Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.
Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.
Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.
Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?
Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Kerja Sama Diuji
Pagi itu, Almeera datang ke kampus lebih awal dari biasanya. Tugas kelompok yang harus dikumpulkan tinggal satu hari lagi. Karena itu, sebelum kelas dimulai, Almeera kembali membuka laptop dan memeriksa dokumen yang sudah mereka kerjakan.
Ia membaca bagian pembahasan dari awal sampai akhir.
Beberapa bagian sudah terlihat rapi, tetapi masih ada beberapa paragraf yang terasa kurang menyambung. Tidak lama kemudian, Eliza datang dan langsung duduk di sampingnya.
“Sudah mulai mengecek tugas?” tanya Eliza.
“Sudah. Aku mau memastikan semuanya nyambung sebelum nanti kita gabungkan jadi satu,” jawab Almeera.
Eliza membuka laptopnya.
“Ada yang bermasalah?” tanya Eliza.
“Ada beberapa bagian yang menurutku perlu diperbaiki,” jawab Almeera.
“Banyak?” tanya Eliza.
“Tidak terlalu banyak. Tapi kalau dibiarkan, nanti kelihatan seperti ditulis terpisah pisah,” jawab Almeera.
Eliza melihat dokumen yang dibuka Almeera.
“Kalau begitu, nanti kita bahas sama yang lain,” ucap Eliza.
Almeera mengangguk.
Setelah kelas selesai, mereka langsung menuju perpustakaan untuk bertemu anggota kelompok lainnya. Namun ketika semua sudah berkumpul, Almeera menyadari satu bagian tugas masih belum selesai.
“Bagian kesimpulan siapa yang mengerjakan?” tanya Almeera.
Salah satu anggota kelompok mengangkat tangan.
“Aku. Tapi belum selesai,” jawab anggota kelompok tersebut.
Almeera melihat jam.
“Masih ada waktu sampai sore. Kira kira bisa selesai hari ini nggak?” tanya Almeera.
“Bisa, tapi mungkin agak sore,” jawab anggota kelompok tersebut.
“Tidak masalah. Yang penting sebelum kita finalisasi,” jawab Almeera.
Mereka kemudian membagi pekerjaan.
Ada yang memperbaiki format, ada yang mengecek sumber, dan ada yang menyusun daftar pustaka.
Almeera sendiri memeriksa bagian pembahasan.
Awalnya semua berjalan lancar.
Namun sekitar satu jam kemudian, salah satu anggota kelompok kembali menyampaikan bahwa ia mengalami kesulitan mencari sumber yang sesuai.
“Aku belum menemukan sumber yang benar benar cocok,” ucap anggota kelompok tersebut.
Almeera melihat layar laptopnya.
“Sudah cari dengan kata kunci yang tadi?” tanya Almeera.
“Sudah, tapi hasilnya kebanyakan tidak sesuai,” jawab anggota kelompok tersebut.
Almeera berpikir sebentar.
“Coba kita ubah kata kuncinya. Jangan terlalu umum,” jawab Almeera.
Ia kemudian membantu mencari beberapa kata kunci yang lebih spesifik.
Beberapa menit kemudian, mereka menemukan artikel yang cukup relevan.
“Nah, yang ini sepertinya bisa,” ujar Almeera.
“Iya, yang ini lebih sesuai,” jawab anggota kelompok tersebut.
Eliza yang memperhatikan dari samping tersenyum.
“Kalau kamu yang dulu, mungkin sudah panik dari tadi,” ucap Eliza.
Almeera menoleh.
“Jangan mulai,” jawab Almeera sambil tertawa kecil.
Eliza ikut tertawa.
“Aku cuma bilang kamu lebih tenang sekarang,” ucap Eliza.
“Karena panik juga tidak membuat tugasnya selesai,” jawab Almeera.
Tidak lama setelah itu, Rafael dan Daffa datang ke perpustakaan.
Mereka membawa laptop dan beberapa buku.
“Masih sibuk?” tanya Daffa.
“Iya. Tinggal beberapa bagian,” jawab Eliza.
Daffa melihat meja mereka yang penuh dengan catatan.
“Kelihatannya serius sekali,” ucap Daffa.
“Besok dikumpulkan,” jawab Almeera.
“Oh, pantas,” ujar Daffa.
Rafael duduk di meja yang tidak terlalu jauh dari mereka.
“Kelompok kalian sudah menentukan siapa yang presentasi?” tanya Rafael.
Almeera menggeleng.
“Belum. Rencananya nanti dibicarakan setelah tugas selesai,” jawab Almeera.
Rafael mengangguk.
“Lebih baik begitu. Pastikan yang presentasi memahami keseluruhan isi tugas, bukan hanya bagian sendiri,” ucap Rafael.
Almeera mengangguk.
“Iya, nanti kami bahas,” jawab Almeera.
Daffa kemudian membuka laptopnya.
“Kelompok kami juga belum menentukan, sepertinya semua kelompok sedang sibuk hari ini.” ucap Daffa.
Eliza tertawa kecil.
“Memang nasib mahasiswa,” ujar Eliza.
Daffa ikut tertawa.
“Benar,” jawab Daffa.
Setelah itu mereka kembali mengerjakan tugas masing masing.
Beberapa jam berlalu.
Satu per satu bagian mulai selesai.
Namun ketika Almeera menggabungkan seluruh dokumen, ia menemukan masalah baru.
Format penulisan dari beberapa bagian berbeda. Ada yang menggunakan jenis huruf berbeda, jarak paragraf tidak sama, dan beberapa sumber belum ditulis dengan format yang sesuai. Almeera menatap layar cukup lama. Ia menarik napas.
“Kenapa?” tanya Eliza.
“Formatnya masih berantakan,” jawab Almeera.
“Parah?” tanya Eliza.
“Tidak parah. Cuma harus dirapikan satu satu,” jawab Almeera.
Eliza melihat dokumen tersebut.
“Bisa dibagi lagi?” tanya Eliza.
Almeera berpikir sebentar.
“Bisa. Kamu cek daftar pustaka, aku rapikan isi dokumennya,” jawab Almeera.
“Siap,” jawab Eliza.
Mereka kembali bekerja.
Kali ini Almeera tidak mencoba mengerjakan semuanya sendirian. Ia mulai memahami bahwa meminta bantuan kepada anggota kelompok bukan berarti ia tidak mampu.
Justru dengan membagi pekerjaan, semuanya bisa selesai lebih cepat.
Menjelang sore, sebagian besar tugas akhirnya selesai. Mereka kemudian melakukan pemeriksaan terakhir bersama sama.
“Bagian ini sudah benar?” tanya Almeera.
“Sudah,” jawab salah satu anggota kelompok.
“Kalau bagian ini?” tanya Almeera lagi.
“Sudah sesuai,” jawab anggota lainnya.
Almeera mengangguk.
“Kalau begitu, kita simpan versi finalnya,” ucap Almeera.
Eliza menghela napas lega.
“Akhirnya selesai juga,” ucap Eliza.
“Belum dikumpulkan,” jawab Almeera sambil tersenyum.
“Jangan mengingatkanku,” ujar Eliza.
Mereka tertawa kecil.
Setelah semuanya selesai, Almeera memasukkan laptopnya ke dalam tas.
Ia merasa lelah, tetapi ada rasa puas karena mereka berhasil menyelesaikan tugas tanpa pertengkaran besar. Dalam perjalanan pulang, Eliza berjalan di sampingnya.
“Tadi kamu sempat kesal tidak?” tanya Eliza.
“Kesal,” jawab Almeera jujur.
“Terus?” tanya Eliza.
“Aku tahan dulu. Aku pikir kalau aku marah, kita malah buang waktu,” jawab Almeera.
Eliza tersenyum.
“Berarti kamu sudah mulai bisa mengendalikan diri,” ucap Eliza.
Almeera menggeleng kecil.
“Jangan terlalu memujiku. Aku masih belajar,” jawab Almeera.
“Tidak salah kok mengakui perubahan,” ujar Eliza.
Almeera terdiam sebentar.
“Mungkin aku memang berubah sedikit,” jawab Almeera.
Malam harinya, setelah sampai rumah dan beristirahat, Almeera membuka laptop sekali lagi untuk memastikan file tugas sudah tersimpan dengan benar.
Setelah yakin semuanya aman, ia menutup laptop.
Mama yang melihatnya dari ruang tengah kemudian bertanya.
“Sudah selesai tugasnya?” tanya Mama.
“Sudah, Ma. Tinggal dikumpulkan besok,” jawab Almeera.
“Capek?” tanya Mama.
“Lumayan,” jawab Almeera.
“Kalau begitu jangan tidur terlalu malam,” ucap Mama.
“Iya, Ma,” jawab Almeera.
Almeera kemudian masuk ke kamar.
Sebelum tidur, ia mengambil buku catatan yang biasa digunakan untuk menulis apa yang ia rasakan.
Ia membuka halaman baru.
Hari ini aku belajar bahwa kerja sama tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Ada bagian yang terlambat. Ada pekerjaan yang harus diperbaiki. Ada pendapat yang berbeda.
Dulu, aku mungkin akan menganggap semua itu sebagai alasan untuk marah.
Sekarang aku mencoba melihatnya sebagai bagian dari proses.
Almeera berhenti sebentar.
Kemudian ia menulis lagi.
Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan suara yang keras.
Kadang, berbicara dengan tenang justru membuat orang lain lebih mudah memahami.
Ia menutup buku tersebut.
Perubahan kecil itu mungkin tidak terlihat oleh banyak orang.
Namun Almeera tahu, dirinya yang sekarang sudah tidak sepenuhnya sama seperti dulu. Ia masih bisa kesal. Masih bisa kecewa. Masih bisa melakukan kesalahan. Tetapi sekarang ia mulai belajar memilih bagaimana harus bersikap ketika semua itu terjadi.
Setelah merapikan meja, Almeera mengambil waktu untuk berdoa. Ia memohon agar Allah membantunya menjaga hati, ucapan, dan sikapnya.
Bukan hanya ketika semuanya berjalan baik, tetapi juga ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginannya.
Karena Almeera mulai memahami satu hal. Menjadi lebih baik bukan berarti tidak pernah marah atau tidak pernah salah.
Menjadi lebih baik berarti belajar untuk tidak membiarkan emosi mengendalikan setiap keputusan.
Dan malam itu, Almeera kembali tidur dengan satu keyakinan sederhana. Ia masih jauh dari sempurna. Tetapi ia sedang berjalan ke arah yang lebih baik.