NovelToon NovelToon
Belenggu Cinta Sang CEO

Belenggu Cinta Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Gastor Gaming

Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.

Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembaran yang Terpisah

​"Kalian pikir Anindya melahirkan bayi tunggal, Cucuku? Mahakarya Vane... selalu terlahir sebagai kembar darah abadi."

​"Bayi... kembar?!" jerit Adrian dengan suara yang memecah keheningan ruang komando. Tangannya mencengkeram erat besi konsol, matanya menatap tak percaya pada kubah transparan makhluk mekanis di balik kaca kapal selam.

​"Tidak mungkin!" teriak Raymond seraya menekan tombol sakelar pelindung darurat. "Dokter Kenzie menyatakan pemindaian rahim Anindya hanya menunjukkan satu janin!"

​Melalui pemancar frekuensi langsung, suara Sophia kembali mengalun gila dari balik uap air yang membekukan. "Dokter Kenzie hanya melihat apa yang ingin aku perlihatkan padanya, Raymond. Janin kedua disembunyikan dalam kantong sel buatan sejak bulan ketiga persalinan!"

​"Iblis gila!" bentak Adrian seraya menghantamkan kepalan tangannya ke kaca tebal ruang komando. "Kembalikan anakku!"

​"Anak ini bukan milikmu lagi, Adrian," cibir Sophia dengan mata kanannya yang melepuh membara. "Dia adalah spesimen Alpha 02. Pewaris murni yang akan memimpin Konsorsium menuju era baru!"

​BZZZZZT! DUAARR!

​Makhluk mekanis berzirah emas itu menghantamkan cakar kimianya ke lambung depan kapal selam. Percikan listrik membakar panel kontrol ruang komando, membuat kapal oleng secara ekstrem!

​"Panglima! Kebocoran di kompartemen medis!" jerit operator radar dari bawah tumpukan kabel yang terbakar. "Tekanan air menembus sekat sektor empat!"

​"Anindya!" jerit Adrian seketika. Tanpa memedulikan darah yang mengucur dari bahunya, ia berbalik dan berlari kencang menembus lorong-lorong kapal yang miring!

​"Adrian, tunggu!" teriak Raymond seraya mencabut pistol suar dari dinding dan mengejar Adrian dari belakang.

​BRRRRRRRK!

​Air laut bersuhu minus menerobos sekat baja lorong medis. Anindya berdiri gemetar di atas meja perawatan yang tergenang air sebetis, memeluk erat bayinya yang terus menangis ketakutan.

​"Adrian!" jerit Anindya saat melihat suaminya mendobrak pintu sekat yang macet. "Airnya terus naik! Bayi kita dingin sekali!"

​"Aku di sini, Sayang! Aku di sini!" Adrian melompat menerjang genangan air laut, merangkul Anindya dan mendekap punggung bayinya seraya menahan tubuh mereka dari dorongan arus air.

​"Adrian... suara apa yang bergema di kepala kita tadi?!" tangis Anindya pecah dengan dada memburu. "Aku mendengar suara Sophia... Dia bilang... anak kita kembar?!"

​Adrian menatap mata Anindya dengan rasa perih yang teramat sangat. "Anindya... dengarkan aku. Kita harus keluar dari kapal ini sekarang juga."

​"Jawab aku, Adrian!" raung Anindya seraya mencengkeram baju taktis Adrian yang basah kuyup. "Apakah ada bayi lain yang diambil dari rahimku?!"

​"Nyonya Anindya! Tuan Adrian!" teriak Raymond yang baru tiba seraya menghantamkan linggis ke engsel pintu darurat bagian atas. "Kapsul peluncuran torpedo cadangan adalah satu-satunya jalur keluar! Kapal selam ini akan hancur dalam dua menit!"

​"Bawa Anindya naik dulu, Raymond!" perintah Adrian tegas.

​"Tidak! Aku tidak mau pergi tanpa penjelasanmu, Adrian!" seru Anindya menolak bergerak.

​"Anindya, demi anak kita!" bentak Adrian dengan mata memerah dan napas terengah-engah.

"Kembaran bayi kita ada di tangan Sophia di luar sana! Jika kau mati di sini, kita tidak akan pernah bisa merebutnya kembali!"

​Anindya membeku seketika. Tubuhnya bergetar hebat saat kebenaran pahit itu menghantam kesadarannya. "Kembaranku... bayi kita satu lagi..."

​"Naik ke tabung peluncuran sekarang!" paksakan Raymond seraya mendorong Anindya masuk ke dalam lorong sempit tabung torpedo cadangan.

​Anindya merayap masuk seraya memeluk erat bayinya, disusul oleh Raymond yang memanjat di belakangnya. Adrian menjadi orang terakhir yang menutup sekat baja bawah tabung peluncuran.

​Klik! BZZZZZT!

​"Raymond, setel peluncuran manual ke arah permukaan!" seru Adrian dari dalam tabung sempit yang gelap gulita.

​"Sudah terpasang!" jawab Raymond seraya menarik tuas pemicu mekanis di samping kakinya. "Persiapkan diri kalian! Tekanan peluncuran ini akan sangat berat!"

​BOOOOOOMMMM!

​Gas bertekanan tinggi meledak dari balik tabung. Tabung penyelamat tembaga itu meluncur deras keluar dari lambung kapal selam yang hancur, membelah kegelapan samudra laut dalam menuju permukaan tanah!

​Di dalam tabung yang bergetar hebat dan berputar liar, Adrian merangkul Anindya rapat-rapat, melindungi kepala istri dan bayinya dengan dadanya sendiri dari benturan keras dinding baja.

​SPLASH!

​Tabung penyelamat itu membubung keluar menembus permukaan air laut, terhempas keras di atas gelombang badai malam yang ganas sebelum mengapung secara otomatis.

​Krrreeekkk!

​Adrian mendorong penutup atas tabung penyelamat hingga terbuka. Udara malam yang segar namun dingin menusuk langsung menyergap paru-paru mereka.

​"Kita... kita mengapung di mana?" bisik Anindya terbatuk-batuk seraya menyapu air laut dari wajahnya.

​Adrian berdiri di atas tepi tabung, menyapu pandangannya ke sekeliling samudra yang gelap gulita. Kapal induk Leviathan telah tenggelam sepenuhnya, hanya menyisakan pusaran air hitam dan puing-puing beracun yang mengapung. Kapal selam Raymond pun telah hilang ditelan kedalaman samudra.

​"Lihat ke arah timur!" tunjuk Raymond seraya memegangi lengannya yang terkilir.

​Di ufuk timur yang remang-remang oleh cahaya fajar, sesosok bayangan pulau hitam berukuran raksasa berdiri di tengah kepungan benteng karang terjal. Lampu-lampu sorot merah memancar berputar dari puncak menara baja yang menjulang menembus awan.

​Pulau Tengkorak Vane. Markas rahasia paling terisolasi milik Konsorsium.

​"Itu... tempat tinggal masa kecilku..." bisik Anindya dengan pandangan ketakutan yang mendalam. "Fasilitas isolasi genetik utama..."

​BZZZZZT!

​Tiba-tiba, pemancar radio darurat di dalam tabung penyelamat menyala secara otomatis, memancarkan nada dering frekuensi tinggi yang memekakkan telinga.

​"Pengumuman untuk seluruh penghuni sektor karang," sebuah suara pria parau dan berwibawa bergema melintasi gelombang suara radio. "Subjek eksperimen Alpha 02 telah tiba di laboratorium pusat. Proses transfer kesadaran Pemimpin Tertinggi ke dalam tubuh bayi kembar kedua... dimulai sekarang."

​Adrian membelalakkan matanya dengan rasa horor yang tak terbayangkan. "Transfer kesadaran?! Pria bertopeng emas itu hendak memindahkan jiwanya ke dalam tubuh bayi kita?!"

​"Adrian!" jerit Anindya histeris seraya memegang kepala suaminya. "Selamatkan bayi kita! Jangan biarkan monster itu mengambil tubuh anak kita!"

​"Raymond! Berapa jauh jarak pulau itu dari posisi kita mengapung?!" bentak Adrian dengan amarah membara yang tak terpadamkan.

​"Dua mil laut, Adrian!" jawab Raymond cepat seraya memeriksa kompas mekanisnya. "Tapi seluruh perairan pulau itu dipasangi ranjau biologis dan pelindung laser otomatis! Tidak ada manusia yang bisa menembusnya dari laut!"

​"Kalau begitu aku akan berenang dan merayap lewat karang terjal itu!" desis Adrian seraya memeriksa sisa dua peluru di dalam pistol taktisnya.

​Namun sebelum Adrian melompat ke air, gelombang laut di sekitar tabung penyelamat mereka mendadak mendidih hebat. Ratusan sirip baja hitam milik kawanan prajurit selam Konsorsium muncul melingkari tabung penyelamat dari segala arah!

​SPLASH! SPLASH! SPLASH!

​Puluhan prajurit berzirah selam hitam menaikkan tubuh mereka ke atas pelampung tabung, mengarahkan tombak listrik bertenaga tinggi tepat ke leher Adrian, Anindya, dan Raymond.

​Dari balik barisan prajurit selam tersebut, muncul sebuah perahu cepat berlapis baja. Di atas geladak perahu itu, berdiri sesosok pria tinggi besar berpelindung dada baja dengan topeng tengkorak besi.

​"Serahkan bayi pertama itu, Adrian Vane," perintah pria bertopeng tengkorak dengan suara mekanis dingin. "Pemimpin Tertinggi membutuhkan kedua bayi kembar darah murni untuk menyempurnakan ritual penyatuan jiwa."

1
Om Udik
lanjut🙏
Om Udik
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!