NovelToon NovelToon
Surat Dari Balik Sekat

Surat Dari Balik Sekat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Action
Popularitas:264
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.

Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.

Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Kabar tentang Ayah Darto

Zaki tiba kembali di Karangtengah menjelang magrib, tubuhnya lelah tapi hatinya lega karena tugas pertamanya berjalan lancar. Ia langsung menyerahkan surat balasan kepada Ustaz Malik, yang menerimanya dengan anggukan puas.

"Kerja bagus, Nak Zaki. Istirahatlah."

Namun, ketika ia mencari Darto di sekitar lumbung, sahabatnya itu belum juga terlihat. Kekhawatiran mulai menjalar di dadanya seiring gelap yang semakin pekat.

"Darto belum kembali?" tanyanya pada Kang Ridwan yang sedang duduk di depan lumbung.

"Belum, Kang. Katanya rutenya lebih jauh dari yang lain."

Zaki menunggu dengan gelisah, duduk di depan lumbung sambil menatap jalan setapak yang mulai kabur dimakan gelap. Setiap bayangan yang bergerak di kejauhan membuat jantungnya berdegup, berharap itu adalah sahabatnya.

Baru menjelang isya, sosok Darto muncul dari kegelapan, berjalan pelan dengan langkah yang terasa berat, jauh berbeda dari biasanya yang selalu penuh energi.

"Darto!" Zaki berlari menghampirinya. "Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja?"

Darto mengangkat wajah, dan di bawah cahaya obor yang temaram, Zaki bisa melihat matanya merah, entah karena lelah atau karena menangis.

"Kang Zaki," suaranya serak. "Saya ketemu orang dari markas ayah saya."

"Bagaimana kabarnya?"

Darto terdiam lama, menatap tanah, lalu menatap Zaki dengan mata yang berkaca-kaca. "Ayah saya gugur, Kang. Tiga hari lalu, waktu patroli di dekat perbatasan. Katanya beliau menyelamatkan dua orang temannya sebelum akhirnya kena tembak."

Dada Zaki terasa seperti diremas. Ia tidak tahu harus berkata apa, jadi ia hanya merangkul sahabatnya erat-erat, membiarkan Darto melepaskan tangis yang selama ini mungkin ia tahan sepanjang perjalanan pulang.

"Saya turut berduka, Darto. Sungguh," bisik Zaki, suaranya sendiri bergetar menahan haru.

"Beliau syahid, Kang," kata Darto di sela isaknya. "Orang-orang bilang beliau syahid, membela teman-temannya. Tapi kenapa rasanya tetap sakit sekali?"

"Karena kamu manusia, Darto. Dan kehilangan orang yang kita cintai memang selalu sakit, meski kita tahu itu jalan yang mulia."

Mereka berdua duduk di tanah, di depan lumbung yang mulai sunyi, membiarkan malam menyaksikan kesedihan yang tidak bisa ditutupi lagi. Beberapa santri lain yang mendengar kabar itu ikut berkumpul, memberikan dukungan dengan cara mereka masing-masing, ada yang memeluk, ada yang hanya duduk diam menemani, ada yang membisikkan doa.

Kabar duka itu menyebar cepat ke seluruh rombongan pengungsian. Kiai Wahid sendiri datang menemui Darto malam itu, memberikan pelukan hangat dan doa panjang untuk ketabahan.

"Ayahmu syahid dalam keadaan mulia, Nak," kata Kiai, suaranya penuh kasih. "Semoga Allah menempatkannya di tempat terbaik, dan semoga kesabaranmu menjadi jalan pahala bagi kalian berdua."

"Terima kasih, Kiai," jawab Darto, suaranya masih bergetar tapi sudah lebih tenang. "Saya akan berusaha tabah."

Di tengah kesedihan itu, kabar juga sampai ke telinga para santriwati, termasuk Nafisah. Meski Zaki dan Nafisah masih menjaga jarak sesuai kesepakatan mereka, malam itu Zaki melihat dari kejauhan, Nafisah dan beberapa santriwati lain berdiri di dekat area santriwati, wajah mereka menunjukkan kepedihan yang sama atas kabar duka itu.

Keesokan paginya, sebuah bungkusan kecil sampai ke tangan Zaki lewat Timin, meski mereka sudah sepakat untuk tidak lagi saling berkirim kabar.

"Ini bukan dari Kang Zaki," kata Timin buru-buru, seperti sudah mempersiapkan alasan. "Ini untuk Kang Darto. Mbak Nafisah bilang, ini pengecualian."

Zaki menerima bungkusan itu dan menyerahkannya pada Darto yang masih terlihat lesu. Di dalamnya ada beberapa lembar daun sirih dan bunga kenanga kering, serta secarik kertas kecil.

"Kang Darto, turut berduka yang sedalam-dalamnya atas kepergian Ayah. Semoga Allah memberi ketabahan dan mengganti kehilangan ini dengan kebaikan yang tidak terduga. Kami semua di sini mendoakan Kang Darto dan Kang Zaki, semoga selalu dijaga dalam setiap tugas yang dijalani. — N, dan seluruh santriwati Al-Hikmah."

Darto membaca surat itu dengan mata berkaca-kaca lagi, tapi kali ini ada senyum tipis yang menyertainya. "Nafisah baik sekali, Kang. Meski kalian sedang menahan diri, dia masih memikirkan saya."

"Dia memang begitu," jawab Zaki, dadanya hangat mendengar kebaikan hati Nafisah, meski di saat yang sama, ia juga merindukan surat-surat yang biasa ditujukan untuknya sendiri.

Hari-hari berikutnya, Darto berusaha bangkit dari kesedihannya dengan cara yang khasnya sendiri: bekerja lebih keras, membantu lebih banyak orang, meski sesekali Zaki masih melihat bayangan duka di matanya ketika sahabatnya itu mengira tidak ada yang memperhatikan.

"Kang," kata Darto suatu malam, ketika mereka berdua duduk di depan lumbung menatap bintang-bintang, "saya sudah putuskan sesuatu."

"Apa itu?"

"Saya ingin ikut bergabung dengan laskar, seperti ayah saya. Bukan sekarang, tapi setelah keadaan pengungsian ini agak tenang." Darto menatap langit dengan mata yang penuh tekad. "Saya ingin melanjutkan perjuangan beliau."

Zaki menatap sahabatnya lama, merasakan campuran antara bangga dan khawatir. "Itu keputusan besar, Darto. Kamu yakin?"

"Saya yakin, Kang. Ayah saya mengajarkan bahwa kadang, kita harus berani mengambil risiko untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Kamu sendiri, bukankah kamu juga sedang belajar hal yang sama, meski dengan cara yang berbeda?"

Zaki terdiam, memikirkan kata-kata itu dengan dalam. Ia teringat pada Nafisah, pada kesabaran yang mereka jalani bersama, pada keputusan untuk menahan diri demi kebaikan yang lebih besar. Mungkin, dalam cara mereka masing-masing, mereka berdua memang sedang belajar hal yang sama: bahwa cinta sejati, baik cinta kepada tanah air maupun cinta kepada seseorang, kadang membutuhkan pengorbanan yang tidak selalu mudah dijalani.

"Kamu benar, Darto," katanya akhirnya. "Apa pun keputusanmu, saya akan mendukungmu. Dan saya yakin, ayahmu bangga melihat keberanianmu."

Mereka berdua kembali menatap langit malam yang dipenuhi bintang, masing-masing dengan pikiran dan doa yang berbeda, tapi disatukan oleh persahabatan yang semakin kuat diuji oleh keadaan, dan oleh keyakinan bahwa di tengah kesedihan dan ketidakpastian, selalu ada jalan menuju kebaikan yang lebih besar, asalkan mereka mau berjalan dengan hati yang jujur dan tabah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!