NovelToon NovelToon
Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Matahari pagi menyusup lewat celah ventilasi kamar kos, membawa hawa hangat yang mulai membuat udara di dalam ruangan terasa pengap. Keira terbangun oleh suara dering alarm ponsel yang ia letakkan di dekat bantal. Layar retak itu menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh.

Ia bangkit, merapikan gulungan selimut tipis, lalu melangkah ke kamar mandi luar untuk mengambil air wudu. Setelah menunaikan salat Subuh yang terlambat karena terbangun kesiangan, Keira duduk bersimpuh di atas sajadah lipatnya sejenak.

Pikirannya melayang pada percakapannya dengan Amara beberapa waktu lalu, lalu bergeser pada malam harinya ketika Davin datang membawa martabak.

Ada rasa bersalah yang masih menyisa di sudut dadanya. Kemarin, ia sempat membela Amara di hadapan Davin, meski pada akhirnya ia memilih mengalah dan meminta maaf. Mengingat hal itu, Keira menghela napas panjang. Ia menggeleng pelan, berusaha menepis sisa-sisa rasa tidak nyaman yang mengganjal.

Davin benar, batinnya mencoba meyakinkan diri sendiri. Dia cuma mau melindungi aku dari pergaulan yang gak tentu arah. Kota Bimantara ini keras. Kalau bukan karena Davin, aku mungkin sudah terlantar.

Pagi itu, kamar kos terasa begitu sunyi. Tidak ada aktivitas berarti yang bisa ia lakukan selain merapikan baju-baju pemberian tantenya Amara yang beberapa hari lalu ia letakkan di dalam kantong. Satu per satu pakaian itu ia keluarkan dan ia lipat rapi ke dalam lemari plastik mini berpintu tiga yang dibelikan Davin minggu lalu.

Menjelang pukul sepuluh pagi, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.

Davin: Sayang, siang ini aku jemput ya. Kita makan siang di luar sebentar, habis itu aku temenin kamu beli galon air sama kebutuhan bulanan. Jangan ke mana-mana dulu.

Melihat pesan itu, bibir Keira otomatis mengukir senyuman tipis. Rasa hangat yang sempat meredup kembali mengalir di dadanya. Perhatian kecil seperti itu memastikan kebutuhan hariannya terpenuhi dan tidak membiarkannya mengangkat beban berat seorang diri selalu berhasil membuat Keira merasa bahwa lelaki itu benar-benar merawatnya dengan baik.

Keira: Iya, Vin. Aku tunggu di kos ya.

Tepat pukul dua belas siang, suara ketukan familiar terdengar di pintu kayunya. Begitu Keira membukakan pintu, Davin berdiri di sana dengan senyuman ramah, mengenakan kaos polo abu-abu berkerah yang membuatnya tampak lebih santai dari hari-hari biasa ketika mengenakan pakaian kantor.

"Udah siap?" tanya Davin sambil melangkah masuk, langsung menyambar tangan Keira dan menggenggamnya hangat. Matanya menyapu isi kamar kos yang sudah tampak jauh lebih rapi.

"Wah, baju-baju baru dari temanmu itu sudah diberesin ya?"

"Udah, sebagian sudah aku masukin lemari," jawab Keira sambil meraih tas selempang kecilnya. "Katanya mau ajak aku makan siang? Kamu gak sibuk kantor hari ini?"

"Hari ini jadwalnya agak santai, jadi aku bisa ambil waktu istirahat lebih lama buat nemenin kamu," tutur Davin lembut, merangkul bahu Keira keluar dari kamar kos dan menguncinya dari luar.

Mereka berjalan berdampingan menyusuri gang sempit menuju jalan raya tempat motor matic Davin diparkir. Sepanjang perjalanan, tangan Davin tidak lepas menggenggam jemari Keira, menuntunnya setiap kali ada motor yang melintas terlalu dekat. Sikap protektif itu selalu membuat Keira merasa aman.

Di tengah dunia yang mendadak runtuh sejak ia diusir dari rumah keluarganya dua bulan lalu, genggaman tangan inilah yang menjadi jangkar paling nyata baginya.

Mereka makan siang di sebuah warung bakso langganan yang tidak jauh dari kawasan kampus.

Suasana warung cukup ramai oleh mahasiswa dan pekerja kantoran yang sedang istirahat. Di sela-sela makan, Davin dengan telaten menggeser mangkuk sambal dan mengelap sendok plastik Keira menggunakan tisu basah sebelum menyerahkannya.

"Kamu akhir-akhir ini kelihatan agak kurusan, Kei. Kurang tidur ya?" tanya Davin di tengah suapan, menatap tajam ke arah wajah Keira.

Keira menggeleng cepat, tersenyum kecil. "Enggak kok, Vin. Aku tidur cukup. Cuma mungkin karena seharian di kamar jadi jarang gerak aja."

"Makanya, kalau aku suruh jangan banyak pikiran, didengerin," ucap Davin dengan nada ringan, namun menyiratkan ketegasan yang tidak bisa dibantah.

"Kamu itu cukup fokus sama diri sendiri dan kesehatan kamu. Urusan luar biar aku yang urus.

Besok-besok kalau butuh apa-apa, gak usah repot-repot nunggu dikasih orang atau nerima barang dari luar. Tinggal bilang sama aku, nanti aku belikan yang lebih bagus."

Ada jeda sepersekian detik di mana Keira merasa kalimat itu terdengar agak berlebihan seolah barang-barang titipan dari Amara dipandang sebelah mata. Namun, sebelum rasa tidak nyaman itu sempat membesar, Davin sudah tersenyum manis kembali, menanyakan apakah Keira ingin menambah es teh manis atau tidak.

Keira menelan keraguannya mentah-mentah.

Ia mengangguk pelan, menganggap ucapan Davin barusan hanyalah bentuk rasa sayang yang berlebihan karena lelaki itu ingin memberikan yang terbaik untuknya.

Sore harinya, setelah menemani Keira membeli galon air mineral dan beberapa bungkus mie instan di minimarket terdekat di mana Davin yang membayarkan semuanya tanpa membiarkan Keira mengeluarkan dompet sama sekali mereka kembali ke kosan. Davin bahkan membantu memasangkan galon air ke dispenser mini milik Keira sebelum duduk melepas lelah di tepi kasur.

"Capek ya?" tanya Davin melihat Keira yang mengusap keningnya.

"Dikit, tapi senang bisa keluar sebentar cari udara segar," aku Keira jujur.

Davin tersenyum, lalu meraih tangan Keira dan mengecup punggung tangan itu pelan.

"Maaf ya kalau akhir-akhir ini aku agak sibuk dan kadang cerewet sama kamu. Aku cuma takut kehilangan kamu, Kei. Kamu itu satu-satunya hal berharga yang aku punya sekarang setelah keluargamu ninggalin kamu."

Mendengar kalimat itu, ketulusan yang terpancar dari mata Davin membuat pertahanan batin Keira runtuh seketika. Rasa bersalah yang sempat bergelayut di kepalanya sejak kemarin malam seketika menguap.

Ia merangkap wajah Davin dengan kedua tangannya, tersenyum hangat.

"Aku juga gak bakal kemana-mana, Vin. Makasih ya sudah selalu ada buat aku," bisik Keira tulus.

Davin menarik tubuh Keira ke dalam pelukannya, mendekapnya erat. Di dalam dekapan itu, Keira memejamkan mata, merasakan kehangatan yang selama ini ia cari dari sosok lelaki yang telah menjadi dunianya. Untuk saat ini, tidak ada lagi keraguan di kepalanya. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa lelaki di hadapannya ini adalah rumah tempat ia berpulang.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang kian berulang. Dalam rentang beberapa minggu sejak ia tinggal di sana, ruang gerak Keira di kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu terasa semakin menyempit. Jika di awal kedatangannya ia masih sering keluar sekadar duduk-duduk di teras kos atau menyapa ibu pemilik warung di depan gang, kini ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan.

Bukan karena Davin secara terang-terangan melarangnya keluar, melainkan karena setiap kali Keira berniat pergi keluar untuk sekadar berjalan-jalan sore, selalu ada kalimat dari Davin yang membuatnya mengurungkan niat.

“Mau ke mana sore-sore gini sendirian? Anginnya lagi gak bagus, nanti kamu masuk angin.”

“Nggak usah ke warung depan ya, Kei. Kalau butuh apa-apa bilang aku saja, nanti dibawain sepulang kerja.”

Kalimat-kalimat itu diucapkan dengan nada lembut, dibarengi usapan di kepala atau senyuman manis. Namun lama-kelamaan, Keira merasa ruang geraknya menyusut perlahan seperti kain basah yang dijemur di bawah terik matahari menyusut, mengering, dan kehilangan bentuk aslinya.

Ponsel di atas meja kecil bergetar pelan. Sebuah pesan dari Amara masuk di layar.

Amara: Kei, weekend besok luang gak? Ada pameran buku indie di Gedung Kesenian Kota. Dulu kan kamu paling suka hunting novel genre drama atau puisi. Temenin yuk, udah lama banget kita gak jalan bareng.

Keira menatap layar ponsel itu cukup lama. Ada kerinduan yang mendesak di dadanya. Pameran buku, bau kertas baru, keramaian orang-orang yang sibuk memilih bacaan semua itu adalah hal-hal yang dulu sangat ia gemari sebelum dunianya jungkir balik dan ia diusir dari rumah. Jemarinya sudah bersiap mengetik balasan ya, namun bayangan wajah Davin dan ucapannya beberapa hari lalu tentang Amara tiba-tiba melintas.

“Teman kayak Amara itu cuma bakal bikin pikiran kamu terpengaruh buat aneh-aneh lagi...”

Keira menarik napas dalam-dalam, merasakan sesak kecil yang menyelimuti rongga dadanya. Ia tidak ingin membuat Davin khawatir. Ia tidak ingin lelaki itu kembali memasang wajah dingin atau menghela napas panjang karena menganggapnya tidak mau mendengar perkataan.

Dengan jemari yang sedikit ragu, Keira mengetik balasannya.

Keira: Maaf ya, Mar. Kayaknya weekend besok aku gak bisa. Badan lagi agak kurang enak, mau istirahat di kos saja.

Amara: Duh, sakit apa, Kei? Mau aku bawain obat atau makanan ke sana?

Keira: Eh, gak usah, Mar! Cuma masuk angin biasa kok, besok juga sembuh. Thanks ya ajakannya.

Setelah mengirim pesan itu, Keira mematikan layar ponselnya dan meletakkannya kembali ke atas meja. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding kamar yang dingin. Ada rasa bersalah yang menusuk ulu hatinya karena telah berbohong kepada sahabat satu-satunya yang masih peduli padanya. Namun ia segera menepis rasa bersalah itu dengan kalimat rasionalisasi yang kini sudah tertanam kuat di kepalanya: Amara cuma belum mengerti. Davin lakuin ini semua demi kebaikan aku.

Menjelang petang, hujan gerimis mulai turun membasahi atap seng kos-kosan. Bau tanah basah dan udara lembap meruap melalui ventilasi. Di tengah kesunyian sore itu, sebuah ketukan pintu terdengar.

Keira bergegas membukakan pintu, mengira itu adalah Davin yang datang lebih awal. Namun ternyata bukan.

Di hadapannya berdiri Bu Yanti, pemilik kos paruh baya bertubuh gempal yang mengenakan daster batik lusuh sambil membawa buku catatan kecil.

"Eh, Bu Yanti," sapa Keira ramah, tersenyum kikuk sambil merapikan letak kerudungnya. "Ada apa, Bu?"

"Ini, Nak Keira, mau ngasih catatan air dan listrik bulan ini," ujar Bu Yanti ramah sambil merobek selembar kertas kecil dari bukunya. "Oh ya, tadi waktu bibi ke depan, ada mas-mas ganteng naik motor matic nyariin kamu, tapi pas mau masuk gerbang kayaknya ditelepon seseorang terus mutar balik lagi. Pacarmu ya?"

Keira mengerjap sejenak. "Mas-mas naik motor matic? Maksudnya Davin, Bu?"

"Ah, iya, namanya Davin kalau gak salah yang sering ke sini," jawab Bu Yanti tersenyum penuh arti. "Katanya tadi mau mampir bawain makanan, tapi mungkin buru-buru karena hujan ya. Duh, beruntung banget punya pacar perhatian begitu, hujan-hujanan tetap inget nganterin makanan."

Keira mengangguk kecil, membalas senyuman Bu Yanti meski di dalam hatinya ada sedikit keheranan.

Jika Davin tadi sempat ke sini, kenapa lelaki itu tidak jadi turun dan malah memutar balik? Apakah karena hujan? Atau karena pesan singkat yang baru saja ia kirimkan pada Amara?

Setelah Bu Yanti pamit pergi untuk menagih iuran ke kamar sebelah, Keira menutup pintu dan kembali duduk di tepi kasur. Ia mengambil ponselnya dan melihat riwayat pesan. Tidak ada panggilan tak terjawab atau pesan baru dari Davin.

Baru saja ia hendak mengetik pesan untuk menanyakan apakah tadi Davin sempat datang ke kos, layar ponselnya tiba-tiba menyala sendiri. Panggilan masuk dari Davin.

Keira langsung menggeser ikon hijau di layar. "Halo, Vin? Kata Bu Yanti tadi kamu sempat ke sini ya? Kenapa gak jadi masuk?"

Di ujung sambungan telepon, suara helaan napas Davin terdengar cukup jelas, diselingi suara bising klakson kendaraan di latar belakang. Suara lelaki itu terdengar lebih berat dari biasanya.

"Iya, tadi aku sempat ke dekat gang kosmu," jawab Davin tanpa basa-basi. "Tapi aku lihat kamu lagi pegang HP terus kayak habis ngetik sesuatu serius banget. Kamu lagi chatan sama siapa, Kei?"

Keira tertegun sejenak. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari normal, bukan karena takut, melainkan karena nada suara Davin yang terdengar menyelidik.

"Oh... itu, tadi aku cuma balas pesan sebentar, Vin. Dari..." Keira menelan ludah, ragu-ragu untuk menyebut nama Amara. "...dari Amara."

Suara di ujung telepon mendadak senyap selama beberapa detik. Hening yang tercipta membuat udara di dalam kamar kos terasa mendadak mendingin.

"Kan sudah kubilang, kurangi terlalu sering komunikasi sama anak itu," ucap Davin dengan nada suara yang tertahan namun tajam. "Kamu ini dibilangin susah ya, Kei. Aku capek kerja seharian di kantor, mikirin keuangan kita, mikirin kebutuhan kamu di sini, tapi pas aku ke sini, kamu malah asyik chatan sama orang yang cuma bisa ngerusak fokus kamu."

Keira merasa dadanya dihantam rasa bersalah yang mendadak membuncah. Tenggorokannya tercekat.

"Bukannya asyik chatan, Vin... Amara cuma ngajak aku ke pameran buku weekend besok. Dan aku sudah tolak kok! Aku bilang aku mau istirahat di kos saja."

"Bagus kalau kamu tolak," balas Davin cepat, nada suaranya sedikit melunak namun masih menyisakan ketidak puasan. "Tapi kenapa harus pakai mikir lama tadi pas aku lihat dari jauh? Kamu sebenarnya masih pengin ikutan keluar-keluar sama dia, iya kan? Kamu masih gak betah di kamar dan pengin keluyuran?"

Mendengar tuduhan itu, ada rasa tidak adil yang mencubit ulu hati Keira. Ia sama sekali tidak berniat keluyuran; ia hanya merindukan sedikit udara luar dan interaksi normal sebagai manusia. Namun, melihat betapa marahnya Davin hanya karena masalah sepele seperti itu, naluri defensif Keira langsung menciut digantikan oleh rasa takut kehilangan.

"Enggak, Vin... bukan gitu," suara Keira melemah, nyaris memohon agar lelaki itu tidak marah besar. "Aku gak pengin keluyuran. Aku betah kok di kos. Maaf ya..."

"Sudah lah, jangan dibahas lagi," potong Davin dengan nadanya yang final. "Aku lagi di jalan mau pulang ke apartemenku. Nanti malam aku gak bisa mampir ke kosmu karena harus nyiapin laporan buat meeting besok pagi. Kamu kunci pintu yang rapat, jangan buka pintu buat siapa-siapa, dan gak usah buka HP terus malam ini."

Klik.

Sambungan telepon terputus begitu saja sebelum sempat Keira menjawab.

Keira menurunkan ponsel dari telinganya. Layar hitam itu memantulkan wajahnya yang tampak pucat di bawah temaram lampu kamar. Ia berdiri mematung di tengah ruangan sempit itu, dikelilingi oleh dinding-dinding kos yang mendadak terasa begitu menekan.

Tidak ada makanan malam yang dibawakan. Tidak ada kecupan di kening atau pelukan hangat yang biasa meredakan ketegangannya. Yang ada hanyalah kesunyian pekat dan perintah mutlak untuk mengunci diri rapat-rapat.

Keira melangkah pelan menuju pintu kayu, memastikan slot kunci bawah dan atas telah terpasang sempurna. Setelah itu, ia berjalan kembali ke kasur, duduk bersimpuh di atas lantai beralas karpet tipis, dan memeluk lututnya sendiri.

Untuk pertama kalinya sejak ia tinggal di tempat ini, rasa kesepian itu datang menghantam begitu telak tanpa ada tameng pelukan Davin yang biasa menyembuhkannya. Ia menatap kosong ke arah lantai, sementara air mata hangat perlahan menetes membasahi punggung tangannya.

Namun, bahkan di tengah rasa sesak dan air mata yang tak tertahankan itu, pikiran Keira masih berusaha mencari pembenaran untuk lelaki yang baru saja membentaknya lewat sambungan telepon.

Davin cuma kecapekan... Dia kerja keras buat aku. Wajar kalau dia sensitif.

Keira mengusap air matanya kasar, kembali merasionalisasi setiap perlakuan dingin yang ia terima, menolak untuk melihat bahwa lingkaran rantai yang mengurungnya kini semakin mengikat erat tanpa celah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!