NovelToon NovelToon
AMIRA MENANTU TERBUANG

AMIRA MENANTU TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31 orang dalam

Alya menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, membelai pelan dadanya seraya mengulas senyum puas. Keputusan Adam untuk memfokuskan seluruh gajinya sebesar 25 juta rupiah utuh ke dalam tabungan membuat hatinya lega. Artinya, uangnya tidak akan tersentuh untuk keperluan operasional rumah tangga.

Adam pun merasakan kepuasan yang sama. Di pikirannya, tumpukan uang dari gaji Alya selama dua tahun ke depan akan menjadi modal utama untuk membangun rumah impian mereka. Namun, euforia itu tidak bertahan lama. Bayangan gelap tentang apa yang akan terjadi di kantor esok hari mendadak menyeruak, menghancurkan suasana hangat di kamar itu.

“Mas... bagaimana kita menghadapi sidang esok hari?” tanya Alya, nada suaranya berubah cemas.

Adam menghembuskan napas berat. “Ini semua gara-gara kamu yang tidak bisa menahan emosi di depan Tuan Yamada.”

“Kok malah menyalahkan aku? Ini semua gara-gara Amira!” bentak Alya tak terima. “Kalau dia tidak memancing emosiku, aku juga tidak akan bicara begitu!”

“Berhenti mencari siapa yang salah!” potong Adam tegas seraya memijat pelipisnya yang mendadak pening. “Sekarang yang penting, bagaimana kita menyiapkan jawaban di depan Direksi SDM esok hari?”

Alya bersedekap dada, matanya bergerak gelisah. “Percuma, Mas. Kita ini cuma karyawan baru yang tidak punya pendukung kuat di jajaran atas. Aku yakin, karyawan-karyawan lama di sana pasti sengaja memanfaatkan celah ini untuk menjatuhkan kita, supaya posisi kita bisa digantikan oleh saudara atau kerabat mereka.”

Adam mendadak merasa sangat tak berdaya. Selama ini ia hanya tahu cara bekerja dan menerima gaji bulanan. Ia sama sekali tidak pernah memikirkan peta politik kantor atau apakah ia memiliki "penjaga" di jajaran manajemen.

“Lalu... terus apa yang harus kita lakukan?” gumam Adam pasrah.

Alya menoleh, mengukir senyum tipis yang penuh siasat. “Aku punya teman di bagian SDM. Namanya Mbak Hera, dia asistennya Pak Yusuf. Kita harus memberi dia 'uang pelicin' supaya dia mau membicarakan hal-hal baik tentang kita di depan Pak Yusuf.”

Dahi Adam seketika berkerut dalam. “Menyogok? Alya, bagaimana kalau sampai ketahuan? Bukankah posisinya nanti malah makin parah?”

Alya terkekeh sinis, menatap Adam dengan pandangan merendahkan. “Kamu jangan naif, Mas. Di dunia korporasi besar, yang terlihat bersih di permukaan itu belum tentu tidak ada kotorannya. Ini cara paling cepat buat mengamankan posisi kita.”

“Tapi... uang dari mana?” tanya Adam pelan, merogoh sakunya yang hampa. “Uangku sudah habis.”

Alya berdecak sebal. Sebesar apa pun gaji kamu, Mas, tidak akan pernah jadi apa-apa kalau cara mengelola uangmu seburuk ini, cibir Alya di dalam hatinya. Namun, mengingat posisinya juga sedang terancam, Alya akhirnya mengalah.

“Aku ada tabungan, tenang saja. Tapi ingat, ya, kamu harus menggantinya nanti!” tegas Alya.

“Baiklah... yang penting kita masih bertahan bekerja di sana,” jawab Adam mengalah.

Tanpa membuang waktu, Alya langsung mengambil ponselnya dan menekan nomor Hera—seniornya semasa kuliah di Jepang yang kini menjabat sebagai asisten Direktur SDM PT Yamaichi.

“Mbak Hera... apa kabar?” sapa Alya dengan nada dibuat seakrab mungkin.

Di seberang telepon, suara Hera terdengar dingin dan mengeluh, “Duh, kamu ini bagaimana sih, Al? Belum juga genap sebulan bekerja, sudah bikin Tuan Yamada marah-marah begitu.”

“Mbak Hera... kita kan dulu pernah jadi teman dekat waktu di Jepang. Kita sering berbagi makanan juga. Bisa tidak Mbak bantu aku dan Mas Adam kali ini?” bujuk Alya memelas.

Hera menghela napas panjang, pura-pura berat. “Ini masalah susah, Al... Pak Yusuf itu tegas sekali. Tapi ya... beliau itu suka sekali kopi arabika impor dan cerutu Singapura. Harganya lumayan mahal, bisa tiga juta rupiah lebih untuk satu paketnya.”

Alya bukan wanita polos seperti Adam. Ia tahu persis kemana arah pembicaraan Hera: itu adalah kode halus meminta uang suap.

“Mbak, tolonglah bantu aku...” rengek Alya melancarkan bujuk rayu. “Almamater kita bisa ikut tercoreng kalau baru satu bulan aku sudah dipecat secara tidak hormat. Mbak Hera kan ketua perhimpunan alumni, tentu ikut malu kalau berita ini menyebar, kan?”

Di seberang telepon, Hera tersenyum licik. “Baiklah... karena kamu bawa-bawa almamater, aku tanggung setengah harganya. Kamu cukup sediakan setengahnya saja.”

“Siap, Mbak! Aku transfer 1,5 juta rupiah sekarang juga ya, Mbak!” seru Alya lega.

Begitu panggilan terputus, Alya langsung membuka aplikasi m-banking dan memindahkan uang sebesar 1,5 juta rupiah ke rekening Hera. Sebenarnya, saldo tabungan Alya sangat tebal. Namun, sebagai wanita opportunis, ia enggan mengeluarkan uang pribadi jika masih ada peluang untuk membebankannya pada Adam nanti.

Sementara itu, di sebuah kamar apartemen yang nyaman, Hera sedang bersandar di tepi ranjang. Tangan kirinya memegang cangkir teh, sementara tangan kanannya memegang sebuah dokumen resmi bertuliskan Surat Peringatan 1 (SP1) yang dialamatkan kepada Adam dan Alya.

Hera terkekeh pelan. Kemarin sore, ia menyaksikan sendiri bagaimana Pak Yusuf dengan tenang memberikan pertimbangan kepada Tuan Yamada. Pak Yusuf menyarankan agar perusahaan tidak terburu-buru menjatuhkan hukuman pemecatan atau skorsing berat, sebab hal itu bisa memicu gelombang protes dari karyawan lain dan mengganggu fokus target besar perusahaan. Kesalahan Adam dan Alya dinilai tidak berakibat fatal pada finansial korporasi. Namun, karena pelanggaran etika tetap terjadi, Pak Yusuf merumuskan hukuman berupa SP1 dan pemotongan bonus sebesar 10 persen.

TING!

Notifikasi ponsel Hera berbunyi. Sebuah saldo masuk sebesar 1,5 juta rupiah atas nama Alya.

Hera tersenyum menyeringai puas. “Lumayan... bisa buat beli bensin dan jajan minggu ini.”

Ia menatap layar ponselnya dengan pandangan meremehkan. “Apanya yang pernah berbagi makanan, Alya? Kamu itu wanita licik dari dulu. Waktu kuliah di Jepang, kamu paling pintar memanfaatkan orang lain dengan air mata palsumu. Sekarang giliran aku yang memanfaatkan kebodohanmu.”

Hakikatnya, sidang kode etik dan skorsing berat yang ditakuti Adam dan Alya esok hari sama sekali tidak pernah ada. Surat SP1 itu sudah tercetak rapi sejak kemarin dan tinggal diserahkan Hera ke meja kerja mereka. Alya baru saja ditipu mentah-mentah oleh seniornya sendiri.

Pagi hari datang begitu cepat.

Di kediaman Mirna, suasana meja makan terasa canggung dan dingin. Adam dan Alya bersiap-siap dengan pakaian kerja terbaik mereka. Adam terus mengancingkan kemejanya dengan tangan gemetar, takut kalau-kalau Hera gagal membela mereka. Sementara Alya mencoba tampil tenang di luar, meski hatinya tak kalah gelisah.

Hera itu polos, hibur Alya dalam hati, mencoba menenangkan diri. Kalau orang lain pasti minta tiga juta rupiah utuh. Tapi dia cuma minta 1,5 juta. Pasti aman.

Saat melangkah ke ruang makan, Alya melihat Mirna sedang mengelap sisa noda minyak di meja.

“Bu... siapa yang habis sarapan pagi-pagi begini?” tanya Adam heran melihat piring kotor di bak cuci.

Mirna menoleh sekilas, jawabannya ketus. “Sonia. Dia harus buru-buru ke bandara, jadi berangkat lebih awal.”

Adam mengernyit. “Mau ke mana dia pagi-pagi begini?”

“Dia mau ke Singapura pagi ini. Terus siangnya lanjut penerbangan ke Malaysia. Baru pulang lusa,” jawab Mirna datar seraya membawa lap ke dapur.

“Ibu tidak khawatir melepas Sonia pergi sendirian ke luar negeri?” tanya Adam lagi.

Langkah Mirna terhenti di ambang pintu dapur. Ia memutar tubuhnya, menatap Adam dengan tatapan menusuk. “Ibu justru lebih khawatir kalau Sonia ditampar lagi sama kakak-kakaknya yang tidak tahu diri!”

JLEB!

Kalimat tajam Mirna menghantam dada Adam. Rasa nyeri dan penyesalan mendalam membakar benaknya saat teringat bagaimana ia pernah melayangkan tamparan keras ke pipi Sonia dulu.

“Nasi goreng sama telur ceplok ada di dalam tempat makan. Cukup buat kalian berdua,” teriak Mirna setengah acuh tak acuh dari arah dapur.

Alya menarik lengan kemeja Adam, memecah lamunan suaminya. “Sudah, Mas... jangan dihiraukan. Kita harus berangkat sekarang.”

Sepanjang perjalanan hingga tiba di kantor, pikiran Adam dan Alya diselimuti bayangan mengerikan. Menjadi pengangguran adalah mimpi buruk terbesar bagi Adam yang tak punya pesangon. Sedangkan bagi Alya, jika sampai dipecat secara tidak hormat, di dalam otak liciknya sudah terpikir rencana untuk menendang Adam keluar dari hidupnya dan mencari pria kaya baru yang lebih berkuasa.

Jam menunjukkan pukul 11.00 siang. Heningnya lorong kantor terasa bagaikan menunggu pintu gerbang neraka terbuka. Namun, tidak ada panggilan sidang, tidak ada kehebohan. Beberapa kali Alya mencoba menghubungi nomor Hera, tetapi panggilan itu terus dialihkan.

Hingga akhirnya, seorang petugas Office Boy (OB) melangkah canggung mendekati kubikel kerja mereka.

“Pak Adam, Bu Alya... maaf, kalian berdua dipanggil oleh Ibu Santi untuk segera menghadap ke ruangannya,” ucap OB tersebut sopan.

Adam menatap OB itu polos. “Kenapa Bu Santi yang memanggil kami? Bukankah seharusnya Pak Yusuf dari SDM?”

OB itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung. “Saya tidak tahu, Pak... Pesannya cuma begitu. Sebaiknya Bapak dan Ibu segera ke sana sekarang.”

OB itu bergegas pergi.

Adam dan Alya saling pandang. Dalam sekejap, berbagai spekulasi buruk berputar di kepala mereka. Ibu Santi adalah sekretaris pribadi Tuan Yamada—sosok wanita dingin, tegas, dan tak berbelas kasih.

Wajah Alya seketika memucat. Mungkinkah Bu Santi sudah tahu kalau aku memberi uang pada Hera? Berarti Hera kurang ajar... dia sudah menjebak aku!

1
sunaryati jarum
Aduh Authoor menaruh banyak bawang di restoran Amira.😭😭 Sungguh mulai Amira merekrut karyawan dari penyandang disabilitas.Besok Alya pasti kelepasan tanpa rem , menghina mereka.Dan itu awal kehancuran karirnya
santi damayanti: terimakasih
total 1 replies
sunaryati jarum
Ternyata Alya pemangsa laki- laki berharta
sunaryati jarum
Semoga Yamada kakakmu,Amira.Alya sudah masuk perangkap Sonia, kalian akan saling bermusuhan.
sunaryati jarum
Wow saling menggigit nantinya, menolong tapi memukul pakai Godam.Gigitan Sonia nanti yang tajam dan mematikan.Masa pinjaman akan dilimpahkan orang lain angsurannya,ya tidak bisa Mila.Dasar semua serakah
santi damayanti: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
sunaryati jarum
Sombong amat Alya,emak yakin Amira adik tuan Yamada , karena hati mereka seperti saling menarik
sunaryati jarum
Itu perusahaan milik kakak Amira lho,CEOnya sudah makan di restoran baru saja.
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣🤣
@Mita🥰
pinter 🤣🤣
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
@Mita🥰
ealah ku kira perusahaan milik Kakaknya Amira tadi
sunaryati jarum
Semoga keluarga Amira
sunaryati jarum
Mulai jadi pemuas sang penguasa,Sonia
sunaryati jarum
O mau jadi wanita simpanan ,Sonia.Tapi Yamamoto tak akan pernah menyentuh Amira
@Mita🥰
wiiiih mungkin kakak nya Amira
@Mita🥰
pasti anak buah kakek Amira yang bikin unggah an Amira hilang
YuWie
anak siapakah kamu amir
sunaryati jarum
Mungkin kau putri pebisnis besar yang diculik dan ditinggalkan di panti asuhan
YuWie
rung sadar kan..malah tambah dodro..alias tambah kebangetan niat jahatnya
YuWie
benar kata pak polisi..bertele tele
Suanti
sonia tak pernah kapok klu kejadian lgi sm amira jgn mau pki jln damai jeblos kan aja ke penjara biar kapok 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!