NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DELAPAN: Mahkota Ilusi (Bagian 3)

“Udah nyampe?” Ian mengecek keberadaanku untuk ke sekian kalinya. Kulihat beberapa lampu kuning menyorot huruf-huruf berukuran besar yang menandai nama tempat tersebut. Aku sudah sampai.

“Yep, I’m here,” tukasku sambil keluar dari mobil.

“Well, you know me. Apapun kejadiannya nanti, I will always have your back.”

“Cool! Nanti aku kabari kalau udah perjalanan balik,” kututup panggilan dari Ian dan kumasukkan handphoneku di balik jas. For God’s sake, Ian benar-benar mendandaniku habis-habisan. Tapi jika bukan karena dia, aku juga tidak akan pernah tahu bahwa aku punya setumpuk baju terlalu mahal yang menggantung sia-sia di lemari.

Kubelokkan kakiku ke kamar mandi pria. Memastikan kemeja navyku terselip sempurna di balik jas. Kuperhatikan juga jeansku dengan saksama. Lalu kupandangi cermin di depanku. Oke, nothing bad so far.

“What a surprise! Look who we have here!” sebuah suara ceria langsung menyambutku begitu aku keluar dari kamar mandi. Aku menoleh, mendapati Vanya dengan dress warna merah darahnya.

“Hai!”

“You look so good!” Vanya bahkan tanpa berkedip ketika mengatakannya.

“Thank’s! Ya meskipun aku udah sering mendengar kata-kata itu ribuan kali sih.”

“Shut up! Come in!” Vanya merengkuh lenganku. Seketika itu juga aku menepis tangannya. Tapi, bukan Vanya jika dia tidak keukeuh mencoba. Beberapa orang pun mulai memandang kami dengan tatapan ingin tahu. Dan karena sepertinya semuanya mengenal Vanya, aku jadi terpaksa mendiamkan saja perbuatan tidak menyenangkannya itu.

“Semua orang ini kolega ayahmu?” tanyaku setelah satu, dua orang yang kami lewati melemparkan senyumnya padaku.

“Kolega? Mereka ini keluarga besarku, Zang. Ini acara rutin di keluarga kami, makan malam bersama gitu,” ucapan Vanya membuatku berhenti. Something is wrong here.

“Oh, I think I came at the wrong time.”

“No, of course not. You came at the right time. Perfect time!” Vanya menunjuk ayahnya yang tengah mengobrol di tepi kolam renang. Secara tidak langsung memintaku menemuinya.

“Pa, Izang udah dateng,” Vanya mengelus bahu pak Hendra sebelum kemudian tersenyum ke arahku. Dia pun berlalu ke arah beberapa gerombolan wanita yang kusadari mengamatiku sedari tadi.

“Wah, saya sempat pesimis kalau kamu tidak bisa hadir. Bagaimana perjalanannya?” pak Hendra menyodorkan tangannya padaku.

“Lancar, Pak,” aku menyambut erat jabat tangan itu.

“Naik apa tadi ke sini? Mobil? Motor?”

“Mobil, Pak. Kebetulan Ian menginap di tempat saya, jadi saya bisa memakai mobilnya sementara dia beristirahat di apartemen,” jangan kecewa karena aku tidak menaiki mobilku sendiri. Kan aku sudah bilang Ian mendandaniku habis-habisan. Mendandani ini sudah termasuk dengan kendaraan yang kupakai. Dan tentu saja Ian tidak akan membiarkanku menyetir mobil keluaran Jepang atau Cina, motor apalagi. Dia jelas memberikanku akses eksklusif ke Lamborghini Gallardo hitam miliknya. Iya, mobil dua pintu yang termahal kesekian di dunia itu. Sudah bisa kamu bayangkan kan?

“Ah, saya baru tahu kalau ternyata kalian seakrab itu,” pak Hendra berkelakar.

“Saya malah baru tahu juga kalau ini adalah acara makan malam keluarga, bukan kolega,” aku pun menanggapi candaan pak Hendra. Beliau tertawa.

“Begitu? Padahal kalau kamu sudah berpacaran dengan anak saya tentu saja kamu sudah saya anggap sebagai keluarga,” layaknya tersengat listrik beribu-ribu volt, aku mematung seketika.

“I'm sorry?” aku mencari arah pandang direkturku itu. Beliau masih tertawa.

“Ah, jangan malu-malu begitu! Vanya cerita banyak hal tentang hubungan kalian berdua. Tenang! Saya bukan orang tua yang suka melarang-larang anak saya dalam hal percintaan. Toh, kamu punya tampang dan berdedikasi tinggi dalam pekerjaan. Tipe-tipe idaman untuk keluarga Widiatmoko, benar kan?” pak Hendra melemparkan pertanyaan pada beberapa laki-laki yang berdiri di dekat kami. Usia mereka sekitar di kepala tiga. Dan mereka mengangguk-anggukkan kepalanya membenarkan. Ini jelas bukan lagi dalam kategori candaan. Otakku seketika bekerja dengan kecepatan super. Rona merah muda, kebohongan Vanya, dan undangan makan malam bersama keluarga. WHAT. THE. FUCK!

“Sebelumnya maaf, Pak. Tapi bisakah saya meminta waktu untuk berbicara empat mata dengan Bapak?” aku mendekatkan bibirku ke telinga pak direktur. Berharap suaraku cukup tegas untuk menyita perhatian beliau.

“Oh. Tentu, tentu. Gentlemen!” pamit laki-laki berjas hitam itu lalu berjalan mendahuluiku. Beliau kemudian berhenti di salah satu ujung balkon yang berhadapan langsung dengan pemandangan kota.

“Ada apa gerangan?”

“Saya rasa ada kesalahpahaman yang cukup besar yang terjadi di sini, Pak,” dengan susah payah aku merangkai kata-kata sopan di otakku. Zang, deep breath!

“Maksud nak Izang bagaimana?” pak Hendra membenahi letak kacamatanya. Aku menarik napas dalam-dalam.

“Saya tidak berpacaran dengan putri Bapak.”

“Apa?” suara pak Hendra meninggi bersamaan dengan dentuman drum yang dipukul oleh salah satu personil live music band yang sedang check sound. Aku mengedarkan pandanganku sekilas. Tidak ada yang menoleh ke arah kami.

“Saya tidak berusaha menutupi perasaan saya, tapi saya memang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Vanya. Saya bersama Vanya hanya sebatas untuk membantunya menyelesaikan penelitian. Tidak lebih,” aku meneruskan penjelasanku.

“Tapi kan kamu menjemput dan menemani dia. Bukankah itu berarti kamu ada perasaan terhadap anak saya?” pak Hendra menatapku dengan tatapan yang sulit kupahami. Terkejut, marah, malu, entahlah.

“Itu semua atas permintaan Vanya pribadi, Pak. Saya beberapa kali harus meninggalkan meeting untuk menemani putri Bapak karena saya pikir ‘it’s the least I can do’. Vanya juga membohongi saya dengan mengatakan kami akan pergi bertiga bersama Ian ke TSM. Namun sesampainya di TSM, Vanya mengatakan jika Ian sedang sakit. Padahal faktanya Ian tidak pernah mendapat ajakan dari putri Bapak dan dia juga sedang dalam keadaan sehat saat itu. Bapak bisa langsung mengonfirmasi sendiri kepada Ian,” tuturku panjang lebar. Sepertinya malam ini aku harus bercerita pada Ian tentang kejadian di TSM. Ah, yang ini pun wajib.

“Tapi kamu single kan?” pertanyaan ini menggelitikku. Kalau aku single tentu tidak akan serumit ini persoalannya.

“Tidak, Pak. Pacar saya ada di Malang. Dan saya sudah empat tahun berpacaran dengannya dengan tujuan untuk menikah,” aku menambahkan jumlah tahun agar pak Hendra tahu statusku bukan sekadar untuk menolak kemauan anaknya.

“Berarti maksud kamu...anak saya mengarang cerita seperti ini agar kamu meninggalkan pacarmu begitu? Memaksamu untuk...” pak Hendra tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Tentu saja, ayah mana yang percaya bahwa anaknya selicik ular.

“I’m afraid so, Sir. Tapi, saya tidak berani menghakimi Vanya dengan dugaan yang tidak-tidak. Dia pasti memiliki alasan tersendiri karena melakukan hal hingga sejauh ini. Saya hanya ingin menegaskan bahwa saya bukanlah laki-laki yang rela menukar pacarnya hanya demi kekayaan. Meskipun tidak bisa dipungkiri jika Vanya adalah wanita yang cantik, tapi bagi saya, pacar saya jauh lebih menarik, mentally even physically,” tak perlu diminta, aku dengan bahagia menjelaskan detail pacarku bernama Ara itu. Ah, dia sudah tidur belum ya?

“Unbelievable!” satu kata yang kusambut dengan anggukan mantap. Ya, aku juga sulit percaya ini terjadi di kehidupanku yang sudah penuh dengan drama.

“Saya rasa keberadaan saya di sini sudah tidak penting lagi. Saya benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya pada pak Hendra karena kesalahpahaman yang terjadi. Saya pamit undur diri,” aku membungkuk hormat pada pak direktur. Tapi baru saja aku berbalik, beliau sudah memanggilku lagi.

“Nak Izang...”

“Bapak tidak perlu khawatir, saya tentu akan merahasiakan ini dengan baik. Jika Bapak akan memecat saya, saya juga tidak keberatan. Karena saya tahu orang tua yang berperan sebagai atasan tidak akan tahan dipermalukan begini oleh bawahannya. Saya hanya berharap Bapak bisa menasihati Vanya agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi di kemudian hari. Permisi!” aku memotong perkataan pak Hendra yang belum selesai. Tidak kusangka aku bisa menjelaskan pada direktur dengan wajah setenang lautan dan tanpa umpatan. Sepertinya aku harus memberikan penghargaan pada diriku sendiri. Penghargaan atas pengendalian emosi.

“Lho? Kamu udah mau balik?” tanya Vanya yang tiba-tiba sudah di sampingku. Kulihat dia menggenggam segelas wine di tangan kanannya. Semoga saja cairan merah itu tidak berpindah ke mukaku dalam beberapa menit ke depan.

“Aren’t you even tired?” tanyaku sembari menatap matanya lekat-lekat. Dia berjengit.

“Tired?”

“Yeah, for making fun of everybody,” aku merasakan nada sinis dalam bicaraku.

“Kamu ngomongin apa sih?” Tsk. Gadis ini benar-benar!

“Stop it, Vanya! I’m not your toy. And I’m not fucking stupid,” kulangkahkan kakiku menerobos beberapa pasangan yang berjalan berlawanan ke arahku. Entah kenapa ruangan resort ini jadi sangat gerah untukku.

“What are you talking about?” Vanya mengejarku. Seketika itu juga aku berbalik menghadapnya.

“For fuck sake! Look! Kalau kamu pikir kamu bisa membuatku putus dengan Ara hanya karena kekayaan ayahmu, keep dreaming! It will never happen!” aku mengacungkan telunjukku ke arahnya. Segerombolan wanita yang tadi bersama Vanya ikut melihat kami dari kejauhan.

“Seriously? Don’t be naive! Cewekmu nggak akan bisa ngasih apa yang kamu butuhin. Jangankan ngasih, dia berkunjung pun belum tentu bisa. Sedangkan aku? Aku bisa aja pulang-pergi Singapura-Bandung demi kamu. Selama ada uang, nggak akan ada hal yang sulit bagiku. Bahkan kamu juga bisa nerusin kuliah di kampusku dan udah pasti kamu akan jadi penerus perusahaan,” Vanya menjejaliku dengan berbagai alasan. Aku mengusap wajahku, tak percaya dengan apa yang kudengar barusan.

“Am I look that cheap to you? You’re crazy!”

“What? No! You’re not cheap at all. I’m just offering you the good life that I have for free. And yes, I’m crazy since the first time I met you. I just don’t get it. Why you chose her over me?” dari sekian pertanyaan yang dia ajukan selama dua bulan ini, pertanyaan ini yang paling kutunggu-tunggu.

“Cause she is her. She is the one that I want,” ujarku sambil kembali berjalan menuju parkiran mobil. Kupikir perdebatanku akan selesai sampai di situ. Tapi ternyata Vanya masih tetap mengikutiku hingga ke mobil.

“Then why you call me princess?” Vanya menghadang langkah panjangku.

Really? This type of question even exist?

“Joke?” tanpa kuminta, bibirku sudah menyunggingkan senyum mengejek. Kulewati tubuh Vanya dengan tanpa permisi. Bukan hanya dia yang bisa kejam, aku juga bisa lebih kejam lagi darinya.

“Kamu pasti akan nyesel karena nolak aku, Zang” Vanya menatapku nanar. Dan ejekanku semakin menjadi karenanya.

“Ugh, seriously? You just a damn spoiled princess. You can never beat my queen,” tukasku masa bodoh. As you can see, aku bahkan tidak bisa berhenti memikirkan Ara di saat ada gadis lain yang sampai sedemikian rupa memanfaatkan kekayaannya demi mendapatkanku. This is real. Ara must be a witch!

Aku baru akan menutup pintu mobilku ketika tiba-tiba saja aku teringat sesuatu untuk kukatakan pada Vanya.

“Ah, satu lagi. Stop your delusion about being my girlfriend! You’re not my type. Not even close,” aku menutup pintu mobil lebih keras dari yang seharusnya. Kulihat Vanya menatapku dengan tatapan kecewa. Aku tak peduli. Kuinjakkan kakiku ke pedal gas dan dengan segera meluncur meninggalkan tempat itu. Aku sempat melihat Vanya terduduk dengan bahu bergetar khas perempuan menangis dari kaca spion. Tapi aku tidak merasa kasihan. Bahkan menyesal pun tidak. Biar saja. Toh, dia masih ada urusan dengan ayahnya.

Saat aku dengan sebelah tangan mengambil handphoneku, mobil yang kukendarai baru sampai di jalanan yang lebih lengang. Kuketik nama di kontakku dalam hitungan detik dan mengklik tanda ‘Call’. Ada tut panjang sebelum suara berat merasuki telingaku.

“Andra, kasih aku cuti dua minggu! Jangan tanya kenapa! I will explain it later.”

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!