ia berpapasan dengan dua orang wanita tua yang duduk di beranda rumah kayu tak jauh dari sana. Mereka berbicara dengan suara pelan, namun keheningan pagi membuat ucapan mereka terdengar cukup jelas.
"Kau perhatikan wajah Aurel semakin hari semakin berbeda ya?" tanya yang satu sambil menatap ke arah jalan.
"Sudah kubilang jangan bicara begitu," jawab yang lain buru buru. "Siapa pun anaknya, Aurel tumbuh menjadi gadis yang baik. Itu yang penting."
"Aku tidak bermaksud buruk. Hanya dulu aku sempat menengok Sari ke RS Elisabeth waktu Sari melahirkan. Ada sesuatu yang selalu teringat. Suster Rina yang menanganinya. Dia orang yang sangat tertutup, tidak pernah menceritakan apapun tentang keadaan bayi si Sari dan seperti ada yang di sembunyikan"
"Sudahlah, jangan menebak nebak. Tidak ada yang perlu di ketahui. Biarkan saja mereka hidup tenang."
Mereka berhenti berbicara saat melihat Aurel mendekat, tersenyum kaku, lalu mengalihkan pembicaraan ke hal tentang cuaca dan tanaman kebun. Aurel membalas sapaan mereka dengan sopan, namun hatinya berdebar kencang sepanjang jalan menuju sumur dan kembali pulang. Mereka tidak mengatakan banyak, mereka tidak mengetahui kebenarannya, mereka hanya sekadar berkomentar. Namun satu nama yang disebutkan terus berputar di kepalanya tanpa henti, Suster Rina.
Sepanjang hari itu pikiran Aurel tak tenang. Ia melihat Sari yang sibuk di dapur, tersenyum ramah setiap kali menoleh, dan hatinya terasa sayang. Ia tidak ingin meragukan ibunya, tidak ingin menyakiti siapa pun. Namun pertanyaan itu kini ada, nyata, dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Mengapa ada yang menyebut nama suster itu? Mengapa ada yang merasa ada yang berbeda? Ia tahu Sari tidak tahu. Ia tahu Slamet tidak tahu. Ia tahu tidak ada orang yang benar benar tahu apa yang terjadi dulu. Namun percakapan pagi itu menanamkan sesuatu di hatinya, ada satu orang yang mungkin memegang jawaban. Suster Rina. Orang yang merawat ibunya saat melahirkan, orang yang menyerahkan bayi itu ke pelukan Sari, orang yang mungkin melihat sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
Sore itu, saat duduk sendirian di beranda rumah menatap kabut tipis yang mulai turun dari puncak gunung, Aurel menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia tidak akan bertanya sekarang. Ia tidak akan menuduh siapa pun. Tapi ia berjanji pada dirinya sendiri, suatu saat nanti ia akan mencari Suster Rina. Bukan untuk mempersalahkan siapa pun, melainkan untuk mengetahui kebenaran bagi dirinya sendiri. Dan apa pun yang nanti ditemukannya, ia tidak akan membiarkan hal itu merusak kebahagiaan keluarganya.
kalau bisa double up